Cerpen, Radar Banyuwangi, Rusdi El Umar

Nenek Penunggu Pagi di Pinggir Jalan

0
()

Cerpen Rusdi El Umar (Radar Banyuwangi, 26 Juli 2020)

Nenek Penunggu Pagi di Pinggir Jalan ilustrasi Reza Fairuz - Raba (1)

Nenek Penunggu Pagi di Pinggir Jalan ilustrasi Reza Fairuz/Radar Banyuwangi

SETIAP kali aku berangkat ke kantor, setiap itu pula aku melihat seorang nenek sedang duduk di pinggir jalan. Di atas dipan, di sebuah persimpangan, nenek itu memandang kosong ke arah matahari terbit. Di atas lukisan langit yang indah, seakan ada diorama kehidupan yang tak lekang oleh waktu. Nenek itu hanya memandang tanpa ekspresi apa pun. Datar dalam bisu di ambang reranting pagi.

“Nek, apa kabar pagi ini?” Aku menyapa setelah turun dari motor. Semula aku tidak tahu siapa nama nenek tersebut. Dari obrolan orang-orang akhirnya aku pun tahu bahwa ia adalah Nenek Jum.

“Baik, Nak!” Jawab Nenek Jum datar.

“Mengapa Nenek selalu duduk di dipan ini setiap pagi?”

“Ah, gak apa-apa kok.”

“Benar? Gak ada apa-apa?”

“Ya, benar,” jawab Nenek Jum ragu. Tiba-tiba ada mendung di ujung wajahnya. Ada apa? Aku semakin dibuat penasaran oleh Nenek Jum.

***

Beberapa waktu silam. Sekitar 45 tahun yang lalu, Atik hidup bahagia bersama suami dan kedua anaknya. Di tepi sebuah kebun kopi, di antara kaki bukit yang menyiratkan kabut, mereka bahagia dengan keberadaannya.

“Masak apa hari ini, Dek?” Kasman suami Atik menyapa istrinya di pagi itu.

“Biasa Kang. Nasi putih, oseng-oseng daun singkong, dan pepes teri,” jawab Atik apa adanya.

“Wah, jadi terasa lapar nih.” Kata Kasman sambil melirik manja istrinya yang terkenal cantik itu.

Sambil menyiapkan sarapan di pagi itu, Atik memanggil kedua buah hatinya. Tidak berapa lama, kedua putrinya itu datang dengan tangan kotor. Rupanya mereka baru bermain lumpur di belakang rumah. Ya, namanya juga anak-anak, mereka tidak tahu akibat dari apa yang mereka lakukan.

Dengan sabar, Atik membersihkan kedua tangan anaknya. Kemudian mendudukkan mereka di atas tikar usang untuk sarapan bersama-sama. Meski dengan menu seadanya, makanan yang sangat sederhana itu terasa begitu nikmat. Tidak begitu lama, kemudian mereka selesai makan. Sungguh sebuah keluarga sederhana yang diliputi kebahagiaan karena hidup dihadapi dengan syukur.

Namun, dunia bagai perputaran roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Kebahagiaan itu tidak bertahan lama, ketika Darmin mendekati Atik di suatu sore. Darmin adalah pemuda gagah dan terkenal kaya. Bapaknya sebagai tuan tanah mempunyai berpetak-petak sawah yang dapat memberikan kehidupan mewah. Belum lagi ladang dan kebun kopi yang juga menambah deretan penghasilan yang banyak. Tetapi, Darmin dipandang sebagai orang yang berandal. Kurang beretika. Dan sering berbuat keonaran di desa itu.

Baca juga  Menyumpal Keran dengan Koran Bergambar Pahlawan

“Tik, kamu masih cinta dengan suamimu?”

“Tentu,” jawab Atik agak terkejut.

“Tinggalkan Kasman. Dan kau hidup denganku, Atik,” rayu Darmin.

“Gak. Kau hanya ingin mempermainkanku.”

“Sungguh, aku akan memberikan kebahagiaan itu padamu. Dan… juga cinta!”

Semula Atik tidak terpengaruh dengan rayuan maut Darmin. Ia paham bahwa Darmin hanya main-main. Tidak serius. Tetapi bukan Darmin namanya kalau tidak sampai mendapatkan apa yang ia inginkan. Kebahagiaan dan kesempurnaan hidup menjadi pemanis janji agar Atik jatuh ke dalam pelukannya. Meski Atik berusaha untuk tidak terpengaruh, tetapi pada akhirnya ia pun terkena racun rayuan Darmin.

Sungguh, Kasman tidak menyangka kalau istrinya, Atik, membuat keputusan aneh. Ia meminta cerai dari Kasman tanpa adanya alasan yang logis. Kasman mencoba membujuk. Tetapi Atik sudah tetap pada keputusannya. Cerai!

“Aku sudah tidak cinta lagi, Kang,” kata Atik saat itu.

“Begitu gampangnya kau berkata begitu?”

“Itulah keputusanku, Kang.”

“Kau yakin?”

Atik mengangguk tegas. Meski begitu dari matanya berderai gerimis air mata. Entah kecamuk apa yang terjadi di pikirannya.

Sebuah akhir yang menyesak. Kasman dan Atik pun resmi bercerai. Entah apa yang terjadi terhadap Kasman. Setelah bercerai dengan istrinya ia pergi, merantau entah kemana. Bersama kedua anaknya, Kasman ingin menghilangkan semua kenangan antara Atik dengan dirinya.

***

“Nek, setelah menikah dengan Kang Dirman, apakah Nenek bahagia?”

“Kebahagiaan itu tidak ada, Nak!”

“Lho, kok begitu, Nek?” Aku ingin tahu lebih jauh.

“Ya, begitulah….” Nenek Jum mengenang. Ada linang air mata di pipinya yang keriput.

“Apa yang terjadi, Nek?”

***

Malam itu, kelam begitu rapat. Rintik hujan menjadi teman sejati atas sebuah takdir yang membawa bara api. Di antara titik-titik air hujan. Di sela gelap yang temaram. Dirman menyelinap di lekuk malam yang sunyi. Diiringi gending lokananta* Darmin dan Atik menikmati sepi malam dengan sari madu surga, dipeluk angin malam yang senyap. Bunga-bunga surga itu bermekaran dengan semerbak harum nirwana.

Pagi sebelum matahari terbit, Darmin pamit pada Atik untuk pergi.

“Pergi ke mana, Kang?”

“Aku akan pergi. Jangan khawatir, aku pasti kembali.”

Atik damai dengan janji Darmin. Ia telah mengorbankan segalanya demi rayu-bujuknya. Suami ia tinggalkan, kedua buah hatinya pun ia biarkan bersama mantan suaminya. Keindahan dan damai yang ia rajut di saat itu, dicampakkan begitu saja karena terbujuk rayuan Darmin. Ia berharap, bersama Darmin kebahagiaan semakin bermekaran.

Hari-hari berjalan, waktu ke waktu perjalanan masa berlanjut. Atik menunggu, dan hanya tetap menunggu. Darmin dengan bujuk rayunya, janji-janji yang diungkapkan dengan aroma manis. Janji tinggallah janji. Harapan hanya sebuah ilusi. Ia raib entah ke mana. Hilang bagai ditelan bumi. Entah ke mana ia pergi. Atau terus mencari korban-korban perempuan lainnya. Keadaan ekonomi Darmin beserta kegagahannya menjadi modal besar untuk menipu perempuan-perempuan di mana saja. Itu sangat mungkin terjadi.

Baca juga  Perempuan Pencemburu

Gunjingan orang-orang sudah menjadi hal biasa. Atik harus bersabar dengan keadaan ini. Ia telah mengambil keputusan. Maka, ia harus menerima kutukannya.

“Janda muda lagi lewat.”

“Ya betul. Demi seorang Darmin.”

“Dia kan kaya raya.”

“Memang. Tapi kenyataannya….”

Gunjingan seperti itu, hampir Atik dengar setiap saat. Sesekali ia mengelus dada. Ada rasa nyeri di ulu hatinya. Sudah sekian lamanya tangis itu menemani. Malam yang senyap menjadi saksi atas derai air mata yang tidak berarti. Bagai menunggu getah batu, Kang Darmin yang diharap kedatangannya hanya sebuah khayalan belaka. Timbullah sesal yang tak berkesudahan. Begitulah. Penyesalan itu selalu datang belakangan.

Malam tidak begitu larut. Tiba-tiba dari pintu belakang menerobos sesosok orang yang memakai cadar. Dengan sebilah pisau, terlihat mengilat di antara temaram lampu talpek. Bilah tajam itu dihunuskan ke arah Atik. Tanpa dapat berbuat apa pun, Atik gemetar di atas ancaman pembunuhan.

“Nyawa atau buka baju!” Suara berat itu bergetar di antara kesiap hati Atik yang pias. Tidak bisa berbuat lebih, Atik menuruti apa yang diinginkan perampok itu. Maka terjadilah malapetaka itu. Kehormatan Atik tercabik oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Gemuruh dada Atik membuncah. Ingin rasanya ia berteriak. “Di mana keadilan-Mu, Tuhan?” Tetapi Atik sadar, kalau ia bukan seorang hamba yang berbakti. Salat saja jarang sekali ia kerjakan. Apalagi kejahatan terhadap Kasman, suami pertamanya, termasuk juga kepada kedua buah hatinya yang sekarang entah di mana.

Ujian hidup membuat Atik frustasi. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Tidak ada gunanya ia hidup, selagi dirinya tidak punya arti apa-apa. Biarkan saja ia mati berkalang tanah, daripada hidup menanggung derita. Cukuplah sudah derita itu sampai di sini. Ia telah mempersiapkan segalanya. Mati adalah jalan terbaik menurutnya.

Pada sebuah palang rumah, sebuah tali Atik persiapkan. Ia ingin mati dengan cara gantung diri. Semula ia ingin menggores nadi lengannya dengan pecahan kaca. Atau dengan cara minum racun serangga. Tetapi akhirnya, pikirannya cenderung kepada gantung diri. Sebuah canggah ia persiapkan. Tali sudah dikalungkan di lehernya yang jenjang. Sebentar lagi maut akan menjemput.

“Aaaaaa!”Atik menjerit setelah semua rencananya ia lakukan. Tetapi ia terjatuh karena tali yang ia gunakan tidak mampu menahan berat tubuhnya. Ia terjatuh di atas lantai tanah yang datar. Beberapa saat lamanya ia tidak sadarkan diri. Hanya perasaannya ia telah menghadap Tuhan. Mati meninggalkan kehidupan yang fana ini.

Baca juga  Debu

Beberapa saat berikutnya. Atik menggeliat setelah siuman dari ketidak-sadarannya. Ia meraba lehernya. Masih utuh. Tidak kurang suatu apa pun. Atik heran. Mengapa ia masih hidup. Bukannya ia ingin mati. Ia pun bangkit dari duduknya, kemudian berdiri dengan sangat sehat. Tidak kurang suatu apa pun. Atik melirik sesaat tali yang ia gunakan. Di sana juga ada potongan kayu palang rumah yang tidak kuat menahan beban dirinya. “Kok masih hidup ya?” Pikirnya sambil beranjak menuju teras rumah.

Atik tidak jadi bunuh diri. Maksudnya gagal dengan sendirinya. Di luar rencananya. “Mungkin takdir Tuhan aku harus menghadapi kehidupan ini dengan derita dan kesengsaraan.” Bisiknya di dalam hati. Ia kembali pada kehidupan. Menghadapi berbagai gunjingan dan cemoohan yang tiada akhir. Ia harus rela menghadapi keadaan ini. Semua telah ia putuskan. Bercerai dengan suaminya adalah pilihannya. Berpisah dengan buah hatinya adalah kemauannya. Begitulah.

***

“Terus, sampai sekarang, Nenek Jum masih menunggu?” Selidikku ingin tahu lebih jauh. Aku sekarang tahu kalau Jum merupakan panggilan dari Juma’ati. Nama asli Nenek Jum dan dipanggil Atik sewaktu masih muda.

“Ya, sampai detik ini Nenek masih menuggu,” jawabnya sambil menelan ludah yang terasa kering di tenggorokan.

“Menuggu Kang Darmin?”

“Ya. Setidaknya kedua anakku juga.”

“Siapa nama kedua anak Nenek?”

“Rianto dan Rianti.”

“Hah? Siapa Nek?”

Nenek Jum terdiam. Kembali gerimis itu berderai dari kelopak matanya yang sudah rabun. Pagi itu mentari begitu cerah. Cahaya pagi yang selalu setia menemani hari-harinya. Terlihat Nenek Jum mengambil napas dalam-dalam. Seakan sudah terasa lesap beban berat yang selama ini menderanya. “Rianti adalah ibuku, sedangkan Rianto adalah pamanku.” Aku berkata dalam hati. “Itu artinya…” Aku terkesiap dalam riak rindu yang begitu emosional.

“Neneeekkk!” Aku menjerit, menghambur dalam pelukannya. Pastinya, Nenek Jum terperangah dan tidak mengerti apa-apa.

 

Sumenep, 18 Februari 2020

 

Catatan

*Lokananta: Seperangkat gamelan di kayangan yang dapat berbunyi sendiri tanpa penabuh, hanya kesatria sejati yang mendapat perkenan dewa dianugerahi gamelan tersebut.

 

RUSDI EL UMAR, lahir dan besar di Sumenep, alumnus PP Annuqayah. Pengajar di SMP Negeri 1 Batang-Batang dan MTs Darul Ulum Batuputih. Beberapa artikelnya dimuat di media masa. Beberapa buku tunggal dan antologi bersama juga sudah diterbitkan.

 660 total views,  2 views today

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: