Cerpen 

Tanbak (Tanpa Bakau)

Cerpen: Hasan Jhoniy.

Bicara soal keuangan memang menyebalkan, apalagi bagi si Jarsup yang pengangguran itu. Selepas dari sekolah ia tidak mencari kerja, hanya diam dirumah dan lebih banyak menggunakan sebagian waktunya untuk merokok. Jarsup adalah seorang perokok, bapaknya perokok, adiknya perokok dan ibunya penjual rokok, mereka dikenal dengan keluarga tembakau karena sangat berkerabatnya dengan rokok.

Pada suatu siang yang garang, dikamar berukuran tiga kali empat meter Jarsup dan temannya Magfit sedang asyik mengadu asap rokok, sesekali segelas kopi hitam diseruput bergantian  menyelingi obrolan antara mereka berdua.

“Dilema, ya dilema negara ini” ucap Jarsup

“Sebenarnya siapa yang dibela, petanikah? buruh atau kesehatan jiwa raga masyarakat?” lanjutnya geram.

“Atau hanya konspirasi saja?!”  tambah Magfit kalem

“Benar, cukai dinaikan tidak memberi arti apa-apa, sebab candu bisa jadi semakin membudidayakan  komunitas penjahat”

“Ya, komunitas korup juga tepat” tambah Magfit lagi kalem.

Ibu Jarsup, Nyi Gege diwarung kecilnya sedang merapikan berbagai jenis rokok sehabis belanja barusan, diwarungnya hanya dijual rokok. Bapaknya, pak Jingo diatas kursi kayu diberanda rumah sedang asyik memandangi pohon tua dihalaman sambil menghisap rokok, asap mengepul tebal menghalangi pemandangannya. Adik Jarsup, Umel sedari tadi merengek pada si ibu meminta jajan rokok, setelah beberapa saat memaksa, akhirnya si ibu memberikannya sebungkus rokok  bergambar jantung masak.

“Huh, belum untung sudah buntung” kesal Nyi Gege dalam hati.

“Jangan, jangan mau dibohongi jargon merokok membunuhmu, buktinya kakeku, Haji samsu sekarang seratus satu tahun lebih masih hidup, padahal entah berapa bungkus perhari ia habiskan ” tegas Jarsup dalam obrolanya dikamar

“memang benar, merokok tidak membunuh, rokok hanya gulungan tembakau yang galau” jawab Magfit

“Eh, maksudnya gimana itu galau?” tanya Jarsup sambil tertawa kecil

“hmmm, kan kabarnya indonesia itu surganya tembakau, berarti kalau disini kita merokok sama kaya minum arak disurga dong, tapi orang-orang berbeda pandangan, rokok menjadi kegalauan yang akhirnya diproduksi dalam kemasan yang melarang sekaligus dianjurkan”

“Wah itu lebih parah malah, membodohi kan sama dengan membunuh dengan mengkuliti hidup-hidup” tangkas Jarsup

“Ya, begitulah. Kasian kakekmu dengan usia sepanjang itu sup” ledek Magfit

“Hahahahaha, bisa saja kau fit” ucap jarsup sambil mematikan rokok penghabisannya.

Kemudian Jarsup berdiri menuju warung kecil milik ibunya, hendak mengambil sebungkus rokok lagi dengan alih-alih menghutang, ia merasa malu bila mengistilahkan meminta, maklum Jarsup memang sudah pantas mandiri untuk sekedar memenuhi kebutuhan pribadi, si ibu mau bagaimana lagi, belum  sang suami, adik Jarsup, setiap harinya tidak kurang enam bungkus raib tanpa untung, modal yang diambil dari uang pensiunan bukan berkembang, malah telak berkurang, belum lagi digunakan untuk makan dan keperluan sehari-hari lainnya, tiap malam si ibu diatas ranjang menghitung pemasukan dan pengeluaran layaknya seorang akuntan, ia hanya bisa menepuk jidat melihat jumlah nomilal hutang yang cukup panjang.

Hal yang sama sebenarnya terjadi pada anaknya, Jarsup. Hutangnya sudah menumpuk disana-sini. Ia tidak bisa menahan diri ketika mulutnya merasa asem, padahal punya uang darimana, sedang kerjaannya hanya tidur saja, atau makan, minum dan berkhayal menjadi orang kaya yang beristri cantik sambil ngelepus. Bila mengandalkan jatah harian dari orang tua, ya cukup untuk dua atau tiga batang yang sekali sedot hangus semua. Berbicara tentang uang memang sangat menyebalkan baginya, karena itu Jarsup menjadi seorang yang pandai cakap, kemasan kata-katanya menjadikan ia seorang yang berhasil dalam mengelabui teman-teman, tetangga, bahkan musuh untuk memberikan ia pinjaman alakadar bisa belanja separuh atau sebungkus rokok.

“Eh sampai dimana tadi ngobrol kita?” tanya jarsup

“Sampai sikakek sup” jawab Magfit

“Ou. Ya.. Ya ..Ya..Tapi jangan salah fit, ngerokoknya kakekku itu bukan sembarang  merokok, sebab setiap habis merokok, sebanyak itu gairahnya terhadap keduniawian menghilang, dan seperti itu sejak diusianya muda, keren kan?” Jarsup menyalakan rokoknya, kemudian melanjutkan “Katanya sih, semenjak ia merokok sama sekali belum pernah merasakan bagaimana nikmatnya merokok”

“Lah, lantas mengapa merokok?” penggal Magfit aneh

“Begini katanya fit, setiap api yang menjalar perlahan-lahan pada tubuh rokok akan menjadikan sakar, kakekku memandang itu persis seperti umur yang hilang perlahan-lahan menuju kematian, sementara mati itu pasti seperti rokok yang telah dinyalakan, diisap atau tidak diisap ia akan sampai pada ajalnya, karena itu walaupun merokok bagaimana ia bisa menikmati, sedang rokok adalah sesuatu yang sebenarnya hanya layak dinikmati Izrail”

“Luar biasa kakekmu sup, tapi yang tak habis pikir, kok mengapa jadi pecandu?”

“Kan tadi jelas Fit, semakin merokok semakin ia benar-benar bergegas untuk melakukan kebaikan, terjauh dari keduniawiaan”

“Bisa gitu ya ternyata, emang rokok apa yang ia isap?”

“Nah itu dia, tidak ada seorang pun yang tahu apa yang di isapnya itu, hanya suatu hari pernah kedapatan ia sedekar meragakan seperti sedang merokok, padahal di dua jari kanan yang berulang di arahkan ke bibir tidak ada sesuatu apapun dan bibir yang seperti meniupkan asap sama sekali tidak berasap, aku juga heran ketika mendengarnya, tapi ada satu hal yang berkesan. Suatu hari kakekku berpesan, menyuruhku untuk memilih antara berhenti merokok atau menjadi perokok sejati yang selalu ingat mati kemudian mati tanpa bersakar, menurutmu apa arti pesannya itu fit?

“Haha, entahlah” jawab Magfit sambil menggaruk-garuk kepala.

“Uhuk…uhuk” terdengar suara batuk pak Jingo melewati kamar anaknya. Mendengar itu Jarsup merasa kesal, sudah berapa kali ia memohon agar bapaknya berhenti merokok, batuk keras yang sudah dua tahun lebih menyakiti tenggorokan dan jantungnya tetap saja ia selingi dengan asap rokok, alasannya karena asap yang ia isap adalah asap dari rokok herbal, dengan begitu penyakitnya akan terobati sehingga sembuh. namun bagaimanapun rokok, rokok tetaplah rokok. Nyi Gege sudah terlalu sering mengantar suaminya ke rumah sakit, disamping harus memikirkan biaya pengobatan, Nyi Gege harus memikirkan jatah rokok untuk suaminya yang sudah pensiun dari pekerjaannya itu. Bagaimanapun Nyi Gege harus mensyukuri nasibnya, sebab apabila dikeluhkan ia pasti akan kehilangan akal sehat dan meninggalkan suami juga anak-anaknya, semua itu tidak lain karena tak adanya pilihan dan tinggalnya sayang.

“Eh, coba kamu tengok sup!” pinta Magfit tiba-tiba sambil menunjuk bungkus rokok yang diangkatnya

“Apa fit” Ucap Jarsup sedikit penasaran

“Kalau diperhatikan, sejak bungkus rokok bergambar, tulisan penyakit-penyakit dibelakang bawah bungkusnya hilang kan?” tangkas Magfit

“Oh, itu. betul Fit” jawab Jarsup

“Tahu emang apa maksudnya?” pancing Magfit agar Jarsup menjelaskan hanya Jarsup tidak langsung menjawabnya, karena asap tebal sedang masuk melalui dua lubang hidungnya, kemudian asap itu ia tiupkan perlahan untuk dikawinkan dengan udara. Seperti itu, dimanapun Jarsup merokok, diangkutan umum, pasar, rumah,  mesjid, kamar mandi, dan tempat-tempat lainnya, gayanya merokok khas begitu, mengajak orang lain untuk turut menikmati nikmatnya asap rokok yang sedang ia nikmati, sungguh Jarsup hanya punya niatan baik perihal soal itu.

“Hmm… dalam sudut pandang saya sih fit, itu adalah bentuk malu-malunya pemerintah, karena tulisan terlalu mudah dimengerti. Merokok dapat menyebabkan Kanker, maksudnya meninggalkan rokok dapat menyebabkan kas negara kekeringan, menyebabkan pemerintah sakit jantung sebab kesehatan janin dalam kandungan istri terganggu, jika begitu kan segala konspirasi negara buat membodohi rakyatnya mandul semua”

“Hahaha… tafsiranmu yang mandul Sup, jelek sangka sama pemerintah dosa. Hahaha”

“Plesetan Fit bukan seriusan…hahahhha” jawab Jarsup sambil terbahak.

Tanpa disadari oleh Jarsup dan Magfit ternyata obrolan mereka berdua telah memasuki malam, bahkan siang sudah tertinggal sejak tujuh jam yang lalu. Rokok sudah habis enam bungkus, sebenarnya masih hasrat untuk merokok lagi tetapi tak memungkinkan terkabul karena jam segitu warung sudah tutup, dimana-mana tutup, dan jalan uang rapat tertutup.

“Jujur saja Fit, sebenarnya aku sudah jemu merokok, bukan karena para Anrok yang bilang perokok selalu mencari pembenaran, dan  mengklaim diri benar hingga tak perlu basa-basi mencari alasan. Ya benar, malah hati  tak perlu disogok  untuk setuju dengan mereka”

“Munafik Ah, ngomong gitu karena memang karena gak ada rokok lagi kan?”

“Ahahaha, bukan gitu juga. Inginku ini langka. hanya aku temui kalau sadar sedang melek”

“Eh pesan kakekmu yang tadi kau ceritakan benar-benar terngiang Sup, penasaran apa si maksud dari pesannya itu” ucap Magfit mengalihkan obrolan

“Mungkin seperti ini ya ia merokok” tanggap Jarsup sambil meragakan

“Asyik juga kelihatanya, perokok sejati memang sudah tak perlu bakau lagi kali ya, nyoba juga ah”

Jarsup tidak menjawab apa-apa lagi, lima belas menit berlalu sejak Magfit menirukan. Keadaan berubah hampa, hanya peragaan orang yang sedang merokok mereka lakukan. Sangat senyap, dengan kedua mata terpejam seakan mereka sangat menikmati. Tiga puluh menit, sejam, dua jam seperti itu sampai akhirnya adzan subuh terdengar memekkik ketelinga Magfit hingga menyadarkannya.

“Astagfirullah” Ucap Magfit seketika membuka kedua matanya, wajahnya bercucur peluh

“Hei sup, sadar sup!!!” Ucap Magfit sambil menggerak-gerakan tubuh Jarsup

Dengan kaget, nafas terpegah, dan cucuran peluh diatas wajahnya yang pasi Jarsup terbangun “ada apa ini Fit, apa aku masih hidup? ” tanya jarsup

“Iya Sup iya, kau masih hidup” Jawab Magfit menenangkan

“Aku larut Fit, maut mencumbui dan tak mau melepaskan, aku hanya bisa pasrah tadi. Sedekat ini, sebersentuhanya bibir yang terkatup”.

“Sama Sup, aku juga mengalami hal itu tadi, tidak terpikir bakal begini. Mungkin ini isi pesan yang kakekmu maksud Sup”.

“Ya fit, Mungkin ini yang dimaksud kakekku menjadi perokok sejati”

“Berat fit, berat. Tapi, mau tak mau harus siap. Maut merupakan rokok tanpa bakau, sedekat ini Fit, sedekat ini” ucap Jasup sambil menunjuk ke bibir yang kemudian ia katupkan dengan kuat.

Bogor. Maret 2016

 

 

 

Related posts

Leave a Comment