Cerpen, Republika, Sam Edy Yuswanto

Mbah Dul Karim

0
()

MASIH seperti kemarin, tangan sebelah kanan Mbah Dul Karim terlihat menenteng tasbih sambil memutarnya pelan. Sementara bibirnya terlihat komat-kamit layaknya dukun yang sedang merapal mantra, seperti yang pernah kulihat di sinetron teve semalam. Aku yang masih berumur hijau pun lantas bertanya pada ibuku.

“Mbah Dul itu sedang wiridan, Le, beliau sejak masih muda memang kuat wiridannya,” begitu jawab ibuku saat kutanya aktivitas Mbah Dul yang sering membuatku terheran itu.

“Wiridan itu apa, Bu, kok Ibu tahu kalau Mbah Dul rajin wiridan waktu masih muda,” tanyaku polos.

“Wiridan itu yang seperti Bapak ajarkan sama kamu setiap habis shalat itu lho, Le. Membaca kalimat pujian kepada Allah, seperti baca basmalah, fatihah, alhamdulillah, subhanallah, Allahu akbar, la ilaaha illallaah, dan masih banyak lagi yang lain. Dan tentang masa muda Mbah Dul hampir seluruh warga kampung ini tahu perjuangan beliau dalam membela agama Allah, almarhum kakekmu juga seperjuangan dengan Mbah Dul, beliau dulu sering cerita ke ibu tentang perjuangan melawan kaum penjajah bareng Mbah Dul,” keterangan panjang ibu membuatku manggut-manggut saja, walau masih belum paham benar apa sebenarnya faidahnya wiridan itu.

“Memangnya wiridan itu wajib to, Bu,” tanyaku lagi, seingatku rukun Islam cuma ada lima, dan selama ini tak pernah kutemukan ‘wiridan’ menjadi bagian dari salah satu rukun Islam.

“Wiridan memang bukan hal yang wajib, Le. Allah itu nggak butuh pujian hamba-Nya. Dipuji ataupun tidak, Allah tetap Mahamulia. Tapi, kita sebagai hamba-Nya yang justru membutuhkan-Nya. Wiridan itu adalah salah satu wujud rasa terima kasih kita sama Allah yang telah banyak memberikan anugerah nikmat pada setiap hamba-Nya,” jelas ibu.

“Mbah Dul itu istiqomah ibadahnya Le, beliau tak pernah lalai menjalankan perintah Tuhan, shalat selalu tepat waktu, wiridan juga kuat berjam-jam. Makanya, walau umur beliau sudah sangat sepuh, beliau tetap semangat menjalani sisa-sisa umurnya,” lanjut ibuku sambil melanjutkan menyulam baju kebayanya yang sedikit robek.

Aku pun kembali manggut-manggut saja mendengar penjelasan ibu walau tanpa sepenuhnya bisa mencerna kalimat-kalimatnya.

“Memangnya umur Mbah Dul sekarang berapa to, Bu,” tanyaku lebih jauh.

“Umur beliau kini delapan lima, Le.

Delapan lima? Waaah! Sudah tua banget? Aku saja baru sembilan tahun. Aku lantas teringat Pak Hamdi, guru sejarah Islam di SD-ku, beliau sering menceritakan kekejaman penjajahan Belanda yang begitu antusiasnya ingin menguasai negeri Indonesia yang katanya terkenal gemah ripah loh jinawi ini.

“Berarti Mbah Dul dulu mengalami zaman penjajahan Belanda ya, Bu?” entahlah, rasanya aku semakin tertarik mendengar kisah Mbah Dul Karim.

“Iya, Le. Dulu di daerah ini Mbah Dul Karim terkenal paling gigih memberontak kaum penjajah. Apalagi beliau orang yang paling semangat dalam membela agama Allah. Setiap malam, Mbah Dul mengadakan pengajian di rumahnya sekaligus berjamaah shalat di sana.”

Baca juga  Susuk Kekebalan

Aku beranjak dari tempatku duduk, melangkah pelan menuju pintu. Di ambang pintu, aku masih melihat Mbah Dul Karim duduk di teras rumah kayunya. Sementara mulut beliau terus komat-kamit sambil memutar tasbihnya. Di samping rumah kayu yang sangat sederhana dan mulai lapuk itu, berdiri kokoh bangunan mushala dengan lantai yang masih berlapis semen keras. Setiap hari, walau tak full lima waktu, aku selalu diajak Bapak berjamaah di situ.

Kok pengajian dan jamaahnya di rumah, Bu, nggak di mushala saja seperti sekarang,” tanyaku sambil berjalan ke arah ibu, lalu duduk di lantai beralas tikar di sebelahnya, seperti tadi.

“Itulah salah satu kebengisan dan kekejaman zaman penjajahan Belanda, Le. Jangankan membangun mushala, lha melakukan shalat dan pengajian pun masih ngumpet-ngumpet, karena para penjajah itu adalah orang yang sangat anti-Tuhan dan tak segan-segan menembak mati dan melempari bom pada jamaah yang sedang shalat dan mengadakan pengajian. Mereka suka curiga jika melihat orang-orang Islam berkumpul,” keterangan ibu kali ini membuatku geleng-geleng kepala. Wah, aku benar-benar tak bisa membayangkan jika aku hidup pada zaman itu.

Allahu Akbar Allahu Akbar….

Allahu Akbar Allahu Akbar….

Suara azan Asar menggema dari corong mushalanya Mbah Dul Karim. Suara serak khasnya Pak Mulyono, anak sulung Mbah Dul Karim yang saat ini hidup serumah dengan beliau. Sebenarnya Mbah Dul punya empat anak, dua laki-laki dan dua perempuan. Kedua anak perempuannya telah menikah dan hidup bersama suami masing-masing di luar kota. Sementara Pak Solihin, adik Pak Mulyono ikut tinggal bersama mertuanya, seorang kiai besar pengasuh salah satu pesantren yang santrinya mencapai ribuan di Jawa Timur.

Le, ayo ambil wudlu dulu sana, nanti kita ke mushala bareng,” ibu mengingatkanku.

“Iya, Bu,” aku pun gegas ke pancuran di belakang rumah.

***

Malam itu, seusai shalat Isya, aku menghampiri bapak yang tengah membaca Alquran di ruang tamu. Aku duduk di sebelah beliau sambil membuka-buka buku pelajaran. Sudah kubolak-balik buku tentang sejarah Islam sedari tadi, tapi ingatanku terus terhujam pada cerita ibu tadi sore yang masih bersambung. Dan aku masih penasaran ingin tahu lanjutannya. Tadi selepas Maghrib, bapak berjanji akan bercerita panjang lebar tentang Mbah Dul saat melawan kaum penjajah.

Bapak melirik ke arahku. Lalu tersenyum geli. Sepertinya beliau tahu, aku sudah tak sabar mendengar cerita-cerita tentang Mbah Dul Karim. Kira-kira dua menit kemudian, bapak pun menutup Alquran setelah sebelumnya mengucapkan kalimat Shadaqallaahul ‘azhim.

“Ayo, dong, Pak, cerita Mbah Dul Karim lagi,” kataku tak sabar saat bapak meletakkan kitab suci itu ke dalam almari kaca yang berada di dekatku.

Baca juga  Tembok

Lalu bapak duduk menjejeriku, aku pun segera memasang kedua belah telingaku baik-baik.

“Kamu tahu, Le. Dulu, Mbah Dul sempat mendirikan pesantren,” bapak memulai ceritanya.

“Pesantren? Maksudnya, pondok tempat yang sering buat mengaji, ya, Pak?” Bapak mengangguk.

“Dulu, Mbah Dul bersama para jamaah pengajiannya yang semakin bertambah banyak itu berencana mendirikan bangunan pesantren. Dan setelah asrama pesantren yang seluruh bangunannya masih menggunakan kayu itu berdiri, tak lama kemudian meletuslah serangan Belanda pertama. Mereka berencana menguasai daerah tempat kelahiran Mbah Dul. Suatu ketika, salah seorang di antara jamaah pengajian mengabarkan kalau para penjajah itu akan menjadikan asrama pesantrennya buat dijadikan barak para penjajah yang bengis itu. Lalu, atas inisiatif Mbah Dul, para jamaah di suruhnya untuk merusak bangunan asrama yang telah dibuat dengan susah payah itu, memecahkan genting-gentingnya, mencongkel pintu dan jendelanya serta memiringkan saka-saka penyangga atapnya, agar supaya para penjajah mengira asrama pesantren itu tak layak huni,” Bapak menghela napas sebentar. Sementara aku dengan bersetia dan penuh kesabaran menunggu kalimat bapak selanjutnya.

“Dan benar, para penjajah itu batal menjadikan asrama itu buat barak para tentara, karena mereka menganggap asrama itu sudah tak layak huni,” lanjut bapak.

“Terus, bagaimana nasib asrama itu, Pak,” tanyaku tak sabar.

“Mbah Dul menyuruh para jamaah pengajiannya untuk bersabar beberapa waktu untuk kembali memperbaiki asrama tersebut. Lalu setelah suasana agak aman, asrama itu kembali diperbaiki, tapi sengaja dibuat tak rapi, agar para penjajah Belanda tak curiga kalau sebenarnya asrama itu adalah tempat buat mengaji. Meskipun dalam suasana perang, kegiatan pengajian pun terus berlangsung secara sembunyi-sembunyi dengan penerangan lampu minyak, Le,” terang bapak.

Ah! Perjuangan yang pasti teramat berat, batinku. Beda dengan zaman sekarang yang jelas-jelas telah merdeka dan arus listrik sudah merambah hingga pelosok desa, namun jarang ditemukan kegiatan-kegiatan pengajian. Tapi, ngomong-ngomong, ke mana asrama pesantrennya sekarang ya? Batinku bertanya-tanya dan ingin segera mendengar lanjutan cerita bapak tentang asrama pesantren itu.

“Tapi, asrama pesantren itu tak bertahan lama, Le. Beberapa bulan kemudian, para tentara Belanda merusak asrama itu begitu tahu bahwa tempat itu adalah asrama tempat orang-orang berkumpul mengadakan pengajian,” lanjut bapak, sebelum kutanya, sepertinya bapak bisa membaca pertanyaanku selanjutnya.

“Lalu, para tentara Belanda itu pun menggelandang mereka dengan kasar dan memenjarakannya di tempat yang tak layak huni manusia. Selama berhari-hari mereka tak diberi makan dan disiksa, hingga banyak yang mati kelaparan. Namun, atas izin Allah, kemudian Mbah Dul bisa meloloskan diri,” lanjut Bapak.

***

Dor! Dor! Dor!

Tiga tembakan pistol itu tepat mengenai pelipis dan dada bapakku yang langsung roboh bersimbah darah. Aku yang bersembunyi di semak-semak dekat pohon pisang menggigil ketakutan, butir-butir keringat sebesar biji jagung membanjiri tubuhku. Rasanya ingin sekali aku berlari dan melawan dua tentara Belanda itu. Tapi, ibuku segera mencekal tangan sambil membekap mulutku. Dengan raut penuh kesedihan dan berurai air mata, ibu menyuruhku untuk diam di tempat dan jangan sampai bersuara.

Baca juga  Arafah Bak Padang Masyhar

Beberapa detik berikutnya, tentara keparat itu meninggalkan mayat bapak setelah sebelumnya menginjak-injak sekujur tubuh dan kepala bapak.
Sungguh biadab! Dadaku bergolak menahan amarah. Lalu setelah para tentara itu berlalu, aku dan ibu segera menghambur menubruk tubuh bapak yang bermandikan darah segar. Ibuku meraung sejadinya. Begitu juga aku yang terus terisak memanggil-manggil bapak. Rasanya tak percaya, bapak akan pergi secepat itu meninggalkan kami.

Dor! Dor! Dor!

Tiba-tiba suara tembakan itu terdengar lagi, begitu dekat, seiring suara jeritan ibu. Ibu langsung roboh. Aku semakin histeris.

“Ibuuu! Hu huu huu….”

“Ibuuu…! Jangan tinggalkan Teguh, Buu….”

Le! Le! Lee! Sssst! Bangun…,” pundakku seperti digoyang-goyang seseorang. Berat kubuka kedua mataku, remang-remang lampu bohlam lima watt langsung menyerbu dan menyilaukan kedua mataku.

“Bapak?” ucapku begitu melihat yang berada di depanku adalah bapakku. Beliau masih terlihat segar bugar. Aku segera tersadar, kalau ternyata tadi aku hanya bermimpi.

“Di mana ibu, Pak?” tanyaku lagi.

“Lagi berwudhu di belakang, mimpi apa kamu barusan….”

Aku mengucek-ucek kedua kelopak mataku yang masih terasa berat.

“Mimpi perang melawan Belanda, ya,” tanya bapakku sembari menyunggingkan senyum.

“Sudah, ayo buruan bangun! Sudah hampir iqamat, tuh!” kata bapak.

“Memang sekarang jam berapa, Pak?” tanyaku lagi.

“Jam setengah lima pagi.”

Oooh, ternyata sudah Subuh, aku menggumam.

“Tapi, nanti bapak lanjutkan cerita tentang perjuangan Mbah Dul saat melawan kaum penjajah ya, Pak,” ucapku kemudian.

Bapak mengangguk pelan, mengulas senyum, lalu mengacak-acak rambut ikalku. (*)

Kebumen, 24 Januari 2010

Sam Edy Yuswanto adalah mahasiswa S1 Tarbiyah STAINU Kebumen, juga bergiat di FPK (Forum Penulis Kebumen). Cerpen-cerpennya telah dimuat di berbagai media seperti: Seputar Indonesia, Pontianak Post, Radar Banyumas, Koran Merapi, Tabloid Cempaka, Kompas.Com, dan Annida-online. Tulisan lain tersebar di berbagai media: Rindang, Misykat, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Majalah Community dan Buletin Forkis STAINU, Buletin Insyaf, B-tren, dan Buletin Kesehatan. Salah satu cerpennya Tahlilan Vs Rokok masuk dalam antologi 12 Cerpen Pilihan Annida-online dan telah diterbitkan oleh SMG Publishing. Cerbungnya Bukan Cinta Manusia Biasa dimuat secara berseri di Annida-online.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: