Avianti Armand, Cerpen, Koran Tempo

Dongeng dari Gibraltar

0
()

DI ATAS Nunnuies, matahari berkedip-kedip ketika segerombolan besar camar terbang melintasinya. Mereka menjerit-jerit seperti anak lapar, sambil mengepak-ngepakkan sayap ke tubuh. Begitu riuh. Tapi penduduk kota kecil di tepian Gibraltar itu tak sempat memperhatikan camar-camar di langit. Mata mereka terpaku ke satu titik di kakinya.

“Mereka datang! Mereka datang!” Di sepanjang pelabuhan itu, berdesakan hampir seisi kota. Titik di kaki langit itu pelan-pelan mendekat dan menjelma sebuah kapal. Seperti seekor paus, tubuh kapal itu hitam berkilat. Tiang-tiangnya mencucuk awan. Layarnya layang-layang raksasa tanpa warna. Dua belas jumlahnya. Jauh lebih banyak dari yang biasa dimiliki oleh kapal-kapal nelayan setempat.

Setiap tahun di bulan ke tujuh, orang-orang dari utara, demikian penduduk kota menyebutnya, akan datang. Orang-orang itu selalu membawa berbagai benda yang aneh dan penemuan baru yang ajaib. Di lapangan sedikit di luar kota, mereka akan menggelar Pasar Malam selama dua malam. Buat kota kecil seperti Nunnuies, di mana hampir tak ada yang terjadi, kedatangan orang-orang dari utara selalu dinanti-nanti. Nyaris tanpa suara, kapal itu merapat dan berhenti tepat di ujung dermaga.

Dari balik jendela, Sania melihat awan tebal menggantung di atas kota. Begitu berat, seolah nyaris tumpah. Aneh. Di musim seperti ini, seharusnya tak ada hujan. Pertengahan tahun biasanya ditandai dengan udara yang panas dan angin kencang. Langit akan sejernih kaca dan bau laut merambah jauh ke daratan. Seperti tadi pagi. Tapi kini angin berhenti. Dan semua tampak kelabu. Sania gelisah.

Ia menyendokkan sup jagung yang kental ke piring Mesaud dan menyisihkan dua potong roti kering ke tepinya. Hari ini tidak ada daging. Mereka harus berhemat. Kalau tidak, tiga hari lagi uang belanja akan habis. Sementara itu, baju untuk Nyonya Zeituna belum selesai. Sania belum bisa mengantarkannya dan menerima upah. “Kamu tidak makan?” Sania menggeleng. “Sudah,” jawabnya. Ia berbohong.

Seminggu ini ia mengurangi jatah makannya jadi hanya sehari sekali. Mesaud tak perlu tahu. Toh ia tak butuh terlalu banyak energi untuk membereskan rumah. Menjahit juga bukan pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga; hanya cahaya. Sayang, rumah mereka begitu kecil. Cuma ada satu pintu masuk, satu pintu keluar, dan jendela kaca di dinding depan—satu-satunya lubang yang memasukkan matahari.

Mereka duduk berhadapan di meja makan yang juga menjadi meja jahit. Mesaud menghabiskan makanannya dengan cepat. Ada sedikit remah roti tertinggal di tepi bibirnya. Sania mendekat, membersihkannya dengan telunjuk, lalu mengecupnya. Lelaki itu menatap istrinya dengan sayang. Ia memang selalu pulang untuk makan siang. Sebelum kembali pergi, ia mencium kepala istrinya, dan mengingatkan, “Kita ke Pasar Malam besok.”

Sania memandangi Mesaud hingga hilang di kelokan. Ia mencintainya mulai dari pertama kali ia melihat lelaki itu. Punggung lelaki itu, tepatnya. Di atas sebongkah batu, ia duduk, membacakan buku yang dipegangnya. Di kelilingnya, anak-anak mendengarkan dengan kagum. Sesekali mata mereka terbelalak. Sesekali mereka terlonjak terkejut ketika suara laki-laki itu tiba-tiba meninggi.

“Hijau adalah warna hutan. Biru adalah sungai. Seperti apakah warna pagi?” Belum pernah Sania mendengar orang berbicara seperti itu. Suaranya berat seperti derau hujan. Pelan Sania mendekat. Laki-laki itu menoleh ketika bayangan tubuh Sania jatuh di atas buku yang dipegangnya. Ia tidak terkejut. “Selamat siang, Nona. Silakan duduk. Aku sedang membacakan cerita untuk murid-muridku.” Jadi dia pengganti guru Nehal tua yang meninggal dua bulan lalu.

Lelaki itu menunjukkan sampul buku di tangannya. Ada gambar gajah-gajah yang beterbangan di langit. Bagai tersihir, Sania menurut: duduk di antara anak-anak. Mula-mula ia mendengarkan. Lambat laun, seperti embun, tubuhnya meruap. Juga anak-anak di sekitarnya. Juga tanah di bawah kakinya. Tak lama, ia sudah terbang bersama gajah-gajah, melampaui gunung-gunung. Rambut dan bajunya berkibar seperti bendera. Mendekati pagi, sebuah bintang berkelip di timur. Suaranya berdenting bening. Sania menjulurkan tangan, tapi seseorang mendahuluinya. Lelaki itu tiba-tiba telah menggenggam bintang tadi di tangannya. Ia membuka genggamannya dan bintang timur itu berkilau di mata mereka.

LANGIT masih pekat. Tapi, sama seperti kemarin malam, tak seorang pun memedulikannya. Dari rumah masing-masing, penduduk Nunnuies tumpah ke jalan. Dengan pakaian terbaik, mereka menuju lapangan di tepi kota. Dari jauh sudah terlihat pucuk-pucuk kemah. Asap putih membubung dari obor-obor kecil. Terdengar genderang dengan ritme menyentak dan seruling yang menghembuskan nada-nada asing. Suara-suara itu menelusuri kota, merasuk ke kepala, juga tubuh, dan—seperti magnet—menarik apa saja di sana untuk datang mendekat; jiwa-jiwa yang jenuh, kesepian, dan butuh hiburan.

Baca juga  Sup Jelai

Di gerbang masuk Pasar Malam, seorang pemakan api menyemburkan lidah-lidah menyala dari mulutnya. Seorang badut dengan kaki sangat panjang melangkahi orang-orang. Dengan pengeras suara, ia menjajakan gelembung sabun raksasa. Ke dalamnya, orang bisa masuk dan melayang sedepa di atas tanah, sebelum meletus jadi butir-butir air. Sepasang pesulap berkali-kali menghilangkan keledai yang ditambatkan di dekat mereka, lalu dari udara kosong, memunculkannya kembali. Mereka sesumbar bisa menghilangkan istri atau suami yang membuat sakit kepala.

Tak jauh dari situ, berdiri kemah-kemah yang menjual segala rupa. Jam bandul dengan burung kecil yang keluar dan ber-“kuu-kuu” setiap jamnya. Kotak-kotak musik dari Rusia. Alat aneh beroda dua yang bisa dinaiki. Bola-bola kaca dari Murano. Menagerie kristal. Buku-buku tua bersampul kulit yang berisi resep ramuan obat dan racun. Kain sutra warna-warni dari Cina. Wewangian. Perhiasan dan batu-batu mulia. Rempah-rempah dari negeri di timur. Juga serbuk yang bisa meledakkan apa saja. Orang-orang dari utara menyebutnya mesiu.

Anak-anak kecil berlari-lari dengan gulali berbagai bentuk dan kembang gula kapas di tangan. Beberapa menyapa Mesaud dan langsung bercerita tentang segala keajaiban yang mereka lihat. Mesaud memperhatikan anak-anak yang penuh semangat itu dengan seksama. Sania berdiri di sampingnya, memandangi suaminya dengan sedih. Lelaki ini mencintai anak-anak.

Di awal-awal tahun perkawinan mereka, setiap kali habis bercinta, Mesaud akan memeluk Sania dan berandai-andai. Anak kita akan memiliki mata indahmu dan alis tebalku. Anak kita akan bisa berlari cepat seperti rubah. Kita akan kewalahan menangkapnya. Anak kita akan senang membaca. Aku akan membawa pulang semua buku di sekolah untuknya. Sepuluh tahun berlalu, tak satu anak pun datang pada mereka. Setiap kali habis bercinta, Mesaud masih tetap memeluk Sania, tapi tak lagi mengatakan apa-apa. Perempuan itu tahu, meski tubuh mereka berhimpit, ada sebuah rongga di antara mereka yang membesar tiap tahunnya.

Anak-anak itu berlari lagi. Sania melipat kepedihannya dan menyimpannya untuk nanti. Mesaud menggandeng tangannya, terbawa gelombang orang-orang yang berdesak-desakan. Dengan penuh semangat, mereka ikut mengamati tiap barang yang dipajang di tiap tenda, satu demi satu, takjub dan kagum, dan dengan lambat bergerak maju. Tiba-tiba Sania menjerit kecil. Sesuatu menahan langkahnya. Ia terpaksa berhenti. Orang-orang menghindari mereka. Mesaud menunduk dan mendapati gaun Sania koyak, tersangkut paku yang mencuat dari tiang salah satu kemah.

“Saya menyesal, Nyonya, gaun indah Anda robek,” sebuah suara tiba-tiba terdengar dari dalam kemah itu. Serak dan menderit, seperti bunyi yang dipaksa keluar dari lubang sempit. Seperti lengkingan binatang yang terancam bahaya. Suara itu menggeser di bawah leher, menyentuh telinga seperti udara dingin yang pelan-pelan menyelubungi kepala, tengkuk, punggung, lalu turun ke seluruh tubuh. Tanpa sadar mereka saling dekap. Suara-suara lain seketika sirna. Orang-orang yang berlalu lalang di belakang mereka berangsur-angsur pudar. Lalu tinggal gelap. Dan suara tanpa tubuh dari dalam tenda. “Silakan masuk.”

Mesaud tak yakin apakah ia takut atau tidak. Ia ingin lari, tapi sesuatu dengan kuat menahannya. Semacam rasa ingin tahu yang aneh, yang menyeretnya lebih jauh ke dalam. Pasar malam itu seketika jauh, bahkan tidak terjadi. Tapi Sania mencengkeram erat tangannya hingga terasa sakit. Bukan. Ini bukan mimpi.

Sebuah lampu minyak tergantung di tengah ruang, menumpahkan cahaya kuning redup yang memungkinkan mereka melihat. Kemah itu sempit. Dua rentangan tangan saja lebarnya. Lantainya diselimuti karpet tebal. Dinding-dindingnya penuh tertutup peti. Mesaud dan Sania belum pernah melihat begitu banyak peti seumur hidup mereka. Peti-peti itu tersusun rapi satu di atas yang lain, berjajar rapat di kiri kanan mereka, menyisakan hanya sedikit ruang di tengah. Angin, entah dari mana, menggetarkan api dalam corong lampu, membuat semuanya seolah hidup. Berdenyut. Mendekat, menjauh, mendekat, menjauh….

“Selamat malam.” Dari sudut yang gelap tiba-tiba seseorang keluar. Mesaud dan Sania tak sempat terkejut. Apa yang mereka lihat lebih mencengangkan dari yang mereka dengar. Selama beberapa detik, keduanya cuma ternganga. Mata mereka menangkap sesuatu yang tak bisa segera bernama.

Baca juga  Di Ujung Belati

Di depan mereka berdiri seorang lelaki yang cantik. Tubuhnya terbungkus gamis putih hingga ke mata kaki. Dari bawahnya menyembul kasut biru. Jari tangannya saling bertaut. Kecuali segaris tipis kumis di atas bibir, seluruh wajah dan kepala Cheyerat mulus tak berambut. Ia mengenakan pemulas bibir berwarna anggur dan perona pipi merah marun. Di lehernya, sehelai selendang sifon kelabu terlibat.

Lelaki itu melambaikan tangannya ke sekeliling ruang. Suami istri itu tersihir mengikuti. “Ada yang menarik hati Tuan dan Nyonya?” Meski dengan bibir tersenyum, mata Cheyerat yang tanpa alis dan bulu itu menatap tajam. Masih sambil mencerna, Mesaud bertanya, “Apa ini?” Cheyerat mengangguk. “Peti, Tuan. Cheyerat menjual berbagai macam peti. Dengan harga bersahabat.”

Ia berjalan melewati suami istri itu dengan langkah berdesir. Jemarinya menyentuh peti-peti satu satu. “Ini peti dari Yunani. Di dalamnya tersimpan tragedi-tragedi yang benar terjadi. Peti yang itu berasal dari Persia. Seorang putri pernah masuk ke dalamnya dan tak pernah kembali. Peti kayu berukir ini berisi keadilan. Lengkap dengan pedang penebasnya. Konon ia ditemukan di sebuah kuil tua di Cina. Jangan sentuh. Pecah berarti membeli. Peti-peti kaca berwarna-warni ini berisi mimpi.”

Tiba-tiba tangannya terjulur, meraih satu peti di samping kepala Sania. Hati-hati ia menariknya, lalu memegangnya tepat di depan dada. Sebuah kotak kecil dari kayu hitam yang polos tanpa ornamen. “Dan ini,” suara seraknya mengarsir ruang remang itu, “adalah peti pengabul permintaan.”

“KAMU bahagia?” tanya Mesaud tiba-tiba dari seberang meja. Sania terkejut. “Mesaud, aku mencintaimu.” Mesaud menghela napas. “Kita tahu, kita bisa saling mencintai tapi tidak merasa bahagia.” Sania terdiam. Apakah aku bahagia?

Lewat tengah malam, keduanya masih duduk di meja makan yang juga menjadi meja jahit. “Kita punya empat jam,” ujar Sania. Mesaud mengangguk. Selama beberapa detik mereka saling menatap, lalu masing-masing menunduk, mempelajari urat-urat kayu di meja dengan seksama.

Tak terlalu jelas apa yang terjadi setelah mereka keluar dari kemah itu. Keduanya tak ingat berjalan pulang dari Pasar Malam ke rumah. Tiba-tiba saja mereka sudah duduk berhadapan. Di kepala masing-masing terngiang-ngiang percakapan dengan Cheyerat.

“Peti pengabul permintaan memberikan apa saja yang Anda minta.”

“Begitu saja?” Sania bertanya heran.

Bibir Cheyerat tersenyum. Matanya tidak. “Dengan bayaran tertentu.”

“Apa itu?” Sania penasaran.

“Hal paling berharga yang Anda punyai, Nyonya.”

Sekarang, Sania dan Mesaud duduk berdua. Memikirkan apa yang paling mereka inginkan dan apa yang rela mereka korbankan.

“Sebelum subuh, Tuan dan Nyonya,” Cheyerat mengingatkan, “sebelum subuh.”

HARI pemakaman ibunya adalah hari tersedih dalam hidup Mesaud. Tanah sedalam satu meter yang mengubur peti itu telah jadi pemisah yang terlalu jauh dari dua dunia. Tak mungkin diseberangi. Di bawah sana, ada kematian, kegelapan tak tertembus, dan segala yang kekal. Di sini, tinggal yang hidup, cahaya, dan hal-hal yang tak selesai.

Aku menyayangimu, Nak. Ibunya selalu berkata begitu. Tapi Mesaud tahu, perempuan itu menderita. Di dasar peti, ia melihat ibunya tak pernah berhenti bekerja. Menuai jagung di ladang keluarga Jareb. Memetik anggur di kebun Tuan Yebila. Mengangkut jerami dan memberi makan ternak. Sejak ayahnya pergi entah ke mana, ibunya bekerja apa saja untuk menghidupi mereka. Tubuh ringkih itu dengan segera menyusut, hingga tinggal seibu jari. Mesaud meletakkannya di telapak tangan. “Aku menyayangimu, Nak,” ujar ibunya dengan mata lembut dan senyum tulus. Setelah itu ia ambruk. Tak pernah bangun lagi.

Mesaud baru berusia 17 tahun saat itu. Ia meninggalkan pekuburan di atas bukit dengan kepala tertunduk. Dadanya sesak. Dunia tiba-tiba menjadi sebuah kantong hitam yang membungkusnya rapat-rapat, makin lama makin ketat. Ia mulai tersengal-sengal. Di kaki bukit, ia jatuh terduduk. Di bawah kakinya, sebuah lubang tanpa dasar tiba-tiba menganga. Ke tengah lubang itu, hatinya pelan-pelan tenggelam.

Tanpa disadari, sekumpulan anak telah bermain di dekatnya, berebut bola berwarna merah cerah. Mereka berteriak-teriak, tertawa nyaring dan renyah. Kegirangan mereka menggetarkan udara. Getaran itu pelan-pelan menyentuh Mesaud dan, seperti tongkat ajaib, melucuti selubung hitam yang menyekapnya. Hatinya urung tenggelam. Mesaud tiba-tiba mendengar suaranya sendiri. “Ibu, aku mau bermain bola!” Dari atas bukit, ibunya tersenyum mengizinkan. Mesaud berlari mendekati anak-anak itu. Dengan bahagia ia bermain.

Baca juga  Riwayat Kemiskinan

SANIA bermimpi. Di jendela itu ia melihat Mesaud berjalan pulang. Pintu terbuka. Mesaud masuk dengan wajah lelah. Ia menghambur memeluk suaminya. Mesaud memandangnya dengan mata bertanya. Ia membawa tangan Mesaud ke perutnya. “Kita akan mempunyai anak!” Wajah Mesaud seketika berubah. Matanya berbinar-binar. Sania melihat hari pertama musim semi di sana.

Sania bermimpi. Di jendela itu ia melihat Mesaud berjalan pulang. Di sebelahnya, seorang anak laki-laki yang tampan melompat-lompat. Pintu terbuka. Keduanya masuk. Anak itu menghambur ke pelukannya. “Ibu,” katanya, “aku sudah bisa menulis!” Mesaud tersenyum bangga. Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan secarik kertas. Di atasnya, dengan huruf yang bengkok-bengkok, tertulis: Aku sayang Ibu. Sania menangis. Ia memeluk anak itu erat-erat. Tak mau lepas.

Sania bermimpi. Di jendela itu ia melihat mendung dan pagi yang gelap. Mesaud berjalan pergi. Sendiri. Entah ke mana. Makin lama makin jauh. Makin lama makin pias. Lalu hilang di kelokan jalan.

Mungkin di pintu itu, sesuatu telah mematok mimpinya, menahannya agar tak ke mana-mana. Mungkin waktu telah meniupnya entah ke mana. Sania tak tahu.

DI MEJA itu, Mesaud melihat ibunya. Perempuan itu membungkuk di atas lilin, mencoba memasukkan benang ke lubang jarum dengan tangan yang keriput dan gemetar. Gagal. Ia mencoba lagi. Gagal lagi. Begitu berulang kali. Mesaud segera mendekat, dan tercekat. Di luar, cahaya masih lemah. Tapi matanya tak mungkin salah. Di meja itu, ia menemukan Sania. Bukan ibunya. Dua lingkaran hitam menggantung di bawah matanya yang sembab. Wajahnya biru. Dengan senyum yang lelah ia menyapa Mesaud. “Masih terlalu pagi, Sayang. Tidurlah lagi.” Mesaud menangis.

DI TEMPAT tidur mereka yang sempit, Sania dan Mesaud berbaring sambil berpelukan. Keduanya menatap langit-langit yang gelap. Ketika dari jauh terdengar kokok ayam pertama, Mesaud mencium kepala Sania, berbisik di telinganya, “Aku ingin hidupmu bahagia.” Sania mengeratkan pelukannya. “Aku juga.” Mesaud dan Sania membuka tutup peti itu. Di dasarnya, mereka menemukan sebuah pintu. Di balik pintu itu terhampar semua yang mereka inginkan. Sejenak keduanya berpandangan, tersenyum, lalu sambil bergandengan tangan, melangkah masuk.

Menjelang subuh, kapal orang-orang dari utara itu bertolak ke laut lepas. Angin telah menghalau gerumbul awan tebal. Udara panas. Langit terlihat sejernih kaca dan bau laut merambah jauh ke daratan. Sama seperti datangnya, kapal itu pergi tanpa suara.

Pagi itu, penduduk Nunnuies dikejutkan oleh tangis bayi dan suatu pemandangan yang aneh. Dengan bingung, mereka berkerumun di depan rumah Mesaud dan Sania. Bekas rumah Mesaud dan Sania, tepatnya. Bangunan kayu bobrok itu telah lenyap dalam semalam. Di tempat itu kini berdiri sebuah rumah yang cantik. Jendela-jendelanya tinggi. Pintunya besar dari kayu mahoni. Dindingnya berlapis pualam.

Ragu-ragu, penduduk kota mendekat. Seseorang memberanikan diri mengetuk pintu. Tak ada jawaban. Dari dalam, suara tangis bayi makin keras. Setelah berunding sebentar, mereka memutuskan untuk masuk. Di dalam rumah itu, terlihat kursi-kursi berukir. Tirai berenda. Guci-guci berwarna biru. Di salah satu kamar, mereka menemukan bayi itu. Bayi laki-laki yang tampan. Tubuhnya terbungkus katun putih yang lembut. Kakinya menendang-nendang tak sabar. Seorang perempuan segera menggendongnya. Bayi itu langsung diam. Tak lama, ia tertidur.

Penduduk kota mencari Mesaud dan Sania. Tapi di sudut kamar, hanya mereka temukan dua buah peti. Satu yang berukuran besar berisi uang emas dengan jumlah yang mengejutkan, satu lagi terbuat dari kayu hitam yang polos tanpa ornamen. Di dalamnya mereka menemukan dua jumput abu. (*)

Avianti Armand tinggal di Jakarta. Buku-bukunya adalah Negeri Para Peri (kumpulan cerita pendek, 2009) dan Perempuan yang Dihapus Namanya (kumpulan puisi, 2010).

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: