Abednego Afriadi, Cerpen, Jawa Pos

Tarian Menunggu Grandong

0
()

KAKI telanjang para penunggang kuda berderap menyuarakan degup yang tak beraturan, menebarkan debu-debu kemarau di perempatan jalan tak beraspal. Mereka berputar, melompat, mengeluarkan jurus-jurus. Kuda-kuda yang gagah, gesit, ulet, binal, dan liar itu menantang dengan ringkikan seraya mengangkat kaki depan ke atas. Untung, para penari tersebut memegang erat kuda kesurupan itu. Kalau tidak, mungkin kepala-kepala mereka terbentur tanah.

Kuda-kuda yang lincah dan luwes. Tak berang, lemas, dan putus asa ketika prajurit menekuk-nekuk, mengangkat, memutarbalikkan tubuh mereka. Terkadang rebah, tengkurap ditindih kekar tubuh para prajurit yang hendak menyerang segala gerbang pertahanan.

Mbok Dumilah hanya bisa bergumam dengan kata-kata yang tidak jelas. Manggut-manggut kepalanya, mengikuti irama gamelan yang ditabuh di belakang lingkaran arena pertunjukan. Betapa dia hanyut dalam permainan gesit para prajurit yang telanjang dada, berkeringat. Kerik Bariyah ternyata malam itu kalah manjur oleh tabuhan gamelan dan geliat para penari menyembur hangat tubuhnya yang sehari kelelahan menggendong seikat karung berisi pakaian bekas pantas pakai dan grosiran.

Setiap malam purnama tiba, dia terbiasa menutupi dada hanya dengan kutang kumal berwarna coklat tua. Diselipkannya uang puluhan ribu di balik hangatnya kutang untuk membeli makanan kecil atau minuman. Sembari mengunyah kacang rebus dan mereguk segelas jahe gepuk buatan tukang wedang andal, Narto Kijing, dia menonton atraksi itu.

“Mana Grandong? Kenapa tak datang juga?”

“Mungkin ketiduran, Mbok, mungkin juga lupa. Lha wong Grandong itu suka lupa, kok,” jawab Yu Bariyah sembari terus menggosok punggung Mbok Dumilah dengan uang logam hingga merah gosong kulitnya. Aroma khas balsam cap kadal membuat penonton di sampingnya sedikit menyingkir. Selintas, perempuan itu menatapnya, tapi segera kembali berkonsentrasi menatap geliat jungkir balik para prajurit kuda.

Masak dia lupa ini malam bulan purnama?”

Mbok Bariyah tak menjawab. Dia terus berkonsentrasi dengan punggung Mbok Dumilah. Rupanya masih separo lagi punggung yang harus dikerik. Sedangkan punggung kanannya sudah penuh dengan goresan merah seperti macan loreng.

“Aduh, pelan-pelan, Nduk!”

“Bentar, Mbok, ini jalan angina, nih. Naaahhh, gosong, kan?” jawab Bariyah sembari terus menggosok bagian bawah ketiak keriput Mbok Dumilah.

“Mana?” ujar Mbok Dumilah seraya memutar leher, menengok sedikit lukisan punggung itu.

“Jangan lama-lama!”

“Sebentar, Mbok. Ingin sembuh tidak?”

“Aku ingin segera bertemu Grandong.”

Seperti malam bulan purnama biasanya, Mbok Dumilah melewatkannya dengan menonton pertunjukan tari tradisional di perempatan jalan. Tak jarang, malam itu dia jadikan kesempatan bertemu dengan Grandong, pacarnya. Jika bertemu dengannya, purnama kembali menyirami wajahnya dengan cahaya-cahaya hingga tak nampak di mata Grandong, Mbok Jumilah adalah janda berumur 70 tahun.

Baca juga  Terompet-terompet yang Menjerit di Tengah Kota

Mata Grandong seperti tertutup mata demit. Begitulah orang-orang desa mengatakan. Mbok Dumilah hanya terkekeh-kekeh jika dicemooh teman menontonnya di perempatan jalan tersebut. Rambutnya memutih perak, mengilapkan cahaya bulan hingga tampak seperti mengeluarkan sinar gaib. Tak malu-malu dia ungkapkan rahasia-rahasia ranjang mendiang suaminya di depan Mbok Giyem, Mbok Narti, Mbok Tukinem, Mbok Sartiyah, dan Mbok Peni. Masing-masing bercerita bergantian sambil menunggu pertunjukan dimulai.

Jika melihat isi kutang mereka, berlembar-lembar uang seribuan, sepuluh ribuan, dua puluh ribuan, lima puluh ribuan, dan seratus ribuan kumal terselip di dalamnya. Meski demikian, mereka tak mau membeli laki-laki.

“Suatu saat aku ingin datang ke kuburan suamiku, tidur dengannya. Jika perlu, aku bongkar nisannya dan kutemukan jasadnya, lantas tidur dengannya. Ah, angin kemarau dingin meniup merasuk ke dalam tulang, aku bisa pura-pura masuk angin. Pasti dia mau ngeroki aku. Hehe….” Bersama sekelompok ngerumpi itu, Mbok Dumilah terkekeh-kekeh, terbatuk-batuk, mengeluarkan dahak kental berwarna kecoklatan yang kemudian terinjak kaki orang.

“Mana Grandong?”

“Belum datang juga?”

Ediiian, pasti dia ke rumah Murtinah. Dasar kurang ajar, awas nanti kalau minta jatah rokok. Nggak bakal aku ngasih.”

Keinginan bertemu grandong tak bisa hilang begitu saja. Padahal, Grandong kerap tertangkap polisi saat bersama Murtinah di Hotel Mawar Berduri belakang terminal transit bus antarkota yang masih 10 kilometer jika ditempuh perjalanan. Karena perbuatan mesum itu diketahui hingga tersebar di koran-koran, Grandong akhirnya harus dikeluarkan dari tempatnya bekerja. Kampus swasta yang terletak di perbatasan desa tersebut rela melepas Grandong sebagai pembuat teh ternikmat. Mulai karyawan tingkat bawah sampai rektor, hasil karya Grandong dalam mengaduk teh memang terkenal. Pernah suatu kali Pak Rektor menawarinya modal usaha warung minuman atau wedhangan. Namun, dasar pemalas, Grandong menolaknya dan lebih suka melewatkan sisa waktu untuk bermain judi di pos ronda atau pasang togel secara sembunyi-sembunyi. Kini dia bekerja serabutan sebagai tukang cat, mengisi tempayan, atau membersihkan rumah saat akan diadakan hajatan.

***

Mbok Dumilah tetap mencintai Grandong. Jejaka desa itu sangat menurut jika diajak bercumbu rayu. Apalagi di bawah temaram purnama. Di bawah pohon waru yang bergoyang ditiup angin kemarau. Panjang sebahu rambutnya dan ompong giginya sisa pemukulan polisi menyatu, menjadi pesona temaram malam di kuburan itu.

“Grandong, aku amati wajahmu mirip bapak. Aku rindu bapak,” desah Mbok Dumilah seraya menggandeng erat dua telapak tangan Grandong . “Grandong, kamu yang membuat aku tak lagi berniat membongkar kuburan bapak. Sebab aku I ngin sekali dikeloni.”

Namun, belakangan rasa bencinya terpaksa muncul di balik rasa rindu setebal bedak di mukanya yang keriput, setebal gincu merah yang menempel di bibirnya yang tebal. “Bajingan! Tengik! Srinthil, wedhus! Laki-laki celutak!” serunya seraya menampar pipi Grandong. Dijambaknya rambut Grandong hingga berantakan tak beraturan. “Bagaimana lagi, Mbok? Murtinah kadung hamil dua bulan dan aku harus menikahinya. Aku tak bisa kabur. Kakaknya sudah mengancamku,” jawab mulut hitam Grandong seraya mengguncang pundah Mbok Dumilah yang menangis di pelukannya.

Baca juga  Ryan

“Baiklah, Grandong, berapa besar uang yang kau butuhkan untuk melamar Murtinah?” tanya Mbok Dumilah seraya mendongakkan muka, menatap muka Grandong yang hitam berminyak. Grandong menggeleng. “Jangan malu-malu, apa saja itu urusanku. Susukan tukon dan sanggan biar aku urus. Jangan kau pikirkan aku. Aku ikhlas!”

Pertemuan mereka berlanjut di tempat-tempat keramat. Hanya di tempat itulah mereka bisa aman bertemu. Tak ada seorang pun yang mencurigai hubungan mereka. Bahkan, setahu teman-teman sebaya di dusun, hubungan mereka sudah terputus dengan pernikahan Grandong. Suatu malam, makam Rejoloyo yang biasanya dipenuhi pemabuk sepi. Rembulan tampak tersenyum, menatap Grandong dan Mbok Dumilah berpelukan di bawah pohon kamboja. Aroma wangi rambut Mbok Dumilah dan kamboja di pemakaman luas itu membuat Grandong semakin terlena dengan wajah keriput yang terang disinari rembulan tersebut. Anjing melolong panjang, mereka semakin erat berpelukan. Cinta itu semakin lama terpupuk, menebal, tumbuh, dan berbuah pada keberanian Mbok Dumilah melabrak Murtinah. Murtinah tak berani melarangnya menggandeng Grandong dari rumahnya. Dia memang nekad sehingga tak ada seorang pun jawara desa yang berani melawannya, dukun santet sekalipun. Sejak itu, Mbok Dumilah tak lagi malu berteriak memanggil Grandong meski berada di keramaian, seperti pertunjukan malam bulan purnama ini.

***

“Itu Grandong, Mbok!” seru Yu Bariyah. Malam purnama yang indah. Lelaki itu seperti prajurit yang segera menunggang kuda dan memacu kudanya hingga meringkik, berlari kencang meniti jalan-jalan setapak puncak Merapi. Grandong membisu. Dia hanya duduk mendampingi Mbok Dumilah. Menatap tarian-tarian yang kembali dimulai setelah istirahat lantaran para prajurit kesurupan.

Degup jantung Mbok Dumilah berdetak kencang begitu para prajurit telanjang dada itu melenggok-lenggok gagah. Kaki mereka menginjak mantap, seperti menembus bumi. Kuda-kuda gesit tersebut tiba-tiba saja mencelat keluar dari arena pergelaran. Mata para penari mulai memerah. Mulut-mulut mereka terbuka, menyemburkan api-api. Api-api yang menyengat dan menyilaukan.

Kuda-kuda gagah yang terlempar. Kegesitan, kegagahan, dan keuletan terbuang. Hangus tersulut semburan-semburan api. Candi-candi ksatria pribumi runtuh, dihanguskan oleh mulut-mulut yang meludahkan panjang semburan api, meliuk-liuk membakar bendera negara yang berkibar setengah tiang di depan rumah kepala desa. Semburan-semburan itu membakar daun-daun kering, pohon-pohon bambu, beringin, rumah gubuk, rumah berdinding kayu, rumah-rumah loji, serta rumah-rumah ibadah. Tak ada lagi mantra sakti. Tak ada lagi doa-doa menyiram di tengah penonton yang mulai dahaga. “Air, air, mana air?” teriak mereka seperti kesurupan. Ludah-ludah pengganti air minum telah terkuras. Keringat-keringat asam juga tak dapat lagi keluar dari pori-pori tubuh karena menguap. Asapnya meliuk-liuk, membentuk gambar serigala.

Baca juga  Suweng

Orang-orang terbakar. Mereka histeris, mencari debu-debu untuk memadamkan api yang menjalar di tubuh. Namun, debu-debu telah hangus dan masih merah membara. Mereka saling menabrak, meremukkan tulang-tulang. Desa telah hangus terbakar. Jilatan lidah-lidah api tersebut memucuk di atas tiang bendera yang masih kukuh. “Mana airrrr?” Mobil pemadam kebakaran terlampau jauh dijangkau. Bendera api berkibar, meliuk-liuk ke atas seperti menara emas. Api menabrak kutang Mbok Dumilah hingga hangus terbakar.

Dengan tubuh gosong dan kulit mengelupas telanjang bulat, Mbok Dumilah berjalan tertatih-tatih menuju barisan para prajurit di bawah tiang bendera api. Dia bertekad meredamkan baju-baju api para prajurit dengan ludahnya. Tak segan-segan dan tanpa malu-malu, dia mengencingi tiang bendera api. “Izinkan aku memadamkannya. Sebab, tak ada lagi air bersih yang bisa diminum, dipakai mandi, apalagi digunakan untuk menyirami kembang supaya subur. Semua telah menjadi debu. Semua menjadi arang,” kata Mbok Dumilah. “Air kencingku ini murni. Tak ada ideologi atau paham-paham kosong yang dicipta menjadi lidah-lidah api.”

Mbokkk! Mbok Dumilah!!!!” seru Mbok Giyem, Mbok Narti, Mbok Tukinem, Mbok Sartiyah, dan Mbok Peni seraya menggoncang-goncang tubuhnya. Seluruh penonton berkerumun menyaksikannya setelah tarian usai dimainkan. Tangan-tangan mereka tak kuasa lagi memegang tubuh Mbok Dumilah. Sebab, dia masih berteriak, mencaci maki, dan menendang-nendang tak tentu arah. Sesaat tubuhnya yang semula kaku berangsur lemas. “Mana Grandong?” katanya dengan nada berat dan serak. “Grandong sudah pulang, lupakanlah!” jawab Mbok Peni. Mbok Dumilah menghela nafas panjang.

Aiirr?”

Mbok Giyem memberikan air putih dalam botol yang dibungkus tas plastik. Mbok Dumilah menenggaknya hingga habis.

“Ahhhhh.”

Angin sejuk malam itu meniup tubuh Mbok Dumilah yang bercucuran dengan keringat. Perlahan dia bangkit. Mulutnya menyemburkan api. (*)

Solo, Mei 2007

Abednego Afriadi lahir di Solo pada 2 Mei 1981, tinggal di Mojosongo, Solo. Selain cerpen, juga menulis cerita anak dan cerkak di berbagai media.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: