Cerpen, Jawa Pos, Marhalim Zaini

Tak Sampai Bersampan ke Kampung Kusta

0
()

KONGKAM berkali-kali mengusap tempias rinyai hujan di wajahnya. Berkali-kali ia mendongak. Sungguh tak ia duga, langit di atas laut kecil Selat Air Hitam ini tiba-tiba berubah legam, disusul angin yang mengibaskan gerimis. Padahal saat bertolak dari Selat Panjang lima belas menit lalu, matahari tampak tegak segak. Kendati pun kini perahu pompong [1] yang ia tumpangi berjoget teregok-egok kian limbung diayun ombak, Kongkam sebetulnya taklah risau sangat. Tak serisau saat ia melewati laut besar Selat Malaka dari Tanjung Balai Karimun tiga hari lalu, saat angin musim Utara mengayun-hempaskan perahunya bagai sabut kelapa. Lagi pula ia bukan budak kecik yang baru belajar bersampan, yang harus takut gelombang, takut mati tenggelam. Sebab bertahun sudah, ia pulang-balik dari Selat Panjang ke Bokor, lalu ke Kampung Kusta, bertahan hidup dengan menjual ayak [2] dan ikan. Maka mati tenggelam, baginya hanyalah satu pilihan lain saja untuk tidak mati sebagai penderita kusta.

“Itu, pokok angin [3], sebelah sana!” pekik Abo, lelaki si pemilik pompong yang mencangkung dekat mesin, menunjuk ke arah Barat Laut.

Kongkam mengangguk. Tersenyum payau. Ia tahu, akan ada badai di laut besar, menghalau para nelayan kembali ke tepian. Tapi bukan di laut kecil ini. Meski tak jarang, sisa angin ribut berbelok juga ke sini, membuat sampan-sampan para penjaring dan pemancing ikan ikut terbalik digoyang gelombang. Itu bukan luar biasa. Tak satu-dua kali pula Kongkam pernah mengalaminya. Habis semua barang dagangannya tumpah ke laut. Tapi itu dulu. Dua tahun lampau. Semasa ia masih jadi orang terbuang di pulau pengasingan, di Kampung Kusta. Sewaktu ia menjadi orang terakhir yang berhasil sembuh dan bangkit dari kematian, setelah lebih dari separuh hidupnya didera penyakit kusta. Ya, orang terakhir. Sebab Kongkam tak tahu lagi bagaimana kabar lima orang penderita kusta yang tersisa. Dua tahun lalu, ketika usianya telah menginjak 46 tahun, Kongkam memilih untuk diam-diam pergi meninggalkan mereka.

Sungguh bukan pilihan yang mudah, jika hari ini Kongkam hendak kembali datang kembali ke Kampung Kusta. Paling tidak, ia harus siap dituding sebagai pengkhianat. Sebagaimana Tang Heng, juga Lim Hong, dua pendahulunya yang telah sembuh, juga diam-diam pergi dan tak kembali. Padahal, di pundak mereka yang sembuh, harapan bertahan hidup bagi mereka yang sakit disandarkan. Tugasnya yang utama, membawa dagangan menyeberang ke Selat Panjang. Hasilnya, kembali membawa belanja keperluan sehari-hari dan obat-obatan. Saat itu, Kongkam dapat merasakan bagaimana sakit hatinya di tinggal pergi ketika yang tersisa hanyalah yang tak berdaya. Meski di pulau kecil ini, di sepanjang waktu, yang pergi dan tak kembali hampir jadi peristiwa yang pasti. Ada dua pilihan, pergi dan tak kembali karena telah sembuh, atau pergi dan tak kembali karena dijemput maut.

Tapi, kenapa pula Kongkam justru membuat pilihan yang lain: pergi dan lalu hendak kembali?

“Aman kita, Wak! ‘Dah masuk muara.”

Abo macam tak sabar membakar putung kretek yang sejak tadi terjepit di mulutnya, tak dapat-dapat menyela tersebab api dimainkann angin.

Sorot mata Kongkam mengikuti ujung pompong yang terangguk-angguk pelan, mulai masuk ke mulut muara sungai. Menyibak belantara hutan bakau, sesemak lebat kusut masai, bagai menyibak tirai kelambu beludru buruk yang terbiar. Memang ada yang berubah, pikirnya. Sunyi yang kian berbiak. Beranak-pinak. Entah karena telah dua tahun tak ke sini, atau karena memang pulau ini benar-benar telah dihuni oleh ribuan mambang-jembalang yang tumbuh tersemai dari tiap pori tubuh-tubuh yang mati. Ya, selama puluhan tahun, sejak perang di zaman Jepang bergolak di Tebing Tinggi, ratusan orang kusta telah mati tertanam di tanah gambut pulau ini. Mereka “dibuang” oleh keluarga karena aib. Mereka diasingkan di pulau asing, untuk kemudian menunggu atau menerima datangnya kematian dengan cara yang sangat perlahan tapi pasti—menghabisi seinci demi seinci ruas nyawa di sekujur anggota tubuh mereka. Awalnya, karena merasa masih berbelas kasih, mereka “disembunyikan” di loteng-loteng rumah. Tapi alangkah, melantung juga bau si bangkai, anyir luka tubuh menyebar teluh di mulut orang-orang. Mulut labu, kata orang, ada penyumbatnya, tapi mulut orang tak dapat dicari penyumbatnya. Tak pandai kita menangkisnya. Tak pandai kita berlama-lama menanggung malu. Memicingkan mata, mengempiskan perut pada segala yang tiba. Maka, pulau kecil di seberang Desa Bokor itu, hendaknya segala gunjing dan umpat dapat dilarung-hanyutkan.

Baca juga  Ziarah

Tapi yang sedang merisaukan pikiran Kongkam kini adalah lima yang tersisa dari ratusan orang itu: Limhong, A Kiong, Atho, A Heng, dan Amoy. Lima orang yang selama belasan tahun bertahan hidup bersama. Apa kabar mereka? Kongkam menelan ludah.

“Aku ‘dah lama tak ke sini, Wak.” Suara Abo terdengar datar dan pelan.

“Sejak bila?” sambut Kongkam.

“Tak lama setelah Wak pergi.”

“Tapi, kenapa? ‘Dah muak jadi tukang antar-jemput ke Kampung Kusta?”

“Ehmm, mana boleh muak, Wak! Antar-jemput siapa pun aku tak muak, asal ada duitnya. Kalau tak, ‘nak makan apa anak bini….”

“Terus?” Kongkam merasa aneh.

“Ya, karena memang tak ada lagi orang yang ‘nak diantar-jemput.”

“Maksud dikau?”

“Ya, siapa lagi? Wak yang sembuh terakhir kan?”

“Si Mantri? Dokter dari yayasan warga Tionghoa? Tak ada dia mau tengok?”

“Sejak Wak masih di sini, mereka juga ‘dah jarang datang kan?”

“Terus, dagangan? Makan-minum orang ‘tu, macam mana?”

Abo geleng-geleng kepala.

Kongkam menelan ludah lagi. Lalu meludah. Puih!

“Tapi, apa sebab Wak datang lagi ke sini?” Abo tiba-tiba menyela.

Kongkam sejenak diam, lalu menjawab, “Entahlah….”

***

Sebetulnya, Kongkam tak punya rencana secepat itu untuk meninggalkan Kampung Kusta. Setidaknya, di pagi yang cerah itu, ia masih melakukan pekerjaan rutinnya menyiapkan barang dagangan: menyusun belasan ayak dalam satu goni plastik, dan beberapa kilo ikan basah dalam sebuah bakul. Amoy, perempuan yang telah kehilangan satu kakinya itu, seperti biasa, ikut sibuk berkemas. Paling tidak, dengan dibantu tongkat kayu mahang yang dibuatkan Kongkam, secangkir kopi panas sempat juga dituang Amoy dari didih air yang terjerang dalam cerek hitam di atas tungku dapur. Amoy, bukanlah bini Kongkam. Bukan pula saudaranya. Amoy adalah orang lain, sebagaimana empat  yang lain. Tersebab nasib buruklah yang membuat mereka seperti satu keluarga. Ayak-ayak itu, merekalah yang memproduksinya. Kongkam, satu-satunya yang berhasil sembuh, bertugas menebang, membelah, meraut, dan menyediakan sejumlah peralatan. Sementara yang lain membantu menganyam dan pekerjaan ringan lain dengan segala keterbatasan. Belum lagi, boleh dikata tiap matahari belum sempat terang tanah lagi, Kongkam telah pun bersampan ke sungai menjaring dan memancing ikan, bergolek gelantanglah ia sendirian di sungai. Sementara Limhong, tak lagi punya jari-jari tangan dan kaki. A Kiong, tak pula memiliki kedua kakinya, tapi masih memiliki tangan. Atho dan A Heng, lebih parah, sudahlah tak berkaki dan tak bertangan, kusta telah pula membutakan mata mereka.

Dengan kondisi semacam ini, dapat satu-dua biji ayak saja dalam sehari, sudah tentu sangat membuat mereka berbahagia. Satu ayak dijual seharga 28 ribu rupiah. Dapat tujuh ayak saja dalam sepekan, ditambah dengan ikan lomek, ikan sembilang, ikan gonjeng, ikan duri dari hasi tangkapan jaring rawai dapat laku terjual agak lima kilo, dapatlah membuat mereka bertahan selama sepekan. Terutama untuk makan. Obat, tak lagi jadi prioritas. Sebab, obat yang selama ini mereka konsumsi cuma untuk menyenang-nyenangkan hati saja, menumbuhkan harapan-harapan palsu saja. Betapa tidak, obat-obat yang dibeli di apotek-apotek itu, tak pernah memberi jaminan kesembuhan. Nyatanya, sakit mereka tak sembuh-sembuh, malah bertambah teruk. Dulu pernah ada obat yang didatangkan dari Itali, katanya. Dibawa oleh orang yayasan. Sebiji tablet berwarna merah yang dimakan seminggu sekali, tanpa disuntik. Tapi tak sampai dua bulan, senyaplah sudah. Mahal agaknya. Terus, ada juga si Pak Mantri puskesmas dari Selat Panjang yang memang ditugaskan ke sini seminggu sekali, tak sampai tiga bulan , tak nampak lagi batang hidungnya. Entah takut tertular, entah karena tak tahan pulang-balik nyeberang nyuntik orang terbuang yang tak tanggung bau busuknya, entah karena menganggap sia-sia saja mengobati orang yang sudah tak berumur panjang. Jadi, pengobatan yang selalu tak tuntas dan terkesan tak serius ini, tentu tak dapat berharap banyak untuk penyembuhan total. Ada pilihan alternatif lain memang, semisal pengobatan tradisional Cina, Shen Chou, atau yang banyak orang menyebutnya Singsei, yang secara kultur, sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan orang-orang penderita kusta yang kebanyakan orang Tionghoa. Tapi, itulah, adanya cukup jauh di Kabupaten Bengkalis sana, dengan harga yang tak tanggung mahal pula. Sebab, katanya, obat ramuannya didatangkan langsung dari Tiongkok.

Baca juga  Lando

Lalu, kenapa Kongkam dan beberapa yang lain ada juga yang sembuh? Agaknya semangat hidup adalah obat yang paling mujarab. Selepas itu, boleh jadi adalah keajaiban dari Tuhan.

“Jangan lupa beli belakan [4], Kongkam!”

Pekik parau suara Atho dari tengah pintu rumah panggung itu terdengar lamat di telinga Kongkam. Telah cukup jauh ia berjalan memikul barang dagangan menuju tepi sungai. Tapi si Amoy, yang kerap menguntit dari belakang setiap kali Kongkam mau berangkat, masih mendengar jelas permintaan Atho, lelaki paling tua di antara mereka, sekaligus yang paling lama menghuni Kampung Kusta. Amoy setengah berlari tertingkut-tingkut agak kepayahan mengejar Kongkam. Tapi masih demikian jelas sosok tubuh Kongkam berjalan di celah-celah akar bakau yang banyak menjalari jalan setapak bersemak. Perempuan berumur tiga puluh tahun itu, sesekali berteriak memanggil Kongkam. Kongkam sejenak berhenti, tapi tak menoleh, lalu kembali berjalan perlahan. Ia sangat tahu itu suara Amoy. Perempuan yang sempat berterus terang menyatakan jatuh hati padanya. Sebab tubuh bisa saja kian rapuh menuju luluh, tapi benih cinta mungkin tak serta merta dapat dibunuh. Bagai semak, ia pun berbiak. Meski memang belum sempat beranak-pinak , karena Kongkam memilih untuk berdiam, meski tak tergerak hatinya untuk mengatakan tidak. Munafik kalau ia tak tertarik, sebab Amoy gadis cantik. Sejak berumur dua puluh tahun ia di sini. Jelas masih perawan asli, karena belum berlaki. Tapi kenapa Amoy harus jatuh hati pada Kongkam, yang terpaut umur cukup jauh? Banyak sebab bisa diurai: karena Kongkam lebih muda dari tiga laki-laki lain, Kongkam lebih segak karena tubuhnya yang jangkung, ditambah Kongkam kini telah pun pulih dari kusta meski tetap menyimpan bekas luka luar dan bekas luka dalam, dan boleh dideretkan sebab-sebab lain. Tapi, wahai, apakah orang jatuh hati harus ada sebab?

Sebaliknya, kalau enggan mengatakan tidak, kenapa Kongkam tak langsung mengatakan ya? Banyak soal. Kongkam adalah laki orang. Meski sejak ia terbuang ke Kampung Kusta, bininya tak pernah berkunjung. Tiga tahun berkawin belum juga punya anak. Selain itu, agaknya soal agama. Kongkam satu-satunya orang Melayu. Orang Islam. Amoy, Konghucu. Atau, pentingkah cinta, perkawinan, atau entah apalah namanya di saat hidup telah demikian dinanti oleh kematian? Meski kadang, di lain pihak, bagaimana pula tak tumbuh benih itu, jika setiap hari seperiuk-sebelanga, seatap-selantai, setepian-sekubangan pula, kata orang. Memang ada beberapa unit rumah panggung dari kayu, beratap daun rumbia, berukuran sepetak ruang kamar sederhana, berdiri di sekitar pulau yang berukuran 2-3 kilometer ini. Tapi tak semua dapat dihuni. Selain sudah banyak yang lapuk dan senget hampir tumbang, juga tak mungkin hidup berjauhan dengan kondisi serupa itu. Jadilah mereka berlima lebih sering hidup satu atap, meski di saat-saat tertentu Amoy—sebagai perempuan—kerap juga menempati rumah lain yang terdekat.

“Bang, Wak Atho pesan, jangan lupa beli….”

“Belacan?” sela Kongkam.

Amoy tersenyum. Sudah tak heran, hampir tiap kali Kongkam berangkat Atho pasti memesan belacan. Sebetulnya tak cuma belacan yang orang tua ini suka. Ada satu lagi: cencalok. Keduanya sama-sama buat penyedap makan. Belacan biasanya dicampur dengan sambal mentah lada kutu. Lauk ikan asin. Cencalok, yang dibuat dari udang pepai atau udang geragau, tambah nasi dua-tiga kepal, garam diaduk rata, lalu masukkan dalam botol, tutup rapat-rapat, dan diperam selama tiga hari. Mantapnya, dimakan campur dengan lada kutu, jeruk nipis, bawang putih, dan bawang merah, diaduk-aduk, alahmak… mertua lewat pun tak nampak, kata orang.

Baca juga  Seekor Anjing Manis

Mereka berdua sekarang berdiri dekat pelatar kecil yang rumpang, di tepi sungai, di ujung sebuah hulu. Kongkam menurunkan barang dagangan dari pundaknya. Ditengok-tengok pompong Abo belum terdengar bunyi mesinnya. Kalaupun air dangkal, dan pompong tersakat di tengah hulu, mesin masih tetap bisa terdengar. Dan jalan keluarnya, berkayuhlah Kongkam naik sampan dari pelataran ini menuju pompong. Tak jarang pula, Amoy ikut mengantar Kongkam dengan bersampan bersama.

“Belum sampai nampaknya si Abo, Bang.” Amoy duduk di tepi pelatar.

“Ya. Kejap lagi sampailah ‘tu.” Kongkam ikut duduk tak jauh dari Amoy.

Tak banyak percakapan, selain hening. Sampai tak lama kemudian terdengar bunyi pompong Abo masuk ke hulu sungai. Rupanya air pasang sudah mulai naik. Kongkam tak perlu lagi bersampan. Di ujung pertemuan itu, Amoy seolah merasa sedang melepas sesuatu yang teramat berat seraya berbisik, “Abang pulang ke sini lagi kan?”

Dan rupanya perasaan Amoy benar, bahwa itulah pertemuan terakhir mereka. Kongkam tak kunjung kembali. Kongkam bertemu sahabat lamanya di pasar Selat Panjang. Bercakap-cakap tentang nasib kini, riwayat masa lalu, dan rencana masa depan. Kongkam tergiur ketika sahabatnya yang sukses itu menawarkan rencana-rencana. Tak ada alasan kuat untuk tak menerimanya, ketika hidup telah demikian lama tersia, telantar, terbiar, gelap dalam selubung misteri waktu. Ihwal rasa kemanusiaan, yang kemudian tarik-menarik dalam dirinya, bukankah juga selubung gelap misteri yang kerap tak dapat ia maknai ujung pangkalnya?

Tapi kenapa setelah dua tahun, Kongkam hendak kembali?

***

Alahmak! Sakat [5] nampaknya pompong kita, Wak!”

Tubuh Abo dan Kongkam tersentak ketika tiba-tiba pompong berhenti mendadak. Hulu sungai rupanya kian menyempit, dan kian mendangkal. Padahal dulu, dua tahun lalu, di sekitar sini pompong masih bisa lewat.

“Macam mana ‘ni, Wak? Sampan tak ada nampak pulak.”

Kongkam terdiam. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Masih cukup jauh jarak yang mesti ditempuh untuk sampai ke pelataran. Terlintas juga dalam pikiran Kongkam untuk nekat berjalan kaki mengarungi sungai yang dangkal itu. Tapi, itu tak mungkin. Selain berlumpur, penuh rawa-rawa, yang sulit untuk diarungi, ia juga belum berani menanggung resiko harus mati diterkam buaya, yang memang sesekali menampakkan diri.

“Macam mana, Wak? Rasa-rasanya tak mungkin kita menunggu air pasang naik. Lagi pun belum tentu pulak air pasang dapat mengangkut pompong ‘ni.”

Kongkam masih terdiam. Dia tengah berpikir keras. Tapi semua serbabuntu. Kongkam menelan ludah. Memasukkan tangan dalam saku celana. Menggenggam sebuah kotak kecil berwarna merah jambu, berisi selingkar cincin belah bambu. Kongkam menarik napas panjang. Menatap tajam jauh ke hulu sungai. Menyusuri kelokan-kelokan masa lalu bagai menyusuri kelokan-kelokan sungai. Dalam hati ia berbisik, “Abang mungkin tak pernah pulang ke sini lagi, Amoy….” (*)

Catatan:

[1] Perahu kayu bermesin tempel

[2] Semacam tapisan yang terbuat dari bambu

[3] Mendung tebal, sebuah tanda akan terjadi angin ribut

[4] Sejenis terasi yang terbuat dari udang

[5] Tersadai/terdampar karena berat muatan

Marhalim Zaini lahir di Teluk Pambang, Bengkalis, Riau, 15 Januari 1976. Alumnus Jurusan Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Buku cerpennya yang telah terbit berjudul Amuk Tun Teja (2007).

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: