Cerpen, Republika, Tova Zen

Hadiah di Ujung Maut

1
(1)

TUBUHKU kuyup oleh derai rintik hujan. Aku masih menyusuri jalan sempit yang berjajar sederet toko. Aku tak acuh terhadap rasa dingin yang membuat gigil badan ini. Pikiranku mengepung tentang hadiah yang ingin aku berikan pada putriku Lebaran besok saat aku pulang kampung. Dalam bias sinar lampu neon yang menerangi kaca etalase, aku memperhatikan hadiah itu. Senang hatiku membayangkan putriku menerima hadiah itu.

Gaun longdress bermotif bunga tulip yang semarak warna kuning telur. Gaun itu melekat di patung manekin etalase. Aku bayangkan rona senyuman putriku saat aku menatap manekin berwujud bocah cilik itu. Aku menatap tajam di luar kaca etalase tanpa aku pedulikan basahnya tubuhku, letihnya fisikku, dan bau kringat yang telah menyeruak menusuk rongga hidung.

Aku dirasuki nuansa hening sesaat, mataku perih, memerah, tiba-tiba saja air mataku meleleh dan melorot di pipiku yang kusam oleh debu asap knalpot. Sanggupkah aku yang hanya sopir Bemo membeli gaun seindah ini untuk putriku tercinta? Aku sangat rindu pada putriku. Masih melekat erat dalam benakku, sebelum aku berangkat ke kota rantau, “Ayah, belikan Mirna gaun ya, Yah.”

Hampir setahun ini aku tak pulang. Sekarang penghasilanku kian berkurang. Aku ingat betul perubahan zaman ini. Bemo mulai tergusur dengan hadirnya piranti transportasi yang lebih nyaman, tanpa polusi, dan lebih terjangkau. Kehadiran Bemo kian terpinggirkan. Parahnya lagi, aku tak bisa menemukan pekerjaan lain selain narik Bemo yang telah kugeluti puluhan tahun. Bemo adalah hidupku, dari benda yang orang anggap rongsok berpolusi inilah aku mencari nafkah dan menafkahi keluarga kecilku di kampung.

Aku rogoh kantong celana kumalku. Aku keluarkan isinya dalam genggamanku. Tergulung lecek dan basah beberapa gulung uang berwarna merah dan hijau. Aku luruskan gulungannya yang lecek serta lembek. Aku hitung jumlah nominalnya: Hanya ada tiga puluh enam ribu.

Aku seka bulir air mata yang meleleh di pipiku. Mungkinkah dengan uang ini aku bisa membeli gaun indah itu? Aku mengirim uang jatah nafkah yang telah kutitipkan pada Hamdi saat mudik kemarin. Sekarang hanya ada uang sebesar ini dalam genggaman tanganku. Padahal, seminggu lagi Lebaran dan aku belum bisa mengumpulkan uang untuk pulang kampung sambil membawa gaun itu sebagai hadiah Lebaran putriku.

Pikiranku kian keruh, perutku keroncongan, dan hatiku pilu. Kupikir serta kurenung baik buruknya keinginanku untuk membeli gaun indah itu. Aku tak ingin melihat mata kecil putriku kecewa. Apalah artinya aku sebagai seorang ayah, kalau tidak bisa memberikan hadiah itu untuknya? Sejak Lebaran kemarin putriku telah meminta dibelikan gaun dan aku belum bisa membelikannya. Hingga hari inipun aku belum sanggup membeli gaun itu untuknya.

Baca juga  Gang Semangat

Aku berjalan menjauh dari toko itu. Kepalaku menunduk lesu malam ini. Aku melangkah di jalan becek. Aku tendang genangan air yang mengapung di tengah jalan beraspal yang telah rusak dan berlubang. Air itu muncrat ke segala arah dan pecah saat jatuh menubruk aspal. Aku kecewa.

Bagaimana aku bisa mengumpulkan uang sebanyak itu? Dalam rintik hujan yang turun tanpa jeda, aku terus mengayun langkah menghampiri Bemo rongsok warna merah itu. Aku buka pintunya yang berkarat. Aku duduk di depan kemudi. Kepalaku tertunduk pilu. Lagi-lagi aku harus menangis sesenggukan tanpa suara. Hanya mengerang dalam derai tangis ketidakberdayaan.

Dalam remangnya malam yang disapu hujan rintik kelabu. Aku melihat seorang wanita berpayung yang membelah malam di tengah tusukan jarum hujan. Aku melihat dia menenteng tas dan berjalan lamban di trotoar. Aku nyalakan mesin Bemo dan seketika suara gerungan mesin memecah hening malam.

Aku terus menyusul ayunan langkah wanita itu. Mataku tertuju tajam pada tas yang di genggamnya. Segera kupepet Bemoku di tepihan bahu trotoar. Tangan kananku memegang kemudi gas dan tangan kiriku kuulurkan keluar untuk menyambar tas wanita itu. Dapat! Aku melaju kencang tanpa perlu menghiraukan lengkingan wanita itu yang meneriakiku: Jambret!

Nafasku memburu. Tanganku gemetar. Baru kali ini aku melakukan kejahatan. Lagi-lagi aku hanya bisa meruntuhkan kaca di pelupuk mataku, menggelindingkannya di pipiku lalu jatuh dan pecah di lantai Bemo. Tas yang aku dapatkan kubuka, sesaat aku tertegun dengan tas ini. Aku seperti mengenal bentuk tas ini. Ah! Tak usah dipikirkan. Aku sudah kepalang basah melakukan kejahatan, semua hanya demi gaun itu.

Isi dalam tas hanya ada sekumpulan botol obat. Aku obrak-abrik tetap tak menemukan benda berharga. Sial! Dompetnya tidak dimasukkan ke dalam tas. Tanganku merogoh sesuatu di antara obat itu. Ya, aku menemukan emas di kantung plastik transparan. Aku buka dan aku perhatikan emas yang berwujud kalung. Aku letakkan di telapak tanganku. Aku seperti mengenal emas macam ini. Lalu aku genggam erat emas itu. Aku akan menjualnya, lalu aku akan membelikan gaun indah itu dari hasil menjual emas ini. Pedih rasanya hati ini jika aku harus berbuat laknat dengan merampas hak orang lain, tapi akan jauh lebih pedih jika aku melihat kekecewaan putriku. Semoga saja wanita yang kurampas ini orang kaya, agar aku tak terlalu merasa bersalah atas tindakan jahatku terhadapnya. Oh! Kenapa hidupku harus begini? Aku letih dan aku ingin pulang di petak kontrakanku.

Pagi-pagi sekali aku dikejutkan dengan beberapa orang polisi. Mereka memintaku untuk datang ke kantor polisi. Apa aku ketahuan? Bagaimana bisa? Semalam aku mengendarai Bemo dengan begitu kencang sambil menyambar tas wanita itu. Kenapa bisa terlacak? Mungkin wanita itu melapor pada polisi bahwa dirinya dijambret sopir Bemo dan mungkin bukan hanya aku saja yang digaruk ke kantor polisi. Masih banyak sopir Bemo yang mungkin dipanggil ke kantor polisi dan aku salah satunya. Mereka tak punya bukti. Dan aku bisa mungkir dari interogasi mereka.

Baca juga  Masjid Abah

“Kenapa Pak! Apa salah saya?”

“Ada kasus penjambretan di sekitar area ini semalam dengan menggunakan Bemo. Jadi, Bapak kami perintahkan untuk ikut bersama kami ke kantor. Bapak bisa utarakan nanti di kantor polisi.”

Aku hanya bisa menurut. Percuma melawan. Lagi pula aku belum tentu di jadikan tersangka. Aku yakin sekali aku tak mungkin meninggalkan jejak kejahatanku. Mungkin para polisi ini menggaruk para sopir Bemo untuk dimintai keterangan di kantor polisi.

Aku tiba dan masuk di kantor polisi. Segera aku dibawa ke ruang interogasi yang telah ada dua orang di sana. Satu orang mengenakan seragam polisi lengkap dan satunya lagi mengenakan kemeja putih. Polisi yang membawaku langsung memberi hormat pada kedua orang ini. Aku kira kedua orang inilah atasan mereka.

“Silakan duduk Pak. Kenalkan, aku Kapten Rojak dan beliau ini adalah Inspektur Fernoto. Kami bertugas di bagian kriminal.” Aku hanya mengangguk mendengar suara dingin yang kaku dari Kapten Rojak.

“Semalam anak buahku menerima pengaduan dari seorang wanita yang dijambret tasnya oleh pengemudi Bemo. Kami telah mencatat keterangan pelapor. Dan segera kami mengusut kasus itu. Tolong jelaskan berada di mana Anda semalam.”

“Aku berada di pangkalan Bemo, Pak.” Kataku sedikit gusar.

“Kenapa para saksi yang kami periksa tadi pagi, mengatakan bahwa Anda tak berada di pangkalan. Anak buah kami telah melacak alibi keberadaan Anda, sebelum mendatangi kediaman Anda.” Ungkap polisi yang memakai kemeja putih itu. Perkataannya walau terkesan tenang tapi tegas sekali. Aku gemetar dan kalut. Otakku harus berpikir cepat. Jangan sampai mereka mencurigaiku.

“Aku sedang mengantar pelangganku, Pak.”

“Ke arah mana Saudara mengantar pelanggan? Boleh jelaskan pada kami?” Ucap inspektur Fernoto yang terus menyudutkanku.

“Ke arah jalan Arteri di sekitar pertokoan sana, Pak.” Aku mulai berkeringat. Susah sekali mengelabui kedua polisi ini.

“Anda jangan berkelit dan berbohong. Anda tahu kenapa hanya Anda yang diciduk untuk datang kemari, sedangkan rekan seprofesi Anda tidak?” Aku hanya bisa menggeleng sambil menunduk.

“Aku tak bersalah Pak. Mana buktinya jika aku melakukan kejahatan ini.” Ucapanku mulai gelisah.

“Anda tidak menyesal jika saya tunjukkan saksi yang mengenali Anda.” Ucapan inspektur Fernoto mulai melunak. Aku merasakan ada pandangan iba terhadapku. Aku tak tahu itu.

Baca juga  Sejarawan yang Tersingkir

“Aku tak melakukannya. Kenapa aku harus menyesal, Pak.” Kataku yang kian berontak karena semakin tersudut.

“Anda tetap tak mengaku. Baiklah. Kapten! Bawa saksi kemari.”

“Siap inspektur!” Kemudian Kapten Rojak pergi meninggalkan kami berdua. Sedari tadi debaran jantungku terus bertalu-talu. Jangan sampai aku tertangkap dan masuk buih. Aku ingin menikmati Lebaran bersama putriku.

Tak lama Kapten Rojak datang dengan membawa seorang wanita. Aku terkejut luar biasa melihat wanita itu. Mataku membelalak. Jantungku bukan hanya sekadar berdebar, tapi lebih terasa seperti terhimpit. Sakit. Wanita itu menangis. Tak kuasa aku pun ikut menangis.

“Dialah wanita yang kau jambret semalam. Dia mengenali Bemomu.” Bisik inspektur Fernoto sambil menepuk pundakku. “Sekarang uruslah masalah keluargamu. Kami keluar sebentar.”

Jadi wanita yang kujambret semalam adalah istriku. Pantas saja tas itu rasanya tak asing bagiku. Tas itu adalah tas yang pernah aku berikan sewaktu aku masih berpacaran dengannya dulu. Istriku mendekatiku. Dia menangis pilu di hadapanku.

“Mirna Mas….”

“Ada apa dengan Mirna?”

“Mirna semalam meninggal di rumah sakit karena aku terlambat datang untuk menebus obat di apotek. Aku belum sempat mengabarimu. Dia demam tinggi, dan dia terus menyebut-nyebut namamu. Aku bingung sekali. Aku putuskan untuk menemuimu di kota ini. Belum sempat aku mendatangi rumah kontrakanmu karena Mirna kejang-kejang dalam perjalanan.

Badannya panas sekali. Aku langsung membawanya ke klinik terdekat, tapi dokter setempat menyuruhku langsung membawanya ke rumah sakit untuk segera mendapatkan perawatan medis dengan peralatan dan fasilitas yang lengkap. Seharian aku menunggu Mirna dalam pemeriksaan tim dokter. Malamnya aku disuruh menebus obat yang ada di apotek. Aku tak punya uang banyak dan aku menjual gelang emas Mirna. Masih ada kalung emas untuk menebus sisa obat yang baru kubayar separuh. Aku dijambret dan aku sempat berteriak. Dari jauh aku tahu Bemo itu punyamu, Mas.”

Dunia di depanku rasanya mau runtuh. Putriku sakit parah dan aku yang menyebabkan kematiannya. Aku menangis menggerung-gerung sambil berlutut di pangkuan istriku. Ternyata hadiah yang ingin kuberikan berada di ujung maut putriku.

“Mirna, maafkan ayah, Nak.” (*)

 Tova Zen, cerpenis, tinggal di Petukangan Selatan, Jakarta Selatan. Cerita ini di dedikasikan untuk Bung Sungging Raga dan rekan penulis lain.

Average rating 1 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: