Cerpen, Jawa Pos, Mardi Luhung

Hamil

1
(1)

I

BELAKANGAN aku terganggu oleh sebuah kata. Kata itu terdiri atas lima huruf. Tiga huruf konsonan. Dan dua huruf vokal. Bunyi kata itu adalah: “Hamil,” ya, hamil! Dan seperti bola, kata itu pun selalu melenting ke pojok kiriku. Melonjak ke pojok kananku. Lurus. Kemudian, menabrak setiap apa yang ada di depanku. Untuk kemudian kembali ke pojok yang semula. Bersiap-siap untuk segera melenting balik. Membuat aku terganggu lagi.

Kenapa aku terganggu? Entahlah. Yang jelas ini sangat berhubungan dengan apa yang aku alami. Yaitu, tentang diri di antara sekian perempuan hamil yang aku lihat. Barangkali ada tujuh atau sepuluh perempuan. Ada yang hamil tiga bulan, empat bulan, tujuh bulan. Sisanya sembilan bulan. Kehamilan (yang kata orang) merupakan situasi yang menunggu waktu. Situasi yang sebentar lagi akan selesai. Sebab, melahirkan bayi. Baik bayi kembar atau tidak. Bayi yang nanti pun akan menjadi orang-orang yang dewasa. Yang jika perempuan juga akan hamil.

Menurutku (aku yang terganggu ini), ketika perempuan-perempuan itu hamil, aku seperti melihat sesuatu yang aneh. Bayangkan, perut mereka yang semula kosong tiba-tiba mesti diselundupi oleh si makhluk kecil yang asing. Si makhluk kecil yang semula cuma setitik. Kemudian membesar. Membesar. Bergerak-gerak. Dan berpusaran di dalam  perut itu. Berpusaran seperti ingin mempertanyakan: Kenapa dirinya mesti ada. Kenapa dirinya mesti dihadirkan di dunia. Padahal, siapa sih yang tidak akan berkelahi di dunia yang serbasemrawut seperti saat ini? Dunia yang tak lepas dengan situasi jungkir-balik.

Situasi, di mana, setiap yang berjalan gampang ngamuk. Gampang curiga. Dan gampang merasa, jika setiap yang ada di depannya haruslah sama dengan yang disukainya. Tak boleh berbeda. Apalagi mengambil jalan yang berseberangan. Padahal, ya, padahal Tuhan saja tak melarang, siapa pun yang  ingin menyembah-Nya. Atau malah tak menyembah-Nya. Itu adalah pilihan. Pilihan yang kerap dilalaikan. Pilihan yang menelusup di bawah kesadaran kita yang tersembunyi.

II

Dan nah, itu lihat, lihatlah, betapa perempuan yang hamil tiga bulan demikian tak jamak. Perutnya yang sedikit membesar tampak ingin menjelma sesuatu yang kenyal. Dan di dalam perut yang kenyal itu, aku yakin, si makhluk kecil masihlah kecil. Malahan masih sekepal tangan. Tak bisa bergerak. Cuma bisa berdenyut. Nyut-nyut-nyut. Dan sesekali ada yang berkilat dari titik tertentunya, yang kelak akan jadi mata. Dan ada yang terbuka, yang kelak akan jadi mulut. Mulut yang mirip dua tangkup daging yang berbalut kulit. Mulut yang tampaknya sederhana. Tapi, masya Allah, jika sudah saatnya. Saat kesurupan akan hal-hal tertentu, akan menjelma semacam waduk yang tak pernah kenyang. Memakan. Memakan. Dan memakan apa saja. Termasuk juga memakan diri sesamanya.

Baca juga  Rongga

Jadilah, jangan heran, jika di dalam berita-berita tertentu, ada orang yang memakan orang lain. Baik memakan secara langsung atau tidak langsung. Memakan secara langsung itu dapat dilihat secara kasat mata. Dan biasanya orang semacam ini, jika tidak miring, ya pasti sedang menganut ilmu-ilmu tertentu. Ilmu yang katanya akan membuat si penganutnya sakti. Tak terkalahkan. He he he, aneh bukan? Sedangkan bagi yang memakan tak langsung, ini yang agak sulit untuk ditelusur. Sebab harus melewati sekian lika-liku. Yang kadang-kadang membuat kita puyeng tujuh keliling.

Bagaimana tidak puyeng? Lha wong orang itu kelihatan kalem. Suka bagi-bagi hadiah. Punya sekian panti jompo. Jika ngomong, alamak, dunia seakan-akan hanya diisi oleh bunga-bunga yang bermekaran. Bunga-bunga merah, kuning, putih, dan biru. Bunga-bunga yang wangi dan semerbak. Bunga-bunga yang membuat kita terbuai. Terlena. Terus berbisik, “Wah, ini orang baik sekali, ya.” Tanpa kita sadar, jika di suatu malam, saat kita sedang tidur tenang, orang itu akan memasuki kamar kita. Memasuki dengan mengendap-endap.

Lalu, cres-cres-cres, orang itu pun memotong dan memakan tangan, kaki, kepala, kuping dan bagian-bagian lain yang ada di tubuh kita. Sampai tubuh kita habis. Tak bersisa. Tapi, apakah itu lantas membuat kita mati? Ternyata tidak. Sekali lagi tidak. Orang itu, dengan sigap, pun mengganti setiap potongan dari tubuh kita yang telah dimakannya dengan potongan tubuh yang lain. Potongan tubuh yang telah dipersiapkan sejak lama. Potongan tubuh, yang ketika pagi hari dan telah terpasangkan, membuat kita tak merasa apa-apa. Cuma seperti mimpi kecil. Mimpi digigit ular atau bersepeda di pantai. Mimpi yang kerap ditafsir akan mendapatkan rezeki.

Padalah, sejak itu sebenarnya tubuh kita bukan lagi tubuh kita. tapi, tubuh lain yang dipasangkan. Tubuh lain yang seperti robot. Yang ke mana-mana selalu akan mengikut dan mengharapkan untuk bertemu dengan orang itu. Jika sudah begitu, apakah kita bisa berteriak pada dunia, jika sebenarnya tubuh kita yang asli telah habis dimakan? He he he, jika itu terjadi, aku tak bisa membayangkan. Pasti kita akan masuk ke rehabilitasi orang-orang sarap. Rehabilitasi (seperti yang aku katakan) akan membuat kita puyeng tujuh kelililng.

Baca juga  Celana Pinurbo
III

Lalu, yang membuat aku makin terganggu juga adalah ketika aku melihat perempuan yang hamil tujuh bulan. Di dalam pandanganku, perempuan itu jadi tak masuk akal. Tubuh dan perut hamilnya yang sudah sebesar setengah gentong itu tampak seperti terbalut kabut. Kabut ganjil yang tak terlihat oleh sembarang orang. Tapi, begitu dapat dirasa. Kabut ganjil yang kerap membuat aku menduga bahwa si makhluk kecil di perut itu sudah menjelma menjadi bidadari atau bidadara imut. Yang bisa berpusar-pusar.

Bidadari atau bidadara imut yang segera akan nongol di hadapan kita semua. Nongol dengan sumua yang telah dimilikinya. Tangan, kaki, dan wajah yang samar-samar. Wajah yang barangkali seperti wajah bayangan. Wajah, ketika berhadapan dengan kejungkirbalikkan dunia, akan sanggup beralih rupa sekaligus menjadi sekian rupa. Bahkan, jika perlu memasangnya bersama-sama. Beramai-ramai. Karena itu, jangan kaget bila nanti akan kita temukan orang-orang yang berwajah dua, tiga, empat, bahkan sepuluh.

Wajah yang beragam. Yang akan cemberut atau tertawa. Bergantung keadaan. Mendelik atau melirik bergantung apa yang melintas. Tap-tap-tap. Semua pun dipandang. Semua pun dilirik. Semua pun dicari apa maksudnya. Bahkan, jika perlu wajah-wajah itu pun mengeras dan lenyap ke dalam tembok. Menjadi bagian dari tembok. Sambil memperhatikan semua yang terjadi. Katanya, “Apa yang dilakukan oleh si pembesar saja bisa kami perhatikan. Apalagi yang dilakukann dirimu.”

Astaga, tembok bisa memperhatikan? Wah, ini kenyataan yang lebih luas daripada istilah: tembok yang bisa mendengar, dan tentunya, lebih gawat. Sebab, langsung bisa mengenali dengan lebih seksama. Tanpa perlu penyelidikan. Apalagi disertai dengan sekian bukti. Jadinya, jika kita ingin melakukan apa-apa, cobalah diraba tembok yang melingkupi itu. Jangan-jangan di dalamnya, ya, di dalamnya, tersembunyi wajah-wajah yang memperhatikan. Dan siapa tahu, di antara wajah-wajah itu punya niat busuk kepada kita. Niat busuk yang baunya tak ketulungan. Yang membuat kita jadi sempoyongan.

Sempoyongan ke mana saja. Apakah itu ke kiri, ke kanan, ke depan, atau ke belakang. Padahal, di luaran, betapa banyak juga yang ingin menjegal kita. Menjegal bukan hanya dengan cara terang-terangan. Melainkan juga dengan cara lempar batu sembunyi tangan. Cara yang tak ubahnya seperti cara seperti si penjagal kambing yang licik. Yang mengecat seluruh kulit kambingnya menjadi hitam. Sebelum memotongnya pada malam hari. Terus menyergah, “Kawan-kawan, kita akan membikin gulai kambing hitam. Mari kita berpesta!”

IV

Oya, perlu juga aku ceritakan. Saat menggulai kambing hitam, si penjagal kambing yang licik itu selalu tertawa. Berputar-putar dan menari-nari. Rasanya ada sesuatu yang telah mebuat dirinya menjadi gesit, lincah, dan tak terkontrol. Kakinya menggedruk-gedruk. Tangannya mengibas-ngibas. Dan mulutnya, ya mulutnya itu, seperti selalu mendengungkan bait-bait puja. Bait-bait yang demikian berat dan menggiriskan.

Baca juga  Raja Kuru

“Akulah tukang gulai!”

“Titisan yang sedap dari yang tersedap!”

“Yang lahir dan hadir dengan tak terduga!”

“Tukang gulai yang menggulai lewat resep rahasia!”

Dan meja pun dibuka. Piring, gelas, sendok, garpu, serbet, kobokan dipasang. Lalu, kuali gulai pun dihidangkan. Aromanya begitu menggigit. Begitu melambar. Terus membentangkan sebentang cermin. Cermin sakti yang dapat mencerminkan siapa saja yang di depannya secara asli. Yang bertubuh tikus kelihatan aslinya. Gajah kelihatan aslinya. Kucing kelihatan aslinya. Apalagi anjing, tentu saja makin kelihatan aslinya.

Cermin itu berputar. Berputar. Dan terus berputar. Memutarkan keaslian dari pemilik tubuh-tubuh binatang itu. Pemilik tubuh-tubuh binatang yang kerap membayang di setiap tempat dan saat. Tempat dan saat yang bercerita tentang, “Hai, kalian yang ditipu, kami yang menipu. Hei, kalian yang merana, kami yang bersorak-sorai.” Sampai pada semacam batas . Yang menyergah, “Hanya sesama pemilik tubuh-tubuh binatang yang dilarang untuk saling mendahului!” Pemilik tubuh-tubuh binatang, yang katanya, he he he amat ganteng. Dan yang selalu akan muncul, jika gerhana menyembul dari balik pohon asem.

V

Akhirnya, dari semuanya, demi yang telah mengarahkan pena ini, yang paling membuat aku terganggu adalah ketika melihat perempuan hamil sembilan bulan. Kenapa? Aku tak bisa menjawabnya. Cuma ketika perut yang sudah memelar dan seakan tak menampung itu terpampang, aku seperti melihat sebuah pintu. Pintu yang tertutup rapat. Tapi, aku merasa begitu tahu cara membukanya. Dan di dalam pintu itu, aku tahu, aku tahu, ada bidadari atau bidadara yang tak lagi imut. Tapi, bidadari atau bidadara, yang aku yakin, jika sudah di hadapan kita, akan segera menghambur ke pelukanku. Dan berteriak, “Mengapa dirimu kok jadi begini? Semestinya aku kan juga adalah dirimu sendiri!” Dan uf-uf-uf, bidadari atau bidadara yang tak lagi imut itu pun mencoba menyeretku untuk menggantikan dirinya di dalam perut! (*)

 

(Gresik, 2010)

Buat Mas Fuad di Jogjakarta.

Average rating 1 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: