Puisi 

4 Puisi (Meriang)

Hasan Jhoniy | jonyzero.jz@gmail.com

Gakgak Gagak

Mayat hidup yang hidup pada setiap sekat detik yang berdenyut

Membukukan pola asmaragama gagak Gakgak gakgak gakgak

Menetas dari masa silam

Beterbangan Memenuhi langit sampai kelam

 

Pola hidup yang berpoya-poya pada setiap sekat detik yang raib

Membangun sarang dan tinggal Mengkoyak-konyak kehidupan yang semestinya

Gakgak gakgak gakgak

Mencengkram, Menyiksa sisa-sisa yang menganga

 

(2015)

 

 

Puisi Meriang

 

Meriang mendekapkan halusinasi seperti lancip hujan mematri aksara kedalam pori, fantasi membiakkan secarik kertas berpuisi

Kriptologi; dosa-dosa

Saat itu,

Seorang penyair memanjati sebuah altar dari gumpalan angin neraka, menggubahkan syairnya; do’a-do’a

“Ampunilah dari dosa kata-kata” tutupnya.

21-maret-2016

 

Jemu

Kata-kata kita

Berjiwa,

Sebentar meraga

Sia-sia, karena

Dunia mencerca kesendirian kata-kata

Menjiwa,

Kita berkata-kata.

Sia-sia sebentar,

Meraga. Karena,

Dunia kata-kata bosan sengsara

 

(2016)

Naara (Alur)

Seperti Naara

Mengalir tidak kembali

karena mengalir adalah niscaya

Jernih membimbing sadar

Tenang membuka jalan

—Umat Manusia melepas dahaga—

Hambatan membendung

kan arus menggulung,

menggunung

Saban hari mengalir semakin merendah

Seperti Naara

 

 

*Naara: Sebutan lain untuk air (sangsekerta)

22-maret-2016

 

Related posts

Leave a Comment