Cerpen, Herumawan PA, Rakyat Sultra

Dari Balik Jendela

0
(0)

Ayah tampak menggelengkan kepala berulang kali.

“Mulai sekarang, jangan kamu lakukan itu lagi.”

“Kenapa, Yah?”

“Itu tidak baik untuk kesehatan. Bau asapnya nanti ganggu tetangga kita.”

Aku mengangguk pelan.

“Sampah itu seharusnya didaur ulang atau dijadikan bahan pupuk bukan dibakar semaunya.”

Baca juga: Matinya Penyembah Puisi – Cerpen Ken Hanggara (Rakyat Sultra, 19 September 2018)

Aku mencoba memahami jalan pikiran ayah. Memang tak mudah. Namun aku tahu itu tak salah dan bermanfaat untukku nanti.

“Ini yang terakhir,” kata Ayah sembari melihat jam tangannya. Aku memasang muka serius.

“Asap yang baunya tidak segar.”

“Itu seperti kabut asap yang bertebaran di luar rumah ya, Yah.”

Aku mencoba menerka. Ayah mengangguk.

“Sekarang, kabut asap sudah semakin pekat jadi jangan lupa pakai masker ya,” kata ayah sambil memakaikan masker kepadaku. Semula, aku tak mau memakainya. Aku ingin seperti ayah, tak takut pada kabut asap.

Baca juga: Sulur – Cerpen Eko Setyawan (Rakyat Sultra, 15 Agustus 2018)

Ayah kembali melihat jam tangannya. Lalu berdiri dari kursi.

“Ayah pergi dulu, ya,” ayah mencium keningku. Kemudian berjalan ke luar rumah.

“Ayah jangan lupa pakai maskernya.”

Ayah hanya mengangguk. Kulihat, tubuh ayah menghilang di pekatnya kabut asap. Segera, kututup pintu, takut kabut asap akan masuk.

***

Semenjak itu, tak pernah kulihat ayah muncul kembali di depan pintu rumah. Seolah ia menghilang di balik pekatnya kabut asap. Entah ke mana kabut asap itu membawanya pergi. Aku hanya berharap yang baik-baik terjadi kepada ayah.

Loading

Leave a Reply

error: Content is protected !!