Cerpen, Muhammad Amin, Suara Merdeka

Anak-anak Berburu Liliput di Goa Berlumut

0
()

BIDADARI HUTAN

SUARA keciap burung meruntuhkan lamunanku. Kusibak semak, mengumpulkan kembali pikiranku yang terserak. Angin yang menyeberang pepohonan menjatuhkan daun-daun muda, daun yang belum cukup umur itu harus menerima nasibnya menyusul daun-daun dan reranting yang sudah mendiang. Membusuk jadi makanan tanah, kemudian terlahir kembali sebagai daun muda baru.

Angin berkesiur sepintas itu mengisyaratkan sesuatu.

Seolah belum lelah jua aku mengeja tiap tanda, kicau burung, ricik air di sungai-sungai kecil yang jeram oleh bebatuan, tiap embusan angin dan gesekan dedaun. Bahkan ingin aku mengubur sisa-sisa kemelut di dada di tengah tanah yang di harumkan jasad para puyang. [1] Aku sering membayangkan diriku sendiri jadi macam-macam binatang di rimba ini. Jadi ulat, pacet, ular, semut rang-rang, harimau kumbang, beruang dan siamang. Ataukah jadi Merak Sumatera? [2] Bahkan aku sangat memimpikan bertemu dengan bidadari hutan itu, tapi ia telah jadi keindahan purba. Tubuhnya yang kecil dan cantik, warna elok: hitam nyalang-kuning semburat hijau muda-biru bercahaya berkilauan seperti sutera dari surga. Apalagi bila kipas raksasanya mengembang, akan tampak lebih angkuh dan anggun.

Demikianlah. Sewaktu ada rombongan pelajar, seorang mahasiswi bernama Nurmi memberitahukan kepada Pak Barlan, polisi hutan berkulit gelap itu, bahwa ia melihat burung merak di pucuk akasia hutan. Perempuan itu sampai pucat pasi menceritakannya.

Pak Barlan tak secuil pun percaya. Dia yang sudah bekerja berpuluh tahun tak pernah menemukan sepotong pun burung merak.

“Mungkin dia berkata benar, di tengah rimba ini apa pun bisa terjadi.” Aku meyakinkan. Saat kami kembali untuk menemukannya, ternyata kami terlambat.

Berselang sebulan setelah pulang, wanita itu kembali lagi. Kali ini wajahnya tampak riang.

“Entah mengapa akhir-akhir ini saya selalu mujur, setiap saat saya selalu ketiban rezeki. Mungkin benar kata Anda, merak yang saya lihat itu bisa mendatangkan anugerah,” katanya membanggakan diri.

Walupun demikian, ia masih saja menggerutu karena kebodohannya sendiri. Alasannya karena dimarahi dosen pembimbing gara-gara tak sempat mengabadikan gambar.

“Padahal waktu itu kamera bergelantung di leher saya, tapi sama sekali tak terpikirkan. Mungkin karena saking takjubnya, luar biasa!” katanya geleng-geleng kepala. “Saya melongo saja seperti orang tolol tanpa terpikir sedikit pun untuk mengambil gambarnya,” katanya lagi dengan penyesalan yang berlebihan.

Berminggu-minggu, berbulan-bulan ia menyusuri setiap rusuk hutan. Namun sampai ia pulang, tak pernah ia temukan lagi bidadari hutan itu.

DESAU MITOS

KULANGKAHI hutan basah, lembab oleh rimbun dan geliat hujan yang memberi kelegaan bagi tanah. Bagi belantara tak tertaklukkan ini.

Aku benar-benar ingin jadi bagian dari hutan ranum nan rimbun. Jadi tanah basah yang menghangatkan akar-akar pepohonan. Jadi daun-daun kering berjatuhan, lalu menyusup jadi sari pati tanah, makanan tetumbuhan. Jadi air mengalir dari tebing curam, menyusuri akar-akar bergelantungan. Jadi buah gruntang, rao, kelandri, medang. Jadi bunga kokosan, bernung, kulut, daun sawa, rayoh, klampean, bunga gondang—buat makanan siamang. Seolah tak habis-habis keinginanku.

Baca juga  Kembalinya Feng Naga

Kami turun-menurun sangat bersahabat dengan alam karena tak pernah ada yang melanggar ketetapan alam dan pantangan-pantangan dari puyang leluhur kami. Hutan selalu terjaga oleh desau mitos, serupa dongeng yang diembuskan oleh penghuni hutan dari tanah ke tanah, pohon ke pohon, dan kelopak ke kelopak bunga yang berguguran. Tak ada yang berani menghabisi nyawa pohon-pohon dan binatang. Bahkan menebas semak pun dilarang, apalagi bersikap sembarangan. Bila pada waktunya kini desau mitos tak lagi segarang dulu, itu karena ada yang hilang dari dalam tubuh kami. Kami kehilangan Dalom Sinar, tetua adat pemimpin kami. Dia yang selalu mengingatkan para penebang agar tak berlaku sembarangan.

“Kami tak mau mencelakakan diri sendiri, apalagi orang lain,” kata Dalom Sinar, “Jadi turuti saja kehendak alam. Biarkan pohon-pohon itu tumbuh, bertunas dan besar. Kelak akan mati dan tumbang sendiri menerima takdir. Sudah begitu sejak dulu. Kami tak pernah mau menyakiti penghuni hutan. Kami menerima apa yang ingin mereka berikan. Dan ingat, kami tak mengerti apa-apa tentang izin yang kalian bawa, di tempat ini tak berlaku. Jadi tinggalkan tempat ini kalau ingin selamat.”

Tanpa banyak berkata-kata, orang-orang itu pergi membawa alat-alat berat yang bisa mengaum keras melebihi auman harimau.

DI GOA BERLUMUT

DI tengah hutan, masih kuletakkan pikiranku. Sementara tanganku tak berhenti menyadap getah damar dan jelutung. Damar kaca menjadi sesuatu yang menghidupi kami. Tak banyak yang berubah dari tempat ini. Kutatap Goa Berlumut dari kejauhan, sebuah goa yang kukuh dalam diam. Dinding-dinding batunya dipenuhi lumut kerak, dan di atasnya kalong-kalong bergelantungan. Celah batu berupa lubang-lubang kecil adalah rumah bagi para liliput [3]—orang-orang dulu menyebutnya anak sumi, tempat mereka berumah tangga dan beranak-pinak di sana. Di tempat ini, pernah pada suatu kurun waktu, aku menghabiskan masa-masa kanak berburu liliput. Berburu liliput di Goa Berlumut menjadi sangat menyenangkan. Pada musim tertentu, kami harus berebutan buah-buahan di hutan.

Makhluk-makhluk kecil ini bergerak amat cepat, lesat seperti kilat. Kadang mereka menyelinap di antara daun-daun yang tak kentera oleh mata. Tubuhnya yang kecil seukuran telunjuk harus membuatnya hidup berkelompok dan mempunyai tabiat gotong-royong. Mereka bersahabat dengan orang-orang yang masih punya garis keturunan dengan Dalom Benalung, puyang leluhur kami.

Kuselesaikan pekerjaanku, lalu melangkah membawa tabung-tabung bambu. Auman harimau masih terdengar dari kejauhan. Seekor liman [4], kawan penjaga hutan, melintas di hadapanku. Kubelai belalainya yang panjang, telinganya yang lebar dikibas-kibaskan. Di bawah pohon dan di perut jurang, banyak tulang kerangka dan mayat manusia celaka yang tak selamat dicaci penghuni hutan.

Baca juga  Rumah Idaman

PEREMPUAN POHON

KATRIN mengumpulkan ranting-ranting untuk membuat api unggun. Malamnya ia akan tidur di atas pepohon, setiap malam bersama orang utan yang sejak kecil dipelihara. Semua peralatan selalu ia siapkan dalam tas besarnya.

Baru kali ini aku menemukan perempuan yang menghabiskan separuh usianya hanya untuk mencintai hutan dan binatang. Katrin yang mempunyai jiwa petualang, penjelajahannya dimulai dari hutan Kalimantan. Dia selalu berpindah-pindah, namun tinggal lebih lama di suatu tempat yang diinginkan. Rambutnya pendek kecokelatan, kulitya putih pucat, matanya biru seperti warna langit. Kamera selalu bergelantung di leher. Selalu memakai pakaian pendek dan topi beludru abu-abunya.

“Kau mau tidur di atas pohon juga nanti malam?” Katrin bertanya.

“Aku lebih suka tidur di dalam gubuk,” jawabku.

“Bagiku pohon itu anugerah, lebih dari sekadar rumah. Seperti juga binatang-binatang itu. Lihatlah, anak mereka lucu-lucu semua.”

“Kamu sudah seperti seorang ibu bagi mereka.”

“Ibu dari mereka?” Katrin tersenyum pendek, “Matu, lebih dari itu, aku ingin menjadi ibu dalam arti sesungguhnya.”

Kami sama-sama terdiam, menikmati nyanyian serangga hutan dan jeritan siamang. Katrin duduk di dekatku setelah selesai mengumpulkan ranting-ranting kering.

Kemudian hari-hari berikutnya aku masih mengunjunginya. Aku mendapat banyak pengetahuan darinya.

Suatu ketika ia menyampaikan sesuatu padaku, bahwa ia menginginkan aku menjadi bagian hidupnya. Namun sayang, aku telah mencintai hutan. Juga mencintai seorang perawan yang memintal sepi di tengah hutan.

LAKI-LAKI YANG MENCINTAI HUTAN

AKU menemukanmu, wahai perawan di tengah hutan. Mungkin saja kau yang kucari selama ini. Namun kita hanya bisa bertemu sekerjapan mata. Tak kauberi kesempatan untuk sekadar meninggalkan harummu di sini. Apakah kau jelmaan bidadari hutan itu?

Kau tak punya sayap, bulu-bulu halus dan indah seperti merak. Namun kau memiliki keindahan melebihi merak. Maka kusimpulkan kaulah bidadari hutan itu.

Sinar matamu perak memendarkan sesuatu yang dalam. Kedalaman hati. Wajahmu teduh dan rindang. Lenganmu seperti dahan-dahan yang kukuh. Dan kesuburanmu dipuja kerimbunan hutan. Demikianlah sepagi itu, sesungguhnya aku hanya ingin bercerita tentang hikayat resah diriku pada alam melalui lagu yang kumainkan. Aku hanya ingin berbagi gundah pada pohon, bebatuan, ricik air dan angin. Sendu serulingku meningkahi seluruh perasaan. Maka kucurahkan sedalam-dalamnya isi hati.

Aku, putra satu-satunya Dalom Sinar, calon pemimpin hutan ini. Ayahku telah mengembankan amanat padaku. Namun rupanya amanat itu terlalu berat untuk kupikul sendiri.

Baca juga  Perempuan Hajar

Sebelum Dalom Sinar, pemimpin hutan bijaksana itu meninggalkan dunia, telah sering kali beliau berpesan agar aku selekasnya memiliki pedamping hidup.

“Matu, anakku, dulu yang meluruskan ayahmu ini adalah ibumu. Yang menguatkanku dalam menjaga hutan ini juga ibumu. Jadi sudah selayaknya, kau sebagai penggantiku, memiliki pendamping hidup untuk menguatkanmu. Apalagi pada usiamu yang sudah matang. Kau harus segera berumah tangga. Jangan kaubiarkan ayahmu ini tersiksa terlalu lama menunggu kehadiran cucu dan menantu.”

Aku merasa bersalah setelah sampai beliau mengembuskan napas terakhir, aku belum bisa memenuhi permintaannya.

Karena itu, semenjak aku menemukanmu, wahai perawan di tengah hutan, aku merasa sangat dekat denganmu. Aku merasa kita telah lama saling mengenal. Aku menginginkanmu menjadi pendamping hidup yang akan menguatkanku. Menjadi ibu yang melahirkan benih-benihku, menjadi muara bagi seluruh jiwaku dan bersama sama menjaga hutan. Aura yang kaupancarkan sangat lekat di ingatanku.

Sebelumnya, setelah mengingat sesuatu yang samar, ronamu seolah pernah kutemukan dalam lagu. Mungkinkah kau gadis perawan kecil itu yang lari dari rumah lantaran suatu penyakit aneh? Tapi aku yakin sekali kaulah jelmaan merak sumatra bidadari hutan itu.

Aku telah mencarimu sejak dulu, hingga separuh usiaku. Dan aku akan tetap mencari sampai kau kembali ditetaskan waktu.

BADAI

SAAT senja mengental dan jatuh di ujung dedaun, aku terlambat menyadari temaram yang mulai merambat. Buru-buru kuselesaikan pekerjaan, mengumpuli kayu bakar dan menyadap getah damar, lalu melangkah tergesa meninggalkan belukar.

Aku menengadah.

Langit keruh. Awan bergulung mengancam langit. Kilat berkeretap, meledak-ledak. Menebas-nebas gelap yang tiba-tiba.

Dari kejauhan terdengar suara derap panik binatang-binatang berlarian. Burung-burung bertaburan berdesakan di udara.

Orang-orang kampung berlarian meninggalkan pekerjaan yang belum selesai, masuk ke rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Hujan mulai tumpah.

Badai tengah terjadi. Pohon-pohon besar akan bertumbangan dikalahkan badai. Biasanya kami akan naik ke tempat tidur lebih awal sembari menyimpan pertanyaan di kepala: siapa, esok, penebang atau pemburu yang akan kami temukan mati dengan dada remuk tak berbentuk atau tertimpa pohon besar? (*)

Catatan :

[1] Puyang : moyang, leluhur.

[2] Merak Sumatra: burung langka yang tak pernah ditemukan lagi di hutan Sumatra. Konon, siapa pun yang melihat merak ini mendapat anugerah yang selalu mengalir, juga rejeki yang datang terus menerus.

[3] Liliput: makhluk berukuran sangat kecil, pernah ditemukan di gunung Kerinci dan goa di hutan Sumatra.

[4] Liman: gajah.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: