Cerpen, Republika, Trudonahu Abdurrahman Raffles

Kisah Sang Pengutang

5
(1)

SEBUAH mobil boks tampak berhenti persis di depan rumah kecil. Rahmat, penghuninya, memperhatikan dari kaca jendela. “Ah, tercapai juga akhirnya keinginan istriku. Biar nanti kutelepon ke kantornya,” bisiknya dalam hati.

Dua orang menghampiri pintu depan. Dengan segera lelaki ini membukakan pintu tanpa sempat diketuk tamunya.

“Betul ini rumahnya Bu Nafsah?” Salah seorang dari mereka membuka suara.

“Ya betul. Saya suaminya. Dari mana ya?” Walaupun telah dapat menebak siapa pengunjung rumahnya, sang pribumi tetap bertanya.

“Kami dari pusat belanja serbaada di pusat kota. Ini lemari es besar pesanan Ibu sudah kami bawa. Tolong ditandatangani bukti pengirimannya. Nanti Bapak tinggal tunjukkan saja mau diletakkan di mana, biar kami tempatkan,” jawab tamunya.

Setelah tanda tangan dibubuhkan kardus besar pun mereka tempatkan pada satu sudut ruangan, kedua tamunya lalu berpamitan.

Rumah tipe 45 ini terlihat semakin sesak saja dengan barang-barang impian istrinya. Mesin cuci, televisi LCD lumayan besar, sekarang ditambah kulkas. Belum lagi sebagian perkakas bengkel motor yang biasa digunakan lelaki ini sebelum tempat usahanya tersebut terbakar berceceran di ruang keluarga. Lahan di samping rumah juga sudah penuh dipakai menyimpan motor dan peralatan bengkel lainnya.

Dari kamar terdengar suara Adelia, anak mereka satu-satunya memanggil. Ia sudah bangun rupanya. Rahmat bersegera menghampiri putrinya itu. Menenangkannya.

Sejak setahun lalu, ia menganggur karena belum mendapatkan modal memulai usahanya kembali. Sementara hanya sekali dua langganan datang memerlukan jasanya. Mungkin mereka rikuh mempekerjakannya sebagai montir. Karena dulu dianggap sebagai pemilik, bukan montir. Padahal, Rahmat sendiri tidak keberatan melakukan pekerjaan bengkel selama sesuai keahliannya. Namun, tentu tidak mampu seterampil para anak buahnya.

Beruntung istrinya masih bekerja. Jadi, biaya untuk makan sehari-hari masih ada. Dalam hati ia kerap merasa malu dengan kondisi demikian. Seperti berlindung di balik ketiak perempuan saja pikirnya. Walaupun di zaman ini hal demikian banyak terjadi pada rumah tangga lain karena lebih banyak perempuan lebih dibutuhkan perusahaan dibandingkan lelaki, tetap saja ia merasa tersiksa.

Akhirnya, seperti sekarang inilah keadaannya. Ia bertugas menyuapi, membersihkan kencing, hajat, serta mengasuh anaknya yang baru berusia dua tahun lebih. Pembantunya telah lama mereka pulangkan. Alasannya, kondisi keuangan keluarga dipandang tak mampu lagi menggajinya.

Yang mengherankan bagi Rahmat ialah keinginan istrinya membelanjakan uang secara tidak proposional semakin menjadi. Entah karena pengaruh dari luar di lingkungan tempat kerja, atau pelarian karena ketidakpuasan atas kondisi di rumah. Intinya, istrinya selalu terlihat sangat bersemangat untuk membeli barang baru. Entah pakaian, aksesori, ataupun perlengkapan rumah.

Jika terjadi dulu, sewaktu usahanya lancar, perilaku istrinya ini masih dapat ditoleransi. Pendapatannya bisa berapa kali lipat gaji istrinya dalam sebulan. Belum lagi tambahan penghasilan jika ada transaksi jual beli. Jelas kondisi finansial mereka terjamin aman. “Tapi saat ini….” Rahmat tidak melanjutkan keluhan batinnya.

Baca juga  Kisah Seekor Ayam

“Tidak separah itu kok, Bang, keadaan kita,” kata istrinya pada satu obrolan beberapa bulan lalu di atas ranjang sebelum mereka terlelap.

“Sejak seminggu ini, satu per satu aplikasi permohonan kartu kreditku disetujui. Langsung empat buah dari bank berbeda,” lanjut perempuan tersebut.

Rahmat memandang wajah istrinya. Tentu saja ia merasa kecewa dengan keputusan sepihak itu. Namun, seolah tak mempunyai posisi tawar, ia terdiam. Hanya mengucapkan sedikit kalimat.

“Pakailah jika dalam keadaan amat terdesak. Ingat, kartu itu bukanlah sumber penghasilan. Melainkan kewajiban yang harus dilunasi.” Hanya itu ucapan lelaki ini sewaktu menutup pembicaraan.

Mereka kemudian perlahan memejamkan mata.

Namun, Rahmat tidak terus tertidur. Malam terasa sangat panjang bagi sang kepala keluarga ini. Banyak hal berkecamuk dalam pikirannya. Setelah sebuah perdebatan sengit antara dirinya sendiri, kenyataan, serta pemakluman atas kondisi istrinya. Barulah ia menemukan sebuah kesimpulan awal: membiarkan semua mengalir begitu saja untuk sementara.

***

Istri rahmat bekerja sebagai staf pada sebuah pabrik garmen. Sebetulnya suasana kerja di sana cukup kental rasa kekeluargaannya. Beberapa kali saat mengantar istrinya kerja, ia sering mengobrol dengan sesama staf lain, terutama yang lelaki. Meskipun gajinya tidak besar, suasana akrab begitu membuat Nafsah betah bekerja di sana. Lagipula Rahmat tidak keberatan. Istrinya berhak mempunyai kegiatan sendiri selama tak mengganggu tugasnya sebagai istri dan seorang ibu.

Hanya sedikit yang Rahmat sesalkan dari keakraban tersebut. Terkadang mereka melakukan sedikit kenakalan secara komunal tentang hal tertentu. Mengenai pengajuan kartu kredit itu, misalnya. Secara serempak dan saling membantu mereka membohongi pihak bank pada lembar aplikasi. Bahkan, saat tim survei mendatangi kantor mereka untuk memeriksa.

Dari mulai slip gaji yang dinaikkan terkadang sampai berlipat-lipat. Status kepemilikan rumah tinggal yang sering disamarkan dan hal lainnya. Pokoknya kekompakan mereka dalam hal tersebut pantas dapat acungan jempol.

Di bulan-bulan awal seusai adanya kartu tersebut, sebetulnya suami-istri ini masih mampu bertahan menyiasati kondisi keuangan rumah tangga dengan gali lubang-tutup lubang. Satu tagihan kartu dibayar oleh kartu lainnya. Terus begitu setiap bulan. Namun, di kemudian hari, seiring sifat konsumtif, jumlah tagihan terus menumpuk dan membuat mereka kewalahan mengaturnya.

Nafsah tampak semakin kuyu serta cemas. Tak jarang Adelia, anak mereka, dimarahi hanya persoalan sepele. Suatu hari pernah si ibu hendak mencubit paha anak itu karena menjatuhkan makanan di atas lantai yang baru saja selesai dipel. Untung cepat dicegah suaminya. Setiap hari rumah itu seperti dipenuhi bara yang siap mengobarkan api.

Baca juga  Sarno

Terlebih setelah Nafsah bercerita bahwa ibu salah satu kawan kantornya, mendapat serangan jantung karena sering ditelepon dengan nada ancaman oleh pihak kartu kredit. Mungkin cara menagihnya agak berlebihan atau memang karena kawannya itu terlalu lama menunggak pembayaran.

Bagaimanapun keadaan tersebut jelas membuat Rahmat merasa semakin bersalah karena tidak mampu mengelola rumah tangganya dengan baik. Namun, sekali lagi ia tak hendak larut dalam penyesalan. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan selalu terkait pasang-surut.

Satu pagi di hari libur, ia kedatangan beberapa anak buah yang dulu bekerja padanya. Selain bersilaturahim mereka juga menanyakan kapan akan membuka bengkel kembali.

“Pokoknya bila nanti Abang mulai usaha lagi, jangan lupa menghubungi kami dulu sebelum mencari pegawai lain,” ujar Arul, yang paling tua dari mereka.

“Bukannya kami selama ini tidak bekerja pada orang lain, Bang. Si Wendi dan Dani sudah bekerja di bengkel Jalan Melati, saya sendiri di bengkel batas kota sana, setelah berapa kali pindah kerja. Tapi, kami sepakat tidak ada yang senyaman bekerja bersama Abang,” tambahnya.

“Betul. Biarpun terkadang bicaranya serampangan dan agak keras kepala, tapi kami kangen bekerja pada Abang yang tidak sungkan terjun langsung. Sama-sama berpeluh dan belepotan oli tanpa mengurangi sedikit pun upah. Dan yang paling kangen ialah kedatangan Abang ke rumah menengok kami di luar hari kerja. O ya, orang tua saya menitip salam,” lanjut Wendi.

Rahmat sendiri hanya tertawa menanggapinya. Ia mempersilakan para tamunya meminum kopi yang disuguhkan.

Ada raut kesedihan diperlihatkan sewaktu mengetahui kondisi mantan bosnya. Hanya diam di rumah sambil menunggui seorang balita.

“Ke mana ibunya,” tanya Arul mencairkan suasana.

“Sedang ada kegiatan di pabrik. Biasa, kadang kalau staf akunting punya kerja tambahan sendiri untuk persiapan sale menjelang Lebaran di luar hari kerja,” jawab Rahmat.

Setelah agak lama mengobrol, menjelang siang akhirnya mereka pamit pulang seraya meninggalkan nomor telepon baru yang dapat dihubungi sewaktu-waktu.

Tidak lama selepas tamunya pergi. Sekira belasan menit saja jedanya. Terdengar suara seruling mengalun di depan rumah. Dari jendela terlihat Seorang lelaki usia 50-an, berperawakan kecil, dengan rambut agak gondrong sedang meniup suling tepat di depan pintu rumah. Yang membuatnya sedikit terkejut ialah ternyata lelaki tersebut hanya mempunyai satu kaki.

Rahmat membuka pintu. Agak terkejut bapak itu menghentikan tiupannya lalu tersenyum.

“Mari Pak, masuk dulu,” ajak Rahmat.

Lelaki ini berterima kasih dan menolak ajakan dengan sopan. Setelah berapa kali diajak serta diberi tahu bahwa ada hal yang ingin diobrolkan, barulah ia mau masuk rumah.

Rahmat meninggalkan sebentar tamunya untuk membuatkan kopi. Walaupun terlihat tamunya sedikit rikuh oleh perlakuan sang pribumi, dengan obrolan ringan akhirnya mereka akrab juga.

Baca juga  Zahra

Hampir satu jam dua orang ini mengobrol. Dari sana Rahmat tahu bahwa bapak tersebut adalah seorang seniman. Terkadang ia mendapat panggilan untuk mengisi acara perkawinan bila hajatan tersebut menggunakan upacara adat. Namun, panggilan tersebut tidak selalu rutin didapat. Zaman sekarang, katanya, ia dan kelompoknya harus bersaing dengan kelompok organ tunggal, orkes dangdut, band, dan sebagainya.

Lalu, ia bercerita bahwa sebenarnya ia sangat terpaksa mengamen karena ulah istrinya yang selalu berutang ke sana-kemari. Ia kerap malu didatangi orang, tetangga dekat, ataupun orang lain untuk menagih hutang. Kemudian, ia putuskan mengamen saja seraya mencari sekadar untuk makan keluarganya.

Rahmat terdiam. Ia merasa kisah bapak itu hampir serupa dengan dirinya. Sebelum tamunya berpamitan. Ia meminta tamunya menunggu sebentar.

“Tunggu dulu pak. Saya mau mengambil beras. Bapak tidak keberatan kan, membawanya?” tanpa menunggu jawaban bapak itu, Rahmat kembali bergegas ke dapur.

“Ini beras dalam kantong plastik, dan ini sekadar tambahan dari saya, lalu rokok di atas meja itu bawa saja untuk Bapak. Biar nanti saya gampang kok, tinggal ke warung,” seraya mengulurkan kantong plastik dan uang pada bapak itu.

Tamunya terpana. Memandang wajah Rahmat sejenak. Lalu, setelah menerima bungkusan ia berucap, “Dik, memang pernah saya diperlakukan semacam ini. Diajak bicara oleh pribumi yang saya datangi. Biasanya mereka para ibu tua. Namun, tidak seakrab ini, segalanya Adik berikan pada saya. Saya malu Dik. Mungkin saya tidak akan pernah kemari lagi. Bukan saya marah atau tersinggung. Saya malu Dik,” tutur lelaki itu.

Ia kemudian menengadahkan tangan di depan wajah serupa berdoa. Agak lama dan terlihat sudut matanya menitikkan air. Setelah itu, ia berpamitan.

Rahmat tak menceritakan peristiwa tersebut pada istrinya. Sampai beberapa hari kemudian kawan lamanya, seorang pengacara tiba-tiba mengunjunginya setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Ia mengaku sedang banyak kelimpahan rezeki dan teringat pada Rahmat. Kawan lamanya itu memberikan sebuah bungkusan berisi uang yang jumlahnya sebanyak Rp 20 juta.

Setelah menerima bungkusan itu di tangannya dan mendengar cerita suaminya. Nafsah hanya menundukkan kepala. Tertegun diam seribu bahasa. (*)

Cianjur, 23 Juli 2010

Trudonahu Abdurrahman Raffles, lahir di Tanjungkarang 11 April 1974. Saat ini berdomisili di Bandung dan Cianjur. Sempat menjadi jurnalis pada beberapa media lokal di Jawa Barat.

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: