Kompas, Mas Oco, NuBi

Pasar Kaget

0
()

Oleh Mas Oco (Kompas, 27 Mei 2018)

Pasar Kaget ilustrasi Regina Primalita - Kompas.jpg

Pasar Kaget ilustrasi Regina Primalita/Kompas

Siwa-siswi kelas V SD 1 Tumijajar, Tulangbawang Barat, Lampung, mengantre keluar kelas. Menjelang pulang sekolah, satu per satu anak-anak itu menyalami Bu Tina, wali kelas V.

Usai salaman, Hadid terlihat tergesa-gesa. Ia mendahului Azzam, Fauzi, Ranaa, dan Shafa keluar dari kelas.

“Did, kenapa buru-buru?” ujar Azzam.

“Maaf, Zam. Aku tidak bisa pulang bareng. Aku duluan ya, teman-teman?” Hadid menoleh sebentar, kemudian berlari meninggalkan keempat sahabatnya itu.

“Kok Hadid jadi aneh, ya? Beberapa hari di bulan puasa ini, Hadid tidak pernah mau pulang bareng,” ungkap Ranaa.

“Apa Hadid punya masalah dengan salah seorang di antara kita?” timpal Fauzi.

“Tidak,” jawab Shafa, Ranaa, Azzam hampir bersamaan.

“Kelihatannya seperti sibuk sekarang ini!” ujar Fauzi lagi.

“Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan Hadid,” harap Azzam. “Oya, rencana kita membeli makanan untuk sedekah berbuka puasa di mushala nanti sore jadi kan?”

“Jadi, dong!” seru Shafa.

Sore hari, empat anak itu sudah berada di alun-alun. Di sana ada pasar kaget yang menjual aneka makanan dan minuman untuk menu berbuka. Pasar ini hanya ada setahun sekali di bulan Ramadhan.

“Hari ini, kita beli kolak pisang saja untuk menu minumnya,” usul Fauzi.

“Kalau jajanannya, kita beli kumbu, onde-onde, dan bakwan?” timpal Ranaa.

Namun tiba-tiba Fauzi menarik lengan Azzam sambil menunjuk seseorang. “Eh, Zam! Bukannya itu Hadid!”

“Iya, benar! Sedang apa dia di sini? Kalau mau beli makanan, kenapa tidak bareng kita saja?” Azzam keheranan.

“Teman-teman, yuk kita dekati Hadid!”

Hadid sangat terkejut ketika melihat keempat sahabatnya sudah berdiri di depannya. “Kalian? Kenapa, ada di sini?”

Baca juga  Cara Makan Apel

“Kamu lupa, Did? Kita kan dapat tugas piket membeli makanann dan minuman untuk berbuka puasa di mushala hari ini?” ujar Fauzi.

“Oh, maaf teman-teman. Aku lupa. Aku harus menemani ibuku berjualan makanan di sini. Semenjak ayah sakit, ibuku harus berjualan untuk menutupi biaya kebutuhan sehari-hari. Itu sebabnya, aku selalu pulang duluan. Aku harus membantu ibu menyiapkan aneka dagangan dan juga menjualnya,” ujar Hadid tersipu.

“Oo, jadi ini sebabnya? Kenapa tidak bilang saja sama kami, Did?” tanya Azzam.

“Aku malu teman-teman.”

“Kenapa  mesti malu? Kami salut denganmu,” puji Fauzi.

“Iya, kamu malah sudah berlatih wirausaha sejak dini. Kamu bisa hidup sejahtera saat besar nanti menjadi seorang wirausaha,” timpal Ranaa.

Hadid tersenyum.

“Coba lihat! Rupanya semua menu berbuka yang kita cari ada di sini. Kita tidak perlu susah-susah mencarinya,” ujar Fauzi kemudian.

“Kalau begitu, kita beli saja semua keperluan buka puasa di tempat Hadid,” tanggap Ranaa.

Hadid lalu melayani para pembelinya. Sekarang, Hadid tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi saat membantu ibunya berjualan di pasar kaget.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: