Puisi 

Mata Ibu Hingga Suara

Sepasang Mata Ibu

 

Pada hari yang kemarin,

hanya matamu yang terang.

Mengintip ke seluruh tubuhku,

yang liuk dengan perjalanan.

 

Kucoba tutup seluruh gelisahku, Ibu.

Wujudmu yang temaran menjadi obat.

Doa panjang yang tak ada akhir,

dan kuyakin kepadaku akan selalu sampai.

 

Kau adalah suluh dalam gelap ini, Ibu.

Ranjang yang tak pernah akan kutinggal.

Walau berjauh kita merelakan rindu,

hanya doamu akan membawaku pulang.

 

Jakarta, 2015

 

 

Suerune Kalee[1]

 

Kaulah suara yang paling merdu

Rindu yang tak dapat kutahan getarnya

 

Kaupun yang membuatku betah tak beranjak

Sajak yang membuatku di sini ingin terus tegak

 

Hai, kau, liuk di ujung tak terbatas

Dihadapanmu aku ingin terus menepuk dada hingga sesak

 

Jika kau berhenti, padamkan aku dengan tenang

Bawa aku ke jauh langit melayang terbang

 

Kaulah suara yang paling merdu

Peninggalan zaman yang masih ingin tetap kukenang.

 

Jakarta, 2015

 

[1] Alat musik tiup di Aceh

Terbit di Harian Lokal, Serambi Indonesia, Januari 2016

Related posts

Leave a Comment