Cernak, Gischa Nadila Rahma, Pikiran Rakyat

Di Belakang Rumah Yanti

0
()

Cernak Gischa Nadila Rahma (Pikiran Rakyat, 07 Oktober 2018)

Di Belakang Rumah Yanti ilustrasi Pikiran Rakyat.jpg

Di Belakang Rumah Yanti ilustrasi Pikiran Rakyat

SUATU ketika aku berkesempatan berkunjung ke rumah Yanti. Rumah aku dan rumahnya berbeda desa. Untuk sampai ke tempat tinggalnya tak menggunakan kendaraan seperti sepeda, karena harus melewati pematang sawah. Sebelumnya belum pernah aku berkunjung ke rumahnya. “Bu, ini temanku, Neni,” Yanti memperkenalkanku pada ibunya. Ayah Yanti sudah lama meninggal. “Oh, cantik sekali,” pujinya membuatku tersipu malu. Ibunya sangat ramah. “Ayo masuk!” suruhnya pada kami.

Meskí rumahnya berbentuk panggung, namun sangat bersih dan rapi. Ukurannya tak seberapa luas. Belum pernah aku memasuki rumah berdinding bambu seperti ini. Hanya tahu dari buku atau internet. “Maaf, keadaan rumahku seperti ini,” Yanti merendah. “Memangnya kenapa? Aku suka kok,” mataku mengedarkan tatapan ke sekitar ruangan rumah yang berlantai kayu. Tujuanku ke siní adalah untuk makan petis bareng.

“Aku punya buah-buahan. Nanti kita ke rumahku ya!” ajaknya tadi waktu beristirahat. “Baiklah,” jawabku dengan gembira.

Baca juga: Pertemanan yang Tidak Wajar – Oleh Dhaffina Al Zaskhia S (Pikiran Rakyat, 16 September 2018)

Musim kemarau masih bertahan yang entah sampai kapan. Udara terasa sangat panas. Membuat gerah. Inginnya minum yang dingin atau makan petis yang segar, asam dan pedas. “Mau di mana makan petisnya?” tanya ibunya yang akan memasak di dapur dengan tungku tradisíonal. “Di belakang rumah saja,” jawab Yanti. Aku belum tahu seperti apa keadaan di belakang rumahnya. “Ayo kita ke belakang rumah!”

Yanti membawa cobek batu dan ulekannya. Aku membantunya. Baskom plastik berwarna hijau berisi buah-buahan dan plastik tipis kubawa. “Di sini kita akan makan petisnya,” kata Yanti sambil menaruh cobek di atas meja kayu.

Baca juga  Tentang Adik Lelakiku

Di belakang rumah Yanti tersedia kursi besi yang sudah berkarat dan meja. Di hadapanku terpampang pemandangan yang sangat menyegarkan mata. Tak jauh dari rumahnya ada tebing yang cukup tinggi. Di bawahnya terhampar sawah-sawah yang menguning. Pasti sesaat lagi akan panen. Langit cerah. Angin sepoi-sepoi meniup rambutku membuat nyaman. “Indah sekali pemandangannya,” gumanku melihat lautan sawah.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: