Cerpen, Mahan Jamil Hudani, Padang Ekspres

Seorang Tukang Ojek dan Haji Mardun

5
(1)

Lima bulan terakhir ini saat Haji Mardun senang naik ojek di pangkalan kami, hampir tak ada tukang ojek yang mau mengantarnya. Awalnya sebenarnya tak ada masalah, tapi setelah beberapa kali mengantar Haji Mardun, satu persatu tukang ojek yang berjumlah enam orang termasuk denganku tak mau lagi mengantar Haji Mardun. Itu mungkin karena mereka menganggap Haji Mardun orang yang pelit dan terbilang rewel atau bahkan suka sekali berubah pikiran, sementara banyak teman tukang ojek harus mengejar setoran hingga mereka malas mengantar orang seperti haji Mardun.

“Bardo, kau saja ya yang mengantar Haji Mardun,” ujar Kirjo kepadaku yang kemudian disahuti tukang ojek lain saat mereka melihat Haji Mardun keluar dari rumahnya dan menuju pangkalan.

Aku tentu saja kadang merasa keberatan, tapi sayang juga jika rezeki kulewatkan. Awalnya aku juga sering merasa jengkel dengan Haji Mardun karena selain ia sering menawar harga ojek, kadang juga ia mengajakku ngobrol sepanjang perjalanan. Ia akan memintaku mengendarai sepeda motor perlahan untuk sekadar melayaninya berbincang. Seperti yang kuceritakan, ia juga sering mengubah rute semula dengan tujuan yang berbeda dan lebih jauh tapi ia membayar dengan ongkos yang sama.

Baca juga: Akuarium Hati – Cerpen Jeli Manalu (Padang Ekspres, 11 Februari 2018) 

Awalnya aku juga ingin menolak untuk mengantar Haji Mardun seperti lima tukang ojek temanku setelah kuketahui sikap haji Mardun tersebut. Entah kenapa aku merasa tak enak hati jika harus menolaknya juga. Kini jadilah aku seperti tukang ojek langganannya karena memang hanya aku yang siap mengantar haji Mardun, dan dengan rasa yang sangat terpaksa aku akan bersikap manis di depan haji tersebut. Aku melayani obrolannya, aku juga tak pernah protes dan meminta uang lebih jika ia mengubah rute. Pikirku tak apalah, anggap aku mengobati kesepian haji tua yang kudengar memiliki tiga anak yang sangat sukses dan tinggal di luar negeri.

Baca juga  Burung Bapak

Setelah sekian lama aku menjadi tukang ojek pribadi haji Mardun, aku mulai paham dengan kebiasaan dan tabiatnya. Haji Mardun akan menawar berapa pun harga yang aku ajukan kepadanya. Jika aku bersikeras dengan harga semula yang sebenarnya memang telah harga pasaran, ia pasti akan memasang muka masam meski akhirnya akan tetap naik sepeda motorku juga.

“Pak Haji, itu memang sudah harga pasaran. Saya takut jika teman-teman tukang ojek yang lain marah jika saya menurunkan tarif,” kataku padanya saat aku akan mengantarnya.

Loading

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Fika

    1. Banyak orang kampungku, khususnya beberapa teman tukang ojek yang mangkal denganku di persimpangan jalan tak jauh dari rumah Haji Mardun mengatakan jika ia adalah seorang yang sangat pelit. Mungkin benar kata mereka, tapi menurutku sebenarnya Haji Mardun itu bukan orang yang pelit, hanya ia orang yang sering bersikap seenaknya sendiri dan orang lain harus mengikuti kehendaknya.

    Latar tempatnya dimana kak?
    Kampung ? Atau pangkalan ojek?

Leave a Reply

error: Content is protected !!