Cerpen, Jawa Pos, Sori Siregar

Hilangnya M.Aplus

0
()

M.APLUS hilang. Tidak jelas apakah ia memang sengaja menghilangkan diri, dihilangkan, atau pura-pura hilang. Yang pasti ia hilang.

Orang yang tiba-tiba hilang adalah hal biasa di kota kecil kami. Mungkin penduduk kota kecil kami merasa, jika ada orang hilang, orang itu sebenarnya tidak hilang atau lenyap ditelan bumi, tetapi pergi merantau mengadu nasib di kota lain. Mungkin ke Jakarta, Bandung, Medan, atau kota-kota lainnya. Karena itu, warga kota kami tidak merasa perlu memberikan laporan kepada polisi atau Kontras, agar warga yang hilang itu dicari hingga ditemukan.

Warga kota kecil kami tidak begitu mengenal M.Aplus dan tidak pernah tahu aksara M itu singkatan dari apa. Mungkin saja aksara itu singkatan dari Mochtar, Musdar, Mahyudin atau singkatan nama-nama lain. Yang pasti aksara itu bukanlah singkatan dari Manurung, Marpaung atau Matondang, karena itu adalah nama marga dan orang Batak menempatkan marga di belakang namanya.

Anehnya, setelah satu tahun tidak pulang ke rumah, ibu dan adik-adik M.Aplus tidak berupaya mencarinya. Mereka tenang-tenang saja, persis seperti dulu ketika ayah mereka juga hilang. Kalau keluarga M.Aplus tidak kehilangan apalagi warga kota kami, karena sebelum hilang pun M.Aplus jarang sekali bersosialisasi dengan mereka. Berita hilangnya M.Aplus juga baru diketahui warga kota kami setelah ia enam bulan lenyap, karena informasi di kota kami menyebar sangat lambat. Kota seperti tempat kediaman kami tentu saja tidak memiliki surat kabar sendiri yang setiap hari menyampaikan informasi.

Walaupun keluarga M.Aplus tidak peduli dengan kehilangannya, begitu juga warga kota kami, ternyata Abas, teman dekat M.Aplus, benar-benar merasa sangat kehilangan dengan lenyapnya M.Aplus. Ia sangat heran mengapa M.Aplus hilang begitu saja tanpa lebih dulu ada tanda-tanda ia akan meninggalkan kota itu untuk pindah ke kota lain. Terlalu, ujar Abas dalam hati. Sebagai teman dekat mestinya M.Aplus tidak berbuat seperti itu kepadanya.

Belakangan Abas curiga, mungkin M.Aplus di culik, diinterogasi, diadili lalu dipenjarakan. Tapi, apa yang telah dilakukan M.Aplus kalau ia memang benar diculik, diperiksa, diadili lalu dimasukkan ke dalam bui? Teroris? Jauh panggang dari api. Aktivis berbahaya? Juga tidak. Kerjanya sehari-hari hanya menjaga kedai pecah-belah milik keluarganya.

Abas bertanya-tanya kepada dirinya mengapa hanya lenyapnya M.Aplus yang membuat ia curiga dan penasaran. Mengapa ketika orang-orang lain hilang dari kotanya ia tidak merasa curiga sedikit pun. Ah, mungkin karena ia teman dekat M.Aplus. Dengan perginya temannya itu Abas tidak lagi memiliki teman untuk mengobrol.

Abas, seperti halnya orang lain, tidak merasa terusik kalau kepentingannya tidak terganggu. Sebagaimana warga kota kami yang lain, selama ini Abas tidak peduli dengan berita-berita tentang orang hilang, apakah itu tentang para aktivis yang hingga kini tidak diketahui di mana keberadaannya, anak-anak yang diculik atau para istri dan para suami yang meninggalkan rumah tanpa memberi tahu keluarga.

Baca juga  Melarung Bro di Nantalu

Lama-kelamaan Abas juga lupa bahwa M.Aplus hilang. Ia hanya meninggalkan kota kecil kami. Sebagai teman baginya itu telah cukup. Tetapi kemudian Abas bertanya-tanya dalam hati, mengapa ia bisa yakin bahwa M.Aplus masih hidup, hanya berdomisili di tempat lain. Di mana? Di kota mana? Apa aktivitasnya untuk bertahan hidup? Walaupun M.Aplus lulusan SMA, setelah selesai sekolah ia hanya bekerja di warung pecah-belah milik keluarganya. Ia tidak pernah bekerja di tempat lain, sehingga pengalaman kerjanya sangat terbatas atau boleh dikatakan tidak ada. Apakah di tempatnya yang baru, M.Aplus dapat bertahan hidup dengan pengalaman kerja yang sangat minim itu?

Abas tidak perlu terlalu lama bertanya-tanya seperti itu, karena akhirnya sepucuk surat dari M.Aplus diterimanya. Ia berdiam di Jakarta untuk sementara, setelah tugasnya selesai sebagai pemandu seorang wisatawan dari Amerika. Setelah menerima surat itu Abas baru mengingat kembali bahwa sejak duduk di SMP M.Aplus sangat bagus dalam berbahasa Inggris. Lafalnya sempurna, tata bahasanya baik dan susunan kalimatnya tak perlu diragukan. Selain itu, ungkapan-ungkapannya khas Inggris atau Amerika. Abas mengetahui itu karena Abas sendiri selalu mengobrol dengan M.Aplus dalam bahasa Inggris. Sejak kelas satu hingga kelas tiga SMP, Abas adalah murid kedua yang bahasa Inggrisnya baik setelah M.Aplus.

Lafal bahasa Inggris M.Aplus baik, karena dulu ia adalah pendengar setia acara Special English yang disiarkan radio Suara Amerika dari Washington sana. Ia sangat tekun mendengarkan acara itu setiap hari. Karena itu, masih lekat dalam ingatannya acara yang berjudul “The Making of the Nation” dan nama Willis Connover yang mengantarkan acara lagu-lagu jazz dan blues.

Susunan kalimat dan ungkapan bahasa Inggrisnya di atas lumayan karena ia rajin membaca buku cerita anak-anak dalam bahasa Inggris yang dijual di satu-satunya toko buku di kota kami, di samping menonton video kartun yang disewanya dan film-film berbahasa Inggris yang diputar di televisi. Menurut M.Aplus, bahasa Inggris dalam berbagai video kartun sangat bagus bukan hanya untuk pemula tetapi juga untuk orang yang bahasa Inggrisnya telah baik.

Karena itu, apabila orang membandingkan lafal bahasa Inggris M.Aplus dengan lafal bahasa Inggris para pejabat yang sering ditampilkan di televisi, para pejabat tersebut harus belajar banyak dari M.Aplus tentang lafal yang orang Indonesia lebih suka menyebutnya pronunciation. Dapat dipahami mengapa M.Aplus sering bertanya “siapa sih guru pejabat ini” jika ia mendengar lafal bahasa Inggris para pejabat tersebut.

Baca juga  Kunang-kunang dalam Bir

Kota kecil kami memang sering dikunjungi wisatawan baik dari luar maupun dalam negeri. Mereka singgah membeli suvenir di kota kecil kami, dalam perjalanan pulang dari kawasan wisata berhawa sejuk yang tidak jauh dari kota kecil kami. Selesai mendampingi sang turis M.Aplus merantau ke Jakarta, mencoba mengadu nasib. Kalau gagal ia kembali ke kampung halaman. Begitu tekadnya. Semua itu terungkap dalam suratnya. Namun, sebelum pulang ia akan mencoba peruntungannya dulu di kota lain. Kalau sukses, ia tidak akan pulang. Berarti hilang.

“Aku telah bertemu dengan keluarga orang-orang hilang yang setiap hari Kamis berdemo di depan Istana Merdeka. Pertemuan dengan mereka itulah yang membuatku semakin memahami apa artinya hilang bagi orang yang sebelumnya memiliki yang hilang itu. Pedih. Perih. Menyayat. Karena yang hilang itu adalah orang-orang yang mereka cintai. Barangkali begitulah yang dirasakan ibu dan adik-adikku sekarang ini, karena aku meninggalkan mereka tanpa sepatah kata pun.”

Abas termenung. M.Aplus merasakan seperti itu. Merasakan bahwa ibu dan adik-adiknya sangat kehilangan karena kepergiannya. Padahal, tanda-tanda seperti itu tak sedikit pun tercermin di wajah mereka, setiap kali Abas bertemu dengan ibu dan adik-adik M.Aplus. Alangkah malangnya dia, kata Abas dalam hati.

“Aku baru akan pulang jika orang-orang yang kehilangan itu menemukan kembali anggota keluarga yang mereka cintai,” kata M.Aplus dalam penutup suratnya. Ah, padahal ia mengatakan akan mengadu nasib di Jakarta dan kalau gagal akan kembali ke kampung halaman. Kemudian ia mengatakan, baru akan kembali ke kota kecil kami jika keluarga yang kehilangan itu menemukan kembali orang-orang yang mereka cintai.

Mengapa M.Aplus mengambil keputusan yang tidak saling berhubungan itu? Gagal mengadu nasib dan simpati terhadap pihak yang teraniaya sama sekali tidak berkaitan. Apa sebenarnya yang terjadi pada temanku itu, pikir Abas. Apa pula yang terjadi pada ibu dan adik-adiknya?

Orang hilang di kota kecil kami tidak pernah menjadi perhatian warga. Mungkin yang menaruh perhatian pada kehilangan itu adalah keluarga yang ditinggalkan. Merekalah yang tahu mengapa ada anggota keluarga mereka yang hilang atau merantau. Mereka tidak merasa perlu memberi tahu orang lain dan orang lain pun merasa tidak perlu diberi tahu.

Tampaknya, demikian pula halnya dengan keluarga M.Aplus. Bisa saja ibu dan adik-adiknya tahu ke mana M.Aplus pergi atau merantau, tetapi mereka tidak merasa perlu memberi tahu orang lain, termasuk Abas, teman mengobrol M.Aplus. Ini merupakan kemungkinan besar, ujar Abas kepada dirinya sendiri. Kalau tidak begitu mengapa mereka tenang-tenang saja dan tidak pernah bertanya apa pun kepada Abas.

Baca juga  Topeng Ireng

Namun, Abas terombang-ambing dalam keraguan. Dalam suratnya M.Aplus mengatakan, “barangkali begitulah yang dirasakan ibu dan adik-adikku sekarang ini karena aku meninggalkan mereka tanpa sepatah kata pun.” Berarti, ibu dan adik-adiknya tidak tahu ke mana perginya M.Aplus. Begitu juga dulu, ketika ayah M.Aplus hilang. Ini sebuah misteri bagi Abas.

Tiga bulan kemudian Abas menerima surat lagi dari M.Aplus. Berbeda daripada surat sebelumnya, surat kali ini seluruhnya ditulis dalam bahasa Inggris. Dan M.Aplus menulis namanya dengan ejaan Maplus di dalam maupun di sampul surat. Antara aksara M dan Aplus tidak ditemukan titik. Di luar kehendaknya Abas tersenyum, karena sejak ia mengenal M.Aplus, nama temannya itu sebenarnya memang Maplus, bukan M.Aplus. Tidak banyak orang yang tahu itu kecuali keluarganya dan Abas. Cuma, agar kelihatan gagah ia memisahkan aksara M dari Aplus. Ia merasa dengan ejaan baru itu namanya kedengaran lebih indah.

Dalam surat yang ditulis dengan bahasa Inggris itu M.Aplus berkisah bahwa ia telah bertemu dengan ayahnya di Surabaya. Sang ayah tampaknya hidup ber bahagia dengan keluarganya yang baru. Ia hilang dari lingkungan yang lama, lingkungan warga kota kami, dan muncul dalam lingkungan yang baru, lingkungannya saat ini. Menyaksikan ayahnya dan keluarganya yang baru berbahagia, M.Aplus juga turut berbahagia. Hilang ternyata tidak selamanya ber konotasi negatif.

Menurut pendapat Abas, kalau hanya untuk berkisah sesingkat itu, M.Aplus sebaiknya hanya mengirim SMS, bukan surat yang harus diantarkan ke kantor pos. Lalu, mengapa ia hanya bercerita tentang ayahnya, bukan tentang dirinya. Ia tidak perlu terus-menerus meninggalkan teka-teki yang tidak perlu seperti itu.

Setelah suratnya yang ditulis dalam bahasa Ing gris itu M.Aplus tidak pernah menulis surat lagi kepada Abas. Tetapi, suatu pagi, Abas membaca SMS di telepon selularnya. “Aku hilang. Entah di mana. Aku baru akan muncul setelah orang-orang hilang di Jakarta itu ditemukan kembali. Setelah ibu-ibu yang berduka terlalu lama itu tidak lagi berdiri berpanas-panas pada setiap Kamis di depan istana megah itu.”

SMS itu dikirim M.Aplus. (*)

Jakarta, 30 Juli 2010

Sori Siregar, sastrawan, tinggal di Jakarta.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: