Puisi 

Puisi Kamar

Hasan Jhoniy |jonyzero.jz@gmail.com

          
Pencahayaan

Potret:
Mentari gegabah terhadap cahaya
Rembulan tersesat dalam cahaya
dalam keliru rembulan mengambang
Sambil kaprah menjalani hari
Sambil mabuk dirayu Birahi

Mengapa bintang-bintang terkagum?
(2015)  

Subversif

Sudi enggan berbakti
Ayah membawa hujan
Ibu menyajikan makanan menyesuai kebutuhan
Budi congkak dipunggung ibu
Menengadah menantang ayah
Durhaka
(2015)

Puisi Kamar

Muntah pena meragakan  suara
Material negara maju
Makna akan menasehati anda
Maka jangan menjadi penyair mandul

Gadis dirayu saudara mindo
Gadis pingitan jokowi do do
Banyak manusia pura-pura tuna
Gadis itu menjerit kepingin Shiratal mustaqim dibuka
(2015)

Dunia

Lubang hitam lembah magenta
terjerembab disana
menghirup aromanya, asri.
(Azazil memandu kantata asmaragama
babak demi babak)
lilin-lilin kecil menyala mengitari
mengadopsi cahaya bulan
kemudian mati
kemudian menyala lagi
Dineraka
(2015)

Rumah Baca (Sindang Leret)

Tidak semua sampai begitu saja
haya apa saja yang ditemui dimana saja
menyimpan perpustakaan
hanya selalu tersedia ruang mahir
maka bacalah,
bacalah,
baca

Tidak semua sampai begitu saja
hanya setiap kamu bagaimana saja
bukan terabaikan
hanya mengapa sekedar mampir
maka rasalah,
rasalah,
rasa.
(2015)

Skeptis

Oscar, kadal kecil ditengah gurun tandus
Semak kering menggelinding ditiup angin
Suasana mencekam mengulum tulang belulang.
Buck, burung pemakan bangkai terbang melintasi
Tegang bukan main, sambil menutupi diri dengan pasir
Disaksikanya matahari membelah diri menjadi tiga
Mengeruk kedahagaan yang telah mendanau sejak lama
Tubuh diperas utopis oasis sejauh mata memandang
fatamorgana fatamorgana fatamorgana
Poppy, rubah betina mengendus bau minyak dikejauhan
Terlintas pikiran menjadikanya parfum
Kecemasan mengebalkan tubuh dari ganas dahaga
disaat panas menguapkan sisa-sisa air.
Harcy, hyena berjalan gontai diatas lautan
Menyambut kegelapan malam yg dingin
Mengendap, mata besar itu mempehatikannya waspada
Dahaga yg menganga mengebalkan tubuh dari hawa dingin
Memutuskan saraf mata, satu demi satu waktu ke waktu,
Menjelang pagi disaksikannya matahari membelah diri menjadi tiga,
Utopis oasis sejauh mata memandang
fatamorgana fatamorgana fatamorgana
(2015)

Lain Sisi

Ketika duduk bersama kata kiasan
saraf saling menyajikan pandangan
siapa menimbang ia terancam
tentang hati mencurigai diri
sebab limbah industri, limbah rumahan, limbah-limbahan
mengawini gaya
ah, desah menyesatkan rasa
mencetak peluh yang menenggelamkan desa
disana lentera bekerja sambil kegelapan
menjadikan binal menunggangi tangan,  kaki juga kemaluan
begitulah orang-orang yang bertetangga dengan musuhnya
sehingga menghisap tembakau sampai tak terasa melenyapkan semuanya.
(2015)

Sentuhan

Mendung mendung mendung
gerimis perlahan-lahan
sebagian reda,  bertapa direlung hati
menjadi kebencian yang abadi:
kebutuhan terbiasa congkak
kewajiban terbiasa menghutang
penyesalan terbiasa mandiri
sementara, 
manusia bergegas merangkak
jam bergegas berkunjung
kalender bergegas berganti
kemana pergi?
sentuhan langit berkerudung mendung
menyayatiku dipalung renung.
(2015)

Ketika Tak Ada Yang Dipercaya

Seperti luffy  melar dan bebal
Untuk one piece ia memakan buah iblis
Didunia baru log post sulit mendeteksi rahasia pulau
Sebab hukum pulau dikuasai hukum pulau bayangannya
Huahahahahahha
Dunia baru!..Sebuah tempat dimana orang-orang yang akan memulai generasi berikutnya berkumpul, siapa yang menaklukan laut ini akan menjadi raja bajak laut!!! Ucap coby
kapten yang pandai navigasi itu Senda gurau sandiwara kumpulan pelakon parodi ini
Pada hari punahnya nanti bagai gorqod yang peduli yahudi
Di akhir dunia lama nanti keduanya mati berdiri
Matanya nyaris keluar tak sanggup mereka kerdipkan
Mampus dalam congkak dan kedunguan
Seperti luffy melar dan bebal
Untuk one piece ia memakan buah iblis
(2016)

Yang Berkepanjangan

Pada suatu hari…
Dua batu beradu. Memercik api
memberi bekas dibadan. Serupa lebam
Hanyut
Masing-masing bertemu, beradu dengan batu-batu
Menjadi dua lingkaran sekelompok batu beradu,
Memercik kerikikil-kerikil berapi
Menjadi gunung batu berapi
Menjadi dua lingkaran bergunung batu berapi
Beradu,
Entah lalu bagaimana jadinya Beradu
BeraduBeraduBeraduBeraduBeradu
BeraduBeraduBeraduBeraduBeradu
BeraduBeraduBeraduBeradBeradu
BeraduBeraduBeraduBeradBeradu
………………………………………………..
(2016)

Ada Juga Kata-Kata Terlilit Hutang Dan Pengucapnya Dijuluki Si Raja Kibul

Karena aku tidak lebih dari sekedar kata-kata
Aku dijuluki si raja kibul dan terlilit hutang
Sementara aku pun tahu, yang sangat cepat hanyut dalam ingatan adalah hutang
Bagiku, kata-kata adalah senjata setiap abad
Kata-kata yang berbaris dan bergerilya
Mampu menundukan mulai dari prajurit-prajurit paling tangguh sampai yang bodoh sekali
Tetapi aku tidak lebih dari sekedar kata-kata
Aku dijuluki si raja kibul karena terlilit hutang
Sementara aku pun tahu, yang sangat aib adalah hutang
Bagiku, berpuisi adalah bentuk kejujuran
Karena itu aku memuisikan tentang berbagai hal
bahkan tentang hutang yang melilit kata-kata
Didalam puisi aku jujur
tentang apa saja
Didalam puisi aku berharap
kepada siapa saja: Presiden,  Tokoh agama, Masyarakat, Kamu
supaya tidak menghianati kata-kata
Meninggalkannya sendiri setelah digumuli
kata-kata tidak mati
Mereka akan menagih hutang-hutang para pengucap yang sekedar kata-kata
kemudian menjulukinya si raja kibul
gara-gara tidak lebih dari sekedar kata-kata
(2016)
   
Rafalan Sederhana

Kesedihan mendayu
Mendayungi lautan hatiku
Diatas permadani biru
Siluet memoar menjalarkan senja berikutnya
Meriakkan permukaan yang meracau
Memercikkan butir-butir payah, susah
Melumuri wajah
wajah-wajah pasrah mengundang rembulan
Disuguhkannya arus dalam melalu-lalangkan ikan-ikan
Oh Tuhan, modali kami damai
Untuk senang mendekap segala suratan yang engkau suka demikian
Amin
(2016)

Related posts

Leave a Comment