Cerpen, M Romadlon, Republika

Kampung Bangkai

0
()

MATANYA belum terbuka benar ketika penciumannya menangkap bau yang tidak sedap. Biasanya, Boy bermalas-malas untuk bergegas bangun. Tapi, kini tidak. Bau itu telah membuat ia langsung meloncat.

“Sialan! Bau apa ini?” Refleks tangannya memencet hidungnya kuat-kuat. Sambil tidak henti-henti mencari sumber bau, dia terus dibuat penasaran. Bau yang awalnya samar kini kian terasa kental. Kontan saja kamar yang semalam waktu dia tidur begitu harum dan tertata rapi sekarang semunya sudah berantakan. Semua isi lemari dan semua buku yang tertata rapi sekarang sudah berserakan di lantai. Di bawah bantal, seprai, kasur, dan di kolong ranjang serta lemari dan meja tidak luput dia teliti. Nihil, tidak ada yang dia dapati yang mungkin bisa dia curigai sebagai sumber bau yang kian tidak menentu.

Pengharum ruangan tidak henti dia semprotkan. Tetap saja semerbaknya tidak kuat mengalahkan bau busuk itu.

Gusar. Bau kian menajam menghunjam perutnya. Tangannya kian kuat memegangi hidungnya. Tiba-tiba kepalanya terasa memberat dan perutnya bagai diaduk-aduk oleh bau busuk tersebut.

“Sialan!!!” Brakkk! Sambil menutup mulutnya karena takut akan muntah di ruang tengah, dia berlari keluar menuju ke kamar mandi. Tepat di depan pintu kamar mandi, dia terjongkok oleh muntah yang tidak lagi bisa tercegah.

Sementara itu, tangan kanan memijat tengkuknya, yang satunya sibuk menciduk air dari bak. Setelah merasa semua isi perut tumpah, tanpa melihat ke dalam bak, dia cepat berkumur.

Byuuuurrr.

Dia menyemprotkan kumurannya kuat-kuat. Dari mulutnya, air kumur menghambur tidak teratur bersusul dengan ribuan kata-kata makian.

Dia bangkit dan mendelik. Heran. Dalam bak, air terlihat biasa-biasa saja. Tetap jernih. Dia kembali mau muntah ketika kepalanya terasa rengkah oleh bau busuk yang tiba-tiba menyeruak dari air bak. Tak percaya, air bak yang masih begitu bening bisa terasa dan berbau serupa dengan air got kota yang selalu dipenuhi oleh berbagai sampah dan bangkai.

Spontan dia berlari menuju ruang depan dan langsung mengempaskan tubuhnya di atas sofa. Tapi, sebelum tubuh lelahnya tersandar di sandaran sofa, dia kembali harus semakin dibuat tidak percaya. Pasalnya, bau busuk yang kini bagai ribuan tombak yang siap mengoyak kesadaran ternyata telah memenuhi semua ruang rumahnya. Dari setiap sudut, dari setiap celah, pada tiap perabot seakan menyeruak bau yang sangat kuat.

Baca juga  Kimung

Sebenarnya, hari masih pagi dan dingin kemarau masih memadati udara, tapi keringat mulai menghangati tubuhnya. Napasnya terengah. Otaknya pepak semakin tidak terletak.

“Sial!” Dia penasaran. Setelah mengikat kepala yang terasa mau rengkah serta menutup hidung dan mulut dengan kain; melalui sisa asa, yang ada di penjuru ruangan berjumpalitan tak beraturan.

“Bau sialan!” Tapi, tetap saja, usahanya pun sia-sia. Tidak ada satu pun sesuatu yang bisa dicurigai menjadi sumber bau yang kian tak menentu itu.

Di luar, pagi kian meninggi dan angin pun tidak lagi hanya mengalir semilir, tapi sudah kencang. Kemudian, dengan keringat dingin yang mengalir dan mual yang tidak tertahan, dia keluar rumah.

Brakkkk! Pintu yang masih rapat dibukanya kuat-kuat. Dia langsung terjongkok. Muntah. Kerongkongannya terasa tercekik dan begitu pahit.

Dia melompong. Ternyata dia tidak sendiri.

Biasanya, saat seperti ini, Kampung Pualam sudah sangat sepi, boleh dikata mati. Para penghuninya yang kebanyakan pejabat negara, politikus, para pengusaha besar, dan karyawan di perusahaan terkenal tentu sudah pergi ke kantor masing-masing.

Tapi, tidak untuk sekarang.

Betul-betul bising. Dari muda hingga yang tua, baik laki-laki maupun wanita, semua tetangganya melakukan hal yang sama dengannya, mengikat kepala serta menutup hidung dan mulut mereka. Masih dengan pakaian tidur dan muka serta rambut yang masih kusut, mereka keluar masuk rumah. Semua tampak sangat resah dan lelah.

“Bau!”

“Bau sialan!”

Segala macam caci maki dan sumpah serapah lainnya terus-menerus tumpah menambah gempitannya Kampung Pualam yang biasanya selalu terlihat anggun itu. Semua warga kini malah semakin brutal, dikeluarkannya semua perabot rumah-rumah mereka.

Melihat itu semua, dia yang tadi terduduk lemas di teras depan dengan napas kelelahan kembali bangkit, turut mengeluarkan semua yang ada di dalam rumahnya.

Baca juga  Anak-anak Berburu Liliput di Goa Berlumut

Tidak ayal, Kampung Pualam—yang biasanya terlihat asri karena semua tertata rapi dengan jalan dan taman yang tampak bersih dan terawat—kini berantakan. Tidak hanya di setiap pekarangan; di badan jalan pun terlihat semua jenis perabot yang teronggok dan berjumpalitan tak karuan.

Siang tampak sedang tiba di puncak ketika angin kian mengalir kencang. Saat itu, warga Kampung Pualam tampak semakin dibuat kalap oleh bau busuk tersebut. Kian tegang, teriakan caci maki kian menjadi-jadi.

“Bau busuk terkutuk!”

“Bau busuk terkutuk!”

“Bagaimana kalau kita bakar saja semua perabotan ini?”

“Ya, siapa tahu memang dari situlah sumbernya. Bau busuk terkutuk!”

“Bakaaar! Bakaaar! Bakaaar!” Teriakan itu terus bersaut-sautan, melingkar, menjalar.

Tanpa tahu apakah teriakan itu benar atau setidaknya dapat dinalar akal, tanpa menunggu perintah, dia dan semua warga kampung langsung membakar semua perabotan mereka masing masing. Sebentar saja, di setiap sudut terlihat bara api yang kian meninggi. Asap terlihat terus membubung hitam, menebal. Dan, wajah-wajah lelah para warga tampak tegang menunggu ribuan tegang menunggu ribuan harapan: hilangnya bau itu.

Sia-sia! Sampai semua tinggal sisa-sisa. Bukannya hilang, malah bau busuk itu sekarang kian berbau aneh.

Dia dan warga lainnya kini betul-betul linglung dan limbung oleh rasa lelah dan keresahan yang memuncak. Di sisi lain, bau itu kian menajam bagai jutaan tombak yang selalu terus menyeruak, merobek, dan menghunjam kesadaran. Dia dan warga lainnya betul-betul tampak bagai orang-orang tolol yang terus terteror.

Sampai tiba-tiba, satu-dua, entah dari mana datangnya makhluk sebentuk lalat bertubuh cokelat dan berkepala hijau mengilap terbang berputar-putar di sekitar pekarangan rumahnya.

Di atas keputusasaan, dia coba sedikit membangun harapan dengan berpikir bahwa biasanya sang “lalat” dapat dengan cepat dan tepat menemukan sumber setiap bau busuk. Matanya sedikit berbinar. Dia ikuti ke mana makhluk itu berputar-putar, tapi sampai sekian saat makhluk itu tidak jua hinggap barang sejenak. Terus saja berputar-putar hingga akhirnya terbang dan tidak kelihatan.

“Ugh!”

Sedetik lalu, entah siapa yang memberi tahu, mungkin angin yang telah mengabarkan negeri seberang. Dari kejauhan, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dengungan. Kian dekat suara itu, kian menguat bagai berasal dari jutaan kepak sayap.

Baca juga  Pakarena

Kampung Pualam kian tercekam.

Semua mata dan telinga warga menuju asal suara, tapi otak mereka tak lagi bisa menerka siapa atau apa yang datang dan harus bagaimana menyambutnya.

Gemuruh kepak sayap yang tadi hanya suara sayup-sayup kini bukan hanya terdengar, tapi benar-benar terlihat. Seluruh mata terbelalak.

Entah dari mana, jutaan makhluk bertubuh cokelat dan berkepala hijau mengilap seperti lalat menyerbu Kampung Pualam. Gelap tiba-tiba menyergap suasana. Kepak sayapnya bagaikan tarian kematian. Gemuruhnya bagaikan gendang peperangan. Makhluk serupa lalat itu berputar-putar, mengepung kampung.

Dengan sisa asa, dia dan warga kampung berlari tunggang-langgang, menyelamatkan diri. Sia-sia!

Lalat itu pun terus mengejar hingga dia pun terkapar. Ribuan lalat bersorak, meliuk-liuk berputar memainkan sayap dalam irama pesta, mengelilingi tubuhnya yang telah roboh. Hanya matanya yang terus terbelalak ketika ribuan “lalat” itu tiba-tiba menyerbu tubuhnya. Kontan, tidak ada bagian tubuhnya yang tampak. Yang terlihat kini adalah “lalat-lalat” yang sedang asik berpesta dan berdansa.

Tidak ada yang tersisa.

Di Kampung Pualam kini begitu menakutkan, cuaca menggila, langit terlihat pekat oleh warna sayap. Di sana-sini terlihat hanya “lalat-lalat” yang sedang asyik berdansa di atas semua tubuh warga.

Seperti juga pada warga kampung lainnya. “Lalat-lalat” itu terus saja silih berganti keluar masuk dari semua lubang tubuhnya, memberi tahu ternyata bau terkutuk itu bersumber dari hati nurani dan jiwa yang telah lama membusuk. (*)

Kebumen, 2 Juli 2010

M Romadlon lahir dan tinggal di Kebumen, Jawa Tengah. Beberapa cerpennya dimuat di sejumlah surat kabar lokal. Ia mencoba merintis menulis cerpen di Republika dan sejumlah surat kabar nasional

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: