Cernak, Elfi Ratna Sari, Solopos

Lubang Yuyu Ayu

0
()

Oleh Elfi Ratna Sari (Solopos, 07 Juli 2019)

Lubang Yuyu Ayu ilustrasi Solo Posw

Lubang Yuyu Ayu ilustrasi Hengki Irawan/Solopos

Bukan Ayu namanya andaikata dia berwajah tampan. Atau barang kali dia yang pakai celana merah kalau ke sekolah. Sudah dipastikan ibu bapaknya tidak akan memberi nama Ayu. Mungkin Bagus atau nama laki-laki lainnya. Tapi dilihat dari tingkah laku, Ayu tidak seperti anak perempuan pada umumnya. Dia sedikit menyalahi hal yang biasanya dimainkan anak-anak. Bagaimana tidak? Gadis sembilan tahun itu lebih tertarik memancing, main bola, atau mencuri mangga tetangga, dibanding duduk manis main pasaran, sudah manda, atau boneka gedebog pisang.

Ibunya beberapa kali menasihati, tapi rasanya percuma. Sebelum sempat didengar dengan baik, dia sudah berlari sambil teriak, “Aku pergi main bola dulu, Ibu.”

Dan wusss … seperti dibawa angin, Ayu lari keluar dari rumah.

Ibu dan orang-orang dewasa di sekitarnya merasa mulai putus asa dalam mencari cara membuat anak itu berubah jadi anak manis yang memainkan permainan anak perempuan pada umumnya.

Hingga pada suatu ketika, dia tidak jadi anak tunggal lagi karena adiknya lahir. Awalnya dia sangat bahagia mengetahui hal itu walau tidak sesuai keinginannya— yaitu adik laki-laki, tapi dia tetap sayang pada adiknya. Bahkan dia terang-terangan bilang di depan banyak orang, “Dek Cantika … nanti kalau sudah bisa jalan, Mbak ajari main bola, ya. Kita main bola bareng.”

Ibu langsung melotot ke arahnya—yang ditatap justru sibuk menciumi pipi adiknya. Merasa ucapannya sama sekali tidak salah. Toh, apa salahnya anak perempuan main bola? Tidak ada larangan dari pemerintah, kan?

Tapi lama kelamaan, dia juga merasa bosan kalau harus bersama adiknya terus, karena adiknya lebih banyak tidur—namanya juga bayi. Ayu ingin melakukan permainan yang hebat lagi, dan itu belum bisa dia lakukan bersama adiknya.

Baca juga  Gara-gara Film Hantu

Suatu ketika, ibu hendak pergi ke pasar sebentar untuk membeli keperluan rumah. Karena Cantika masih terlalu kecil dan keadaan mendung, ibu meninggalkannya di rumah bersama Ayu. Walaupun bendel, ibu tahu kalau Ayu sangat sayang kepada adiknya.

“Ayu, Ibu ke pasar sebentar. Tunggui adik, ya. Jangan pergi sebelum ibu kembali,” kata ibu.

Tapi sepertinya Ayu tidak terlalu mendengarkan. Sebab dia sedang sibuk menyiapkan jaring— mungkin untuk menangkap ikan. Dia membuat sendiri jaringnya menggunakan tali rafia yang dililit terlebih dulu.

Benar saja, tanpa memedulikan ucapan ibu, setelah mencium pipi adiknya yang tertidur di ayunan, dengan riang dia pergi. Sama sekali tidak memedulikan jika tidak ada seorang pun di rumah yang bisa menjaga Cantika.

Gerimis mulai turun, tapi Ayu tidak peduli. Dia bahkan sudah tidak pakai sandal dari rumah untuk memudahkan berjalan kalaukalau hujan turun dan membuat jalanan berlumpur. Soal kehujanan, justru lebih asyik jika mainnya bisa sambil hujan-hujanan. Semua anak tentu suka bermain-main di bawah hujan. Seperti berada di bawah shower raksasa.

Ternyata Ayu tidak menuju sungai untuk mencari ikan. Melainkan ke sawah.

Aha! Itu lubangnya!” teriak Ayu ketika melihat lubang dengan tulisan kertas yang diapit dengan bambu dan ditancapkan di dekatnya. Di sana tertulis; ‘LUBANG YUYU AYU’.

Dia berlari mendekati lubang. Tanpa banyak bicara, dia langsung memasukkan tangan ke dalam lubang, mengambil penghuni yang ada di dalamnya. Ya, dia membawa jaring bukan untuk menangkap ikan, tapi menangkap yuyu.

“Ah, ini dia ketemu!”

Ayu begitu bahagia ketika menyadari tangannya sudah menyentuh apa yang dia cari. Tak tunggu lama, dia langsung menarik yuyu itu keluar sarang. Tapi begitu keluar dari lubang, yuyu yang merasa terganggu dengan Ayu, langsung menggunakan cara melindungi dirinya. Yaitu dengan mencapit jempol Ayu.

Baca juga  Senyuman Delima

“Aduh sakit … tolong!”

Ayu meloncat-loncat saking merasa sakitnya. Tapi sudah begitu, yuyu itu tetap tidak mau melepaskan capitannya. Suara minta tolongnya juga tak didengar orang lain, sebab kebanyakan orang sudah pulang. Tinggal beberapa saja yang mungkin tak mendengar teriakan Ayu karena kalah dengan suara hujan.

Tak kunjung mau lepas juga, akhirnya Ayu menggigit tubuh yuyu. Mungkin dengan begitu capitannya akan lepas. Sayang seribu sayang. Bukannya lepas, yuyu itu semakin marah pada Ayu, kemudian menggunakan capitan satunya untuk mencapit bibir Ayu. Ayu tambah mengaduh. Dia menangis sambil berjalan pulang. Membiarkan kedua capit yuyu  mencapitnya. Hingga yuyu itu merasa bosan sendiri lalu melepaskan diri, jatuh ke tanah dan pergi dengan berjalan miring. Ayu membiarkan yuyu itu pergi, sudah tidak tertarik menangkap yuyu lagi.

Sampai di rumah dia menangis tersedusedu. Bibir dan jempolnya sakit dan memerah. Ibu yang awalnya akan marah karena dia meninggalkan adiknya sendirian di rumah, akhirnya tidak jadi karena kasihan.

“Maafkan Ayu, ibu. Ayu janji menurut sama ibu. Ternyata tidak menurut itu membuat bibir dan jempol Ayu dicapit yuyu.”

 

Elfi Ratna Sari. Penulis kelahiran Pati, 8 September 1993.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: