Cerpen, Makanudin, Republika

Kabar untuk Ibu

0
()

MASJID masih sepi. Jamaah belum ada yang datang. Deden menghidupkan lampu. Membuka kamar wudlu dan mengatur keran air. Ia akan segera ke dalam masjid bila dipastikan keran sudah normal. Lalu, ia memasang karpet yang berdiri tergulung di sudut masjid, setelah itu duduk sendiri menunggu jamaah subuh datang.

Akhir-akhir ini, Deden selalu lebih dahulu memasuki masjid dan mengatur kebutuhan di dalamnya. Sebab seminggu lalu, setelah tiga pekan tinggal di masjid, Deden sudah diserahi kunci duplikat oleh Pak Jalil, ketua pengurus masjid. Kunci yang dulu hanya di tangan Pak Jalil, kini juga dimilikinya. Dengan kunci itu, tentu ia lebih mudah mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan masjid tanpa harus lebih dahulu menunggu kedatangan Pak Jalil.

Selain di masjid, kurang lebih dalam seminggu ini, Deden juga menemani pembantu Pak Jalil untuk mengurus lingkungan rumahnya yang berdekatan dengan masjid. Bahkan, bila terlihat kotor, ia segera membersihkannya. Membuang sampah yang menyumbat selokan, dan lainnya. Pada akhirnya, hampir semua pekerjaan di rumah Pak Jalil, ia ikut terlibat, kecuali ke pasar.

Jarak antara masjid ke pasar hanya satu kilometer. Meskipun setiap dua hari ke pasar, Pak Jalil tak menyertakan Deden karena ada pembantu yang selalu ke pasar. Namun, pekerjaan yang dilakukannya selama ini pun tak mengurangi kesibukannya. Setelah selesai merapikan masjid, ia harus membantu pekerjaan rumah, berusaha meringankan beban keluarga Pak Jalil, juga pembantu Pak Jalil yang sudah tidak muda lagi. Ketanggapan Deden itulah yang menjadikan keluarga Pak Jalil menyukainya.

“Aku berharap Deden dipindah ke sini saja, Bu. Kamar belakang tidak ada yang ngisi,” kata Pak Jalil.

“Kalau itu keputusan bapak, tak mengapa.” Ia menyetujui suaminya sebab mereka sudah cukup mengenal sosok Deden kendati baru empat minggu tinggal di lingkungan tersebut.

“Semoga keberadaannya bisa mengisi suasana rumah, Bu, bersama kedua anak kita.” Pak Jalil menyebut kedua anak laki-lakinya yang masih SD.

“Kapan pindahnya, Pak?” tanya istri Pak Jalil. Harapannya, semakin cepat semakin baik sebab beberapa hari lagi, mereka akan mengadakan pengajian.

“Sore ini juga bisa, Bu.”

Istrinya mengangguk, menyetujui.

***

Berawal di sebuah pagi. Pagi sekali. Sebelum merapikan kebutuhannya, lebih dahulu Deden mengurus ibunya yang renta. Mengambilkan pakaian dan menyediakan makannya. Meskipun sehat, karena usia, jalannya agak lamban. Ia tak membiarkan ibunya banyak bergerak, khawatir akan menambah sakitnya semakin parah.

Dalam keseharian di rumah, tak ada yang ia berikan kepada ibunya kecuali kasih sayang. Namun, beban hidup yang ia rasakan selama menganggur tiga tahun semenjak lulus SMA, membuatnya bertekad bulat untuk membahagiakan ibunya, mencari kerja. Dan, pagi itu ia harus meninggalkan kampungnya.

Baca juga  Keringat dan Susu

Setelah merapikan kebutuhannya dan sebelum pamit pada ibunya, Deden menitipkan orang tua yang ia kasihi itu pada kakaknya untuk dirawat.

“Kalau sudah dapat kerjaan bagus, akan saya kabarkan pada Ibu.” Ibunya mengangguk. Ia pun mencium ibunya. Tak lupa, ibunya mendoakan agar anaknya mendapatkan pekerjaan yang baik.

Deden pun berangkat, diiringi dengan doa sang Ibu. Burung-burung liar beterbangan di atas pohon di halaman rumahnya. Mengiringi kepergiannya.

***

Siang itu, Deden tiba di sebuah pasar. Ia berada di antara deretan toko. Tempat yang sama sekali belum ia ketahui sebelumnya.

Deden duduk di depan pertokoan. Belum berpikir apa yang akan ia kerjakan di kota itu. Ia tertegun menyaksikan keramaian orang lalu-lalang. Tidak seperti kampungnya yang senyap. Ia dihinggapi kebekuan dalam keramaian.

“Mau ke mana, Mas?” tiba-tiba seseorang yang duduk di sampingnya bertanya.

“Tidak ke mana-mana.” Jawab Deden sekenanya, tanpa menoleh sedikit pun.

“Tidak ada tujuan, maksudnya?” tanya orang itu kembali.

Deden tak menghiraukan pertanyaan orang itu. Orang-orang di kampungnya sering bicara, kalau di kota harus hati-hati. Banyak kejahatan. Namun, keinginannya untuk membahagiakan ibunya, membuat ia berpikir keras. Ia masih diam. Dalam hati, ia berpikir; apakah orang ini membutuhkan tenaganya.

“Cari kerjaan, Mas.” Deden berterus terang.

“Kebetulan, aku ada kerjaan,” jawab orang tersebut.

Walaupun hati-hati, ada raut bahagia di wajah Deden. Ia membayangkan bisa memberi kabar untuk ibunya.

“Boleh, Mas. Saya siap,” sambutnya.

Hingga satu minggu, bersama kedua temannya, Deri dan Jalu, Deden berkeliling di sekitar pasar. Namun, ia belum mengetahui apa yang akan ia kerjakan. Saat itu juga ia sudah mendapatkan firasat kurang baik. Namun, Deden tetap bertahan hanya karena sumpah malam pertama pertemuannya yang mengharuskan untuk mengikuti Deri, lelaki yang ia temui di depan pertokoan. Dan pagi itu, mereka sudah berada di jalur kendaraan ke arah pasar.

“Kalian perhatikan isyaratku,” tegas Deri, lelaki tinggi berkaca mata itu.

Jalu, temannya, yang juga ditemui Deri di pertokoan pasar, mengangguk siap. Pun demikian dengan Deden.

Deden mengikuti temannya yang belum lama dikenalnya. Kemudian, keduanya menuju sebuah tempat di seberang jalan. Sedangkan si Deri, yang belakangan ia ketahui sebagai ketua, tetap di tempat semula, duduk di bangku warung kopi. Dan mereka bisa saling menghadap ke lintasan kendaraan yang ke arah pasar itu.

Baca juga  Kiblat

Deden penuh tanya, apa yang akan mereka lakukan.

Setelah menyaksikan seorang ibu di sebuah becak yang mengenakan aksesori berharga di tangannya, dari seberang jalan, Deri memberi isyarat kepada Jalu. Jalu memahami isyarat itu. Lalu bangkit, mendekati becak dalam kemacetan. Tanpa mengerti, Deden mengikuti.

Deri masih duduk di tempat semula. Menyaksikan Jalu memepet becak yang dikendarai pemiliknya. Karena cukup lama, tanpa menghiraukan aksesori di tangan ibu itu, nekat ia mengambil paksa tas dalam genggamannya. Ingin menyelamatkan barang miliknya, si ibu berteriak. Tiba-tiba orang-orang yang berada di sekitar trotoar lintasan mengejar Jalu.

Dengan pertimbangan sendiri, Deden menghindar dari Deri, menjauh dari Jalu. Juga dari kejaran orang-orang di pasar, tempat yang satu minggu ini sudah banyak ia kenali. Satu pilihan, ia akan mencari tempat persembunyian. Dan siang itu, di masjid Pak Jalil, Deden melabuhkan dirinya.

Dengan napas terengah-engah, ia bersembunyi dalam masjid. Ia berniat akan keluar dari masjid dan mungkin akan kembali ke kampung bila yakin keselamatannya terjamin. Hingga menjelang Ashar, ia masih tetap di masjid. Entah dengan niat atau terpaksa, bersama jamaah lainnya, Deden ikut wudlu. Deden melaksanakan shalat Ashar berjamaah.

“Tinggal di mana, Dik?” tanya Pak Jalil setelah shalat.

“Kebetulan saya lagi mampir, Pak. Dari pasar.”

“Di pasar kerja apa?”

“Tidak, Pak. Belum.”

“Baru ingin mencari?”

“Begitulah, Pak.”

“Kalau mau, adik bisa tinggal sementara di sini. Di samping masjid ada kamar kosong. Cukup rapi.”

***

Acara pengajian selesai sudah. Ditemani Pak Jalil, Deden merapikan alat-alat pengajian, juga beberapa karpet kecil dan barang lainnya. “Mas Deden dipanggil ibu. Menemani belanja ke pasar,” kata anak sulung Pak Jalil dari halaman masjid. Pak Jalil lebih dahulu beranjak dari pekerjaan.

“Saya duluan ya, Den.”

“Ya, Pak.”

Pak Jalil melangkah keluar masjid. Mengajak anaknya kembali. Lalu Deden melanjutkan pekerjaannya. Mengambil buku-buku kecil yang berserakan di lantai dan menatanya kembali di rak buku di sudut masjid. Deden memang selalu siap mengurus masjid. Ia tak berharap apa pun, baik dari masjid maupun keluarga Pak Jalil. Ia hanya ingin membalas kebaikan keluarga Pak Jalil.

Deden duduk di serambi masjid. Ia termenung sendiri. Ia mengerti kalau istri Pak Jalil hanya berbasa-basi untuk ke pasar. Tetapi, pikiran di otaknya berputar-putar. Sudah lama ia tinggal bersama mereka dan tak pernah menyertai pembantu Pak Jalil. Meskipun keluarga Pak Jalil tak mengharapkan Deden harus ke pasar karena memang bukan pekerjaannya, kali ini Deden tak bisa menolak. Ia harus ke pasar membantunya.

Baca juga  Sejarawan yang Tersingkir

***

 Setelah shalat Subuh dan para jamaah sudah kembali ke rumah masing-masing, ia menggulung sebagian karpet shalat dan meletakkannya di sudut masjid. Pak Jalil masih menemani Deden, mematikan lampu dan mesin pompa air untuk berwudlu. Pagi itu, setelah seluruh pekerjaan masjid hampir rampung, Pak Jalil pamit pada Deden.

“Kita sama-sama, Den?”

“Silakan duluan, Pak. Nanti saya menyusul.”

Kemudian, Deden melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. Mengepel sebagian lantai masjid yang terlihat kotor. Setelah pekerjaan selesai, ia keluar. Dari serambi, ia kembali melihat sekitar masjid untuk memastikan tak ada pekerjaannya yang tertinggal. Lalu ia ke halaman masjid. Membuka gerbang dan menggemboknya. Ia melangkah menuju rumah Pak Jalil yang hanya dibatasi jalan kecil. Namun, Deden tak mengetahui sebelumnya dari mana kedua polisi yang tiba-tiba menghampirinya.

“Mas Deden?” tanya salah seorang dari mereka, sopan.

Tanpa bicara, Deden menganggukkan kepala. Membenarkan pertanyaan yang ia terima. Ia belum mengerti maksud polisi itu ketika membawanya ke mobil patroli. Namun, saat mendekati mobil, Deden dikejutkan oleh seseorang yang akan mengendarai mobil itu. Deden berusaha mengenalinya yang samar dalam ingatan. Orang itu yang sempat ia lihat kemarin di sebuah toko di pasar ketika membeli kebutuhan dapur Pak Jalil. Orang itu lama memperhatikannya. Deden tak menaruh curiga padanya. Apalagi, sudah satu bulan ia tak pernah ke pasar. Tempat yang menjadikannya penuh tanya akan sebuah pekerjaan di antara kedua temannya yang kini sudah tewas setelah polisi lebih dahulu menyarangkan peluru ke paha mereka, sebelum akhirnya massa di pasar menghakiminya.

Orang yang ia lihat di sebuah toko di pasar itu adalah laki-laki itu. Laki-laki yang berada di jok bangku pengemudi. Pada akhirnya, ia menyadari keberadaannya di pasar ketika itu.

Saat mobil melaju, Deden sudah siap menerima apa pun risiko yang terjadi. Namun, Deden masih berpikir kabar untuk ibunya. (*)

Bekasi, Maret 2010

Makanudin lahir di Kampung Pengarengan Bekasi, alumni Pesantren Assa’adah Serang, Banten, kini mengajar di Bekasi.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: