Cerpen, Tati Y Adiwinata, Tribun Jabar

Laki-laki yang Menyimpan Hatinya

0
()

Cerpen Tati Y. Adiwinata (Tribun Jabar, 02 Agustus 2020)

Laki-laki yang Menyimpan Hatinya ilustrasi Deni A Fajar - Tribun Jabar (1)

Laki-laki yang Menyimpan Hatinya ilustrasi Deni A. Fajar/Tribun Jabar

Sejak lama aku mengagumimu, laki-laki pertama dan entah mungkin jadi yang terakhir. Wajahmu yang tampan, tentu telah menarik perhatianku, tanpa kau sadari.  Kita suka sekali berdebat dalam beberapa percakapan. Silang pendapat itu sudah biasa. Tapi, beberapa kali kita juga sepakat.

Suatu kali, pada saat kita terakhir berdua di beranda rumah, saat senja dengan warna jingganya yang memukau mata. Kita terlibat dalam percakapan yang serius bagiku, tapi  mungkin seperti hanya percakapan biasa bagimu. Dan sungguh telah meninggalkan kesan yang begitu dalam. Sering terulang dalam bingkai ingatanku. Bagaimana kamu memperlakukan aku. Aku seperti tengah bertepuk sebelah tangan, mencintaimu diam-diam, dan itu sungguh menyiksaku.

Dalam percakapan kita kau bertanya, bukankah kematian harusnya disambut dengan sukacita? Karena kematian bagimu adalah pelepasan diri dari kefanaan menuju sebuah keabadian. Bagaimana mungkin kau begitu enteng memandang sebuah kematian?  Padahal yang kutahu, kau tak begitu pula menjalankan ibadah dengan tekun. Katamu, “Kita selalu terjebak antara surga dan neraka, hingga kematian begitu menakutkan. Kau takut masuk neraka bukan?” Aku terdiam. Tentu aku takut masuk neraka karena ia digambarkan penuh kengerian. Penderitaan yang abadi dan jiwa yang membusuk di dalamnya. Kau lalu tergelak,  binar matamu memancarkan rasa percaya diri. Sementara aku mulai merasa tidak nyaman,  ingin sekali mengalihkan topik pembicaraan ke arah yang lebih ringan. Tentang cinta umpamanya? Ya, cinta kita yang tak jelas warnanya.

Namun, kau terus tertawa. Entah apa yang kau tertawakan, apakah keluguanku memandang tentang kematian?

“Hei, bukankah kau ahli ibadah? Kau lakukan sholat lima waktu ditambah pula sholat sunat,  puasa, sedekah, berkurban, berbakti kepada orang tuamu, sayang kepada saudaramu. Ibadah apalagi yang belum atau tidak rutin kau lakukan? Oh, ya, tinggal naik haji bukan? Lalu apa yang membuatmu cemas?” Ia bertanya lagi dengan nada yang sangat enteng.

“Sudahlah, beribadah saja dengan rasa bahagia. Jangan kauhiraukan surga atau neraka. Itu, kan, wilayah Tuhan. Kita hanya manusia yang diciptakan untuk beribadah saja, bukan?” tanyamu lagi tanpa membutuhkan jawaban.

Kematian bagimu seperti sebuah lelucon. Lagi-lagi kau tergelak. Aku merasa ada yang menghujam ulu hatiku. Entah kenapa. Setiap kau tertawa, ada sesuatu yang coba kausembunyikan.

Baca juga  Membunuh Iblis pada Malam Tahun Baru

“Meski kaukatakan aku ahli ibadah, aku selalu merasa kurang dan abai kepada Tuhanku. Rasanya bekalku belum cukup,” kataku lagi, serius. Aku tahu suaraku agak bergetar. Tiba-tiba saja, aku ingin menangis, mengingat jalan hidupku. Barangkali ada dosa yang luput kuingat.

“Sudahlah, jangan cemas oleh waktu yang akan datang. Siapa tahu aku mati lebih dulu daripadamu. Dan kau tahu, aku ini seorang pembangkang!” katamu lagi. Kali ini kulihat kau agak serius. Wajahmu terasa tegang, urat-urat di keningmu tampak seperti garis-garis yang melintang begitu saja, menandakan bahwa kau sedang berpikir keras. Jangan lagi tergelak untuk menyembunyikannya karena sekarang aku sudah fasih membaca mimik mukamu. Kapan kau serius dan kapan bercanda.

Percakapan ini dimulai ketika aku pulang dari sebuah kajian di tempat aku mengaji.  Sang ustaz menerangkan, bagaimana nanti jiwa terlepas dari raga. Orang yang beriman, ruhnya akan lepas dengan mudah dan ringan. Kajian belum sampai kepada orang yang tidak beriman dan jahat,  Ustaz akan membahasnya kemudian. Tapi, aku sudah ngeri duluan.

Terus terang sepulang kajian aku gelisah dan langsung menghubungimu, agar hatiku tenang. Namun, kau malah membuatku lebih gelisah. Aku ingin kau berubah, untuk lebih serius melaksanakan ibadah. Kembali kau tergelak,  demi Tuhan aku ingin mencubit pipimu dengan keras.

“Ibadah itu ritual, percuma kau melaksanakan gerak lahiriahnya saja. Tapi, implementasinya dalam kehidupan sehari-hari tidak ada!” katamu lagi.

Aku setuju dengan pendapatmu kali ini. Ibadah bukan hanya ritual raga semata. Ia adalah perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari. Ah, kau ada kalanya benar, tapi tak jarang kita berbeda pendapat. Dan kau merasa selalu benar, sementara aku lebih memilih untuk diam. Entah apa sebabnya. Apa aku terlalu mencintaimu? Hingga untuk menyalahkanmu aku tak sanggup. Hubungan kita yang tidak jelas ini tentu meresahkanku akhir-akhir ini, setelah beberapa lalu aku memutuskan untuk hijrah dan melaksanakan agamaku dengan kafah. Aku bilang kau bukan muhrimku, dan kebersamaan kita haram hukumnya. Kembali kau tertawa. Kau selalu menganggap lelucon apa-apa yang keluar dari mulutku. Padahal aku sungguh-sungguh, jika kau serius. Aku telah siap kaunikahi. Tentu dengan syarat kau pun harus hijrah bersamaku. Tapi, tentu perkataan ini hanya aku simpan dalam hati,  tak pantaslah aku seorang wanita mengemukakan keinginanku lebih dulu. Kau merasa tidak ada yang salah dengan hubungan kita, toh kita bersahabat telah sejak lama. Semenjak kau pindah ke depan rumahku, saat kita masih memakai seragam berwarna biru. Tapi, menjadi masalah bagiku kini ketika aku sering datang ke pengajian. Sedikit demi sedikit mengubah cara hidupku. Kau tak mau mengerti, mengatakan bahwa apa yang aku lakukan adalah norak dan kampungan. Ini bukan norak,  ini hukum yang mesti aku ikuti.

Baca juga  Sang Pemimpi

Semenjak itu, aku jauhi kau demi syariat. Kau terkejut dan berusaha mencegatku. Kau protes dan meradang, mengatakan aku tidak adil padamu. Bagaimana aku bisa memutuskan silaturahmi dengan cara tiba-tiba, sementara kau tidak mau mengerti jalan yang kupilih. Kita itu bukan muhrim, dan kita haram bertemu muka.

Aku bersikukuh dengan keputusanku.  Kalau ingin bertemu aku, kau harus ke rumah dan harus ada Bapak, paling tidak kakak laki-lakiku. Tapi, kau bilang tidak mau, risi katamu.

Lalu setelah itu, kita tak pernah bertemu lagi. Kau tahu? Berpisah denganmu adalah hal terberat bagiku.  Bagaimana mungkin aku dengan mudah melupakanmu? Sepuluh tahun kedekatan kita sungguh penuh warna, suka dan duka.  Pertengkaran-pertengkaran kecil malah semakin menguatkan kebersamaan kita. Sampai tak kita sadari, akhirnya  kita saling tergantung. Kau membutuhkan aku dan sebaliknya. Lama aku tak berjumpa denganmu, rasa rindu ternyata bagaikan belati,  yang mata pisaunya dapat menghujam lebih tajam dan menyakitiku. Namun, keimananku tak tergoyahkan, aku lebih takut kepada Tuhanku daripada menyerah kepada rasa sakit akibat rindu.

Hingga suatu hari, ada kabar yang sangat mengejutkan datang tentangmu,  kau masuk rumah sakit. Bisa kau bayangkan bagaimana paniknya aku? Dengan menahan tangis aku tergopoh diantar kakak sulungku, Mas Rio. Aku menengokmu dengan rasa bersalah yang menyudutkanku sepanjang perjalanan.

“Aku ingin meminangmu!” katamu saat aku baru saja tiba di rumah sakit. Belum sempat kuatur napasku sedemikian rupa. Di tengah rasa sakit yang menderamu, kau melamarku.

Aku tertegun, entah rasa apa yang tengah berkecamuk dalam hatiku.  Bahagia apakah sedih?  Lalu, lewat kakakku kau mengatakan bahwa kau tengah sakit keras. Dan kau takut sekali mati.  Kalau kau mati, kau ingin mati di pangkuanku. Tapi, itu tidak mungkin karena kau bukan muhrimku, agar halal maka kau ingin aku menjadi istrimu.

Baca juga  Perempuan Terindah

Ya, Tuhan. Entah apa yang mesti kulakukan? Jika keinginanmu hanya sekadar mati di pangkuanku lalu apakah aku tak kalah lebih berdosa? Aku tak punya waktu untuk berpikir karena aku baru menyadari bahwa selama ini kau sakit parah dan menyembunyikannya dariku. Sering kau bermain-main dengan kematian, hanya karena kau tahu lebih dulu kapan kau akan mati. Kau tahu? Air mataku tak henti berderai, aku seperti akan menghadapi kematianku sendiri karena selama ini kita sering bercanda tentang selisih kematian kita, tak akan beda terpaut jauh. Jika kau mati lebih dulu, aku akan menyusulmu kemudian, begitu pun sebaliknya. Maka tak ada waktu lagi, aku mengiyakan ajakanmu untuk menikah sebelum kanker getah beningmu itu lebih cepat mengambil dirimu dariku. Aku seolah tengah mempersiapkan kematianku sendiri.

“Akan kuterima kematianku dengan ikhlas!” katamu sesaat setelah kita resmi menjadi suami istri. Air mata menghalangi pandanganku ke wajahmu begitu saja. Semua mengabur tak jelas.

“Kamu takut?” tanyaku.

“Aku sangat takut.”

Lalu aku memelukmu.

“Bimbing aku untuk hijrah!” pintamu. Aku mengangguk, mencium tanganmu berkali-kali, menggenggamnya penuh dengan sejuta rasa. Akan aku nikmati sekawanan detik ini bersamamu, tak peduli seberapa lama. Barangkali cukup, untuk kita saling mengerti arti cinta yang sebenarnya, sebelum kesunyian hinggap di nisanmu esok, atau entah. ***

 

Tati Y. Adiwinata, lahir di Bandung, 6 Juni. Menulis sejak di bangku SMP. Beberapa cerpen dan karya tulisnya pernah dimuat di Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Majalah Femina dan Tabloid Lokal. Sudah menerbitkan novel Rembulan dan Matahari (Penerbit Rumah Imaji, 2019), buku puisi Antologi Merahnya Rindu (Penerbit JM Maestro, 2019), dan kumcer Laki-laki Bayangan (Penerbit Rumah Imaji, 2020).

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: