Cernak, Rokhmat Gioramadhita, Solopos

Kejujuran Fadlin

0
()

Oleh Rokhmat Gioramadhita (Solopos, 02 Juni 2019)

Kejujuran Fadlin ilustrasi Solo Posw

Kejujuran Fadlin ilustrasi Hengki Irawan/Solopos 

“Kalau Fadlin bisa berpuasa sampai maghrib, nanti Kakek kasih hadiah,” ucap Kakek saat mereka sedang menyantap sahur.

“Hadiah apa, Kek?” tanya Fadlin bersemangat.

“Rahasia dong, namanya juga hadiah. Jadi kamu enggak boleh tahu,” balas Kakek lagi.

Tahun ini Fadlin baru berlatih puasa, dan besok adalah hari pertama masuk bulan Ramadan. Tahun lalu, Fadlin masih belum bisa puasa sampai maghrib, tahun ini kakek sengaja memberikan hadiah. Supaya Fadlin bisa berpuasa sampai maghrib.

Mendengar akan mendapat hadiah, Fadlin pun merasa sangat senang. Dia akan berusaha berpuasa sampai maghrib.

Tak lupa Fadlin memimpin niat berpuasa setelah selesai makan sahur. Niat puasa merupakan syarat sahnya berpuasa.

***

Keesokan harinya, Fadlin pulang sekolah sendirian. Semua teman-temannya sudah pulang terlebih dahulu. Hal itu karena Fadlin tidak bersemangat akibat sedang berpuasa. Terlebih matahari siang ini bersinar dengan terik, Fadlin semakin merasa tidak bersemangat.

“Uh, panas sekali,” gumam Fadlin.

Fadlin berjalan sambil mengibaskan tangan ke lehernya, agar ada angin yang membuatnya lebih merasa sejuh. Akan tetapi lama kelamaan menjadi semakin capai saja.

“Kalau bukan karena hadiah dari kakek, aku sudah membatalkan puasa,” sambung Fadlin lagi.

Tiba-tiba di perempatan jalan, Fadlin melihat penjual es krim. Banyak anak-anak yang sedang membeli es krim itu.

Fadlin pun memikirkan sesuatu.

“Kalau aku beli es itu, dan aku dihabiskan sebelum sampai ke rumah. Pasti kakek nggak tahu,” pikirnya.

Tanpa membuang waktu, Fadlin pun mengambil uang sakunya di tas. Lalu membeli es krim tersebut.

***

Sore harinya, Fadlin menunggu berbuka puasa dengan menonton TV. Hingga ia mendengar pintu rumahnya diketuk dari luar. Fadlin pun bergegas membukanya. Ternyata Mail. Teman sekelasnya.

Baca juga  Adi dan Bapak Kupu-Kupu

“Fadlin, ngabuburit, yuk. Ada pasar Ramadan di lapangan,” ajak Mail.

“Pasar Ramadan?” Fadlin meyakinkan.

“Iya, ada banyak makanan di sana. Kita beli makanan untuk berbuka sambil jalan-jalan,” sambung Mail.

Fadlin pun setuju, mereka berangkat ke Pasar Ramadan bersama-sama. Benar saja, di sana ada banyak makanan. Fadlin merasa sangat senang.

“Aku mau beli ini, ini, dan ini,” Mail menunjuk banyak sekali makanan di sana. Fadlin sampai merasa heran.

“Kamu beli makanan banyak sekali, siapa yang menghabiskan?” tanya Fadlin.

“Aku dong. Kalau berpuasa, kita akan merasakan nikmatnya saat berbuka,” jawab Mail.

“Memangnya kamu masih puasa? Aku lihat kamu masih tetap semangat,” sambung Fadlin.

“Berpuasa bukan berarti bermalas-malasan, Allah tidak suka dengan orang yang berpuasa namun bermalas-malasan,” terang Mail.

Sejenak Fadlin menjadi diam. Namun dia masih tidak percaya kalau Mail masih berpuasa.

“Beneran kamu masih puasa?” Fadlin menyelidik lagi.

“Puasa itu urusan kita sama Allah. Jadi buat apa aku berbohong. Karena apa pun yang kita lakukan, pasti Allah tahu,” sambung Mail.

Mendengar penjelasan itu, Fadlin tertunduk malu. Dia membenarkan kata-kata Mail. Berpuasa adalah urusannya dengan Allah, bukan dengan manusia. Percuma manusia menganggapnya tetap berpuasa, padahal sesungguhnya tidak. Tetapi Allah akan mengetahui semua yang dilakukannya.

Secara tiba-tiba Fadlin langsung berlari meninggalkan Mail. Mail pun menjadi heran.

Fadlin berlari pulang ke rumah, dia langsung mencari kakeknya. Rupanya kakek sedang duduk di saung belakang rumah. Fadlin langsung menemuinya.

“Kakek, maafkan Fadlin,” ucap Fadlin sungguh-sungguh.

Kakek merasa heran. Apa yang terjadi dengan cucu laki-lakinya itu.

“Minta maaf untuk apa?” tanya Kakek heran.

“Fadlin udah bohong sama Kakek. Gara-gara ingin hadiah dari Kakek,” sambung Fadlin.

Baca juga  Cerita Rahasia

Kakek masih diam, menunggu Fadlin menjelaskannya lagi.

“Tadi siang Fadlin kehausan, Kek. Jadi Fadlin membeli es krim waktu pulang sekolah. Tapi karena Fadlin menginginkan hadiah dari Kakek, Fadlin enggak cerita sama Kakek,” lanjut Fadlin.

Kakek pun tersenyum melihat tingkah cucunya itu.

“Kakek enggak marah?” Fadlin hati-hati bertanya kepada kakek.

“Kakek enggak marah, kok. Malah Kakek senang, kamu mau jujur sama Kakek,” ucap Kakek.

Fadlin merasa senang karena kakek tidak marah. Namun dia tetap merasa sedih karena tidak dapat hadiah dari kakek. Rupanya kakek melihat kesedihan itu, kakek pun menenangkan Fadlin.

“Kamu akan tetap dapat hadiah, asalkan berjanji untuk tidak melakukannya lagi,” kakek tersenyum.

“Benar, Kek?” Fadlin terlihat senang.

Kakek tersenyum membalasnya.

“Terima kasih, Kek. Fadlin janji akan puasa sampai maghrib,” Fadlin memeluk kakek.

“Tapi kamu harus janji, harus jujur. Tidak hanya jujur kepada Kakek, tapi juga jujur kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kita lakukan di bumi,”

“Siap, Kek.” Balasnya sambil mengambil sikap hormat, seperti hormat saat upacara bendera.

Kakek pun tersenyum melihat tingkah cucu laki-lakinya itu.

 

Purbalingga, 2019

Rokhmat Gioramadhita, Guru di SDN 4 Pengadegan

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: