Cerpen, Koran Tempo, Ragdi F Daye

Pelepah Ikan

1
(1)

“MAU coba anak hiu? Atau ikan pari ini?” Laki-laki itu sedang memandang perahu-perahu yang mengerubuti sebuah kapal besar penangkap ikan ketika sebuah suara sengau seperti ditujukan kepadanya. Ditolehkannya kepala ke samping. Dan benar, seorang perempuan kurus berbaju lusuh sedang menjinjing seikat ikan dan mengangkatnya ke depan si lelaki.

“Aku belum pernah makan ikan hiu, juga pari.”

Perempuan itu tertawa kecil. Satu ujung giginya yang terlalu panjang dan tidak lurus tampak lebih putih oleh cahaya pagi. “Rasanya enak, seperti daging ayam, apalagi jika dimasak dengan cabe hijau.”

Sebenarnya laki-laki itu datang ke pasar ini tak sungguh-sungguh hendak membeli ikan. Dia hanya ingin melihat-lihat. Mereguk udara yang anyir. Ketika menggelengkan kepala, dia teringat minggu kemarin telah membeli seekor ikan kakap kepada perempuan itu, dan tujuh ekor kepiting yang belum mati. “Oya, kalau ada anak tuna yang pipih, bukan seperti botol, aku mau satu,” katanya.

“Kau memesan?”

“Kalau kau mau. Aku tidak buru-buru.”

Perempuan itu beranjak dengan ikan-ikan dagangannya. Sekilas matanya yang redup menjangkau mata laki-laki itu. Langkahnya pendek-pendek dibawa kakinya yang bersandal jepit penuh lumpur.

Laki-laki itu bergeser ke dekat sebuah tonggak kayu berwarna hitam. Diedarkannya pandang. Belum terlalu ramai. Belum ada ikan tangkapan pukat nelayan terdekat. Hanya ikan-ikan yang mati tegang dibekukan es balok yang dipecah-pecahkan dalam peti merah bata.

Padahal dia ingin sekali melihat ikan yang mengerang di tangan-tangan lelaki penjual ikan Pasar Gauh ini yang datang subuh-subuh ke tempat pelelangan ikan dengan tubuh mengeras. Kepala ikan-ikan itu bergetar dengan mulut megap-megap memanggil oksigen dan menyemburkan ludah yang bacin. Setelah semua kekalutan dikalahkan maut, batang tubuh mereka yang licin akan menjadi lemah menyerah. Dia akan menikmati kematian ikan-ikan itu seolah-olah merenangi kematiannya sendiri.

 

BAGAIMANA bisa dia langsung mengenalinya?

Perempuan itu cukup kaget melihat laki-laki itu berdiri dengan gaya yang persis sama seperti minggu sebelumnya, terpaku memandang jauh ke arah laut. Meskipun dia memakai baju kaos, celana semata kaki, dan sandal karet, dia tetap saja terlalu bersih untuk bertandang ke pasar ikan. Tempat ini terlalu lanyah.

Dia bukan pembeli yang cerdik. Dia membayar ikan yang diinginkannya tanpa menawar harga. Begitu saja uang meluncur dari sakunya, seolah-olah untuk sesuatu yang dihendaki, dia tak peduli berapa pun uang keluar. Tak seperti pembeli-pembeli lain, mungkin dia mudah ditipu.

Tapi perempuan itu tak menyesal memberikan harga yang tidak tinggi padanya. Entah mengapa, rasanya bila laki-laki itu mau, dia akan merelakan semua ikan-ikannya dibawa tanpa dibayar. Ketika dia memberikan kantong plastik berisi ikan, dan tangan mereka bersentuhan, perempuan itu merasa seakan-akan telah menyerahkan separuh hatinya.

Baca juga  Edelweiss Melayat ke Ciputat

Ah, betapa gila perasaan itu!

Dia lepas dari keluarganya seperti tangkai yang patah dilejang badai. Dia terbuang ke dalam hidup yang cemar. Setiap hari dia berebut ikan dengan lelaki-lelaki bertangan besar yang tak hanya mengincar ikan-ikan di keranjang, tapi juga ikan lain yang mendekam dalam dirinya. Dengan ember hitam berisi air pelabuhan yang kumuh berminyak, dia menyelipkan tubuh menawar ikan-ikan dari kapal tongkang. Ikan-ikan yang kejang. Kadang dia bersekongkol dengan pemuda-pemuda tanggung bercelana selutut yang digulung sampai pangkal paha untuk mencuri ikan dari perahu atau bongkah es dalam peti. Kadang dia memungut ikan-ikan lecet yang tercecer di lantai Tempat Pelelangan Ikan. Semuanya lalu dia jual kembali pada ibu-ibu cerewet berdompet tipis, nyonya-nyonya sok kaya yang menawar setengah harga, pemilik-pemilik rumah makan yang ingin ikan bagus dengan harga murah, atau siapa pun pengunjung pasar yang menghendaki ikan segar yang diantar kapal tongkang dari samudera buas.

Dulu, dia bertubuh bernas, suai sekali dengan nama kampungnya, Padi Boneh. Sekarang jangan ditanya. Meski setiap hari makan lauk tapi darahnya seakan telah membusuk.

Melihat laki-laki itu lagi di Pasar Gauh ini membuat dadanya terasa sejuk, juga jengah. Kemarin dia menduga laki-laki itu hanya seseorang yang tersesat. Atau sekadar iseng ke mari, atau disuruh orang tuanya membeli ikan. Atau istrinya? Ah, jangan!

Agak gugup ketika tadi dia menyapanya. Laki-laki itu begitu asyik memandang ke arah laut sehingga tak mendengar suaranya. Pada pengulangan yang ketiga, dan dia memukulkan punggung tangannya ke punggung tangan laki-laki itu dengan sedikit keras, barulah si lelaki yang tampak resah menoleh. Dia melihat perempuan itu dengan pandangan melamun. Suaranya yang lirih seperti bicara pada seseorang yang tak ada di tempat itu. Dia minta dicarikan seekor anak tuna pipih.

 

PASAR telah ramai. Lampu-lampu yang lupa dimatikan tampak pucat seperti sekarat. Perahu demi perahu berlabuh menurunkan keranjang-keranjang rotan dan peti-peti sintetik penuh ikan. Para lelaki berambut coklat terpanggang matahari menggotong keranjang dan peti-peti itu. Menimbang dengan neraca gantung. Membagi dan memilah-milah ikan berdasar ukuran, jenis, dan mutu. Orang-orang lalu lalang. Para penjual ikan menggelar jualannya di lantai pasar yang tergenang air hitam. Ikan-ikan tergeletak tanpa harga diri dan impian. Tiga ekor kucing koreng mengeong di sela-sela loteng. Beberapa ekor camar terbang menukik. Seorang penjual ikan menembakkan air kencingnya ke tembok pasar di sudut.

Baca juga  Pengorbanan

Buya, ayahnya, ingin laki-laki itu melanjutkan pendidikan ke tanah para Nabi. Dia ingin anaknya menjadi cendekia agar kelak bisa menyiarkan agama seperti dirinya. Ah, bagaimana bisa? Laki-laki itu cuma ingin menjadi ikan liar di laut ganas. Dia lebih suka jadi ikan yang terjebak dalam jaring, mengerang kehilangan udara, lalu mati lengang. Biarlah tubuhnya cabik dicekik jaring atau koyak moyak diamuk gelombang, tapi dia menjadi diri sendiri. Menjalani ilusinya, bebas-lepas. Kalau pun dia harus terjebak di tangan nelayan berurat besar, biarlah dia kehabisan oksigen saat insangnya direnggut dari lopak kepala. Biarlah dia hilang dalam pelarian yang sungsang.

“Lobster, Bang? Cumi-cumi juga ada!”

Seorang penjual ikan datang mengusiknya. Diabaikannya saja. Remaja tak berbaju itu terus mencoba memancing minatnya. “Ini lobster biasanya untuk diekspor, Bang. Tak akan dapat yang semurah ini.”

Laki-laki itu menggeleng.

Buya tak mengenal siapa dia!

 

PEREMPUAN itu berjalan riang dengan ember hitam di tangan kiri dan seekor ikan hitam kebiruan di tangan kanan. Dia berhasil mendapatkan seekor anak ikan tuna dengan berat hampir tiga kilogram. Ikan itu pipih dan segar. Dia akan memberi laki-laki itu harga delapan puluh ribu, tetapi tetap terbuka kesempatan untuk tawar-menawar.

Laki-laki itu tentu tersanjung sekali atas kemurahan hatinya.

“Engkau baik sekali padaku. Adakah maksud tertentu?”

“O, tidak! Mana mungkin aku merayumu dengan wajah seremuk gundukan ikan teri begini. Kau lihatlah sendiri. Memang benar, aku pernah membiarkan satu-dua lelaki pelabuhan ini berdiang di tubuhku, tapi aku tak akan mengotorkan dirimu dengan tubuhku.”

“Maukah kau membantuku memasak ikan ini?”

“Oh! Oh! Aku tidak pandai memasak! Nanti tidak enak.”

“Bukankah kau sering memasak anak hiu dan ikan pari?”

“Ouk!” Perempuan itu terpekik ketika tangannya disentak dari belakang. Ember hitam berisi ikan-ikannya jatuh. Anak tuna tampan kebiruan itu terlepas. Belum sempat dia minta tolong, tangan kuat itu membekap mulutnya dan menarik tubuhnya ke dalam ruang dingin yang ternyata gudang es balok. Orang itu menghempaskan tubuhnya ke tumpukan es. Dingin yang ngilu menghantam kepala dan sekujur tubuhnya. Laki-laki itu mengunci pintu. Darah perempuan itu serasa membeku. Hanya air mata yang bergetar saat dalam hitungan detik kepalanya direnggut, lalu dibenamkan ke dalam peti berisi es yang mencair.

“Kau pikir kau cantik sekali, heh, Ikan Tongkol! Jual mahal kau!”

Telinganya mendengar bunyi dencing sabuk dilepaskan. Laki-laki berperut buntal itu lalu menarik kakinya, menggulingkan ke atas peti, lantas menyiangi tubuhnya. Dia merasa terhempas ke rumah kecil beratap ilalang di Padi Boneh ketika di sebuah sore yang pekat angin kencang berkecamuk bersama hujan petir meremuk atap dan dinding rumah. Dahan-dahan kayu patah. Dia, ibunya, dan kakak-kakaknya lari tak tentu arah dengan tangis melolong-lolong. Ayahnya tertegak kaku di halaman seperti pohon tumbang. Sesuatu yang besar dan keras jatuh dari pucuk pohon kelapa menghantam tubuhnya. Dia terjerembab dalam dingin yang pedih.

Baca juga  Bayi Bersayap Jelita

Laki-laki bersepatu bot itu mungkin sudah selesai menggarami ikan dalam tubuhnya. Dia membuang napas berbau tembakau sengak lalu mengangkat tubuhnya yang terasa hilang tulang. Pandangan matanya meremang.

“Mampus, kau!”

Seperti suara guruh. Seperti suara debum. Badannya terasa remuk. Dinding dingin merah bata! Oh, apa yang bangsat itu lakukan? Batu-batu bening beku, bongkah-bongkah es menghimpit.

“Eii! Eii! Auh!”

Laki-laki itu menutup peti. Menaruh dua peti lain di atasnya. Kemudian menyelimuti dengan terpal.

“Tidak! Tidak! Ini tidak sedang terjadi! Aku mungkin ketiduran dan bermimpi. Aku harus segera mengantarkan anak tuna pipih pesanan lelaki itu! Mungkin saja dia mau jadi ayah bagi kedua anakku. O, tidak! Ti-tidak! Dingin sekali! Sakit sekali! Ngilu sekali!”

HAMPIR pukul sepuluh. Pasar ikan akan segera kosong ditinggalkan. Laki-laki itu telah berulang kali pindah dari satu tonggak ke tonggak lain, sempat pula duduk di bangku kayu, dan minum teh botol di warung dekat WC umum. Perempuan itu tak kunjung datang.

“Ah, mungkin dia malu karena tak berhasil mendapatkan ikan tuna untukku.”

Sekali lagi dia melayangkan pandang pada sisa-sisa ikan di lantai pasar, pada tubuh-tubuh laki-laki berdaki yang telah bacin, pada sampah-sampah plastik menghitam yang bertebaran, pada langit yang agak buram, pada sebuah kapal di kejauhan….

“Tapi persetan! Aku akan tetap punya alasan untuk datang lagi ke sini.”

Dia melangkah sedikit melompat untuk menghindari genangan air kotor. Seekor udang bungkuk yang telah separuh busuk terinjak kakinya.

“Ikan ambu-ambu, Bang? Masih baru, masih segar!” Dia beli dua ekor sekadar untuk pelepas tanya ibunya.

Dia segera pulang dengan enggan ke rumah teduh di sebelah masjid raya. Untuk berenang dalam akuarium indah di lantai dua yang penuh fantasi warna-warni, ikan-ikan plastik, koral-koral, dan bintang-bintang laut palsu. (*)

Padang, 2010

Ragdi F Daye lahir di Solok, Sumatra Barat, 11 September 1981. Buku kumpulan cerita pendeknya berjudul Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu (LPPH, 2010).

Average rating 1 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: