Cerpen, S Jai

Gir

5
(1)

Baiklah, kita bersepakat sampai di sini tentang doa dan kesepakatan-kesepakatan perihal mati. Sebuah tabungan hidup yang kata Kiai Tardji segobang-segobang serta seturut Almukarom Barthes ihwal kematian yang memperbanyak kelahiran pembaca. Begitulah kita jadi tahu dan senantiasa saling bertukar doa. Betapa pada suatu waktu sebagaimana seorang ibu kita melahirkan sederet teks, bahasa, tanda sebagai anak-anakmu yang menyebabkan engkau mati berkali-kali di mana roh kematianmu menjadi bidan yang melahirkan puluhan, ratusan, mungkin jutaan pembaca, pencipta teks baru antar tanda sebagai cucu cicitmu di hari ini dan kelak di hari kemudian.

“Cak, kau mengingatkanku…,” tedasku… “Pada sajak Gibran; anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah putra putri Sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri.”

Meski demikian, entah oleh suatu musabab, aku tak mengatakan padamu perihal ingatanku yang lain: bahwa pada suatu hari engkau menyodorkan sebuah koran tempat sajakmu bertebaran di salah satu halamannya, anak-anak tertawa, lidahnya dijulur-julurkan, seperti mengejekku yang terpaku di hadapan istriku.

Kubayangkan betapa hidupmu berada di tengah sebuah taman fantasi yang eksotis bersama anak-anak badung yang bermain dengan keliaran mahadahsyat dan mengingatkanku pada sebuah bab novel Kundera, Kitab Lupa dan Gelak Tawa –sebuah novel yang konon mengajarkan kepada kita bahwa jika kita mati, yang akan hilang dari kita bukanlah masa depan, tetapi masa lalu.

Lantas, adakah bunyi, sunyi, atau frasa lain untuk ungkapan ini selain kegendengan atau lelucon? Ngedan dan ngeden sebagai perawi dan perawat altar pemujaan orang waras atas nama ungkapan paling klise di dunia; cinta kesenian? Cinta yang hampir menyebabkan kita nyaris terpelanting dalam adagium “tak ada yang salah dalam berkesenian”, akan tetapi beruntung terselamatkan sebagaimana pepatah lain “tiada yang benar dalam agama’’.

Baca juga  Tentang Perempuan Tua dari Kampung Bukit Batu*

Cak, tersebab itulah pada hari ini aku bertanya lagi padamu; sesungguhnya kamu dalang, sutradara, pengarang, perupa, penyair, perawi buku, atau bidankah? Akan tetapi setelah kamu mati sungguh –dan semuanya akan menyusulmu kelak– entah mengapa aku jadi sibuk merangkai jawaban dari pertanyaan tak penting itu, kendati aku sudah pastikan jawaban sebenarnya darimu: gelak tawamu itu.

Cak, tentu engkau masih mengingatnya bagaimana meski aku belajar di Jalan Airlangga, namun aku memilih berdiam di Gang Jetis Ketintang. Entah apa yang menggerakkanku demikian. Pada kenyataannya, itulah jalanku, jalan satu-satunya yang telah kulakoni, dan diberikan-Nya padaku. Tak lain, semata-mata, agar lebih cepat mengenalmu. Maka, jadilah aku sering bertandang ke komunitasmu di institut. Menonton pertunjukan-pertunjukanmu, menjadi saksi pergulatan dan kiprahmu.

 1,174 total views,  6 views today

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

4 Comments

  1. Wahid

    Gila, ngena sekali di batin.

  2. S. Jai

    Terimakasih, simpatinya. Salam. Jai

  3. Awrin

    Ini tokohnya siapa aja ya?

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: