Cerpen, Nazar Shah Alam, Serambi Indonesia

Mesyuarat Jin Paya

0
()

Sementara tadi sore di sana, enam lelaki lengkap alat tajam dan senter enam baterai terlihat serius namun bosan berusaha mencari Balukia. Keadaan belum benar-benar gelap, meskipun mendung mulai datang menyesap. Dua lelaki di antaranya barangkali rabun mata telah dari tadi menghidupkan senter mereka. Menusuk pucuk senter itu ke semak-semak yang rimbun padat di sekelilingnya.

Sebelumnya Bulukia minta izin hendak buang hajat ke kali kecil di belakang tumbuh rimbun rumbia. Namun setelah ditunggu sekian lama, tidak kembali ia, para anggota pembubu ikan itu pun mencari. Disusur kemana-mana tak ada tanda. Bahkan tidak pula ditemukan sebuah isyarat kecuali patahan-patahan ranting kering bekas pijakan di jalan sebelum tiba kali tujuannya. Jika pun ia ke arah kali kecil itu, paling tidak tentu ada bekas tapaknya di tanah liat jalan menuju ke sana. Tapi tidak ada.

Di arah kiri jalan ada kubang kerbau yang luas disambut hutan muda yang agaknya tidak mampu menyembunyikan sebadan babi pun. Ditelisik tanda susuran baik tapak maupun patahan ranting atau daun-daun tersapu badan, tidak ada kemungkinan. Ke arah kanan, sawah petani setelah musim padi khatam. Tidak terlihat ada orang di sana, tidak pula ada isyarat secebis pun tanah-tanah baru dan lama pijakan atau rumput-rumput terkibas setelah dijerang.

“Apakah mungkin Bulukia diam-diam menunduk di balik semak samping jalan yang kita ambil tadi, lalu ketika kita melintas, dia keluar dan berlari pulang ke perkampungan?” seorang berpipi tirus beragak-agak.

“Apa maksudnya?” tanya Pon Karim.

“Mungkin dia ingin bercanda. Mengolok-olok kita semua,” jawab lelaki tirus.

“Tidak ada faedah. Lagipula suara tapak orang berlari lebih kuat dibandingkan yang berjalan. Kita pasti mendengar brah bruh dia meloncat dari semak belukar. Mendengar suara tapaknya berlari,” tegas Pon Karim. Matanya melongo ke sana kemari. Waspada sebab merasa bertanggung jawab atas kehilangan misterius salah seorang anggotanya ini.

Baca juga  Senja di Pantan Cuaca

Sesekali terdengar suara guntur di langit. Agaknya akan hujan sebentar lagi. Malam semakin menyatakan diri tiba. Pekat sekeliling. Angin menusuk kecil-kecil.

“Aku curiga dia disembunyikan Jin Paya,” gumam Pon Kari. “Tidak ada lain yang patut dicurigai. Kalau malam ini Bulukia tidak diantar pulang, besok kuratakan semua pokok rumbia di sini!

 1,164 total views,  2 views today

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: