Cernak, Elfi Ratna Sari, Lampung Post

Lilin-Lilin Geram

0
()

Oleh Elfi Ratna Sari (Lampung Post, 05 Mei 2019)

Lilin-Lilin Geram ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Postw.jpg

Lilin-Lilin Geram ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post

“… famanidthurro ghoyro baaghin walaa—”

“Ulangi!”

Aku mengembuskan napas kecewa.

“Kasroh tanwin bertemu dengan wawu, dinamakan apa dan bagaimana membacanya?”

Gadis di depanku yang tadi pandangannya tertuju pada Al-Qur’an, kini menatapku. kutangkap ada rasa takut menggelutnya. Mungkin ngeri menatap wajahku yang begitu serius. Tapi tak lama, bibir kecilnya mulai terbuka. Ragu-ragu menjawab, “Idghom bighunnah, Bu Wulan. Membacanya harus ‘memasukkan dengan mendengung’.”

Dia menatapku lebih dalam. Masih takut jika jawabannya salah, sehingga jatah menyetor bacaan kuhentikan di situ, lalu besok ba’da Magrib dia harus mengulang di ayat yang sama sampai benar makhorijul huruf dan tajwid-nya. Namun tidak, senyumku merekah beberapa detik kemudian. Sungguh sebagai tanda jika jawabannya benar.

“Coba baca ulang, Fatim.”

Gadis delapan tahun itu kembali menenggelamkan pandangan pada Al-Kitab di atas dampar¹.

“… famanidthurro ghoyro baaghiw walaa ‘aading falaa itsma ‘alayh. Innallaaha ghofuurur rohiim.”²

Angin petang dari pohon samping langgar³ masuk lewat celah-celah dinding anyaman bambu, menggoyangkan mukena kecil yang masih dipakai Fatim seusai shalat Magrib.

“Bu Wulan!” Seorang perempuan usia empat puluh tahunan tersengal-sengal napasnya menaiki tangga kayu. Sontak membuat telapak tanganku menyentuh halaman Qur’an Fatim, yang artinya dia cukup stor bacaan sampai situ saja.

Ialah Bu Minah yang bersusah payah masuk langgar. Agaknya ada masalah sangat serius sehingga wajahnya tampak kusut. Perempuan bertubuh gempal itu berhenti di pintu, tubuhnya disandarkan pada kusen. Mencoba mengatur napas. Melihatnya begitu, aku mendekat. Sama sekali tak sempat memerhatikan saat Fatim menutup Qur’an lantas mencium sampulnya. Kemudian dia bergeser, otomatis memberikan bekas tempat duduknya pada teman yang mengantre di belakang. Tanpa diminta pun, salah seorang remaja perempuan menggantikan posisiku, menyemak gadis-gadis kecil menyetor bacaan.

Baca juga  Gara-gara Udang

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: