Esai 

Memaknai Drupadi dari Berbagai Dimensi

Siapakah yang mendengar suara Drupadi ketika ia diseret pada rambutnya yang panjang ke balairung perjudian itu? Semua. Semua mendengar. Tapi tak ada yang menolongnya.

Yudhistira, suaminya, yang telah kalah dalam pertaruhan, membisu. Juga Arjuna. Juga Nakula dan Sadewa. Hanya Bima yang menggeratakkan gerahamnya dalam rasa marah yang tertahan, hanya Bima yang berbisik, bahwa Yudhistira telah berbuat berlebihan, karena bahkan pelacur pun tak dipertaruhkan dalam pertandingan dadu. ”Ketika kau jadikan kami, adik-adikmu, barang taruhan, aku diam, karena kau, kakak sulung, adalah tetua kami. Kami bahkan rela jadi budak ketika kau kalah. Ketika kau jadikan dirimu sendiri barang pembayaran, kami juga diam, karena kau sendirilah yang menanggungnya. Tapi apa hakmu mengorbankan Drupadi di tempat ini? Apa hakmu, Kakakku?”…..

TATAP KEMARAHAN

sehelai kain, sebutir air mata.
sepucuk kain, setetes air mata.

mengalir membasahi
drupadi.

setetes air mata, sebuah kemarahan
tatap tajam.
yudhistira membisu,
beku.

dadu iringi nasib,
hinaan demi hinaan
lebih kejam dari sebuah kematian.

tatap tajam
itu
mengartikan,
aku adalah kehormatanmu, suamiku
kau gadaikan aku
di sini
di hadapan para lelaki.

sementara
penghianatan awal sudah kalian lakukan.
membagi cintaku
membagi tubuhku
untuk kalian berlima,
ya berlima….

aku adalah kehormatan kalian berlima.

drupadi
terlanjur mengucap dalam hati
kemarahan beriring air mata
duka
kecewa
luka
terbawa
hingga hanya ada tatap tanya,
yudhistira hanya terpana…

(*bodohnya… bodohnya….)sehelai kain, sebutir air mata.

(Yuktiasih Proborini, seorang ibu-tinggal di Semarang)

Geliat Ranjang Drupadi

Aku…….Drupadi !
Putri terlahir oleh dan dalam
Dendam
Aku, wanita
Dengan lima pria
Ranjangku selalu basah tak pernah kering
Peraduan yang tak berpintu
Tamanku taman hatiku selalu berbunga
Menebar aneka aroma

Aku wanita
Pelaku poliandri sejati
Aku tak mengenal osteoporosis
Apalagi yang namanya menopause dini

Aku…….
Wanita pemilik jarit terpanjang di jagad raya
Berapa lelaki seperti Dursasana yang telah
Terlilit dan terguling tanpa daya

Aku….
Menghabiskan 5 hari waktuku
Tanpa jeda
Tanpa nada tunggu
Lembut sapa Yudistira
Raja agung bijaksana
Terkadang lola
Gagah perkasa sang pemilik kuku panca kenaka
Yang tapi suka tergesa gesa
Dicumbu sang Arjuna di hari ketiga
”lelananging jagad”
Yang merebut hatiku tanpa Tapi
Bersama Nakula
Aku bimbang
Bersama Sadewa
Aku bingung
Dua bersaudara kembar di segala
Adakah kalian pikir bagaimana ranjangku bergeliat?

Aku…….Drupadi
Yang terantuk mata dadu
Taruhan harga diri
Dan tawanan keberingasan dan kebodohan

Lahirku
Hidupku
Matiku
Tertera pada materai

:euphemisme dan euphoria

EROTIKA

Jaritku
Jeritan panjang lolongan nestapa penistaan
sds on Sunday, October 3, 2010 at 6:46pm
(Siwi Dwi Saputro, seorang ibu dan pegiat kebudayaan, tinggal di Jakarta)

Teks Drupadi Teater RSPD Tegal
Testemoni Perempuan untuk Kekuasaan
Oleh Eko Tunas

DALAM puncak terpuruk kewanitaannya oleh kekuasaan berjenis kelamin laki-laki, Drupadi menegak dan berujar: “Aku berharap setelah ini tidak akan terulang lagi kejadian seperti ini.” Itulah testemoni atas penggubahan cerita wayang, yang menjadi simpul teks Yono Daryono. Disutradarai sendiri, dengan penata tari pasutri-penari Priambodo dan Damayanti, pementasan ke 69 Teater RSPD tegal “Testemoni Drupadi” (“TD”: 7/7/12), menjadi perjalanan lanjut setelah “Sunan Panggung” (2008). Perjalanan seorang penulis naskah sekaligus sutradara, yang mau menjadikan teks wayang atau sejarah sebagai medium untuk memasukkan nilai kontekstual dalam lakon sandiwara. Terlepas dari apakah itu ‘ketoprak’ atau ‘drama tari’, Yono telah menemukan jatidiri keteateran di jalurnya: testemoni yang tidak jauh dari teks aslinya.

Sunan Panggung juga pernah dicerpenkan dan dimuat di harian ini, satu kenyataan bahwa teks adalah teks. Dia tidak terikat oleh bentuk penulisan, tapi riset adalah bagian utama dari lahirnya satu teks. Kelahirannya bisa berujud puisi kemudian menjadi cerpen lalu menjadi skenario, atau sebaliknya, dan naskah hanyalah persoalan jumlah halaman. Karya riset Gunawan Maryanto tentang kehidupan sosial-budaya Indramayu, dikabarkan bahkan hanya satu halaman. Hanya berisi petunjuk peradeganan, yang saat dipertunjukkan di atas panggung jumlah halaman memang tidak lagi penting. Tapi pertunjukan itu sendiri terasa merupakan hasil satu riset, yang tidak sebatas jumlah hari/buku, saat ia berkutat dalam obyek penelitan. Dikabarkan Maryanto hanya satu hari berada di lapangan, tapi pertunjukan “Tubuh Ketiga” terasa sebagai hasil subyek riset yang mungkin berlangsung selama puluhan tahun.

Begitu pun pengapresiasi, yang disadari atau tidak merewind kembali puluhan tahun pengalaman hidupnya, hingga ia menemukan teksnya sendiri. Sebagaimana yang dilontarkan pengamat teater Sureali Andi Kustomo (eseinya dimuat dalam buklet “TD”) kepada saya, dalam menanggapi dialog Drupadi (Damayanti): penindasanlah yang membuat perempuan menjadi hidup! Anda boleh mengatakan, inilah dialog antara penggubah (Yono) dan eksistensialis (Sureali). Tapi siapa yang bisa menyalahkan dialog antar teks, saat hasil riset sudah menjadi teks dan pertunjukan telah menjadi milik publik. Termasuk pengamat teater/sutradara/penulis Nurhidayat Poso (Ketua Dewan Kesenian Tegal terpilih) yang kepada saya mengatakan: dalam teks-teks Yono tidak ditemukan pikiran-pikiran penulisnya. Sehingga setelah menjadi pertunjukan, teks hanya semacam lintasan sejarah atau mengulang kembali cerita dunia pewayangan, meski itu syah-syah saja.

Dalam “TD” tidak ditemukan, misalnya, kontekstualisi bahwa Drupadi adalah simbol perlawanan rakyat dan atau institusi kerakyatan berjenis kelamin wanita, kecuali Drupadi sebagai sosok perempuan mewakili wanita seumumnya. Di sisi lain ditambahkan oleh Sureali, dibanding “Sang Koruptor” (2004), karya Yono terlalu menggurui atas hal-hal yang sudah diketahui banyak orang, meski itu juga syah ada. Testemoni Drupadi jadi gugatan seorang isteri sebagai botoh perjudian, sebagaimana yang paling mungkin dari kejahatan lain. Kurawa atau Pandawa kehilangan sebuah institusi kontekstual, tentang negara atau bangsa. Kecuali nilai universal umum, bahwa manusia di belahan mana pun akan merasa sakit sama kena cubit. Dan bagaimanakah dialog antar teks lain, dari kemungkinan estetik di luar teks?

Musik Ki Carito dan paduan suara, barangkali yang memberikan ruang bagi imajinasi penikmat dalam pengembaraan estetik tertentu. Termasuk artistik tataan Wowok Legowo, terutama penghadiran kurungan besar ayam sebagai simbol penjara, saat Drupadi terkurung didalamnya. Atau tampah yang saat Drupadi menendangnya, cukup menjadi simbol dunia sex yang saat kehilangan kesucian (cinta) akan ditolakkan seorang isteri. Selebihnya kostum yang ditata Endang Supadmi terlalu ‘jadi’ (sempurna wayang atau ketoprak), sehingga dalam ranah teater tidak memberikan pembebasan ruang imajinasi bagi penyaksi. Sama dan sebangun dengan tataan tari yang sudah menjadi barang jadi (total tari Jawa), kecuali munculnya gerak menelentang atau meringkuk yang tidak lazim dalam seni tari konvensional. Lalu gambar multi media yang terkesan menjelas-jelaskan, atau dry ice yang terasa berlebihan.

Itulah pengamatan terhadap kemungkinan estetik di luar teks, yang barangkali justru menjadi suguhan menarik (bagi penonton umum) saat drama tari ini dibebaskan dari beban teater. Betapa pun teater adalah ruang yang memberikan kemerdekaan imajinasi, apalagi penyutradaraan yang sebenarnya tampak mau menghadirkan eksplorasi gerak. Tapi inilah memang aktivitas lanjut Teater RSPD (Radio Siaran Pemerintah Daerah) Tegal, setidaknya setelah “Sang Koruptor” dan “Sunan Panggung”. Mungkin perlu dialog antar teks lanjut, tentang dunia wayang yang sebenarnya memiliki kandungan tekstual ilmu-seni-filsafat-politik dalam konteks dunia manusia modern. Bahwa sebagaimana Sukesi dalam kisah Ramayana, sebenarnya Drupadi adalah lelakon suksesi. Simbol (ibu)-bangsa yang terperkosa oleh sistem dan struktur negara saat (judi)-politik menghalalkan segala cara. Dan saat politik sampai pada kemungkinan paling tidak mungkin, politic is vuil (politik adalah kotor, Descartes), maka hanya ‘nurani ibu’ Drupadi yang bisa membersihkan.
Sayang saat ibu-bangsa Drupadi sumpah, tidak akan membersihkan (rambut)-mahkota sebelum tercuci-pensucian darah angkara Dur-(bohong)-sasana-(kekuasaan), diadegankan dan diartikan secara tekstual: saya tidak akan mengkeramas rambut sebelum dikeramas dengan darah Dursasana! Di sini kekotoran politik tidak dibersihkan, tapi justru dinodai dengan tindak kekerasan, seperti yang berlangsung dalam konteks terkini. Nyaris tidak ada penyelamatan, ‘rakyat tuan rumah’ bahkan terlupakan oleh ‘para filsuf tamu’. Sebagaimana yang diramalkan Drupadi, wanita terus dikorbankan dan tertindas kekuasaan. Keberadaan Kurawa dan Pandawa tetap menjadi warna kehidupan hitam putih, padahal mereka satu keluarga yang hakikatnya berwarna abu-abu. Dan kehidupan terus belangsung, manusia memangsa manusia, sejarah mencatat darah!
(Eko Tunas, penulis dan pengamat teater, tinggal di Semarang)

*) Yuktiasih Proborini, menulis berbagai topik dari soal keseharian, media, juga resensi buku. Dua buku yang memuat karya-karyanya segera terbit mempunyai jaringan yang luas dengan para seniman di Kota Semarang dan yang dirillis RIMAnews saat ini adalah salah satu statusnya tentang Drupadi sebagai sebuah puisi dan mendapat respons termasuk dari Budayawan Eko Tunas. (Wrh/RIMA)

SUMBER: RIMANEWS

http://budaya.rimanews.com/buku/read/20121231/86775/Memaknai-Drupadi-dari-Berbagai-Dimensi-Respons-Atas-Puisi-Yuktiasih-Proborini

Related posts

Leave a Comment