Puisi 

Bertanya Kepada Ibu Pertiwi ; tentang kehilangan 1998

Faiz Mao I @faiz_elfuady I cakfaiz.blogspot.com

 

Ibu, siapa mati ditembak peluru
dari bedil penguasa saudara sebangsa?
bagaimana nasib mereka, bu?
surgakah yang ia terima, bukankah ia telah disiksa oleh telik negara?
diculik, diasingkan, dipenjarakan tanpa ada alasan.

sstt…jaga bicaramu, nak!
sekarang bukan saatnya melacak
sebab tidak ada guna, semua takkan pernah ditindak! semua sudah dilupakan, nak.

tapi ibu, negara ini butuh guru
yang menjelaskan bahasa kesakitan
yang menjelaskan darah berceceran
yang menjelaskan arti kehilangan

bu, meski aku hanya mendengar
tapi aku tau sebab tangis itu menggelegar
darah-darah yang murah
di beli dengan mudah oleh bedil-bedil amarah penguasa

Siapa yang tak kembali bu?
aku ingin tahu satu persatu
kenapa mereka tak boleh pulang?
kenapa mereka menghilang?

bu, aku hafal satu nama
bolehkah aku sebut ia?
aku ingin seperti dia, bu
menjadi penyair, melawan segala sihir

“Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!”

bu, sekarang aku mau melawanmu!
melawan kediamanmu terhadap nasib mereka yang tak berujung temu.
bu, kenapa kau diamkan anakmu menghilang; semua orang menjadi bisu, pura-pura tidak tahu.
bahasa apakah itu, bu? (apakah kebungkaman lambang kemenangan?)

siapa itu bu, yang membisikimu kemakmuran?
sedangkan kehilangan belum juga dituntaskan!
bu, mereka pasti tertawa
melihat kami menderita
dari atas surga

bu, harus kepada siapa lagi aku berbahasa; tentang kebenaran
soal waktu yang tak lagi bisa dikembalikan.
selain kepadamu, hanya padamu.
Ibu pertiwiku.

Jakarta, 2014

Related posts

Leave a Comment