Cernak, Komala Sutha, Lampung Post

Senyum untuk Bagas

0
()

Oleh Komala Sutha (Lampung Post, 31 Maret 2019)

Senyum untuk Bagas ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Postw.jpg

Senyum untuk Bagas ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post 

PAGI tadi sebelum bel tanda masuk berbunyi, sempat kudengar pembicaraan beberapa murid kelas enam. Tak begitu jelas, namun nama Sifa dan Johara disebut. Katanya mereka akan pindah sekolah. Sifa anak kelas enam dan Johara anak kelas tiga. Tidak ada hubungannya denganku.

Mereka berdua hanya teman satu sekolah bukan teman sekelasku. Namun mereka itu dua kakak beradik. Dan yang kemudian menjadi pikiranku, Sifa itu kakaknya Bagas. Johara adiknya Bagas. Bagas anak kelas empat, tentu sekelas denganku. Bagas bukan hanya teman sekelasku. Ia itu salah satu sahabatku. Aku memiliki dua sahabat, namanya Ardan dan yang satunya lagi, ya… Bagas.

“Apa yang kamu pikirkan?” Ardan menyikut lenganku. Kami berdua duduk di bangku panjang di bawah pohon sukun yang rindang.

“Kenapa Bagas tidak masuk sekolah, ya?” aku balik bertanya.

Ardan mengangkat bahu. “Entahlah. Mungkin dia sakit.”

“Tadinya kupikir begitu. Sejak kemarin dia tak masuk. Tapi…”

“Tapi apa, Albani?” Ardan melirikku. Aku mendesah. Tiba-tiba perasaanku berubah resah. Kabar yang belum begitu jelas tentang kepindahan Sifa dan Johara. Bukan tidak mungkin, Bagas pun akan ikut pindah. Aku tak mau kehilangan sahabat.

Aku menghela napas pendek. Lalu kuceritakan mengenai apa yang sempat kudengar. Ardan nampak terkejut.

“Kita cari tahu, Yu?” Ardan berdiri.

“Ke mana?” tanyaku. Teman-teman di kelas pun tak ada yang cerita.

“Tapi…” aku sedikit bingung.

“Tak usah tapi-tapian! Tenang, waktu istirahat masih lama,” Ardan meyakinkanku. Aku pun akhirnya mengangguk lalu berdiri. Kami berjalan bersama menuju rumahnya. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit dengan berjalan kaki untuk sampai di rumahnya. Sebelumnya, kami bertiga sering ke rumah Bagas pada jam istirahat.

Baca juga  Rainbow Cake untuk Mama

Bagas menyambut kedatangan kami dengan gembira. Disuruhnya kami masuk ke dalam rumahnya. Namun aku dan Ardan memilih berbicara di teras depan saja. Bagas tidak sedang sakit. Ia sehat-sehat saja. Aku langsung minta kebenaran cerita yang sempat kudengar. Mengenai kepindahan sekolah Sifa dan Johara.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: