Anwar Nasyaruddin, Cerpen, Fajar Makassar

Lambaian Tangan Para Calabai

  • Lambaian Tangan Para Calabai ilustrasi Fajar Makassar

0
()

Cerpen Anwar Nasyaruddin (Fajar Makassar, 06 September 2020)

Lambaian Tangan Para Calabai ilustrasi Fajar Makassar (1)

             Lambaian Tangan Para Calabai ilustrasi Fajar Makassar

Hari itu, Sabtu, 3 September 1824.

Di kejauhan pantai Teluk Bone, terlihat beberapa kapal kayu besar sedang lego jangkar. Setiap kapal tersebut mengibarkan bendera merah putih biru. Tiga di antara kapal itu mengarahkan moncong meriam ke arah pantai Mangarabombang. Kapal-kapal itu terombang-ambing oleh alunan ombak yang bergerak ke arah pantai.

Di sela-sela rimbunan pohon bakau yang lebat, ada gerakan manusia mengawasi kapal-kapal itu. Setiap dua meter ada manusia mengawasi pergerakan kapal. Sebentar ada yang datang, lainnya pergi dengan menunduk dan mengendap-endap. Informasi gerak-gerik kapal setiap saat dilaporkan ke pusat komando kerajaan yang letaknya sekitar tujuh kilometer dari pantai.

Laporan pandangan mata dari sela rimbunan pohon bakau disampaikan kepada seorang kurir yang siaga dua ratus meter dari pantai. Selanjutnya kurir ini bergerak cepat menyampaikan kepada kurir lainnya sejauh satu kilometer. Dari kurir ini bergerak cepat dengan menunggang kuda ke kurir terakhir yang menyampaikan langsung kepada Dulung—panglima perang kerajaan.

Walaupun pusat komando kerajaan setiap saat menerima informasi terakhir kegiatan dan pergerakan musuh. Namun, sebenarnya dari lokasi pusat komando kerajaan bisa melihat langsung pergerakan musuh. Karena letak pusat komando kerajaan berada di Bukit Gojeng, sebuah bukit yang berada di ketinggian sekitar seratus lima puluh meter dari permukaan laut.

Kapal-kapal perang Kompeni Belanda itu berada di perairan Teluk Bone sejak seminggu terakhir. Tujuan kedatangannya untuk memperlihatkan kekuatan armada Kompeni Belanda dan meminta kepada Kerajaan Federasi Tellu Limpoe agar menyerahkan sebagian wilayah Kerajaan, terutama yang berada di pesisir pantai untuk dijadikan Loji—kantor dan gudang perdagangan kompeni. Permintaan ini disampaikan dengan sepucuk surat yang dibawa seorang kurir.

Namun, permintaan Belanda ini ditolak oleh kerajaan. Bagi orang kerajaan apa yang diminta dengan jalan paksa adalah persoalan Siri’—harga diri, sehingga Belanda tidak diberi ruang sedikit pun untuk mendapatkan keinginannya. Permintaan Kompeni tersebut apabila dipenuhi dianggap mempermalukan kerajaan. Olehnya kerajaan dengan tegas menolak permintaan tersebut dengan membalas melalui sebuah surat yang dibawa seorang kurir kerajaan dari suku Bajo ke kapal perang Kompeni Belanda.

Baca juga  Rumah

***

Di Saoraja Alosi, waktu menunjukkan pukul delapan pagi, tapi kesibukan sangat luar biasa. Para pembesar kerajaan sedang mengadakan rapat darurat. Rapat tersebut dipimpin Arung Bulo-Bulo Cella Taddampali’e. Hadir pula, Sullewatang merangkap Panglima Perang Kerajaan Bulo-Bulo, La Makkaroda bergelar Baso Kalaka, Panglima Perang Kerajaan Federasi Tellu Limpoe, Mandasini La Puteisi, Panglima Perang Kerajaan Tondong, Yottong, dan Panglima Perang Kerajaan Lamatti, Banya.

“Hari ini, pada pukul dua belas siang sebentar, batas ultimatum terakhir kepada kita, mau menerima permintaan Kompeni atau tidak!” Ujar Cella Taddampali’e kepada para pembesar kerajaan. “Saya kira permintaan mereka itu tidak mungkin kita penuhi. Berarti sebentar lagi akan terjadi perang. Saya ingin mendapat laporan dari Panglima Perang Tellu Limpoe, mewakili tiga kerajaan.”

Tabe Puatta, sejak seminggu lalu, ketika ada surat dari Kompeni Belanda, kami dari masing-masing panglima perang, Kerajaan Bulo-Bulo, Kerajaan Lamatti dan Kerajaan Tondong langsung melakukan konsolidasi pasukan,“ lapor Mandasini La Puteisi, yang ditunjuk sebagai Panglima Perang Federasi Kerajaan Tellu Limpoe. “Kami sudah siap menghadapi Kompeni Belanda. Saya pikir tidak ada tawar menawar dengan mereka si mata biru. Kami sudah siap perang. Dan atas izin Allah swt, kita akan memenangkan peperangan.” Tambah Mandasini La Puteisi.

“Saya laporkan pula Puatta, kami membentuk pasukan baru, namanya Pasukan Calabai. Mereka ini akan membantu dalam melawan Kompeni Belanda.

“Jumlah mereka ada berapa?” Tanya Arung Kerajaan Bulo-Bulo.

“Sekitar seratusan Puatta. Kami merekrut mereka dari seluruh penjuru Federasi Kerajaan Tellu Limpoe. Jadi selain Calabai juga ada beberapa Calalai. Mereka sudah kami latih dan mereka cepat memahami taktik kami.” Tambah Mandasini.

“Lantas bagaimana kita menghadapi Belanda yang ada di atas kapal. Sementara kita di darat. Saya kira dia akan menyerang kita dengan tembakan altileri untuk membumihanguskan kerajaan. Setelah itu baru pasukan Kompeni Belanda turun untuk melucuti persenjataan kita.” Kata Cella Taddampali’e setengah bertanya.

Baca juga  Marto Timpal dan Kisah Pohon Ipik

Tabe Puatta,” giliran La Makkaroda angkat suara. “Kita sudah paham rencana Belanda. Untuk itu, sebelum mereka menembakkan senjatanya, kita pancing mereka untuk turun di darat berperang. Saya yakin kalau mereka turun, kita akan lawan mereka dan atas izin Allah Swt bisa mengalahkan mereka, karena mereka tidak paham medan di sini. Garis pertahanan kita adalah hutan bakau. Kita jebak mereka masuk ke dalam pohon bakau dan kita kalahkan mereka di sana.”

“Apakah tidak ada kemungkinan Belanda juga akan menyerang kita dari darat. Misalnya pasukan Belanda datang dari Makassar lewat Manipi, atau sebagian dari pasukan Belanda diturunkan di Kajang kemudian berjalan kaki menyusuri pantai untuk sampai ke sini?” Tanya Arung Kerajaan Bulo-Bulo lagi.

“Informasi dari mata-mata kami di Makassar, Kompeni Belanda hanya akan menyerang kami dari laut. Mereka tidak berani menyerang lewat darat. Kekuatan pasukan Belanda terbatas. Mereka telah meminta bantuan tambahan pasukan dari Batavia, tapi belum dikabulkan karena sudah ada tanda-tanda Pangeran Diponegoro akan melakukan perlawanan. Sebagian lainnya dikirim ke Bone untuk menundukkan Mangkaueri Bone.” jelas La Makkaroda.

***

Tepat matahari di ubun-ubun, terdengar suara dentuman altileri menghantam pantai Mangarabombang. Bergantian kapal perang Kompeni Belanda menembakkan altileri.

Dentuman altileri itu menghantam pohon-pohon bakau dan sebagian terbakar. Kapal-kapal perang Kompeni Belanda bergerak maju, sehingga peluru altileri yang jatuh semakin masuk ke daratan. Namun kerusakan yang ditimbulkan tidak berarti. Sejumlah pepohonan tumbang, sebagian lainnya terbakar. Sementara pasukan kerajaan sudah menyiapkan banyak bunker perlindungan.

Tiba-tiba pasukan Calabai muncul dari balik rimbunan pohon-pohon bakau, dan melambai-lambaikan sapu tangan berwarna putih ke arah kapal-kapal Kompeni Belanda. Suara tembakan altileri berhenti terdengar. Terlihat di kejauhan sejumlah sekoci diturunkan ke laut. Tentara Kompeni Belanda berebut naik sekoci ingin cepat mendarat, dan sebagian lainnya berenang karena kapal mereka sudah tidak jauh dari pantai. Para Calabai mundur dan memancing para serdadu Kompeni Belanda mendekati mereka ke dalam rimbunan pohon bakau yang berawa-rawa.

Baca juga  Berita Utama Sebuah Koran

Para Calabai semakin mundur ke belakang, serdadu Kompeni Belanda semakin beringas memburu mereka yang disangka gadis-gadis cantik. Di tengah-tengah rimbunan hutan bakau sudah menanti para pasukan kerajaan dengan membawa parang, tombak, badik dan sejumlah benda tajam lainnya.

Duel satu lawan satu tidak dapat dihindari. Pasukan kerajaan sudah terlatih berperang di hutan bakau berawa. Serdadu Kompeni Belanda yang tidak menyangka akan menghadapi perlawanan ini, sebagian besar mati terbunuh. Yang lolos yang bisa lari kembali ke kapal.

Pasukan kerajaan yang berasal dari suku Bajo, mempunyai tugas tersendiri, menyelam dan melubangi lambung kapal supaya masuk air. Ada satu kapal perang Kompeni Belanda satu yang berhasil ditenggelamkan.

Sekitar lima jam terjadi pertarungan di darat dan menjelang senja, kapal-kapal Kompeni Belanda perlahan bergerak menjauh dan menghilang dari pantai Mangarabombang.

 

Catatan:

Saoraja Alosi: Istana raja terbuat dari batang pohon pinang hutan.

Sullewatang: Wakil raja

Arung: Raja

Tabe Puatta: Panggilan yang mulia

Calabai: Laki-laki berpenampilan perempuan.

Calalai: Perempuan berpenampilan laki-laki

 

ANWAR NASYARUDDIN: Penulis dan menetap di Gowa.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: