Kisah Cinta yang Unik dalam Balutan Intrik Politik

Z 3b

 

 

Judul               : Burung Terbang di Kelam Malam

Penulis             : Arafat Nur

Penerbit           : Bentang Pustaka, 2014

Tebal               : xvi+ 376 Hlm

Resensor          : Pilo Poly

ISBN               : 978-602-7888-93-7

 

 

Pilo Poly | @Nyaknanta | puisipilopoly.blogspot.com

 

BERAWAL dari kekesalannya terhadap, Tuan Beransyah yang gemar kawin dan munafik, Fais pun membulatkan tekatnya menyelidiki keberadaan sejumlah istri simpanan sang calon Wali Kota Lamlhok. Bermodal dari salah satu informasi, ia mulai berpergian dari satu tempat ke tempat lain, tempat di mana dia dapat menemukan gundik-gundik tersebut.

 

Aida, istri pertama yang ditemui Fais, juru warta yang sedang berupaya menulis novel ini, mendapatkan suatu kenyataan awal tentang lelaki ini. Tak pelak lagi, melalui keterangan Aida, Fais terkejut dengan kenyataan bahwa Tuan Beransyah yang kaya raya ternyata awalnya hanya pedagang kerupuk emping melinjo.

 

Pada Haliza, perempuan simpanan lainnya lagi, Fais malah tersentak bahwa ternyata lelaki pandai agama yang hendak menjadi penguasai itu dicurigai sebagai pedagang ganja yang menjalin hubungan dengan sejumlah mafia. Kisah pun terus berlanjut pertemuan-pertemuan dengan Rahmah, Saudah, Laila, dan Nana, sejumlah gundik lelaki ini yang lama kesepian karena ditinggalkan sang suami yang mata keranjang.

 

Tugas penyelidikan yang dilakukan atas inisiatif sendiri ini, ternyata menyibukkan dan membuatnya lelah, sampai-sampai ia melupakan Safira, kekasihnya sendiri. Fais sendiri, secara tidak sengaja terlibat hubungan terlarang dengan beberapa perempuan ini yang membuatnya hampa dan tak berdaya.

 

Pekerjaan Fais ini justru semakin bingung dan bimbang di tengah riuhnya dunia yang tak pasti. Dia ragu terhadap hubungan perasaannya dengan Safira, diombang-ambing pula oleh keadaan siatuasi sosial dan politik Aceh pasca perang dan bencana tsunami. Keadaan yang tidak menentu ini semakin menjerumuskan Fais dalam kelam dan kotornya hubungan manusia.

 

Malahan suatu hari tiba-tiba Safira mendatangi rumah Fais, dan tekejut bukan kepalang menemukan pemuda itu sedang berciuman dengan seorang gadis tetangga, Diana. Safira begitu terguncang menyaksikan kejadian itu. Selanjutnya dia sangat membenci dan sakit hati pada Fais yang tidak bisa dimaafkan.

 

Fais begitu terpuruk saat itu, baru menyadari akan perasaan yang sebenarnya pada Safira. Namun, semuanya sudah terjadi, Safira tidak pernah memaafkannya. Di sinilah kehidupan Fais semakin tidak menentu, tetapi di sela-sela prahara itu dia masih tetap menyelesaikan novelnya.

 

Kisah semakin tegang tatkala Fais menuliskan hasil penyelidikannya tengan sang Calon Wali Kota pada koran tempatnya bekerja, yang kemudian membuatnya menjadi buruan orang-orang suruhan Tuan Beransyah, baik preman, polisi, maupun tentara. Nyawanya benar-benar terancam, dan menyebabkannya setengah gila.

 

Hari itu juga, setelah mengambil beberapa barang di rumah yang sudah duluan diobrak-abrik anak buah Tuan Beuranyah, ia berniat melarikan diri ke Banda Aceh. Tapi, di jalan sebuah mobil mengikuti bis yang ia tumpangi, yang hendak mencelakainya.

 

Hanya keberuntungan saja yang memihak padanya. Mobil yang mengintai itu terpersok ke dalam selokan saat pengejaran. Saat itulah Fais mengambil kesempatan turun dan kabur menghilangkan jejaknya. Ia memutar terminal Bireuen dan akhirnya menaiki mobil lain menuju Takengon.

 

Sekali lagi, dengan keputusasaan yang mendalam ia mendatangi Safira. “Aku tiba di Piyoh, tempat aku pernah pergi dulu. Aku mengenali tempat itu, tapi bimbang manakala menjejakkan kaki ke rumah Safira.” (Hal. 339).

 

Setelah mengalami hari-hari yang memalukan di rumah Safira, dan tanpa perhatiaan darinya, Fais merasa sedih bukan main. Ia benar-benar seperti orang yang kehilangan selera hidup. Fais juga berkali-kali memohon pada Safira untuk memaafkannya, tapi gadis jelita itu tidak bisa menerimanya.

 

Kisah ditutup dengan sesuatu yang sangat mengejutkan, tak disangka-sangka, dan membuat siapa saja akan menahan napas. Novel ini dikisahkan dengan bahasa yang segar, renyah, alur berliku, dan penuh dengan kejutan. Bahasa yang ringan dan gaya tutur yang begitu dekat, membuat siapa pun tidak akan jenuh, dan baru bisa berhenti setelah menamatkannya.

 

Arafat Nur, sang pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010 dan peraih Khatulistiwa Awars 2011 ini memang sangat luar biasan dengan novel terbarunya, Burung Terbang di Kelam Malam. Menceritakan sesuatu kisah yang pelik berliku dengan bahasa yang ringan bukanlah perkara mudah. Namun, dalam novel ini dia memang cukup berhasil menuliskan sesuatu dengan beda.

 

Novel ini menawarkan gaya cerita yang baru dan belum terlalu lazim dalam khasanah sastra Indonesia, tapi sangatlah dekat dan mudah cerna bagi siapa saja. Memang novel ini dimaksudkan untuk kalangan pembaca yang lebih luas, dan siapa pun tidak akan kecewa dengan novel yang penuh asupan giji, berkualitas, bernas, bukan lantaran penulisnya pemenangi banyak penghargaan.

 

Boleh dibilang, Arafat Nur tetap menjaga mutu karyanya sekalipun dia melakukan pergeseran dari gaya cerita dari Lampuki, novelnya yang menjadi buah bibir para pembaca dan kritikus sastra nasional ini. Tak beda dengan novel sebelumnya, Burung Terbang di Kelam Malam juga mendapat banyak pujian dari berbagai kalangan dan sangat layak mendapatkan penghargaan.

 

Bila ingin menemukan novel bagus dan tidak membuat kepala pusing, maka pilihannya adalah novel ini. Rasakan pula bagaimana sensasi ceritanya yang menggugah, yang akan membuat terhenyak, terpana, sedih, dan tergelak-gelak. Novel ini menyampaikan pesan-pesan mendalam dan kaya tentang kehidupan yang sulit ditemukan dalam buku-buku lain. Selain menghibur, buku ini juga mencerdaskan, cocok dibaca dalam situasi apa pun, dan sayang sekali bila sampai terlewatkan! [Pilo]

Related posts

Leave a Comment