Cernak, Fajar, Iis Soekandar

Ridho Anak Baru

0
()

Oleh Iis Soekandar (Fajar, 15 April 2018)

Ridho Anak Baru ilustrasi Google.jpg

Ridho Anak Baru ilustrasi Google

“RIDHO mana?” tanya Fiky, sang ketua kelas, kepada teman-temannya yang masih berada di kelas.

Beberapa waktu sebelum istirahat, Pak Alex menyerahkan surat pemberitahuan jadwal UTS (Ulangan Tengah Semester) kepada Fiky agar dibagikan kepada teman-temannya. PakAlex adalah wali kelas mereka. Begitu bel istirahat berbunyi, Fiky langsung membagikan. Tapi sebagian anak sudah keluar. Mungkin mereka segera ke kantin.

“Ridho sudah keluar,” jawab Andre saat dicari Ridho tidak ada di kelas.

“Itu Ridho sedang duduk di taman sambil membaca buku,” tukas Siswanto yang kebetulan akan ke kantin. Sebetulnya Siswanto teman sebangku Ridho. Tapi dia enggan berteman dengan Ridho.

“Tolong panggilkan dia agar mengambil surat ini!” pinta Fiky. Fiky masih membawa beberapa surat pemberitahuan yang belum dibagikan kepada teman-temannya.

“Malas, ah! Panggil saja sendiri!” jawab Siswanto.

“Kalian kan teman sebangku,” ungkap Fiky heran.

“Kamu tahu sendiri, Ridho budeg alias tuli. Kalau memanggil dia mesti teriak-teriak. Aku lapar mau ke kantin!”

Kemudian Siswanto buru-buru pergi ke kantin. Begitu pun teman-teman lainnya. Fiky geleng-geleng kepala. Akhirnya dia memberikan sendiri surat berbentuk selembar kertas yang dilipat empat.

“Ridho, “ panggil Fiky.

Tapi Ridho tetap membaca buku sambil makan makanan yang dibawa dari rumah. Padahal jaraknya tidak jauh. Barulah setelah disentuh bahunya, Ridho menoleh.

“Eh, Fiky.” Ridho tahu karena tidak disuka teman-temannya, ia suka menyendiri.

“Ini surat pemberitahuan untuk orangtua,” setelah menyerahkan surat itu, Fiky buru-buru ke kantin. Disamping lapar, Fiky juga harus memberikan surat itu kepada teman-teman lain yang belum memeroleh.

Begitulah Ridho, teman-temannya tidak suka bergaul dengannya. Karena Ridho agak tuli. Setiap kali berbicara dengannya harus keras.

Baca juga  Paket

Sebagian teman-temannya menyangka Ridho tuli karena rambutnya yang gondrong. Sebagian rambut bagian samping menutupi telinganya. Mungkin karena itulah ia tidak begitu mendengar bila diajak berbicara. Beberapa hari lalu Pak Alex sudah mengingatkan supaya yang memiliki rambut gondrong dipotong. Disamping terlihat rapi, tidak mengganggu pendengaran.

Ulangan Tengah Semester sudah selesai. Pada hari Senin diadakan pemeriksaan kesehatan dari puskesmas. Sebagian murid sedih. Bahkan ada yang menangis. Sebetulnya pemeriksaan kesehatan dari puskesmas dilakukan tiga bulan sekali. Mereka diperiksa dari kesehatan rambut, telinga, gigi, mata, hingga bagian dalam, seperti amandel.

Biasanya sebelum pemeriksaan, beberapa hari sebelumnya setiap murid diberi surat pemberitahuan. Ternyata sebagian murid justru tidak masuk pada hari pemeriksaan. Mereka takut disuntik. Padahal tidak selalu dalam pemeriksaan ada suntikan. Oleh sebab itu pemeriksaan dilakukan secara tiba-tiba. Dengan demikian tidak ada yang membolos.

“Sis, kepalaku pusing. Aku mau pulang saja,” ungkap Ridho tiba-tiba mengatakan kepalanya pusing.

“Wah, kebetulan bukankah sedang ada pemeriksaan kesehatan dari puskesmas? Nanti kalau petugasnya sudah masuk di kelas kita, minta saja obat,” Siswanto memberi saran.

“Tapi aku sudah tidak tahan. Aku minta izin pulang sama Pak Alex,” jawab Ridho.

Saat itu juga Ridho menemui Pak Alex yang sedang duduk di kursi guru. Ketika akan izin pulang, beliau melarang. Beliau juga menyarankan supaya nanti minta obat anti pusing dari petugas puskesmas. Tapi Ridho bersikeras ingin pulang. Syukurlah tidak lama setelah itu, dua petugas puskesmas masuk di kelas mereka.

Karena mengeluh kepalanya pusing, Ridho diperiksa terlebih dahulu. Ketika diberi obat, Ridho malah menolak.

“Saya tidak mau minum obat. Karena sebetulnya saya tidak pusing. Saya… saya… cuma takut disuntik… hu… hu… hu…,” ungkapnya sambil menangis.

Baca juga  Putri Naninggala yang Penakut

“Kami tidak akan menyuntik. Cuma memeriksa bagian organ-organ tubuh,” jelas petugas puskesmas. Petugas itu memeriksa rambut, mata, hidung. Ketika memeriksa telinga, petugas itu terheran. “Wah, banyak kotorannya.” Sampai beberapa  lama petugas itu hanya membersihkan kotoran yang berada di dalam telinga Ridho. Petugas itu kaget.

Barulah setelah itu Ridho mengaku tidak pernah memeriksakan kesehatannya. Setiap kali ada pemeriksaan dia tidak masuk sekolah. Alasannya karena takut disuntik.

Semenjak itu Ridho tidak lagi tuli atau budeg. Teman-temannya senang bergaul dengannya. Apalagi dia juga memotong rambutnya. Sehingga seperti anak baru.

“Wah, ada anak baru nih!” ledek Siswanto. Semua isi kelas yang pagi itu sudah datang ikut meledek. Mereka mengatakan Ridho anak baru.

Semenjak itu bila ada pemeriksaan kesehatan, Ridho tidak takut. Bahkan dia senang. Sebab semua organ tubuhnya akan diperiksa supaya sehat. Bukankah di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat? Kini ia tidak minder lagi bergaul dengan teman- temanya. Begitu pun teman-temannya, senang bergaul dengannya. (*)

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: