Cerpen 

Siti Ambia

Cerpen: Sadri Ondang Jaya | Sumber: Serambi Indonesia @serambinews, 18 Mei 2014 | Siang itu langit cerah. Cahaya terang benderang. Angin enggan bertiup, mengundang gerah yang memanggang. Dalam suasana seperti itulah, Siti Ambia terus mendayung perahunya. Melaju membelah Sungai Singkil. Riak-riak air bergemericik menerpa badan perahu. Jari jemarinya yang lentik sigap mengayuh perahu agar haluannya tidak berbelok arah.

Read More
Cerpen 

Ini Bukan Puisi, ini Adalah Penghianatan

Bahkan mereka yang dulu pernah berkhianat,dan aku khianati masih menyimpan gambar dan waktu yang berhenti ditelapak tangannya.Perempuan-perempuan yang baik mengikatkan tali horizontal pada hidupku,mereka yang tidak akan pernah lupa pada senyum yang terikat pada kedukaan yang dalam.Aku milikmu kawan,kekasihku yang mengawan diantara pepulauan Nusantara,tangis dan tawa hidup bertafakur di telapak tanganmu,perempuan-perempuan baik yang berdiri teguh dibelakang penghinaan ku yang serba berlebihan.Aku yang kini ditinggalkan waktu,dan ditinggalkan wanita seperti kalian,terlalu sibuk menguliti kesederhanaan hidup yang tak perlu harus berarti dalam.Ya aku yang mungkin terlalu keras hati,keras kaki yang tidak pernah betah…

Read More

Sepotong Malam

OLEH: GUNS GUNAONE | @its_Gunaone Alfaris Ghifari, lukisan pernyataan perasaamu enggan kupandang. Sepanjang kegembiraan masa dewasaku yang telah terangkai indah dari tahun lepas tahun. Lusa nanti adalah minggu yang paling menyebalkan, hari pernikahan yang tidak pernah kuinginkan. Ketukan pintu beberapa kali tak kuhiraukan sama sekali. Tengah malam ini menjadi puncak kegelisahanku, segala kecewa dan penyesalan menyayat rasa sedihku yang tak kunjung reda. Begitupun kebencian terhadap lelaki pilihan ayah dan ibu, meniti titian kesunyian malamku. Apakah garis hidup yang terbentang pada nasibku sekedar rasa sakit dan pengharapan yang hampa?, air mata…

Read More

Bocah Tanpa Mimpi

OLEH: GUNS GUNAONE | @its_Gunaone (Terinspirasi-berdasarkan sajak penulis yang berjudul: Percakapan Pemulung dengan Ayahnya) “ Cepatlah tidur, besok kita harus bangun pagi “ Kata pak Ilham pada anaknya Tanpa adanya komentar apapun, anak lelakinya segera menggelar sehelai tikar lusuh dan langsung merebahkan tubuhnya dengan berselimutkan kain sarung yang sudah robek-robek. Sedangkan pak Ilham melanjutkan pekerjaannya membereskan-mengikat kardus-kardus bekas untuk dijual esok pagi, saking banyaknya barang rongsokan yang harus dia rapikan, terkadang dia lupa waktu-hingga larut malam barulah dia bisa istirahat. Dan semua itu dilakukannya atas nama kebutuhan meniti titian kehidupan.…

Read More

Romo Sapien

OLEH: GUNS GUNAONE | @its_Gunaone Kemuakkan itu hadir kembali, amarahku pada lingkungan yang sesak, panas, polusi, over populasi. Kian menghampiri disela-sela rutinitasku dari hari kehari diibu kota ini. Di langit awan yang berkejaran berwarna kelabu pekat, namun rona angkasa itu bukan menandakan bahwa hujan akan segera turun. Melainkan pertanda bahwa mega-mega sedang merintih kesakitan. “ Kenapa raut wajahmu muram?, dan engkau seperti enggan menangis. Padahal airmatamu akan menetes menjadi rintik-rintik gerimis, itu indah bukan?. ” Lirihku, dan seolah didengar oleh hamparan awan itu, lalu ia menjawab dengan lengkingan suara maha…

Read More
Cerpen 

Ibu di Dasar Laut

FERHAT MUCHTAR | @FerhatMuchtar | Anggota @flpaceh | SUMBER: Serambi Indonesia, Minggu, 29 Desember 2013 SEKARANG Bida paham apa itu rindu. Baginya rindu bukan sebatas hujan menebaskering di saat siang. Atau seperti payung menggelembung menunggu hujan. Untuknya rindu lebih dari itu. Berdegup-degup tak mampu ditahan seumpama tiupan ombak yang datang berdepa-depa. Rasa itu selalu hadir bila mengenang Ibu. Berdua mereka kerap menghabiskan hari bersama-sama. Belajar, mengantarnya ke sekolah, atau mengajak Bida berkeliling kota. Tak pernah sekalipun ia mendengar Ibu menghardik. Tak pernah juga melotot sampai menegang urat mata. Bagi Bida,…

Read More
Cerpen 

Yang Terhormat Tuan Pencuri

SAIFUL BAHRI | sastradipancu.blogspot.com Sungguh, Pencuri itu telah kami pertuankan! Setulusnya, Pencuri itu telah kami pertuankan! Kala masa kalut menerpa selingkar batas tanah kampung kami, sesungguhnya kami sangat sadar bahwa Pencuri-Pencuri itu adalah sebenar-benarnya pencuri. Kala masa kalut itu kami diperangkapkan untuk selalu mengingkarkan kepercayaan dan keyakinan kami akan jati diri si Pencuri bahwa ia itu memang utuh seorang pencuri. Kala masa kalut itu kami dipaksa untuk tak secuil pun punya anggapan yang berani-beraninya menganggap-anggap Pencuri itu adalah pencuri. Maka, pada masa kalut itu juga tak sezarrah pun kami bernyali…

Read More
Cerpen 

Samlun Gokil

IRFAN BUDIMAN | irfanbud.blogspot.com | TEPAT pada peringatan seabad Piala Dunia, Uruguay dipilih menjadi tuan rumah. FIFA merasa perlu meniru IOC (International OlympicCommittee), yang membawa kembali Olimpiade ke Athena pada 2004. Semacampenghormatan, sebutlah begitu. Tak semua setuju, sebenarnya. Yunani lekatdengan Olimpiade karena tradisi itu pertama kali diselenggarakan di bukit Olympia, sedangkan sepakbola hampir tak punya rumah kecuali Inggris yang punya klaim football come home-nya,seperti yang dilakukan pada Piala Eropa 1996. Tapi rencana itu kemudian muluskarena prestasi Uruguay tidaklah buruk. Mereka kerap tampil di Piala Dunia, meski berkali-kali hanya numpang lewat.…

Read More
Cerpen 

Saat Hujan Turun Deras

MUHADZDZIER M SALDA | kitabmaop.blogspot.com Entah kenapa setiap hujan tiba, perempuan setengah abad itu akan berdiri di jendela rumah panggungnya berlama lama menatap rintik hujan yang membasahi setiap jengkal tanah. Ia akan mencium bau tanah yang menyengat dibasahi hujan. Perempuan itu akan berdiri di jendela sampai hujan reda. Begitu terjadi saat hujan tiba. Aku sering melihatnya berkali kali atau setelah lebih setahun aku tinggal di rumah kontrakan ini. Kerap kali kulihat perempuan itu akan menatap rintik hujan dengan wajahnya yang muram. Mulutnya sekali kali berkomat kamit seperti sedang mengeja sesuatu.…

Read More