Cernak, Mia Karneza, Solopos

Membuat Ikan Bakar di Hari Kemenangan

0
()

Oleh Mia Karneza (Solopos, 23 Juni 2019)

Membuat Ikan Bakar di Hari Kemenangan ilustrasi Solo Posw.jpg

Membuat Ikan Bakar di Hari Kemenangan ilustrasi Hengki Irawan/Solopos

Pukul tiga siang, Salma sudah di kolam ikan milik bapak yang jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah. Ia membantu bapak untuk memancing ikan, sementara bapak mencari kayu bakar di sekitar kolam ikan. Salma duduk di pinggir kolam, yang menurutnya nyaman. Berharap ia akan membawa ikan sangat banyak untuk dimakan esok pagi di hari kemenangan. Salma memancing sembari menghayal kalau besok pagi akan makan enak-enak buatan bunda.

“Assalamualaikum,” salam dari Kak Arim, membuat Salma terkejut dan membuyarkan lamunannya.

“Kak Arim,” kata Salma dengan suara senang. Ketika ia sadar kakaknya duduk di sampingnya. Ia melepaskan pancingan dan segera memeluk kakaknya.  Butuh waktu dua menit Salma melepaskan pelukan. Sudah dua kali Lebaran tidak pulang kampung.

Ngapain di sini sendirian?” tanya Kak Arim yang usianya terpaut sembilan tahun dengan Salma. Kak Arim kuliah tingkat dua di UNS sementara Salma di kelas V sekolah dasar di Padang.

Ngambil ikan, disuruh bapak, untuk Lebaran besok,” kata Salma menjelaskan.

“Bapak mana?” tanya Kak Arim setelah melihat kanan dan kiri tak ada tandatanda bapak dekat kolam tempat Arim memancing.

“Bapak cari kayu bakar,” kata Salma. “Ibu cari bumbu untuk ikan bakar dan daun pisang di kebun,” ujar Salma meski ibu belum ditanya sedang di mana.

Salma hanya dari keluarga sederhana dan mempunyai tanah untuk berkebun dan kolam untuk ternak ikan. Bapak kerja di kebun yang bisa ditanam seperti bumbu masak; jahe, serai, lengkuas, kunyit, bawang putih dan bawang merah. Tanaman lain seperti sayuran; kangkung dan bayam. Buah-buahan; rambutan, jambu biji, pepaya dan jeruk. Terakhir ada  ubi-ubian pengganti  padi.

Baca juga  Mata di Bibir Subuh

“Kak Arim temani memancing ya,” kata Kak Arim.

Salma mempunyai tiga kakak. Kak Arim-lah kakak pertama dan menjadi inspirasi Salma. Ia sekolah di Pulau Jawa dengan beasiswanya. Bahkan kakak mempunyai usaha di tanah Jawa yaitu Gudeg. Belum punya tempat usaha mewah atau di pinggiran, hanya gudeg rumahan dan akan dipromosikan lewat media sosialnya.

Dua jam sudah berlalu, tiba-tiba hujan turun sangat deras. Padahal tanda-tanda hujan tidak ada, terpaksa harus berteduh di pondok buatan bapak yang jaraknya dua puluh meter dari kolam.

Huft… Cuma dapat dua belas ekor,” keluh Salma setibanya di pondok.

Kak Arim tersenyum dan berkata. “Jangan suka mengeluh, itu tanda-tanda susah mencapai kesuksesan. Ucapkan alhamdulillah, sedikit banyak yang kita dapat hari ini adalah rezeki dari Allah.”

“Alhamdulillah,” kata Salma setelah dinasihati.

Tak berapa lama bapak menjemput Salma dan Kak Arim. Bapak membawa dua buah mantel. Kak Arim langsung mencium tangan bapak setelah bapak memberikan mantel kepadanya.

“Jam berapa sampai rumah?” tanya Bapak.

“Jam tiga, Pak. Tadi rumah enggak ada orang, makanya nyusul ke kolam ikan. Eh, ketemu sama Salma, katanya Bapak dan Ibu ke kebun,” kata Arim.

“Ya, udah kita pulang, hujannya awet nanti masuk angin lagi lama-lama di sini,” kata Ayah kepada Arim dan Salma.

***

Besok pagi pukul empat pagi Kota Padang sudah tidak hujan, berbanding terbalik dengan kemarin sore. Kak Arim membangunkan Salma untuk membakar ikan tangkapannya di kolam.

Arim menyiapkan bumbu untuk ikan. Ibu membersihkan ikan mujair dan bapak menyediakan kayu bakar untuk membakar ikan yang ditangkap oleh Salma. Sementara Salma melihat apa yang dikerjakan kak Arim.

Baca juga  Siul Secangkir Kopi

“Kak Arim, ajari buat gudeg dong,” kata Salma tiba-tiba ketika kak Arim melumurkan bumbu yang sudah halus ke badan ikan.

Next time, ya,” kata Kak Arim. “Nanti sore kita cari bahannya dulu dan besok kita buat gudeg ala Kak Arim,” ujar Kak Arim dan tersenyum pada Salma.

“Ya udah nih, kamu kipas dulu ikannya, kakak mau salat dulu. Nanti kita gantian kamu yang salat dan kakak yang kipasi ikannya,” kata Kak Arim yang sudah meletakkan ikan di atas api dibantu dengan panggangan. “Ingat, jangan sampai gosong lo,” kata Kak Arim sebelum benar-benar pergi untuk melaksanakan salat.

“Oke,” kata Salma sembari mengangkat tangannya dan membentuk  ”Ok”.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00, ikan bakar yang dimasak tadi sudah tersaji di meja makan. Aromanya membuat siapa saja tergoda. Terlebih Salma, ia mencium aroma ikan secara dekat. “Aromanya saja sudah enak apalagi rasanya,” kata Salma saat sudah duduk manis di meja makan.

Di sana sudah ada tiga kakaknya, ibu, dan bapak.

“Siapa dulu dong yang siapkan bumbunya,” kata Kak Arim.

“Ya deh Kak Arim jagonya,” kata Salma.

“Ini ikan bakar terenak yang pernah kumakan.” Kali ini Bang Arif memuji masakan Kak Arim. “Tapi sayang Kak Arim udah jarang di rumah,” keluh Bang Arif.

“Tenang Salma ada. Udah dicuri resep ikan bakar ala Kak Arim. Besok kalau Kak Arim enggak di rumah, kita buat ikan bakar ala Salma.”

Semua yang mendengar perkataan Salma tertawa.

 

Padang, 1 Juni 2019

Leave a Reply

%d bloggers like this: