Ami Sofia, Cerpen, Republika

Imam Tarawih

0
()

NAMANYA Adi. Tahun ini dia baru tamat SMA. Jenjang SMA dia tamatkan di pesantren. Kefasihannya membaca dan menghafal Al-Quran terjamin. Demikian jawaban untuk setiap pertanyaan orang-orang tentang siapa yang akan menjadi imam tarawih Ramadhan tahun ini.

“Adi siapa?”

“Adi, anak Bu Safiah, seberang pasar.”

“Ooo, kemenakan Haji Ramlan.”

Kalau sudah sampai pada nama Haji Ramlan, orang-orang yang tidak mau pusing akan berpaling. Yang tidak terlalu berani, akan berbisik. Yang berani, seperti imam masjid, akan memberi pendapat, yang seperti biasa akan tertolak.

“Saya masih bisa.” Imam masjid menolak sambil menghela nafas. Dia tahu hukumnya penunjukan imam. Dia merasa lebih tua dari pada Adi. Umurnya sudah lima puluh tahun. Menjadi imam masjid memang baru tahun ini, tapi dia seorang sarjana agama yang menjadi kepala sekolah dasar di kecamatan lain. Namun, dia pun tahu kalau pengajuan dirinya ini akan berujung pada perkiraan orang-orang: dia mau dapat kontrak imam tarawih.

“Mari memberi kesempatan pada yang muda untuk belajar.” Haji Ramlan menolak sambil tersenyum.

“Ini perkara mengimami sholat. Tidak ada istilah belajar.”

“Ya sudah, kalau kamu mau.” Haji Ramlan mengangkat bahu. Rapat panitia bubar. Adi menjadi imam tarawih tahun ini.

Banyak orang yang takut pada Haji Ramlan. Entah mengapa, kabarnya, ilmunya tinggi sehingga kawan dan lawan menjadi segan. Yang terlibat dalam pengurusan masjid Al-Hikmah, harus tunduk pada Haji Ramlan. Kalau tidak mau tunduk, tidak usah menjadi pengurus.

Ramadhan menyapa lagi. Kampung ini menjadi semarak setiap azan berkumandang. Subuh yang dingin tak menjadi soal bagi calon jamaah yang berangkat ke masjid. Setelah itu, jalanan akan ramai hingga pagi oleh lalu-lalang anak-anak, gadis, dan pemuda, baik yang bermotor atau berjalan kaki.

Zuhur dan ashar, tepi-tepi jalan ramai oleh lelaki berkopiah atau wanita bertalkum yang berjalan ke masjid. Motor-motor yang melaju pun sering ditunggangi oleh pengendara berkalung sajadah atau bermukena. Sore hingga menjelang magrib, anak-anak remaja bermotor memenuhi jalan. Bremm breemmm. Pada jam-jam ini, sebaiknya menghindari jalan raya karena lalu lintas sedang ramai dan tidak teratur. Yang harus keluar rumah tentu hanya para ibu atau anak gadis sambil menenteng rantang, kantong plastik hitam, atau bungkusan. Mereka ini adalah penghuni rumah yang diumumkan pada malam sebelumnya sebagai penyedia makanan berbuka untuk masjid besok.

Baca juga  Lesparina

Magrib. Yang berjalan ke masjid itu berarti ia hendak berbuka di masjid. Yang berjalan pulang, berarti berbuka puasa di rumah beserta keluarganya—jika dia punya keluarga atau sedang berpuasa. Yang tetap duduk di pinggir jalan atau di atas motornya berarti tidak berpuasa.

Dan isya pun datang. Suami-suami bersiap ke masjid dan istri-istri akan mengeluh, “Magrib dan isya terlalu dekat. Piring belum selesai dicuci, masjid sudah bershalawat.” Sosok-sosok putih akan melambai-lambai seorang diri atau berombongan berjalan menuju masjid. Masjid penuh hingga ke teras. Para dai yang kebagian jadwal berceramah akan berulang kali mengajak dan mendoakan agar masjid selalu penuh seperti ini hingga sebelas bulan ke depan. Kini masjid ramai oleh tawa, teriakan, dan tangisan anak-anak. Teguran orang tua atau saudara mereka pun tidak kurang ributnya. Di luar masjid, di sudut-sudut jalan yang gelap sering terlihat sepasang remaja-satu dengan talkum di tangan, satu dengan sajadah di bahu-tengah tertawa-tawa.

Seusai khutbah, shalat tarwih sebagai penanda Ramadhan selain puasa pun menjadi ladang amal bagi hati yang terbuka. Adi, remaja yang berdiri di tempat imam melaksanakan tugasnya dengan sigap. Ayat-ayat suci berkumandang merdu dari bibirnya. Shalat tarawih berjalan lancar.

Namun rupanya ada jamaah yang kurang puas kali ini. Pada Ramadhan ketiga saat celengan dibuka, bersama amplop-amplop berisi uang sumbangan jamaah, terdapat sebuah amplop yang berisi surat kaleng. Diketik komputer, Arial tebal, ukuran 20, portrait. Bunyinya begini: “Tolong shalat tarawihnya diperlambat agar shalat bisa lebih khusuk.”

“Jamaah tarawih masjid kampung ini memang terdiri dari berbagai usia, beragam tingkat pengetahuan, dan bermacam kebiasaan shalat. Ada yang suka shalat segera selesai, ada pula yang suka pelan-pelan saja.” Sekretaris masjid mengemukakan latar belakang masalah.

Baca juga  Jasmine

“Puasa itu bikin lelah. Kita bisa lihat, saat dakwah banyak yang tidur, khususnya ibu-ibu. Mereka itu kan bangun tengah malam untuk menyiapkan sahur. Jadi tidur mereka paling sedikit. Allah menyuruh kita meringankan shalat.” Haji Ramlan geleng-geleng kepala.

“Lebih baik dikurangi kecepatannya. Shalat yang ringan bukan berarti harus dibalap.” Imam masjid menyarankan.

“Tidak dibalap. Memangnya lomba lari? Jamaah itu lebih suka jika shalat cepat selesai. Kalau terlalu lambat, kantuk mereka malah menjadi-jadi. Tidak akan khusuk mereka,” Haji Ramlan menegaskan. “Apa lagi surat ini hanya surat kaleng. Kalau memang serius, seharusnya beri nama. Bisa jadi dia hanya orang iseng atau orang yang mau menjadi imam tarawih tapi tidak dipilih,” lanjutnya.
Tidak ada jawaban. Imam masjid merah telinganya. Adi, imam muda, duduk tertunduk. Anggota pengurus masjid saling melirik. Lama sunyi. Lalu sebuah kalimat lirih melanjutkan rapat.

“Tadi sebelum isya ada ibu yang marah-marah.” Rupanya Adi yang angkat bicara.

“Siapa?” Haji Ramlan mengejar.

“Tidak tahu. Tapi katanya dia selalu shalat di sini sejak sepuluh tahun yang lalu.”

“Mak Sutiah.” Serempak anggota rapat menjawab.

“Hah, nenek itu tidak usah kau pikir. Pikun dia.” Haji Ramlan tertawa dan menepuk pundak kemenakannya.

“Apa katanya?” tanya imam masjid.

Adi menarik nafas, lalu mengutip kata-kata Mak Sutiah. “Kau tahu, anak muda! Aku ini masih nenekmu. Aku saudara sepupu dari nenek bapakmu. Kau itu cucuku. Tapi kau tahu, lututku ini rematik sudah dua tahun. Ngilu sekali. Tidak bisa kubengkokkan cepat-cepat. Nah, saat aku ruku’, kau sudah sujud! Saat aku sujud pertama, kau sudah sujud kedua! Aku baru bangun, kau sudah berdiri rakaat kedua! Aku berdiri, lha, kau sudah ruku’ lagi! Aku mau ikut kau, Nak. Tapi lututku tidak bisa. Kalau sudah begitu biasanya aku marah-marah! Kalau aku marah-marah, lebih baik aku berhenti shalat dan pulang ke rumah! Tapi kau tahu kan, kalau pahala jamaah itu lebih tinggi dua puluh tujuh derajat dari pada shalat sendiri?”

Baca juga  Po Tu Fan

“Satu nenek tidak bisa mengorbankan seluruh jamaah. Di sini juga banyak yang masih muda. Banyak anak-anak yang menangis saat kita sholat. Nabi mempercepat shalat saat ada anak yang menangis.” Haji Ramlan berargumen.

“Lebih baik diperlambat sedikit. Saya juga merasa Adi terlalu cepat. Belum jam sembilan malam, jamaah tarwih delapan rakaat sudah selesai. Dulu, jamaah delapan rakaat pulang jam sembilan lewat. Lagi pula, saya rasa Mak Sutiah bukan penulis surat kaleng ini. Mak Sutiah tinggal sendiri dan tentu tidak punya komputer.”

“Kalau imam masjid punya komputer?” tanya Haji Ramlan.

“Saya punya laptop di rumah, tapi bukan saya yang mengirimkan surat ini.” Imam masjid berusaha tetap sabar. “Adi, bacaanmu tidak mengapa singkat, tapi ruku’ dan sujudnya dipelankan saja. Biar jamaah sempat membaca bacaan ruku dan sujud hingga tiga kali.”

“Tiga kali itu sunah.” Haji Ramlan mengambil surat kaleng itu, meremasnya, dan membuangnya keluar jendela masjid.

Besok malamnya, shalat tarwih tetap berjalan lancar. Imam Adi menghadap ke kiblat. Shaf-shaf diluruskan. Ibu-ibu berdesis menegur anaknya yang masih ribut.

“Ushalli sunnatat taraawih…. Allahu Akbar. Bismillahirahmanirahim….”

“Amin.”

“Alif lam miim. Allahu akbar.” Jamaah ruku’ bersamaan dengan imam.

“Sami’Allahu liman hamidah. Allahu akbar.” Jamaah sujud bersamaan dengan imam.

“Allahu akbar. Assalamu ‘alaikum warahmatullah.”

Kali ini Mak Sutiah shalat di rumah saja, sendirian. (*)

4-5 Agustus 2010

Ami Sofia adalah nama pena dari Andi Nur Fahmi ini adalah lulusan sastra Inggris Universitas Hasanudin tahun 2000. Sering menulis dan beberapa karyanya dimuat di sejumlah surat kabar terbitan Makassar maupun nasional. Saat ini penulis tinggal di Soppeng, Sulawesi Selatan.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: