Cerpen, Jawa Pos, Maghriza Novita Syahti

Amplop Kematian

0
()

DIUMUMKAN lagi kematian dari pengeras suara di masjid. Entah siapa lagi yang mendapat giliran, entah nama mana yang terpanggil. Mak Inah bergegas berlari-lari kecil menuju halaman rumahnya agar dapat terdengar jelas alamat mendiang. Setelah imbauan selesai, bergegas pula ia ke dalam rumahnya. Menuju dapur, lalu dimatikannya kompor yang sedang memasak air itu.

Mak Inah memang tak pernah melewatkan satu kematian pun di lingkungan rumahnya. Di mana ada kematian, di situ ada Mak Inah. Tak diundang pun ia akan datang. Bahkan, keluarga mendiang bersedia menyediakan layanan jemput-antar jika wanita lima puluh tahun itu tak datang-datang.

Raut wajahnya tegas. Garis-garis wajahnya entah sudah berapa banyaknya. Kulitnya tak lagi kencang. Ada cekungan di sana-sini. Kantong matanya nyaris membuat dua matanya yang hampir rabun itu segaris. Mak Inah dikenal orang tak banyak bicara. Ketika kematianlah, suara Mak Inah terdengar. Suara yang membikin orang-orang cemas, dikejar-kejar kematian, bersiap untuk mati. Juga, membikin orang-orang berharap-harap cemas.

Mak Inah dulu tak sepopuler kini. Sejak Mak Rabaiyah dijemput kematian, Mak Inah mendadak dicari-cari orang. Mereka ingin tahu siapa yang akan mengikut, siapa pula yang akan menikah. Konon kabarnya, di kampung Balai, jika satu orang meninggal dunia, aka ada pula agak tiga orang lagi yang akan meninggal pula dalam waktu dekat. Lalu, tak berapa lama, akan ada pula yang menikah.

Mak Rabaiyah pernah sekali menyebut pada salah satu kematian. Profesinya itu akan digantikan oleh Mak Inah jika ia tak dapat lagi membaca-bacakan amplop. Mak Inah agak terkaget-kaget karena ucap kakaknya itu. Ia memang belum mahir betul dalam membacakan amplop kematian. Sebelum Mak Rabaiyah meninggal, beliau sudah meyakinkan Mak Inah bahwa ia akan terbiasa. Kemampuan membaca amplop tersebut sebenarnya sudah dimiliki ibunda dua kakak-beradik itu, Mak Tini. Lalu, Mak Tini mewariskan profesi tersebut pada anak tertuanya, Mak Rabaiyah. Mak Inah mentah-mentah menolak semasa itu. Baginya, itu bukan pekerjaan manusia. Meskipun begitu, pembacaan amplop tersebut nyaris benar adanya dengan kenyataan yang akan dialami manusia nanti.

Mak Inah sempat pula menolak pada menit-menit terakhir kematian kakaknya itu, satu tahun yang lalu. Ia tak ingin diperlakukan sama dengan Mak Rabaiyah. Dinanti-nanti orang, ditakuti orang. Tapi, alasan upahlah yang menguatkan Mak Inah. Mengingat hidupnya tak akan ada lagi yang membiayai jika Mak Rabaiyah tak ada. Mak Inah hidup sendiri setelah suaminya mencari daun muda lagi. Puluhan tahun lalu ia pergi tanpa kabar hingga kini. Sejak puluhan tahun lalu pula hidup Mak Inah bergantung pada upah Mak Rabaiyah pada setiap kematian.

***

Mak Inah bersiap-siap akan menuju rumah duka. Kain warna hijaunya bermotif bunga-bunga hitam. Baju yang ia kenakan senada dengan warna selendangnya. Hitam. Kelam. Ditatapnya kaca lama. Berlatih raut kesedihan yang mendalam. Sedih yang memiuh-miuh ulu hati. Berlatih pula ia untuk raut gembira dalam kematian. Gembira karena mengumumkan siapa yang akan menikah.

“Mak Inah…, Mak….”

Terdengar suara dari luar rumah memanggil-manggil. Disibakkannya tirai kamarnya. Mencogokkan kepala, siap yang datang. Sudah ia tebak, keluarga mendiang sudah menjemputnya. Beginilah profesi Mak Inah. Terlambat sedikit saja, dijemput. Dijemput tak pula dengan biasa. Mak Inah diperlakukan istimewa. Dijemput dengan kendaraan termewah yang dipunyai keluarga mendiang. Seperti kini, Mak Inah dijemput dengan mobil Mercedes-Benz keluaran terbaru. Mak Inah, meskipun tak punya kendaraan apalagi yang mewah, pernah mengecap rasanya.

Baca juga  Lebih Baik Ditampar Kejujuran

Tiba di rumah duka, Mak Inah dapat tempat istimewa pula. Beliau didudukkan di dekat jenazah. Dengan segala yang ia minta. Kue, minuman, sirih, dan sebagainya. Semua mengikut keinginan Mak Inah. Semua tamu yang datang, setelah mendoakan jenazah, menuju Mak Inah. Memberikan amplop berisi uang dan alamat rumah. Amplop itu sebenarnya untuk keluarga mendiang, tapi diserahkan dulu kepada Mak Inah.

Waktu Mak Inah memang tersita banyak di rumah duka. Sama pula dengan keluarga yang berduka. Siapa-siapa pelayat yang datang, Mak Inah tahu. Tak terhitung banyaknya oleh orang tua itu. Sehari dua hari tak masalah bagi Mak Inah, menanti pelayat yang memberikan amplop. Asalkan upahnya memadai. Lewat senja, Mak Inah diantar pulang ke rumahnya. Esok, pagi-pagi sekali, Mak Inah sudah dijemput lagi. Begitu seterusnya, sesuai dengan permintaan keluarga mendiang.

Kematian kali ini menyimpan pilu mendalam. Seorang perempuan yang kira-kira berusia tiga puluhan telah dulu. Mendiang terkena kanker usus. Dua anaknya yang masih balita berlarian ke sana kemari. Entah paham entah tidak akan kematian. Sembari menerima amplop, tahu juga Mak Inah sedikit banyak tentang keluarga itu.

Suaminya duduk meratap di dekat jenazah. Lalu berdiri, mengentak-entakkan kakinya sambil menyebut-nyebut kebaikan mendiang istrinya. Suara tangisnya berirama, senada dengan entakan kakinya. Perih rasa kehilangan itu kental terasa padanya. Laki-laki itu meratap sejadi-jadinya, pilu, sekeras-kerasnya.

Mak Inah mendengar suara ricuh dari luar sana. Entah siapa pula yang tiba. Perempuan paruh baya tiba-tiba masuk. Tergesa-gesa ia menuju suami mendiang. Membisikkan sesuatu ia hingga berubah air muka laki-laki itu. Mak Inah mulai mengira-ngira apa yang terjadi. Entah si penagih utang, entah si pelayat yang histeris.

Hingga hari mulai sore masih terdengar suara-suara di luar sana. Mak Inah pun minta diantarkan pulang. Jenazah akan dikebumikan sore ini. Segan pula ia rasanya lewat di depan orang-orang yang bersuara di depan itu. Mak Inah lalu memilih untuk lewat pintu lain.

***

Suara ricuh itu begitu jelas terdengar hingga ke dalam. Jika jenazah masih belum dikebumikan dan bisa mendengar, mungkin ia sudah protes karena kebisingan tersebut. Satu laki-laki memaksa untuk masuk, duduk di samping pembaringan. Satu laki-laki lain tak mengizinkan. Tak sudi jika laki-laki itu harus melihat jenazah istrinya.

Terjadilah adu mulut antara dua laki-laki yang sama-sama mengaku suami mendiang. Saling menyalahkan, saling menyesali, saling rebut, saling berebut. Keduanya mengaku lebih dulu menikahi mendiang. Entah mana yang benar. Terkaget-kaget orang-orang di sana. Berputar-putar satu pertanyaan di kepalanya. Apa benar mendiang bersuami dua?

Tak ada yang mendapat jawabnya, kecuali dua laki-laki itu. Entah apa yang mereka bicarakan kini. Setelah beradu mulut, kini mereka duduk berdampingan di samping pembaringan. Tentu semua mata tertuju kepada mereka. Tak ada satu pun yang berani bertanya kepada mereka tentang apa yang terjadi sebenarnya. Semua menganggap laki-laki yang baru datang itu pelayat juga, teman suaminya, ataupun keluarga jauh siapa. Tak ada yang kenal.

***

Pagi ini Mak Inah dijemput lagi. Hari inilah yang ditunggu-tunggu orang-orang. Saat-saat Mak Inah menyebut beberapa alamat rumah. Membaca amplop, begitu orang-orang bilang. Disediakan pula hari sehari untuk pembacaan amplop itu. Tak hanya para pelayat dan keluarga mendiang yang kembang-kempis perutnya. Menanti-nanti pembacaan amplop. Mak Inah pun juga begitu. Amplopnya juga terdapat dalam tumpukan amplop itu. Ia tak pernah tahu sebelum membuka amplop.

Baca juga  Sucipto

Entah benar entah tidak yang dibaca Mak Inah nanti. Tugasnya hanya membacakan. Dalam setahun ia menjalani profesi ini, banyak yang benar, tapi ada pula yang tak jadi mati atau menikah. Tapi, entah karena apa, ia masih tetap dijemput pada setiap kematian. Sudah jadi tradisi pula tampaknya pembacaan amplop tersebut. Dari zaman ibunya, kakaknya, hingga ia kini.

Pembacaan amplop pun dimulai. Mak inah duduk sendiri di tengah keramaian. Memilih-milih satu amplop di antara banyak amplop. Hanya beberapa yang ia sisihkan. Satu, tiga, hingga lima. Satu persatu dibacannya.

“Rumah di belakang surau….”

Basmi, perempuan agak tua yang duduk di pojok itu, tampak tegang. Begitu pula Syamsudin, Maryam, dan Jawanis. Tanpa ekspresi. Jelas tergambar di wajahnya ia menanti. Menanti lanjutan kalimat Mak Inah. Akan menghadap kematiankah salah seorang di antara keluarga mereka dalamm waktu dekat ini? Atau mereka sendiri?

“Bermenantu juga kau,” ucap Mak Inah sambil melanjutkan amplop berikutnya.

Sumringah wajah orang-orang itu. Ia tak jadi mati. Malah, kegembiraan yang ia dapat pada kematian kali ini.

Mak Inah kemudian membuka amplop kedua. Entah apa yang dilihat Mak Inah dari nama yang ada di dalam amplop itu. Entah bagaimana caranya ia bisa tahu, tak ada yang tahu. Tak ada yang berani bertanya karena begitu menakutkannya Mak Inah di mata mereka. Di mata mereka, Mak Inah tak jauh berbeda dengan Tuhan, bisa menentukan siapa yang akan mati berikutnya.

“Rumah di dekat-dekat Pak RT.”

Semua mata tertuju kepada Pak Husin, ketua RT. Orang-orang tahu persis. Di dekat-dekat rumah Pak RT, tak banyak orang bermukim di sana. Tentu keluarga Pak Husin yang akan jadi sasaran. Pak Husin pucat pasi menatap lekat Mak Inah. Naik turun dadanya bernafas. Ia sendiri tahu, bahkan orang lain juga tahu. Bahwa ia tak punya anak. Tak mungkin ia akan bermenantu. Atau, ia akan menikah lagi di usia enam puluh tahun ini? Tak pula mungkin, pikirnya. Satu-satunya yang akan disebut Mak Inah tentangnya adalah ia akan mati. Tiga kemungkinan itu terkatakaan dalam kata Pak Husin secara bergantian. Seiring dengan nafasnya yang kian sesak. Mak Inah belum juga melanjutkan. Mak Inah masih menatap lama amplop putih tersebut.

“Rumah di dekat-dekat Pak RT….”

Belum selesai Mak Inah melanjutkan kalimatnya, Pak Husin sudah lebih dulu tak sadarkan diri. Panik pula semua orang. Pak Husin dibawa ke dalam rumah.

“Mak, tolong lanjutkan tentang Pak Husin tadi,” pinta Bu Husin pada Mak Inah.

“Baik, saya lanjutkan. Akan mendapat giliran kematian.”

Bu Husin ikut pula pingsan. Berdua-dua mereka dibaringkan di dalam rumah. Hal seperti itu memang kerap terjadi. Pingsan sebentar setelah pembacaan amplop. Untung, hanya lima amplop yang dibaca. Jika semuanya, entah akan jadi rumah sakit pula rumah duka itu.

Sudah dua alamat tersebutkan. Tugas Mak Inah tinggal menyebutkan tiga alamat lagi. Dipilihnya satu amplop di antara tiga amplop yang tersisa. Berdetak kencang jantung Mak Inah membaca nama di amplop itu. Seberang banda. Alamat itu…di sana suaminya yang telah meninggalkannya puluhan tahun lalu berasal.

“Seberang banda,” sebut Mak Inah.

Seingat Mak Inah, tak pernah ada warga di sini yang bernama Rusdi. Semua pun mencari-cari orang-orang yang alamatnya disebutkan Mak Inah itu. Melirik orang-orang ke kiri, ke kanan, ke belakang. Semua mata mencari-cari Rusdi. Hanya ia yang dikenal dari seberang banda. Tak ada yang berdiri atau mengacungkan tangan, memberi tahu bahwa ia adalah Rusdi. Mak Inah pun tak peduli. Ia melanjutkan.

Baca juga  Perempuan dari Balik Pintu Kamar Berlukis Naga

“Akan ada yang menikah di sana.”

Dari dalam rumah, muncul seorang laki-laki yang kemarin duduk berdampingan dengan suami mendiang. Terlonjak hati Mak Inah melihat rupa laki-laki itu.

“Saya Rusdi dari seberang banda,” ujarnya.

Benar, Rusdi suaminya. Laki-laki yang telah meninggalkannya dulu. Sepasang mata Rusdi pun sempat menangkap sosok Mak Inah. Ternganga pula ia dibuatnya. Tak pernah ia tahu bahwa Inah yang ia kenal punya kemampuan membaca amplop seperti itu.

Terdengar bisik-bisik orang-orang tentang Rusdi.

“Itu kan…yang kemarin…suaminya kedua mendiang ya? Bisa-bisanya dia menikah lagi. Eh, Mak Inah. Itu loh suami keduanya mendiang.”

Mak Inah akhirnya mengangguk paham. Mendiang inilah rupanya istri muda yang dinikahi Rusdi. Karena mendiang ini, Rusdi meninggalkannya dulu.

Masih terdengar bisik-bisik, suara ribut orang-orang. Mak Inah tetap melanjutkan. Dua alamat lagi yang harus ia sebut. Dipilihnya lagi satu amplop. Dibukanya perlahan, lalu dibacakannya sebuah alamat dalam amplop itu.

“Rumah gadang kaum Chaniago….”

Hasnah, salah seorang yang menghuni rumah gadang kaum itu, yang berada di samping kanan Mak Inah kaget. Menatap Mak Inah ia lama. Tak sabar pula menunggu kelanjutannya. Hasnah yang usianya masih terbilang muda, tiga puluh tahun, tak ingin dirinya mendapat giliran secapat ini untuk mati. Kalau untuk menikah, tentu tak apa-apa. Tapi, entahlah dengan penghuni rumah gadang lainnya. Ada Mak Asni yang sudah tua. Mungkin, akan meninggal. Tapi, Mak Asni tak akan pingsan di sini karena beliau tak datang. Hanya menunggu-nunggu hasil pembacaan amplop di rumah gadangnya. Tak ada yang tahu jawabannya sebelum Mak Inah memberi tahu.

“Kematian akan datang kepada mereka,” lanjut Mak Inah.

Hasnah tampak paling tenang di antara beberapa nama yang sudah disebut tadi. Ia tak pingsan, tak pula sesak nafas. Hanya wajahnya yang pucat, matanya tak mengedip. Begitu kagetnya ia dengan pembacaan amplop Mak Inah.

Tugas Mak Inah tinggal membacakan satu alamat lagi. Begitu telah dibacakan, tugasnya selesai. Mendapatkan upah, lalu berbalik pulang. Diraihnya amplop satu-satunya yang tersisa. Dibukanya perlahan. Menganga-nganga pula orang-orang, menunggu-nunggu nama siapa yang akan disebut. Lama menunggu, Mak Inah tak kunjung membacakan. Raut wajah Mak Inah berubah. Ia tampak cemas. Menaik menurun pula dadanya. Tak beraturan nafasnya.

“Mak, di mana?” tanya seseorang dari belakang.

“Perbatasan kampung,” jawabnya pelan.

Orang-orang tahu betul. Di perbatasan kampung hanya ada dua rumah. Rumah Mak Rabaiyah dan Rumah Mak Inah. Mak Rabaiyah sudah meninggal. Tak pula ada anaknya. Satu-satunya orang yang tinggal mengurusi dua rumah itu adalah Mak Inah.

“…akan meninggal,” lanjutnya. (*)

Maghriza Novita Syahti. Masih berkuliah di Program Studi Psikologi Universitas Negeri Padang. Termasuk salah seorang di antara 15 penulis Indonesia yang diundang dalam Ubud Writers and Readers Festival 2010.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: