Cerpen, Republika, Rifan Nazhif

Tangan

0
()

SUDAH beberapa hari ini tanganku sering sulit diangkat. Apalagi untuk diayun-ayunkan. Aku sudah mendatangi Mantri Amak. Tapi, jawaban darinya tak ada yang salah di tubuhku. Dia hanya memberikan aku obat tidur. Menurut mantri, aku hanya kelelahan.

Tapi, sampai sekarang, tetap saja tanganku kaku bagaikan digips. Padahal, tangan ini adalah andalan mencari penghidupan setelah aku berhenti dari perusahaan kontraktor tempatku bekerja selama tujuh tahun. Perusahan kontraktor itu bangkrut. Ya, mau diapakan lagi. Aku banting setir menjadi penulis kolom di beberapa surat kabar. Alhamdulillah, hasilnya dapat membantu keuangan rumah tangga. Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin usaha membuat kue-kue kering milik istriku bisa memenuhi tuntutan hidup kami yang terus membengkak?

Apalagi, sekarang istriku tengah hamil besar. Ada-ada saja yang dia ngidamkan setiap hari. Tak sulit-sulit memang. Semua ada di sekitar kami. Sayangnya, bagaimana mewujudkan ngidamnya kalau uang di kantong hanya lembaran seribu? Dia ingin televisi berwarna 21 inci agar puas menonton melodrama yang membuatnya lebih sering menumpahkan air mata. Dia ingin kulkas dua pintu seperti milik Haji Kasimun pedagang batagor itu, atau sepeda motor matic. Ah, ah! Banyak sekali sehingga membuat perutku mules. Pasal itulah, daripada menuruti ngidam-ngidamnya, aku lebih memilih kakus sebagai pelarian. Di situ, aku berkepul dengan sebatang rokok. Tapi, tak untuk waktu-waktu sekarang ini. Bagaimana mungkin berkepul rokok di kakus, sedangkan tanganku sering sulit diangkat? Kubiarkanlah istriku merepet dengan ngidam-ngidamnya. Kubiarkan ibu mertua berceloteh tentang rezeki kami yang seret. Sementara air mataku selalu mengambang melihat mesin tik di meja. Kapan nian aku bisa mengencaninya lebih mantap seperti yang sudah-sudah?

“Mungkin rematik menyerangmu!” kata Liban sambil memirit kartu di pos ronda. Aku hanya menonton karena tanganku tak seide lagi dengan otak. Padahal, aku paling senang memirit kartu meskipun bukan tujuan berjudi.

“Tapi, rematik biasanya menyerang sendi-sendi. Lagian tanganku tak sakit. Tak ngilu seperti yang sering dikeluhkan Wak Sobar yang rematikan itu. Hanya saja, sekali waktu tanganku sama sekali susah diangkat, kumat-kumatan. Bila ingin mempergunakannya, selalu tangan ini seolah merajuk.”

“Bagaimana kalau sedang kelonan dengan istri?” kejar Maulana. Dia meluruskan pinggang sambil membaui harum iwak pedo goreng dari warung Mak Jainab.

Baca juga  Serban Pak Kiai

“Anehnya, tanganku sigap!”

“Itu penyakit yang dicari-cari. Bilang saja kau malas bekerja!” sambut Liban. Rapat kartu itu menjadi riuh oleh tawa yang lebar. Kunaikkan sarung sampai sebatas dada. Aku meninggalkan mereka yang sudah membuat hati ini jengkel.

“Ke mana, Mirza?”

“Masjid!”

“Sejak kapan kau alim?”

Aku membuang gelak tawa mereka ke tong sampah. Ada-ada saja! Orang-orang memang paling senang mengejek mereka yang ingin berubah ke arah lebih baik. Coba saja kalau ada yang ingin berubah ke arah lebih buruk, pasti banyak yang memuji. Aku ingat Manggali yang senang mendekam di masjid, selalu diejek banci oleh pemuda-pemuda kampung kami. Namun, suatu kali Manggali frustrasi karena putus cinta dengan anak Haji Kasimun. Dia mencoba menuntaskan kegundahan dengan sobotol songkhi. Alhasil, banyak pemuda yang memujinya, “Hebat! Hebat!” Dan aku tak ingin terjebak menjadi Manggali baru.

Aku memang bukan orang baik-baik saat berduit. Keluar malam sering. Menggoda perempuan sangat suka meskipun aku sudah beristri. Bahkan, suatu kali aku memperturutkan ajakan Radian berkunjung ke panti pijat. Hasilnya bukan segar yang didapat, tapi lezat sesaat, stres kemudian berkepanjangan. Apa sebab? Aku harus keluar duit banyak demi membayar pekerja pijat yang cantik dan bahenol.

Aku duduk di tiang masjid usai shalat Ashar. Seorang lelaki tua berjenggot panjang mendekatiku sambil menggeser pantatnya. Dia menyandarkan tubuhnya yang ringkih di sebelahku.

“Baru ya di sini?” Dia seolah tak bertanya kepadaku. Matanya menatap jauh ke depan.

“Ya, baru ikut shalat berjamaah. Tapi, aku tetap shalat di rumah kok. Jumatan juga rutin.” Aku sedikit berbohong. Meski shalat di rumah, aku selalu tak tetap waktu dan sering bolong-bolong. Begitupun, aku tak ingin aib ini diketahui lelaki berjenggot panjang itu.

“Kau kelihatan susah hati. Mengapa?”

“Tidak ada masalah apa-apa!” jawabku. Aku ingin beranjak dari dekat lelaki itu. Namun, pantatku seperti dilem di lantai masjid yang dingin.

“Ayolah, aku bisa membaca dari riak wajahmu.”

Akhirnya, kuceritakan tentang tanganku yang beberapa hari belakangan ini sering susah diangkat. Aku bingung apa penyebabnya. Ini bukan penyakit, seperti diagnosis Mantri Amak. Apalagi, kata orang-orang aku rematik. Itu hanya mengada-ada.

Baca juga  Sucipto

“Mungkin kau terkena sumpah!”

“Terkena sumpah? Aku tak memiliki pasal apa dengan orang lain. Selama ini, aku bergaul seperti biasa.”

“Mungkin kau pernah menyakiti hati seseorang.”

Pikiranku berkelebat ke seorang Airin, istriku. Bisa jadi dia sakit hati melihatku tak berpenghasilan tetap lagi. Tapi, mustahil rasanya dia menyumpahiku mengingat masa pramenikah, kami berjanji untuk seia dan sekata walaupun tak seide dan sepaham masalah meroyalkan uang. Aku yang royal, sedangkan Airin paling hemat, atau oleh sikapku terhadap Mak Junnah, mertuaku? Perempuan itu, meski bermulut nyinyir, mustahil mendustai jilbab yang menyelimut kepalanya. Dia pasti tak mau menyumpahi menantu sendiri.

“Mungkin kau berat berbagi rezeki dengan orang lain.”

Seolah angin panas menampar pipiku mendengar ucapannya. Ingatanku kembali ke Solhim, lelaki yang sehari-harinya menggelandang dari tong sampah demi tong sampah di kampungku. Suatu hari, ketika aku sedang menikmati sepotong pizza oleh-oleh mertua dari kota, Solhim melintas di depan rumahku bersama anak bungsunya. Entah sebab apa aku keluar ke teras rumah dan berdiri sambil mencap-cup sepotong pizza itu. Seingatku, langkah anak bungsu Solhim berhenti. Seingatku, mata anak kecil itu langsung bersinar. Air liurnya terbit. Dia menggapai tangan Solhim sambil mengatakan sesuatu. Kemudian, Solhim berdiri di dekatku, menyebarkan bau yang sangat tak sedap. “Anakku ingin secuil saja makanan itu. Tolong, kalau Mas berkenan, berilah agar hati anakku lega.”

Kutatap sepotong pizza yang tinggal cabikan. Kujawab, “Aku saja sebagai orang sengsara, sudah sangat beruntung mendapatkan pizza, makanan orang-orang kaya itu. Bagaimana mungkin aku membaginya dengan anakmu. Sudahlah!”

Di lain waktu, Solhim menggedor mimpiku. Saat sedap-sedapnya menikmati tidur di senja berawan kelabu, dia datang dengan muka memelas. Digedornya pintu seperti menggedor pintu penjara. Aku mengumpat. Kulihat wajahnya nyaris seperti monyet, menyeringai, meringis-ringis, tak nyaman dipandang.

“Ada apa?”

“Aku mau meminjam uang, Mas!”

“Uang?”

“Iya, uang! Tadi anak bungsuku tak sengaja menyenggol telor jualan Juragan Karennun di pasar. Telur pecah hampir lima puluh butir. Tolonglah! Mas tahu kan si juragan berperangai tak baik? Dia kalau marah seperti setan. Jadi, aku ingin kebaikan Mas. Aku janji segera membayarnya sehari atau dua hari.”

Baca juga  Perempuan Shalat di Tengah Malam

Jawabanku hanya hempasan pintu. Sehari berikutnya, aku mendengar Juragan Karennun dibacok orang. Pelakunya adalah Solhim. Cerita dari mulut ke mulut, Juragan Karennun nekat mendatangi Solhim di rumahnya. Dia marah-marah tak ketulungan. Istri Solhim ditendang tepat di betis. Anak bungsu Solhim ditempeleng. Ketika Solhim hampir mendapat jatah bogem, sebilah parang menancap di lengan juragan itu. Solhim gemetaran. Untung si juragan tak mampus. Tapi, hasil yang tak dapat dielakkan, Solhim harus berurusan dengan hukum.

“Mungkinkah itu penyebabnya?” tanyaku.

“Bisa jadi! Karena perbuatanmu, seorang anak selalu berharap-harap atas sepotong pizza. Karena perbuatanmu, seorang ayah terpaksa dipenjara dan membiarkan mulut-mulut menganga kelaparan di rumahnya.”

“Tapi, aku tak berniat berbuat demikian. Solhim yang memaksaku!”

“Tapi, tetap saja kau terlibat.”

Aku tertunduk lesu, pulang ke rumah. Aku menyesal telah berbuat yang tak baik kepada Solhim dan keluarganya. Itulah, saat istri selesai memasak daging kari, aku sengaja memasukkannya sebagian ke rantang, juga ditambah beberapa sendok nasi. Aku menemui Solhim di sel kantor polisi. Sebagian daging kari plus nasi, kupesankan kepada Airin agar dikirimkan ke istri Solhim.

Di depan terali besi yang memisahkan Solhim dari dunia luar, aku memperolah terima kasih yang tiada terkira darinya. Aku pun kemudian baru menyadari bahwa tanganku sudah bisa diangkat. Bahkan, bisa mengangkat dua susun rantang dari rumahku. Kiranya, setelah niat memberi kebaikan kepada Solhim terbetik di hati ini, Allah berbaik hati menguatkan tanganku. Ah, aku tersenyum. Mesin tik itu akan berbunyi lagi di malam-malam yang sunyi. (*)

Rifan Nazhif mulai menulis cerpen dan puisi sejak 1989 dan dimuat di beberapa surat kabar. Penulis kelahiran Palembang ini juga menulis sejumlah artikel di beberapa surat kabar daerah.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: