Cerpen, Minggu Pagi, Pangerang P Muda

Undangan Masa Depan

0
()

Cerpen Pangerang P. Muda (Minggu Pagi No 19 Th 73 Minggu II Agustus 2020)

Undangan Masa Depan ilustrasi Donny Hadiwidjaja - Minggu Pagi (1)

Undangan Masa Depan ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi

Dua setengah jam sejak melarikan mobil keluar dari garasi, pemandangan di luar mulai terlihat asing. Tidak saya jumpai lagi pepohonan atau bangunan, yang ada hanya gumpalan-gumpalan sewarna kapas yang sama betul dengan gambar di undangan.

RASA takjub membuat niat saya memutar kemudi dan berbalik arah, yang tadi sempat muncul, kini melucut. Dengan riang saya merasa sedang bermobil di sela-sela awan.

Di depan setir, garis-garis biru calak gambar peta pada undangan yang saya hadapkan ke arah saya, yang menjadi petunjuk arah, terus menyala menuntun arah mengemudi, sampai kemudian saya mulai melihat wujud gedung itu. Menjulang megah, puncaknya yang tak terlihat seakan menembus langit—juga sama betul dengan gambar di undangan. Begitu melihat gerbangnya, saya mengurangi injakan pedal gas.

***

PERJALANAN ini bermula dari selembar undangan yang berkali-kali membuat mata saya terbelalak. Dua hari sebelumnya undangan itu saya temukan di atas meja di ruang baca, dan saya selipkan saja di sela tumpukan buku karena tidak tertarik. Tadi pagi, ketika keluar dari kamar mandi, kertas undangan itu malah separuh membersil di bawah bantal.

Seperti juga dua hari lalu, setengah panik saya tanyai lagi istri serta kedua anak saya siapa yang telah meletakkan undangan itu, dan semuanya tetap mengelak. Menantu saya terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan tidak mungkin mau mengurusi soal selip-menyelipkan undangan. Tidak mungkin pula cucu saya, yang sulung kuliah di kota lain, sedang yang bungsu mondok di pesantren.

Sejak pensiun, saya tidak pernah lagi mendapat undangan resmi seperti seminar, rapat dengan pejabat kota, atau semacamnya. Paling undangan pernikahan, atau akikah cucu sesama pensiunan, dan undangan jenis itu istri saya yang kebagian menyimpan. Belakangan, memang kerap datang undangan presentasi bisnis investasi, tapi saya tidak pernah tertarik menghadiri. Mengira acara seperti itu lagi sampai undangan itu tidak saya gubris.

Lima belas tahun pensiun tanpa aktivitas memang membuat kebugaran fisik saya cepat merosot. Bawaan maunya hanya duduk-duduk membaca, atau berbaring meluruskan punggung, karena di bagian tubuh itu yang terasa kian merapuh. Kalut pikiran yang kerap berinteraksi langsung dengan nyeri di punggung membuat saya tidak ingin berlarat-larat memikirkan misteri perpindahan undangan itu. Mangkel saya mengambilnya dari bawah bantal lalu mengangsurkan ke luar jendela. Membuangnya saya anggap persoalan undangan ini selesai.

Baca juga  Kesepian Linduang Bulan

Sehabis menyantap bubur ayam, saya berhasrat mengisi waktu dengan membaca, dan saat memilih buku yang ada di atas meja saya temukan lagi undangan itu di sela tumpukan buku. Padahal jelas-jelas saya sudah membuangnya!

Atau, undangannya memang ada dua? Buru-buru saya longok bak sampah di luar jendela dan ternya¬ta kosong. Saya mulai berpikir jangan-jangan undangan ini punya roh, atau apa pun itu, yang bisa me- mindahkannya ke mana-mana agar saya perhatikan?

Akhirnya undangan itu saya ambil kembali dan melepas sampul plastiknya. Begitu saya tarik keluar, kertas undangan itu menguarkan aroma melati yang tajam, sampai tanpa sadar hidung saya mendekat. Membuka lipatannya, jejeran huruf yang menjadi kop undangan sontak membekap tatap. Entah, apakah saya berhalusinasi, tulisan di situ serupa lendir kelemayar, berpendar dalam tiga kata: Undangan Masa Depan.

Hendak saya buang kembali karena menduga hanya tipuan modus baru, tapi urung saat menatap gambar gedung megah tempat berlangsungnya acara. Gedung itu dikelilingi gumpalan putih, bukan hampar halaman atau taman seperti gedung umumnya. Yang membuat saya terpukau, dan kemudian tertarik, karena gumpalan putih di dalam gambar yang mengelilingi gedung megah itu seperti bergerak-gerak membentuk citra awan.

Tidak tertera nama gedung itu maupun alamatnya. Yang ada hanya peta, tercetak di bagian belakang kertas undangan, disertai penjelasan mengikuti penunjuk arah sejak dari batas kota menuju gedung itu. Penunjuk arah itu berupa garis-garis berwarna biru calak begitu cerlang, seakan ada baterai amat halus di baliknya se- hingga garis-garis itu seperti menyala. Saya memeriksa jadwal acara dan ternyata hari ini, jam selewat paruh siang. Di sudut bawah, ada catatan undangan itu hanya berlaku untuk diri saya dan tidak boleh diwakili, tidak boleh pula ditemani. Ini tantangan!

Baca juga  Ia Menangis Bersama Malaikat

Siapa pun pihak pengundang, yang entah dengan cara apa undangannya ada di atas meja ruang baca saya, akhirnya berhasil membuat saya tertantang, dan tertarik datang. Segera saya menyelinap ke garasi serupa pencuri. Bila tahu, istri dan anak saya pasti melarang, atau ngotot mau menemani, padahal tidak dibolehkan sesuai yang tertulis di undangan. Saya tidak ingin lagi dihalangi.

Setelah dua setengah jam lebih berkendara mengikuti petunjuk arah bercitra garis biru menyala pada peta di undangan, sampailah di sini, di depan gerbang gedung itu.

Cukup lama saya berputar-putar mencari area parkir. Halaman gedung teramat luas, sampai saya sempat kehilangan orientasi arah. Begitu menemukan saya juga tidak langsung memarkir mobil, karena perlu menahan dulu jegil mata menyaksikan jejeran kendaraan yang ada di sana. Tidak hanya jenis mobil yang selama ini biasa saya lihat, atau pernah saya lihat sebelum-sebelumnya, banyak pula mobil keluaran lebih lama seperti sedan-sedan kuno yang hanya pernah saya lihat di film atau gambar. Lebih mendekat lagi, saya melihat ada pula mobil-mobil yang masih menggunakan mesin uap sebagai penggerak rodanya; jejeran mobil yang rodanya masih berjari- jari kayu; kendaraan jenis pedati, bendi, sado, delman, serta segala bentuk kereta kuda lainnya.

Senyampang terus melongo, serampangan saya sempilkan saja mobil di antara beragam wujud kendaraan dari berbagai era itu. Saya turun dan hendak memeriksa lebih dekat ketika dua petugas, entah dari mana munculnya, langsung mengapit saya. Mulut saya membulat melepas heran, “Mobil-mobil di parkiran ini, seperti sengaja dijejer berdasarkan eranya. Ada yang sudah sangat kuno, malah ada tunggangan dari zaman baheula seperti pedati, kereta kuda….”

“Itu kendaraan orang-orang yang diundang ke tempat ini,” jelas salah satu petugas, tanpa ekspresi.

“Mereka datang ke sini memenuhi undangan sejak jutaan tahun lalu, bahkan sejak manusia belum mengenal nama hari dan angka kalender, hingga hari ini, dan hingga detik ini seperti kedatangan kamu sekarang.” Mendadak dungu, saya ingin mengajukan lebih banyak pertanyaan, tapi penjaga yang satunya dengan suara berat menghardik, “Tidak ada lagi waktumu bertanya. Cepat masuk. Kamu sedang ditunggu di dalam.” Kedua petugas itu kemudian mengapit saya memasuki gedung. Di dalam, lorong-lorong yang kami lalui cukup membingungkan, berselok-belok, membuat napas saya berkempul-kempul, sebelum menyadari ternyata mereka mengapit saya menuju sebuah aula. Pintu aula itu setinggi langit-langit dan selebar dinding, yang ketika bergeser membuka mengeluarkan dengung menggiriskan kuping. Pengapit saya menyergah, “Tulis dulu namamu di situ,” seraya menunjuk meja panjang di sisi pintu masuk. “Tulis namamu di bawah nama-nama yang sudah ada.”

Baca juga  Ajal Anwar Sadat di Cempaka Putih

Di atas meja ada buku tamu yang sedang terbuka. Di belakang meja ada lemari kaca yang sangat besar, disesaki susunan buku serupa buku tamu yang ditunjukkan ke saya. Seraya mendekat ke meja, saya sempatkan mencuri pandang ke dalam aula. Rupanya di dalam sana acara yang dimaksud undangan itu. Saya terpana melihat betapa luas ruangan di dalam sana, sampai saya tidak bisa melihat sisi-sisi dindingnya berakhir di mana, dan dipenuhi orang yang mustahil dapat dihitung. Ternyata banyak sekali yang diundang dan berkenan pula menghadiri undangan masa depan ini.

Sebelum menulis nama, saya sempatkan dulu membaca nama-nama yang sudah tertulis di situ. Sontak tangan, menyusul tubuh, bergetar hebat; napas saya serta merta ikut pula sesak. Di situ tertera nama bapak dan ibu, kakek dan nenek saya, beberapa paman dan bibi, keluarga dekat, serta nama kerabat lain yang saya kenal. Semua itu sudah tiada, meninggal sudah lama maupun baru.

“Cepat!” Kedua petugas menyentak tegas, membuat napas saya mencelat dan entah terselip di mana.

“Mereka sudah menunggumu di dalam.” ■

 

Pangerang P Muda: Guru SMK, berdomisili di Parepare Sulawesi Selatan.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: