Cerpen, De Eka Putrakha, Medan Pos

Ket(aku)tan

0
()

Cerpen De Eka Putrakha (Medan Pos, 30 Agustus 2020)

Ketakutan ilustrasi Thinkstock

                                          Ket(aku)tan ilustrasi Thinkstock

“Tidak perlu menyalahkan apa pun yang menjadi ketakutan. Tapi, yakinkan diri bahwa takut adalah kelemahan yang harus dimenangkan!”

Belasan tahun yang lalu, banyak yang mencapku sebagai bocah pelamun. Suka berimajinasi tidak menentu sehingga aku jarang sekali bermain bersama teman-teman di lapangan seperti halnya anak laki-laki yang bermain bola atau pun layangan. Tidak kuhiraukan berbagai macam tuduhan aneh yang sering dilayangkan untukku.

“Jangan suka melamun di kelas!”

Catatan yang pernah ditulis wali kelas dalam buku raporku suatu ketika. Banyak yang menertawakanku setelah mengetahui hal itu. Aku tidak menampik lagi. Selama ini aku hanya membayangkan sebuah masa depan dan menjalaninya penuh warna. Namun ketakutan mulai muncul saat lamunanku semakin panjang.

“Apa aku bisa menjalaninya? Apa sanggup mengalahkan anggapan orang lain sementara mengalahkan diriku saja tidak mampu?”

Uh! Pertanyaan itu menerorku terus menerus saat larut dalam imajinasi. Seringkali pertanyaan yang tidak terpikirkan itu memberondongku tanpa ampun. Sehingga rasa takut mulai menyerangku, keadaan yang tanpa sengaja kuciptakan sendiri. Tidak pernah terbesit untuk selalu merasa takut. Sebab aku pun tidak mungkin membenci diriku sendiri.

Aku bukanlah bocah penakut. Selama yang kulakukan tidak merugikan orang lain, keberanian akan mengikuti dengan sendirinya. Misalnya saja batang pohon cengkeh yang menjulang tinggi di halaman depan rumah menjadi tempatku bermain sendirian. Embusan angin yang menggoyangkan rantingnya kian kemari membuatku betah berlama-lama sebab sedikit pun aku tidak takut. Pernah juga kusengaja tidur di mushala sendirian dengan mematikan lampu, sungguh aku merasakan ketenangan. Lagi-lagi aku tidak merasa ketakutan.

Baca juga  Ketika Emak Seperti Anoman

“Sampai kapan kamu tidak mau bermain bersama kami?” Keluh beberapa orang temanku suatu ketika.

“Aku akan bermain bersama kalian asalkan kalian juga mau bermain sepertiku.”

Semua terdiam sejenak. Mereka seakan tidak memiliki waktu banyak untuk mengajakku lagi.

“Sudahlah!”

Setelah mereka meninggalkanku rasa takut tiba-tiba menyerang. Mau sampai kapan? Tapi aku masih menikmati sendirian. Hanya saja aku masih menyadari bahwa suatu saat nanti aku tidak akan bisa sendirian. Aku menunduk cukup lama.

“Sebenarnya apa yang kamu takutkan?”

Tanya wali kelas menatapku iba. Mataku berkaca-kaca saat beberapa orang masih menganggapku aneh.

“Aku tidak takut mereka! Aku juga tidak pernah menganggu…”

“Tapi kamu takut pada dirimu sendiri.”

Aku terdiam. Selama ini pikiranku dihantui oleh pikiran tentang masa depan yang akan dijalani. Waktu yang tidak akan ada siapa pun yang mampu menerka atau pun memilih. Hanya berupaya dari sekarang untuk merencakan itu semua agar lebih baik nantinya.

“Kau masih kecil, jalanmu masih panjang,” bisikan halus terdengar sayup disusul riuhan suasana kelas seketika melenyapkan suara bisikan tadi.

“Apa benar aku takut diri sendiri?”

Beberapa tahun berlalu. Sekarang aku telah mengalahkan rasa takut yang dulu sering kubayangkan. Masa depan itu kini kualami. Pikiran yang dulu sering mengurungkan pikiran akan ‘suatu saat nanti’ dapat terlewati hingga sekarang.

Namun waktu akan terus bergulir. Tentang masa depan akan kembali mulai dari detik ini juga. Oh, apa aku phobia dengan segala pikiranku? Aku tidak akan mungkin takut diri sendiri. Masa depan itu masih panjang, jauh ke depan. Kedewasaan akan dituntut untuk bisa memilih. Takut berarti pengecut. Lagi-lagi pikiran itu menyerangku kembali. Rasa takut yang tidak bisa dijelaskan, semakin tumbuh dalam diri.

Baca juga  ZIARAH

“Satu-satunya cara agar kamu tidak seperti itu, jangan banyak pikiran! Jalani saja hidup semampumu. Berandai-andai hanya akan menambah beban. Ujung-ujungnya kamu akan lemah oleh tuntutan yang semakin menggunung!”

Aku terdiam cukup lama. Berpikir tanpa bertindak untuk berusaha lebih baik sama saja bohong. Pikiran itu lah nanti yang akan terus menakuti.

“Aku tidak takut!” bantahku dalam hati. aku semakin tidak mengerti dengan perasaan yang menyerangku.

Perjalanan panjang menjalani masa sekolah kulalui tanpa beban berarti. Seiring waktu aku pun bersosialisasi dengan lingkungan. Tidak akan ada lagi yang menganggapku aneh seperti dulu. Hanya saja ada kalanya aku masih suka menyendiri. Bagiku kesendirian akan memberikan sebuah kebebasan tanpa beragam tuntutan dari orang lain. Di saat itu juga beragam keinginan bersarang kembali dalam pikiran. Bagaimana? Untuk apa? Kapan memulainya? Serta berbagai macam pertanyaan yang terus menuntut jawaban.

“Selamat, akhirnya kamu diterima di perguruan tinggi.”

Senyumku mengambang karena sekarang aku memang telah dewasa. Sungguh aku tidak percaya sekarang sebagai seorang mahasiswa. Salah satu mimpi kecilku dulu, tapi…

Aku tertunduk. Menyadari mimpi itu akan kulalui dengan berbagai perjuangan di kampus ini. Apa aku bisa? Ah! Aku tidak mau menumbuhkan bibit ketakutan lagi. Aku ingin bebas!

“Aku tidak takut!” bentakku dalam hati.

Dengan napas terengah aku berusaha mengejar waktu. Persentase yang sedianya akan kutampilkan di depan kelas nanti hanya menyisakan beberapa menit lagi. Sementara aku baru saja menyempatkan diri ke perpustakaan yang jaraknya lumayan jauh dan buku-buku yang kutuju berada di lantai atas.

Pikiranku tidak tenang. Dengan tergesa-gesa aku menuruni tangga satu per satu hingga ke lantai bawah. Selanjutnya dengan langkah cepat aku menyusuri beberapa gedung kampus menuju kelas.

Baca juga  Lelaki Jempolan

Akhirnya dengan memberanikan diri aku tampil ke depan untuk presentase. Rasa gugup dan gemetaran sempat menyerangku beberapa saat. Keringat dingin mulai mengucur. “Aku tidak takut lagi!” bisikku tanpa henti. Semua orang menatapku dengan antusias. Rasa percaya diri mulai tumbuh kembali. Seakan aku merasakan sedang berada di ujung cabang pohon cengkeh yang pernah kupanjati waktu kecil dulu.

“Aku tidak takut ketinggian!” teriakku dalam hati, “juga tidak takut gelap!” Pijakan kakiku mulai goyah, tiupan angin itu sekarang semakin kencang dari dugaanku. Karena terburu-buru menyelesaikan bahan presentasi tadi, aku menyadari belum makan dari pagi. Kepalaku mulai pusing, pandanganku semakin gelap disusul terlihat bintang-bintang kecil dan tumbang. Setelah tersadar aku lupa akan keberanianku tadi di depan kelas.

 

(DE EKA PUTRAKHA. Profilnya dapat dibaca dalam buku “Ensiklopedi Penulis Indonesia jilid 6” FAM Indonesia. Tulisannya dimuat lebih dari 100 judul buku antologi. Buku tunggalnya antara lain; Hikayat Sendiri (2018) dan Perayaan Kata-Kata (2019). Baru-baru ini terpilih sebagai Pemenang 10 Resensi Terbaik “Resensi Buku Peringkat ASEAN 2020” anjuran Persatuan Penyair Malaysia)

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: