Cerpen, Khaerodin, Republika

Bacalah: Merapi!

0
()

DARI tempatku berdiri, Merapi tampak anggun. Dia lebih sumringah dengan awan putih keluar dari puncak kawah, seperti gulungan uban tergerai menghiasi rambut kepala. Merapi tak segalak kemarin, marah-marah meludah mengancam manusia. Kini ia terlihat lebih perkasa dan berwibawa.

Dari tempatku berdiri, di teras lantai dua rumahku, aku dapat berbicara akrab dengannya. Kami saling bertegur sapa. Menanyakan kabar. Kemudian larut dalam pembicaraan kenangan-kenangan masa lalu kami. Aku ceritakan kepadanya. Dulu, aku sulit membayangkannya. Dalam pikiranku, wajahnya angker seperti yang kudengar dari sandiwara radio ‘Misteri Gunung Merapi’. Kemampuan abstraksi dan menalarku yang masih lemah waktu itu, membuat persepsiku padanya begitu rimba dengan segala mahluk jahat menguasainya. Merapi tersenyum mendengar ceritaku.

“Kau juga masih ingat kan, Merapi? Ketika anak dan istriku merengek meminta berkemah di pinggir Kali Adem. Semalaman kami menggigil kedinginan. Saat itu, tak ada simpati darimu. Kau justru asik bercengkrama dengan bintang-bintang, bahkan kau panggil rembulan untuk bergabung dalam kembulan malam kalian. Kamu tahu kan? Aku tak suka rembulan, karena dialah yang mengembuskan napas yang membuat mulut anakku meracau dan gemetar manahan dingin meski api unggun telah menampar seluruh muka dan telapak tangannya.”

Merapi mengangguk diam. Gulungan ubannya makin menggerai memenuhi sebagian mukanya. Tiba-tiba dia berkata. “Hei, Lia, latihlah anakmu memandang alam, agar hobi berpetualang istrimu menjelajah alam raya itu menurun padanya!”

“Kenapa mesti begitu?” jawabku.

“Agar anakmu bisa membaca.”

Aku sungguh tak mengerti jawabannya. “Merapi, sejak kusekolahkan di TK anakku sudah diajari membaca oleh gurunya. Bahkan, waktu di SD anakku sudah juara membaca cepat dan terbiasa bertugas sebagai pembaca UUD empat lima saat upacara. Sedangkan di SMP, anakku rakus menghabiskan seluruh buku di perpustakaannya. Dan saat ini, meski dia baru kelas dua SMA, dia sudah menamatkan Origin of Species-nya Charles Darwin yang tebalnya 230 halaman itu.”

Merapi tertawa membuang muka. Mengacuhkanku sambil mengibaskan geraian uban hingga menutupi seluruh mukanya. Celotehnya makin pedas.

“Hahaha…! Aulia, Aulia, kamu masih saja seperti dulu. Punya mata tapi tak melihat aksara, punya mulut tapi tak bisa mengeja kata, punya otak tapi tak bisa merangkai kalimat.”

Aku geram mendengarnya. Aku tersinggung atas pernyataan-penyataan yang menurutku terlalu merendahkanku sebagai manusia. Tekanan darahku naik.

“Merapi, tahu apa kau tentang manusia? Manusia adalah mahluk pilihan Tuhanmu untuk menguasai dunia. Kami diciptakan dengan sempurna. Eh, Merapi! Kamu sendiri takut untuk menjadi pemimpin di bumi. Kamulah yang tak bermata, tak bermulut, dan tak berotak!” Emosiku tiba-tiba memuncak.

“Tapi, aku punya tulisan, Aulia! Aku bentangkan ilmu di jagat raya. Aku tak butuh mata, karena tanpa mata pun aku mampu membaca. Aku tak butuh mulut, karena untuk mengeja tak perlu dengan suara. Aku juga tak butuh otak, karena aku tak mau seperti kamu, otakmu sama dengan pantatmu.”

Baca juga  Pengakuan

Aku malas menanggapi kata-katanya yang sombong dan sok tahu tentang kehidupanku sebagai manusia. Aku kesal. Kubanting pintu, kutinggalkan dia.

Sejak saat itu, aku tak lagi suka berdiri di teras lantai dua rumahku. Aku tak mau bertemu Merapi. Daripada adu mulut dengannya, lebih baik aku baca koran saja. Kebiasaanku yang sudah lama hilang itu, kurasa perlu untuk digugah kembali demi mengisi waktu luangku.

Sebenarnya kami berlangganan koran lokal. Tetapi karena lokalitasnya, dan karena bahasanya yang terlalu udik menurutku, kami sering mengacuhkannya. Tak apalah kehilangan beberapa rupiah, asal kelihatan lebih bergengsi dan martabatku sebagai punggawa kelas teri tetap terjaga tinggi.

Seketika aku menjadi muak. Koran lokal sialan! Umpatku. Dia memuat Merapi yang berpose dengan bibir ndomble seperti sedang mengejekku. Aku gregetan melihat mulut moncong itu. Seperti mulut punakawan Petruk yang mengebulkan asap klembak menyan dari Purworejo. Bukan cuma pose Merapi di halaman depan itu yang membuatku tak suka, tetapi karena asap pekatnya telah menghalangi hakku untuk mendapatkan sinar matahari yang telah dirampasnya selama berhari-hari. Rasanya aku ingin segera keluar rumah untuk menemuinya dan menampar mulutnya dengan sandalku. Aku benci halaman pertama.

Kubuka halaman kedua. Dasar wartawan sialan! Umpatku selanjutnya. Dia memotret Merapi sesaat setelah muntah-muntah mengumbar air liur yang bercampur dengan gelondongan batu-batu yang membuat kalang kabut para relawan. Bahkan, tanggul Kali Adem tempatku dulu berkemah dengan anak dan istriku disulapnya menjadi lautan pasir. Masih di halaman kedua, Merapi telah menipu banyak orang dengan wedhus gembel-nya. Dan ternyata, wedhus gembel itulah yang telah memakan banyak korban. Aku tak habis pikir, kenapa para wartawan itu lebih tertarik menuliskan kesaktian Merapi, ketimbang tema-tema yang berkaitan dengan kesaktian dirinya sebagai manusia. Gairah membacaku mulai menurun seiring dengan menaiknya tensi darahku.

Aku tak bernafsu di halaman ketiga dan seterusnya. Kubuang koran lokal itu ke lantai, sebagian kugunakan untuk melindungi kakiku dari dinginnya ciuman marmer di bawah meja. Aku menduga, koran lokal beserta para wartawannya telah bersekongkol dengan Merapi. Mereka ingin mencari keuntungan di tengah kebingungan masyarakat Cangkringan yang mencari tempat mengungsi. Koran lokal ingin menaikkan rating-nya, sedangkan Merapi ingin populer melebihi ketenaran ‘Legenda Penguasa-pengusaha Berebut Harta.’

Kini, setiap tukang loper koran datang, aku selalu bilang: “Kalau beritanya tentang Merapi, tak usah di antar ke sini. Ambillah, untuk bungkus tempemu di rumah.”

Baca juga  Ancaman

Sudah enam hari aku tak mau menginjakkan kaki di teras lantai dua rumahku. Aku masih berpuasa untuk tidak bertemu Merapi. Sudah lima hari koran lokal tak diantar ke sini. Pasti beritanya tentang Merapi. Aku kelimpungan sendiri. Tak punya Merapi, tak ada koran lokal menemani.

Aku membujuk istriku untuk membeli sebuah televisi. Aku mereka-reka alasan agar ia mengizinkan.

“Umi, dengan televisi kita akan mendapatkan banyak ilmu. Wawasan kita tidak cupet. Kita bisa membuka diri dengan berita-berita seantero dunia.”

“Abi, Abi, astaghfirullohal ‘adhim. Eling, Abi. Dulu kita pernah punya televisi, kita tahu akibatnya, bukan? Televisi itu penuh maksiat, penuh tipu muslihat yang merayu kita untuk berlama-lama mencumbunya. Dia akan menyita waktu kita. Belum lagi ancaman moral dan akhlak terhadap anak kita.”

“Tapi, Umi…!” Aku ingin menyela.

“Abi ingin anak kita belajarnya terganggu? Abi ingin shalat kita terlambat seperti dulu? Abi ingin Subuh kesiangan karena semalaman melihat bola?”

“Tapi, bukankah di sana juga banyak kemanfaatan? Jadi, menurutku bergantung kita yang mengatur manfaat atau maksiat itu.” Aku membantah.

“Abi, televisi membudayakan kita melihat dan mendengar. Abi pasti tahu itu. Sedangkan, wahyu pertama yang turun kepada Baginda Rasul adalah membaca, kita sebagai umatnya disuruh membudayakan membaca, membaca, dan membaca.”

“Melihat dan mendengar juga bisa dapat ilmu, Umi!”

“Ah, terserah Abi lah! Mau beli televisi atau tidak, Umi tetap tidak akan deket-deket dengan barang maksiat itu.”

Aku sedikit lega. Ada celah untukku membeli televisi meski istriku tak sepenuhnya setuju. Kami memang selalu begitu, untuk membeli sesuatu kebutuhan rumah tangga, biasanya harus berdebat dulu. Kadang-kadang aku yang menang, atau sebaliknya.

Aku bergairah lagi setelah beberapa hari menanggung sepi. Kini hadir di depanku sebuah televisi baru 21 inci buatan Jepang yang siap menemani saat-saat kesendirianku. Aku tak sabar ingin segera menghidupkannya. Semangatku menyala.

Aku lalu sibuk mempersiapkan segala sesuatu agar upacara pembukaan nonton televisi baruku berlangsung dengan menyenangkan. Kupesan segelas kopi kepada istri, lengkap dengan cemilan kacang atom sisa suguh tamu kemarin. Kuatur tempat duduk mepet dengan tembok agar sewaktu leherku kaku kepalaku segera dapat tempat bersandar. Kutaruh meja kecil di depanku sebagai tempat menyelonjorkan kaki. Lampu neon di atas kepala juga kuganti, agar silau cahaya televisi tak menusuk mata.

Kuraih remote control, kunyalakan televisi baruku. Awalnya buram, banyak semutnya, ternyata televisi lokal. Kupindah channel nomor satu, iklan pelangsing tubuh wanita. Kupindah nomor dua, infotainment. Nomor tiga, kuis tebak kata. Nomor empat, berita korupsi. Ah, ketemu juga akhirnya, lambaian Gayus Tambunan memasuki penjara, setelah tertangkap kamera di Bali. Berita seperti ini aku suka.

Baca juga  Pakarena

Istriku mondar-mandir di depanku, seolah-olah sengaja menghalangiku yang khusuk bersama Gayus.

“Bi, udah azan. Iya tuh. Ke masjid yuk!” Ajak istriku bikin hatiku mendongkol.

“Iya, sebentar. Azannya biar selesai dulu!” Jawabku sedikit kecewa.

“Sekarang aja, Bi. Biar kita bisa shalat tahiyatul masjid dan shalat qobliyah.” Dia merengek sedikit kesal.

Jadilah kami ke masjid. Sepanjang jalan hatiku mangkel. Entah kepada siapa. Sesampai di masjid, istriku langsung menuju di barisan perempuan, dia pasti sudah wudhu di rumah. Aku sendiri tak langsung masuk ke masjid. Aku harus wudhu dulu, antre.

Sepulang dari masjid, aku langsung menyambar remote control menuju stasion yang tadi aku tinggalkan. Mudah-mudahan Gayus Tambunan masih ditayangkan. Ah, ternyata baru iklan. Aku sabar menunggu Gayus. Sadah lama aku tak mendengar beritanya. Kangen rasanya. Sesekali kujumpai dirinya di koran lokal langganan kami, itu pun hanya kulihat sekilas di judul beritanya. Iklan berlalu, dilanjut berita terbaru: ‘Duka Indonesia’. “Jusuf Kalla, ketua PMI: Heboh Indonesia. Edison Saleleau Baja, Bupati Kepulauan Mentawai: Heboh Mentawai. Surono, Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi: Heboh Merapi.” Begitu kata televisi.

Aku terhenyak menggeser pantatku yang mulai panas. Segera kupencet remote control meninggalkan channel itu. Aku tak suka berita itu. Aku cinta Indonesia, aku suka Mentawai, tapi aku benci Merapi.

Secara tak sengaja, jempolku memencet nomor dua. Di sana ada beberapa orang yang sedang asik bercanda. Sesekali beradu mulut. Tepuk tangan penonton riuh: “Jakarta berbicara”. Begitu kata nomor dua. Seorang komentator senior di antara mereka di nomor dua itu berkata: “Sebagai pihak yang menikmati gaji negara, kalian jangan cuma bisa bicara saja. Apalagi membohongi rakyat dengan rekayasa peristiwa. Ini negara mau dibawa ke mana kalau wakilnya bertamasya dan punggawanya hanya duduk santai di depan meja. Kalian seharusnya pandai membaca. Bacalah al Kitab, bacalah undang-undang, bacalah alam semesta, bacalah rakyat, bacalah semuanya. Agar negara ini bisa berjaya. Tetapi ingat, kuncinya adalah kalian harus bisa membaca. Setelah membaca, rumuskan rencana dan lakukan kerja!”

Aku tertegun, hati kecilku setuju. Astagfirullohal ‘adhim. Astagfirullohal ‘adhim. Astagfirullohal ‘adhim. Ya Rabb, aku telah lalai, ampuni aku! (*)

Gedong Kuning, Yogjakarta, Januari 2011.

 Penulis adalah cerpenis, tinggal di Yogyakarta.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: