Harian Cakrawala, Makassar, Sabtu 24 Mei 2014

Pilo Poly | @Nyaknanta | puisipilopoly.blogspot.com

 

 

Aceh

 

Tubuhmu adalah lukisan

tempat di mana kami luruh

hingga nyawa terpisah badan

 

Matamu adalah saksi

tempat di mana kami mengerti

tentang segala sesak ini

 

Telingamu adalah rindu

tempat di mana kami mendengar

sebuah kedamaian akan datang

 

Tanganmu adalah catatan

tempat di mana kami kumpulkan

semua hal dan kejadian

 

Kakimu adalah cahaya

tempat di mana kami terus yakin

bahwa suatu saat masa lalu tak akan pulang

 

Kulitmu adalah dedaunan

tempat di mana kami nanti

temukan harum yang tak akan hilang

 

Dan rambutmu adalah harapan

tempat di mana kami nanti

tak akan lagi menemukan mayat dalam hutan

 

Pamulang, 2013 

 

 

 

Cerita (1)

Kau tak perlu lagi lari, kawan
di jalanan kita tak ada lagi tong-tong aspal didirikan
yang dulu setiap kita lewati sangat mengerikan
kadang juga kita temukan banyak hal di sana
terutama jeritan tetangga-tetangga kita
ya di jalanan negara itu
di depan sebuah pos brimob
yang pada ujung-ujungnya menelan saudara kita
ke dalam pos itu ia bermuara
entah mati atau tidak
tapi kita tak pernah tahu kabarnya seperti apa

 

 

 

Cerita (2)

Jika aku bisa tertawa (sambil mengeluarkan airmata), kawan
ingin sekeras-kerasnya aku tertawa
apalagi saat dulu itu
ketika seorang supir bus antar kota
mendadak turun dan menghormat pada bendera
aku tahu mengapa itu dia lakukan
dia juga pasti tahu kalau dia tidak memberi hormat
bogem mentah akan bersarang di wajahnya
tapi itu dulu, kawan
saat konflik mencekik leher masyarakat kita
walau pun sekarang hal yang sama pun terjadi
namun dengan cerita yang berbeda

 

 

 

Cerita (3)

Dan masih banyak hal kawan yang harus kita ingat
hidup berpindah tempat agar tak disangka pengkhianat
adalah hal paling sering kita lakukan
dari ujung ke samping, kalau bisa ke ujung mata kita sendiri
lalu duduk dan bersembunyi dari kebiadaban kaki,
mulut, tangan, bahkan gagang senjata
kita pernah merasa seperti tidak punya tanah air saat itu
selalu menghidu kematian demi kematian
kau tak boleh lupa, kawan
masih ada sederet air mata di sana yang belum bebas
apakah itu Simpang KKA[1], Tragedi Beutong Ateuh[2], Rumoeh Geudoeng[3], atau Arakundo[4], mungkin kau bisa menambahkan draftnya?

 

 

 

Cerita (4)

Aku juga ingat
pada awal bulan maret
ada yang berisik di kebun cokelat
usut punya usut dari mulut orang tua
ada yang merangkak dalam rimbun daun muda
sekompi tentara dengan senjata lengkapnya
saat itu aku demam tinggi
ibu mendayung sepedanya lalu memetik batang ‘peurapoh’ untukku
lalu ditumbuk dan diletakkan begitu saja di atas kening
seketika itu aku merasa hening
dan yang berisik di kebun cokelat
tiba-tiba saja mereka hilang
lalu ibu menemukan mereka lagi di sebidang tanah luas
sedang membangun sarangnya
katanya untuk melindungi negara
tapi setelah sekian tahun di situ
banyak kudengar masyarakat menderita
dan aku pura-pura tak ingat kejadian ini pernah ada

 

 

 

Cerita (5) Tamat

Bila nanti kita bertemu lagi
anggaplah aku sebuah taman
pernah kau duduk dan memulai candaan di situ
sebelum kau putuskan untuk pergi ke lain benak
karena satu alasan yang tak pernah kita pahami
dan kuanggap itu adalah sebuah keputusan
seperti aku memulai pembicaraan kita
tentang bagaimana merawat bunga
dan katamu hari itu kau paham
walau sebenarnya bunga itu tak pernah bermekaran
dan aku pun mulai memupuknya lagi
dari sebuah angka nol besar
hingga ia benar-benar tumbuh dan utuh
sebelum akhirnya kehidupan memang untuk berpulang.

 

 

 

Note:

[1]Simpang KKA: Tragedi Simpang KKA 3 Mei 1999

[2]Tragedi Beutong Ateuh: Tragedi Beutong Ateuh 23 Juli 1999

[3]Rumoeh Geudoeng: Tragedi Rumoh Geudong 7 Agustus 1999

[4]Arakundo: 4 Februari 1999

 

10325361_770764259624892_8149959145708379691_n

Related posts

Leave a Comment