Elfi Ratna Sari, Fabel, Lampung Post

Lulut Ulat Gendut

0
()

Oleh Elfi Ratna Sari (Lampung Post, 13 Mei 2018)

Lulut Ulat Gendut ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg

Lulut Ulat Gendut ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post

Lulut adalah seekor ulat yang tinggal di sebuah taman bunga. Dia suka sekali makan. Dari makan daun bunga melati, daun bunga sepatu, sampai rumput liar. Tidak ada satu pun daun yang tidak dia suka. Tidak heran jika dia jadi ulat paling gendut di taman tempatnya tinggal. Ibunya, si kupu-kupu kuning, berkali-kali mengingatkan bahwa di sekolahnya akan diadakan ujian praktik berpuasa agar bisa menjadi kupu-kupu. Tapi sepertinya dia tidak menghiraukan tentang ujian itu. Apalagi ujian yang menurutnya akan sangat menyiksa.

“Ah, Ibu, aku kan gendut, jadi butuh makan yang banyak. Mana mungkin aku bisa puasa. Nanti kalau tidak makan, aku jadi lapar. Kalau aku terus menerus lapar, lama-lama bisa meninggal. Apa Ibu mau aku meninggal? Aku tidak usah puasa ya, Bu,” rengek Lulut.

Ibu Kupu-kupu hanya membuang napas, lalu berkata, “Dengarkan Ibu, Lulut. Tidak ada dalam sejarah nenek moyang kita, apabila berpuasa bisa membuat seekor ulat meninggal. Justru puasa akan mengubahmu jadi kupu-kupu cantik selayak Ibu.”

Tapi bukan Lulut namanya kalau tidak membela diri. Dia memang pintar membuat alasan. Padahal itu bukan tindakan yang baik.

“Lulut lebih baik jadi ulat selamanya daripada harus merasakan lapar.”

Lulut melanjutkan makan daun bunga terompet yang dihidangkan ibunya. Karena belum merasa kenyang, Lulut memilih keluar rumah. Mencari daun-daun lain, lalu makan sepuasnya di luar. Tidak ketinggalan, setelah itu dia akan tidur di dedaunan.

Ibu Kupu-kupu hanya memandangi kepergiannya sambil menggumam, “Lulut … Lulut … padahal nanti jika kamu sudah jadi kupu-kupu, kamu bisa terbang tinggi melihat pemandangan yang indah. Makananmu juga akan berganti, yaitu sari bunga yang jauh lebih enak dibanding daun.”

Baca juga  Siput dan Kura-Kura

***

Hari berganti hari, tiba saatnya ujian praktik puasa bagi seluruh ulat yang sudah berganti kulit selama empat sampai enam kali—tergantung spesies masing-masing.

“Baiklah, anak-anak, kalian bisa memilih sesuka hati ranting mana yang akan kalian pakai menggantung saat jadi kepompong. Dua puluh hari dari sekarang, kita akan berkumpul lagi di sini. Ibu harap kalian semua bisa jujur melaksanakan puasa walau tak ada yang mengawasi.”

Ibu guru, si kupu-kupu jingga hitam, membiarkan semua murid berpencar. Ada yang langsung memilih ranting di dekatnya, ada yang mencari tempat teduh, ada juga yang memilih tempat sepi biar bisa berkonsentrasi. Sedangkan Lulut mencari batang bunga yang banyak daunnya. Tapi apakah Lulut benar- benar akan berpuasa?

Setelah menemukan batang bunga yang sesuai selera, Lulut menoleh ke segala arah. Memastikan tak ada ulat lain di dekatnya, juga tak ada bu guru. Ketika dirasa aman, diam-diam dia memakan daun-daun di dekatnya. Tak peduli kalau seharusnya dia berpuasa.

“Toh, tidak ada yang tahu kalau aku tidak berpuasa. Tidak ada yang mengawasi juga. Setelah dua puluh hari, tinggal bilang saja sama bu guru kalau aku juga menjalankan ujian puasa bagi ulat.”

Hari-hari berlalu. Satu per satu kepompong mulai kosong karena ulat di dalamnya sudah menjadi kupu-kupu. Teman-teman Lulut melaksanakan puasa dengan baik walau tidak diawasi oleh bu guru. Tapi apa jadinya dengan Lulut yang terus makan dan makan? Lulut lupa kalau ujian puasa ini akan menjadikannya kupu-kupu, jadi kalau dia tidak mau berpuasa, otomatis akan tetap jadi ulat.

Ibu guru datang di tempat berkumpul semula. Tak lama, murid-murid pun berdatangan. Mereka sudah jadi kupu-kupu dengan sayap indah. Kecuali Lulut, dia datang paling akhir dengan langkah yang berat dan napas terengah-engah. Tubuhnya semakin gendut. Dan … dia masih jadi ulat!

Baca juga  Samun Kehilangan Ingatan

Dia kagum melihat teman-temannya yang sudah berubah jadi kupu-kupu indah karena kejujurannya menjalankan puasa. Lihatlah Roro si ulat bulu, dia sudah jadi kupu-kupu abu-abu dengan corak kehitaman. Lalu juga Nini si ulat hijau, dia juga sudah berubah jadi kupu-kupu kehijauan yang besar, sayapnya kuat.

“Ayah, lihat! Kupu-kupunya cantik-cantik!” ucap seorang gadis kecil yang mengunjungi taman. “Tapi ih… ada ulat gendut di dekatnya.”

Lulut menunduk, malu karena hanya dia yang masih jadi ulat. Dia menyesal telah berpura-pura puasa dan membohongi yang lain. Dia juga berjanji akan bersungguh-sungguh dan jujur berpuasa dalam ujian selanjutnya. Karena dia juga ingin jadi kupu-kupu yang indah. *

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: