Cerpen, S Jai

Gir

5
(1)

Oiya, aku masih ingat kita pernah membaca cerita bersama bukan? Waktu itu kita masih benar-benar merasa muda, membaca cerita dengan teriakan membahana di kelas sastra yang diampu sahabat dan guru kita, Tengsoe Tjahjono. Mungkin tak sepertimu dengan berpuluh-puluh cerita, kurasa itulah cerita, itulah kisah yang kubuat dan masih bisa kuhitung dengan jemari sebelah tanganku saja.

Cak, aku juga masih mengingatnya tak berselang lama dari waktu itu, kita pernah sepanggung bersama sebagai sesama aktor, meski dalam lakon yang berbeda dalam festival naskah-naskah Jepang di Malang. Sebuah festival yang penuh bebunyian dawai dan seruling yang memanjakan telinga.

“Cak, aku mengenalmu, mengenangmu saat itu, ucapan leluconmu tentang sebuah pertunjukan yang tak tahu beda antara kebudayaan Tiongkok dan Jepang,” ungkapku.

Lelucon sekaligus lukisan dari cakrawala atas sebuah panorama pengetahuan. Hai! Itu ketakjuban pertamaku padamu saat kita masih merasa benar-benar muda. Namun, sekaligus gambaran demikian tajam mata pisau penglihatanmu, pendengaranmu, indramu.

Sejak itu aku tak pernah kehilanganmu. Sampai kemudian, andai kamu masih hidup, tentu masih mengenangnya: Ketika gerakan reformasi bergulir. Kita pernah bersama kawan-kawan menggelar pertunjukan wayang kampung Semar Nesu, yang mana engkau salah satu dalangnya dan akulah salah seorang wayangnya. Tentang penguasa yang serakah. Orang kampung yang marah. Tentara yang pongah. Mahasiswa yang gerah. Juga awak pertunjukan serta penonton yang sama-sama lelah pada keadaan zaman. Ketika itu, sama sekali tak pernah kuduga bahwa kelak di kemudian hari peristiwa itu adalah salah satu lelatu dari ketekunanmu selain menatah kata dan menatah kulit wayang pula.

“Oh iya Cak, sebaiknya tak perlu ya kukisahkan bahwa di kesempatan lain, kita pernah berpelukan setelah merayakan sebuah pertunjukan yang berlangsung selama lebih dari tiga jam itu. Ya, tak perlulah,” pikirku.

Baca juga  Kunjungan

Baiklah, rupanya memang banyak pula yang tak perlu kukisahkan. Terlebih seiring waktu berjalan, meski aku merasa tak pernah kehilanganmu, pada kenyataannya bukan saja aku kerap kau tinggalkan dari jejak pencapaianmu, keindahan hidupmu, gebalau hibuk ria duniamu—mimpi, nyata—melainkan pula engkau sering lenyap dalam kesibukanmu bertungkus lumus dengan anak-anak fantasimu.

Sementara aku memilih jalan sunyi, menyepi, menepi sebagai takdirku berharap tafakur, yang sama sekali jauh dari segala takdir majenunmu itu.

 1,170 total views,  2 views today

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

4 Comments

  1. Wahid

    Gila, ngena sekali di batin.

  2. S. Jai

    Terimakasih, simpatinya. Salam. Jai

  3. Awrin

    Ini tokohnya siapa aja ya?

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: