Cerpen, Dimas Indiana Senja, Minggu Pagi

Seseorang yang Membangunkanmu Sahur

0
()

Cerpen Dimas Indiana Senja (Minggu Pagi No 05 Tahun 73 Minggu I Mei 2020)

Seseorang yang Membangunkanmu Sahur ilustrasi Donny Hadiwidjaja - Minggu Pagi (2)

Seseorang yang Membangunkanmu Sahur ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi

“Kamu tahu bedanya puasa dan puisi?”

“Apa, emang?”

“Puasa menahan hawa nafsu, puisi menahan hawa rindu.”

“Bisa aja kamu.”

“Oh iya, selamat menunaikan ibadah puasa, ya.”

“Iya, kamu juga.”

“Ngomong-ngomong sudah ada seseorang yang membangunkanmu untuk sahur belum? Hehe.”

“Sudah, alhamdulillah.”

“Oh, hehe.”

***

“Kamu masih ingat percakapan waktu itu?”

“Percakapan apa?”

“Tentang seseorang yang membangunkanmu untuk sahur.”

“Kapan?”

“Ramadhan kemarin.”

“Oh, iya, kenapa emang?”

“Kamu tahu perasaanku waktu itu?”

“Maksudnya?”

“Iya, waktu aku tahu bahwa sudah ada seseorang yang membangunkanmu untuk sahur.”

“Oh, haha, kamu lucu.”

“Kenapa emang?”

“Gapapa, gimana memang perasaanmu waktu itu?”

“Kapan?”

“Waktu tahu sudah ada seseorang yang membanggunkanku untuk sahur.”

“Sakit.”

“Kenapa sakit?”

“Kamu masih bertanya?”

“Apa salahnya?”

“Sebegitu tidak berperasaannya kamu.”

“Lho kok begitu?”

“Iya, bahkan tidak menyadari betapa hancurnya perasaanku.”

“Aku menyakitimu?”

“Iya dulu.”

“Kapan?”

“Waktu kamu memberitahu soal seseorang yang membangunkanmu untuk sahur.”

“Apa yang salah?”

“Kamu tidak tahu, bahwa sudah sejak lama aku mencintaimu?”

“Tahu.”

“Darimana kamu tahu?”

“Darimu, barusan, haha.”

“Hemmm, ayolah serius.”

“Kalau tidak serius, aku tidak mungkin bersamamu sekarang.”

“Bukan itu maksudku.”

“Lalu?”

“Tentang seseorang yang membangunkanmu untuk sahur.”

“Kenapa lagi?”

“Apa aku boleh bertanya, aku memendam ini sudah sangat lama.”

“Boleh, asal jangan pertanyaan sulit.”

“Tidak lebih sulit dari mencoba bertahan dengan keadaan waktu itu.”

“Maksudnya? Kapan?”

“Saat aku tahu sudah ada seseorang yang membangunkanmu untuk sahur.”

“Oh, jadi kamu mau tanya apa?”

“Sebenarnya siapa orang yang kamu maksud waku itu?”

Baca juga  Bacalah: Merapi!

“Apakah itu penting untuk kita bahas malam ini?”

“Setidaknya, aku akan lebih tenang.”

“Jadi sebulan kita menikah kamu belum tenang?”

“Bukan itu maksudku.”

“Lalu?”

“Ada pertanyaan yang selalu berkelebat di kepalaku selama ini.”

“Tentang apa?”

“Tentang seseorang yang membangunkanmu untuk sahur.”

“Aku tak ingin membahasnya.”

“Baiklah.”

“Kenapa mukamu masam begitu?”

“Aku gagal menemukan jawaban.”

“Jawaban atas pertanyaan apa?”

“Tentang seseorang yang membangunkanmu untuk sahur.”

“Apakah itu penting? Bukankah yang penting kita sudah menjadi suami istri yang sah?”

“Setidaknya, penasaranku berkesudah, itu saja.”

“Baik, apa yang ingin kamu tanyakan?”

“Kenapa wajahmu tegang begitu? Aku jadi ingat…”

“Ingat apa?”

“Dua bulan yang lalu.”

“Kapan?”

“Waktu aku melamarmu di depan ibumu.”

“Apa yang kamu ingat?”

“Wajahmu, tentunya.”

“Ada apa dengan wajahku?”

“Tegang, hahaha.”

“Tidak usah meledek.”

“Kenapa kamu begitu tegang?”

“Sekarang?”

“Waktu aku melamarmu.”

“Karena aku kedatangan calon imamku.”

“Kamu belum sholat?”

“Ihh, maksudnya imam rumah tangga.”

“Hahaha, apa benar kamu menerimaku karena wasiat almarhum bapak?”

“Iya.”

“Jadi bukan karena kamu mencintaiku, ya?”

“Tidak usah meledek.”

“Haha, tapi sekarang kamu sudah mencintaiku kan?”

“Iya, lebih dari apapun!”

“Kenapa?”

“Karena kamu satu-satunya laki-laki yang mengatakan ke ibu, bahwa kamu mau menikahiku dengan mahar surat Ar-Rahman.”

“Bagaimana dengan yang lain?”

“Kamu sudah menanyakan ini.”

“Oh iya, baik, anggap aja aku belum bertanya.”

“Kenapa?”

“Biar pembaca cerpen ini tahu.”

“Hmmm, yang lain hanya menjanjikan uang dan emas.”

“Termasuk orang yang dulu membangunkan sahurmu?”

“Hmmmm.”

“Apa kamu tidak butuh uang dan emas?”

“Tentu butuh, enak saja!”

“Haha, kenapa malah menerimaku?”

“Sebagaimana wasiat bapak, beliau ingin anak perempuan satu-satunya ini menikah dengan lelaki yang memberi mahar hapalan Ar-Rahman.”

Baca juga  Perempuan yang Setiap Pagi Memandang Gunung

“Sudah tidak usah sedih begitu, bapak sudah tenang di surga-Nya”

“Amiin.”

“Apa kamu keberatan dengan wasiat bapak?”

“Tentu saja tidak, aku ingin menjadi anak sholihah.”

“Baiklah.”

“Sejak kapan kamu menghapal surat Ar-Rahman?”

“Sebelum waktu itu.”

“Waktu….?”

“Waktu aku tahu seseorang yang membangunkanmu untuk sahur.”

“Hmmmmm, kenapa kamu menyiapkan surat Ar-Rahman?”

“Sejak di pesantren, aku bertekad untuk memberi mahar istriku surah Ar-Rahman.”

“Kenapa?”

“Aku ingin pernikahanku dihiasi dengan al-Quran.”

“Kenapa Ar-Rahman?”

“Segala sesuatu memiliki pengantin, dan pengantin al-Quran adalah surah Ar-Rahman.”

“Kalau pengantinmu?”

“Perempuan sholehah yang ada di depanku.”

“Mulai…”

“Mulai apa?”

“Gombal.”

“Ini doa, bukan gombal, seharusnya kamu menjawab dengan amin paling serius.”

“Amiiin.”

“Telat…”

“Telat bulan?”

“Eh, kamu telat bulan?”

“Hehe.”

“Kenapa ketawa?”

“Gapapa, ayo tidur, nanti kesiangan sahurnya.”

***

“Kamu tahu bedanya puasa dan puisi?”

“Hmmm, puasa menahan hawa nafsu, puisi menahan hawa rindu!”

“Bukan!”

“Lho, lalu apa?”

“Puasa mengajariku kesabaran, puisi mengajariku kesadaran.”

“Kesadaran tentang?”

“Bahwa akulah seseorang yang akan selalu membangunkanmu untuk sahur.”

“Oh, hehe.”

 

Rumah Kertas, 2020.

Dimas Indiana Senjafounder Bumiayu Creative City Forum.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

2 Comments

  1. Ngatmo

    Hampir semua cerpen di web ini amburadul…

  2. Ngatmo

    Apa web ini untuk belajar menulis ?

Leave a Reply

%d bloggers like this: