Cernak, Lampung Post, Muhammad Fauzi

Perpustakaan Nyonya Alesa

0
()

Oleh Muhammad Fauzi (Lampung Post, 08 April 2018)

Perpustakaan Nyonya Alesa ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg

Perpustakaan Nyonya Alesa ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post

NYONYA Alesa mempunyai perpustakaan kecil di rumahnya. Dulu, perpustakaan itu selalu ramai dikunjungi penduduk Desa Dirado. Akan tetapi sekarang perpustakaan itu sepi pengunjung. Akibatnya, Nyonya Alesa merasa jenuh dan tidak punya penghasilan.

“Mungkin sudah saatnya perpustakaan ini saya tutup. Semakin lama semakin sedikit yang berkunjung ke perpustakaan,” keluh Nyonya Alesa sambil menata buku di rak.

Besoknya, Nyonya Alesa berniat mencari pekerjaan baru di kota. Setelah sarapan, Nyonya Alesa bergegas ke luar rumah. Salju mulai turun, pertanda musim dingin telah tiba. Nyonya Alesa memakai mantel tebal dan sarung tangan. Ia berjalan sambil menyilangkan tangannya di dada.

Salju turun semakin lebat. Nyonya Alesa memutuskan untuk berhenti di toko pakaian. Toko itu tampak sepi. Hanya ada dua penjaga toko yang sedang asyik mengobrol.

“Permisi, apa di toko ini masih membutuhkan pelayan?” tanya Nyonya Alesa.

“Oh, sebentar, Nyonya. Saya tanyakan dulu sama pemiliknya,” jawab seorang pelayan toko.

Beberapa menit kemudian, seorang gadis muncul. Wajahnya cantik dengan rambut berwarna cokelat madu. Nona itu tersenyum ramah pada Nyonya Alesa.

“Luisa…” gumam Nyonya Alesa.

“Nyonya Alesa. Apa kabar?” tanya Luisa sambil memeluk Nyonya Alesa.

“Kabar saya baik, Luisa.”

“Saya sudah menyiapkan beberapa buku untuk perpustakaan Nyonya Alesa. Bagaimana perpustakaannya? Apa masih ramai seperti dulu?” tanya Luisa. “Dulu, hampir setiap hari saya ke perpustakaan,” kenang Luisa.

Nyonya Alesa lalu bercerita pada Luisa tentang perpustakaannya yang sudah ditutup karena sepi pengunjung.

“Jadi sekarang perpustakaan itu ditutup? Ah, sayang sekali, Nyonya Alesa. Padahal saya bisa mempunyai toko pakaian ini karena belajar dari buku-buku di perpustakaan Nyonya Alesa,” Luisa sangat terkejut.

Baca juga  Penjual Lelucon

“Ya, begitulah Luisa. Jadi bagaimana, apa saya bisa bekerja di toko milikmu?” tanya Nyonya Alesa penuh harap.

“Maaf, Nyonya Alesa. Toko saya ini sedang sepi. Mungkin setelah musim dingin ini berakhir, toko saya bisa kembali ramai dan Nyonya Alesa bisa bekerja di sini.”

Nyonya Alesa menggeleng. Musim dingin baru saja datang. Butuh beberapa bulan lagi menunggu musim dingin ini berakhir. Nyonya sudah tidak sabar ingin bekerja, mengingat persediaan makanannya hampir habis.

Setelah berpamitan dengan Luisa, Nyonya Alesa bergegas pergi. Salju masih saja turun. Beruntung tadi Luisa memberi syal, sedikit menghangatkan tubuh Nyonya Alesa.

Nyonya Alesa berjalan sambil mengamati toko-toko yang ia lewati. Ia berharap ada toko yang membutuhkan pelayan. Namun sayang, sudah setengah jam Nyonya Alesa berjalan, belum ada toko yang membutuhkan pelayan.

Sebenarnya, Nyonya Alesa sangat mencintai pekerjaannya sebagai penjaga perpustakaan. Namun karena perpustakaannya sepi pengunjung, Nyonya Alesa terpaksa mencari pekerjaan lain.

Cuaca semakin dingin. Nyonya Alesa merasa lapar. Namun tidak ada rumah makan atau toko roti di dekatnya.

“Maaf, Nyonya…,” panggil Nyonya Alesa pada seorang wanita di dekatnya. “Apa di dekat sini ada toko roti?” tanya Nyonya Alesa.

Nyonya itu tersenyum. “Oh, berjalanlah lurus, lalu belok kanan. Letaknya ada di samping Rumah Sakit Elisabeth. Itu toko roti langganan saya,” jawabnya.

“Terimakasih, Nyonya.”

Nyonya Alesa bergegas menuju toko roti yang dimaksud. Akan tetapi antrean di depan toko sudah panjang. Nyonya Alesa terpaksa mengantre duduk di tepi jalan raya.

“Nyonya Alesa…” tiba-tiba ada yang menyapa Nyonya Alesa. Ternyata Woody, pengunjung perpustakaan Nyonya Alesa dulu.

“Woody, sedang mengantre membeli roti juga?” tanya Nyonya Alesa. “Toko roti ini sangat ramai. Pasti pemilik toko ini orang yang pandai berdagang.”

Baca juga  Perempuan Terindah

Woody tersenyum. “Saya pemilik toko roti ini, Nyonya Alesa,” jawab Woody. “Hmmm, bagaimana perpustakaan Nyonya Alesa, apa masih disukai anak-anak seperti dulu?” tanya Woody.

Nyonya Alesa terkejut. Kemudian menggeleng. “Perpustakaan itu sudah saya tutup, Woody. Saat ini saya sedang mencari pekerjaan.”

“Wah, kebetulan sekali. Saya sedang berencana membuka perpustakaan di toko ini. Agar pembeli yang mengantre tidak bosan dan bisa mendapat ilmu,” seru Woody bersemangat.

Nyonya Alesa terperangah. “Ide yang bagus, Woody.”

“Apa Nyonya Alesa mau bekerja menjaga perpustakaan lagi?” tanya Woody.

“Dengan senang hati, Woody.”

Nyonya Alesa tersenyum senang. Ia baru sadar, ternyata pekerjaannya sangat mulia. Ia bangga bisa menemani Luisa dan Woody meraih mimpi-mimpinya. Namun semua itu tidak lepas dari kerja keras mereka. Nyonya Alesa yakin, masih ada pengunjung perpustakaannya yang menjadi orang sukses. n

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: