Cerpen, Miftah Fadhli, Republika

Ancaman

0
()

HUJAN lebat mengguyur desa kami berhari hari. Enam bulan hujan tidak pernah menyentuh tetanah di desa ini. Begitu turun, derasnya serupa badai. Dari lubang-lubang dinding tepas atau celah jendela, kami mengintip keluar. Garis-garis hujan menyerupai kabut menutupi desa ini. Sesekali kami melihat selesat bayangan melintas, menembus renyai hujan. Beberapa dari kami mencoba menerka, siapa yang selanjutnya kalah dan memilih turun bukit?

Anak-anak kami telah tidur. Gemuruh atap-atap rumbia membuat mereka terlalu takut dan bersembunyi di balik sarung. Mereka terlelap, sedangkan kami para orang dewasa mustahil bisa terlelap sebab hujan yang terus memberi ancaman. Desa ini terletak di punggung bukit. Air hujan yang mendarat di atas bukit akan mengalir melewati desa secara terus-menerus dan berakhir pada ceruk danau dekat kaki bukit. Air hujan bisa saja mendatangkan longsor atau gelondongan batang pohon hasil tebangan. Desa kami dalam bahaya.

Sebelum hujan berubah deras, beberapa hari lalu kepala desa telah mengutus empat lelaki untuk mendiami menara di tengah desa. Persis di samping balai. Sampai saat ini, mereka belum pernah keluar dari menara itu. Mereka terus mengabarkan keadaan nun jauh di kepala bukit melalui mikrofon. Speaker menara lekas menyebarkan kabar ke seantero desa. Biarpun gemuruh hujan lebih kuat, secara samar kami masih bisa mendengar suara mereka.

Beberapa dari kami kembali mengintip ke luar. Mata kami saling pandang. Alis kami mengerut. Dahi kami beku karena hujan membawa udara dingin ke seluruh tubuh. Kami bisa merasakan ketakutan satu sama lain. Hari ini sama sekali tidak ada kegiatan apa pun, selain doa-doa yang kami kumandangkan. Suara kami benar-benar lenyap di tengah riuh hujan.

Pohon-pohon kelapa yang berbulan-bulan kami tanam mengelilingi desa nyaris seluruhnya ambruk. Kami sempat melihat dua batang pohon kelapa terseret air dan menghantam empat rumah. Kami ketakutan. Kami berharap tidak ada orang di dalam sana meski sebenarnya kami melihat cahaya berkederap dari jendelanya.

Beberapa bulan yang lalu, seorang laki-laki berewokan menyinggahi desa kami. Ia meminta orang-orang memanggilnya Aji Agung. Ia hendak menuju gua di puncak bukit. Ingin bertapa. Ingin memanjatkan doa pada semesta. Selama seminggu, ia menginap di gubuk Wak Atom, yang dua minggu telah ditinggal mati pemiliknya. Selama itu pula, Aji Agung tidak pernah keluar rumah, selain membeli sayur-mayur. Hari ketujuh, kepala desa mendapati gubuk Wak Atom telah kosong. Aji Agung pergi begitu saja. Itu sebabnya kami tak pernah tahu siapa sebenarnya dia. Kami mengira ia telah beranjak ke puncak bukit.

Kami tidak pernah tahu bahwa di puncak bukit terdapat gua. Untuk itu, kepala desa mengutus lima pemuda desa untuk menjelajah puncak bukit. Selain untuk membuktikan keberadaan gua, mereka juga dikirim untuk menjemput Aji Agung.

Setelah berhari-hari kami tak pernah bertemu dengan Aji Agung, ia kembali. Secara tiba-tiba, ia muncul pada pagi buta dari gubuk Wak Atom. Menguak pintu sambil membawa sebatang pohon entah apa dengan raut tenang. Pohon itu ia tanam di sebuah ember bekas pangan kambing di depan gubuk. Tak biasa, ia selalu menyapa orang-orang yang lewat. Bahkan, sering diajak masuk ke dalam.

Baca juga  Cermin

Seminggu setelah Aji Agung dengan sumpahnya meninggalkan desa kami, hujan pun tumpah. Lima hari hanya hujan kecil biasa. Lima hari berikutnya volume hujan bertambah. Tiga hari semakin besar. Hingga hari ini, hujan tidak kunjung berhenti. Beberapa penduduk desa menyusul penduduk lain yang lebih dulu menetap di pondokan Aji Agung di kaki bukit. Dekat danau. Dari desa ini, pondokan itu cukup dikenali dengan sebatang pohon menjulang tinggi dengan rindang. Sangat mencolok dibanding pohon-pohon di sekitarnya.

Kami agak bingung ketika mendengar suara gema berasal dari pondokan itu. Padahal, pondokan itu cukup jauh dari desa ini. “Amiiin. Amiiin. Amiiin,” menggema membuat bulu kuduk kami kadang meregang. Hingga tengah malam lewat lima menit, gema itu tidak berhenti. Bahkan, kami masih bisa mendengar gema itu ketika Subuh berkumandang di surau.

Dari kejauhan, mata kami menangkap asap membubung menembus hujan. Terkoyak di udara ketika jarum-jarum hujan dengan lesat terjatuh. Asap keabu-abuan itu membuat kami menduga-duga. Tingginya asap itu belum menyamai tingginya menara kayu di samping balai. Sementara itu, penjaga menara masih terus berkabar tentang keadaan di luar.

Kami mendengar suara ledakan kecil bersinambung dengan kilat petir di langit. Gemuruh guntur tambah membuat hati kami menciut. Samar-samar terlihat cahaya agak merah berkecipak dari arah balai. Kabar yang datang dari penjaga menara masih seputar keadaan puncak bukit. Dengan serentak, kami memandangi wajah kami satu sama lain.

“Kau lihat!” teriak salah satu.

“Ada cahaya!” balas yang lain.

Tangan kami bergetar. Kami merasakan dingin yang menyesap ke telapak tangan dan membuat perut kami terasa panas. Pipi kami kaku karena rasa takut dan rasa dingin bercampur di situ. Tak ada satu pun dari kami yang bergerak. Cahaya dari balai terus membesar seiring semakin tingginya asap yang membubung.

Aji Agung pernah mengumpulkan penduduk desa di balai. Seharusnya, saat itu kami melaksanakan tarawih di surau. Kawi mengatakan bahwa hanya dia dan kepala desa yang mengkuti tarawih. Tiga peternak kambing datang ketika rakaat tarawih hampir selesai. Kepala desa dengan muntab mendatangi balai. Namun, hanya Aji Agung yang berada di sana.

“Semua penduduk sudah pulang. Mereka tidur,” ucap Aji Agung sembari beranjak meninggalkan balai.

Tiga hari kemudian, Aji Agung kembali mengumpulkan penduduk di balai. Kepala desa sudah tahu. Tapi, saat akan didatangi, Aji Agung telah membawa penduduk ke tepi danau. Kepala desa urung mengintai sebab ia harus segera mengimami tarawih meski hanya Kawi dan tiga peternak kambing yang menjadi makmum.

Aji Agung telah tinggal selama setahun lebih di desa kami. Seminggu empat kali, ia menggiring penduduk desa ke ceruk danau. Terdengar bunyi palu dan gemeretak kayu hingga sore hari. Kami tidak pernah tahu apa yang dilakukan Aji Agung dan penduduk desa itu. Hingga suatu malam, ketika Aji Agung mengumpulkan penduduk di balai, kepala desa datang mengamuk.

Baca juga  Pergi ke Toko Wayang

Asap dari arah balai telah lebih tinggi dari atap menara. Penjaga menara terus mengabarkan tanpa henti bahwa telah muncul api dari gudang balai. Di sana, terdapat generator listrik yang sangat tua. Api terus membesar, nyaris menyambar menara. Semua penjaga menara terjebak di sana karena pintu keluar ternyata terhalangi batang pohon kelapa yang terseret air. Suara mereka bersicepat dengan gemuruh hujan yang semakin riuh.

Kami saling pandang. Saling meneriaki pertolongan. Tidak ada satu pun dari kami yang berani ke luar. Di desa ini, mungkin hanya tersisa beberapa orang. Rumah kepala desa terletak di dekat surau. Cukup kelihatan apabila dilihat dari jendela beberapa gubuk milik penduduk.

“Aku bersumpah, air bah akan menyerbu desa ini!!” ucap Aji Agung beberapa waktu lalu. Ia meninggalkan desa bersama benih pohon hasil cangkok yang ia tanam di gubuknya, beberapa bulan lalu. Kami bisa melihat wajahnya merah padam dengan alis melancip di tengah dahi. Matanya menyorot tajam kepada kepala desa. Sebelum ia meninggalkan balai, sebuah serapah ia tujukan pada kepala desa.

“Pohon ini akan membalaskan dendamku padamu! Aku bersumpah!”

Kami yang saat itu bersembunyi di belakang kepala desa menangkap geletar pada tubuhnya. Tapi, wajahnya tetap membiaskan kemarahan. Ia memandangi penduduk satu per satu. Menyepak pot berisi tanaman yang dihiasi berbagai sesajen.

Beberapa hari sebelum hujan deras turun, Kawi mengaku telah menemukan gua yang dimaksud Aji Agung. Dari situ, ia membawa sisa-sisa perlengkapan sesajen Aji Agung: kain kafan, kemenyan yang tidak terbakar, keris yang tertinggal, serta sebuah kain berwarna cokelat berbau darah. Semua ia tunjukkan kepada kepala desa sebelum akhirnya naik pitam dan membubarkan paksa pertemuan di balai.

“Aji Agung itu sesat!” ucap kepala desa di hadapan semua penduduk. Dia makin muntab ketika tahu penduduk telah membakar Yasin mereka atas anjuran Aji Agung. Saat itu, tidak ada penduduk yang berani melawan.

Penjaga menara mengabarkan bahwa ada batang pohon besar sedang menuju desa. Sangat besar. Menghantam pohon-pohon tumbang yang dilewatinya. Gerombolan air bah akan mendekati desa bersamaan dengan serpihan batang-batang hasil tebangan. Beberapa rumah di ujung desa telah ambruk dihantam air bah.

Kami berhenti membaca Yasin. Mulut kami tidak dapat digerakkan karena sudah terlalu takut berbicara. Hanya hati yang tidak berhenti mengumandangkan doa-doa. Kami terpaku di depan jendela menyaksikan api semakin membesar disertai ledakan-ledakan kecil. Samar-samar kami menyaksikan sekelebat bayangan berlarian ke arah kaki bukit menuju pondok. Sementara itu, kami dapat mendengar meski samar penduduk mengucap, “Amin. Amin,” berulang kali. Suara Aji Agung menggema di tengah riuh rendah kelebat pohon-pohon tumbang.

Baca juga  Pak Sakim

Kawi bercerita kepada kami, sebelum meninggalkan desa, Aji Agung pernah bersujud-sujud di depan pohon yang ia bawa dari puncak bukit. Di belakang gubuknya, ia mendirikan sebuah tempat sembahyang kecil dan meletakkan pohon itu di sana. Sambil mengucapkan, “Amin. Amin,” berulang kali, Aji Agung mengelus-elus batang pohon itu. Beberapa hari kemudian, hujan mengguyur desa kami.

Penjaga menara tidak mengabarkan apa-apa, selain membaca Yasin dengan menggunakan mikrofon. Suaranya menyebar dari speaker menara yang diselimuti api dan asap yang membubung. Sementara itu, kami mulai bisa mendengar suara air bah terus mendekat. Rumah kepala desa berada di wilayah yang cukup luar. Bukan tidak mungkin rumahnya yang selanjutnya dihantam air.

Kami dapat menyaksikan silang sengkarut kilat berseliweran di langit. Pohon-pohon bertumbangan di depan rumah kepala desa, seperti membentuk palang, sedangkan air bah yang membawa batang pohon besar semakin mendekat. Melalui mikrofon dan speaker yang juga terdapat di rumahnya, kepala desa mengabarkan bahwa keadaan akan baik-baik saja. Rumahnya telah dikelilingi pohon-pohon besar yang bertumbangan. Teras rumahnya telah ambruk. Kepala desa mencoba bertahan dengan meringkuk di bawah ranjang.

Bersamaan dengan terdengarnya bunyi ledakan dari generator, air bah itu menghantam pohon-pohon tumbang yang membentuk palang di sekeliling rumahnya. Ia masih mengabarkan bahwa keadaan baik-baik saja. Air bah masih tertahan oleh pohon-pohon tumbang yang memalang cukup panjang hingga ke jalur luar desa. Kami dapat mendengar suara air bah bergedebum mencoba menerobos palang. Dari pondokan, riuh-rendah pengikut Aji Agung menggema.

Suara gemuruh terbesar kami dengar saat air bah tak dapat menjebol palang, melainkan membelot mengikuti jalur lain menuju kaki bukit. Seketika air bah menghantam apa saja yang menghalang dan menyeret apa saja yang tumbang. Air itu akan menuju ceruk danau di kaki bukit dan mengendapkan gelondongan batang-batang pohon hasil tebangan. Dengan samar, kami mendengar riuh-rendah pengikut Aji Agung dari pondokan saat air bah dengan hebat menghantam kaki gunung dan berakhir pada ceruk danau.

Hujan perlahan berubah hanya menjadi rintik-rintik. Palang pohon yang mengelilingi rumah kepala desa masih kokoh bertahan. Penjaga menara mengabarkan bahwa keadaan berangsur baik. Kepala desa mengabarkan bahwa keadaan telah kembali normal.

Sayup kudengar kambing-kambing di belakang rumahku mengembik. Aku terharu. Kami bersujud syukur. (*)

Miftah Fadhli adalah seorang remaja kreatif yang sering menulis cerita pendek. Pemuda kelahiran Lubukpakam, 29 Februari 1992, ini beberapa kali menjuarai lomba menulis puisi dan esai. Sejumlah karyanya pernah dimuat di sejumlah surat kabar lokal.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: