Puisi 

Dua Puisi Iman Sembada: Cermin Hingga Gadis

SETELAH 20 MENIT DI DEPAN CERMIN

Aku mengamati sekujur tubuhku, 20 menit yang
Lalu. Aku hampir dibuat gila oleh cinta yang
Gelisah. Lalu aku segera membuka diriku. Setiap
Suara telah jadi kisah dalam diriku. Aku mengingat
Kembali segenap kenangan, juga masa kanak-kanakku
Yang samar. Kamera-kamera memotret lagi diriku

Jangan memasukkan kisah-kisah kesedihan, juga
Seragam tentara dalam diriku, kekasihku. Aku tak
Ingin diriku menjelma simbol-simbol kekerasan dan
Teks-teks kekuasaan. Aku tak lagi berdiri di depan
Cermin. Angin keluar-masuk, meninggalkan aroma
Garam dalam diriku. Kupu-kupu mulai memasuki diriku, lalu
Hinggap di ranting-ranting mimpiku. Hidup tak bisa
Dilupakan dengan tidur dan mabuk, kekasihku

Aku mengamati sekujur tubuhku. Ada sisa saos
Di bibirku, 20 menit yang lalu. Kupu-kupu telah
Membuat kisah lain lagi dalam diriku. Lalu bel-bel
Berbunyi, seperti denyut waktu dalam sebuah novel
Getir yang terbit di negara-negara bekas jajahan

Depok, 2004

AKU MENJELMA GADIS

Aku menjelma gadis berusia 17 tahun
Di antara anyelir dan leli yang merumpun
Di pojok kebun. Rambutku panjang berkelabang
Dua, ujung-ujungnya kuikat dengan pita warna
Jingga. Di depan rumah, aku berantah-tamah
Dengan saudara sejatiku: tembuni. Cahaya pelita
Yang dahulu menerangi setiap malam, kini diganti
Cahaya bulan. Lalu aku berlari ke halaman
Bermain bayang-bayang. Sesekali menari dan
Menebang. Sebelum embun menitis di punggung
Dedaun, kupilin rintih dan perih dan masa silam
Menjadi lirik-lirik kasih sayang yang agung

Dibanding lelaki, aku bisa sekeras batu kali
Sebagai perempuan, aku selembut kapas dan kabut

Aku menjelma gadis berusia 17 tahun
Di bawah bulan yang utuh seluruh. Kutarikan
Bunga-bunga dan kutembangkan keremajaan —
Betapa menakjubkan. Aku menyimak kahanan:
Depan dan belakang, kiri dan kanan, aturan
Dan tatanan. Lamat-lamat kudengar bapak-ibu
Bergeguritan diruahi berkah makna kehidupan

Depok, 2012

Related posts

Leave a Comment