Cerpen, Gunawan Tri Atmodjo, Suara Merdeka

Pembaca Masa Depan dari Selatan

4
(1)

KETIGA kakak seperguruannya telah mengambil jatah kitab berbungkus kain hitam yang tergolek di meja. Kini hanya tersisa satu dan itu adalah jatahnya. Dengan tangan bergetar, dia mengambil kitab itu lalu menangkupkan di dada. Tidak ada di antara mereka yang membuka kain hitam pembungkus kitab. Perhatian mereka kini terpusat pada Mahaguru yang tengah sekarat di pembaringan. Di sela kedatangan ajal yang tak tertunda, Mahaguru berwasiat dengan ucapan tersendat, “Kitab itu sejatinya adalah jodoh kalian. Kalian telah disuratkan untuk menjadi tuan atasnya dan memiliki ilmu yang ada di dalamnya. Kalian harus kuat karena kitab itu akan selalu melawan, menunjukkan berbagai jalan yang tidak selalu berujung kebaikan.”

Setelah menuntaskan wasiat, Mahaguru mengembuskan napas terakhir. Keempat murid segera menghambur ke jenazah Mahaguru. Kesedihan mereka segera menguar, memicu sengit udara, dan memeras gumpalan mendung menjadi hujan. Dengan tersaruk, kakak tertua membopong jenazah Mahaguru keluar bilik menuju pendapa. Dia beserta kedua kakak seperguruan mengikuti dengan pisau-pisau kenangan menyayati labirin ingatan. Mereka terkenang segala budi baik Mahaguru yang telah menjadi orang tua bagi mereka saat hanya langit yang menjadi bapak dan bumi menjadi ibu bagi mereka.

Hujan telah menjelma tirai-tirai hitam di pelataran. Kakak kedua yang bertubuh kekar, dengan bertelanjang dada menyibaknya. Dengan ilmu kanuragan yang dimiliki, hanya dengan tangan kosong dalam waktu kurang dari sepeminuman teh, sebuah lubang kubur telah menganga di depan pondok Mahaguru. Seperti wasiat terdulu, Mahaguru ingin jika meninggal nanti dikebumikan di pelataran rumah, di bawah pohon melinjo yang telah begitu tua umurnya. Dengan segenap kemurungan, upacara pemakaman dilaksanakan. Kakak pertama menjadi pemimpinnya. Jika ada yang mampu melihat kegaiban, sesungguhnya ada beribu lelembut yang menyesaki pelataran itu. Mereka ikut berkabung dan jadi saksi doa-doa dari para murid mengangkasa, menyusup di antara celah-celah hujan menuju nirwana.

Seperti hujan yang menggaris malam, perpisahan juga telah menggaris kebersamaan mereka. Malam itu juga setelah pemakaman usai, dengan masih berselimut duka, mereka hendak mengucapkan, “Selamat tinggal!” Sebelumnya mereka berembuk untuk kali terakhir dan membuat beberapa kesepakatan persaudaraan. Salah satunya adalah kesepakatan menjadikan padepokan di lereng gunung itu sebagai pusat dari dunia mereka. Mereka akan menyebar ke empat penjuru mata angin, dan takdirlah yang akan mengantar mereka kembali ke tempat itu. Seperti sudah paham maksud tiap keinginan, mereka memulai perjalanan tanpa meributkan arah. Semua seperti sudah tahu arah yang harus dituju. Kakak pertama menuju barat, kakak kedua menuju timur, kakak ketiga menuju utara, dan dia sendiri menuju selatan. Mereka memulai langkah pertama meninggalkan padepokan dengan sebuah kitab terselib di balik pakaian.

***

SEJAK menuruni lereng menuju selatan, dia telah ribuan kali menoleh ke gunung tempat dia dibesarkan Mahaguru. Semakin jauh perjalanan yang dia tempuh, ujud gunung itu makin tidak tampak lagi. Kini dia merasa benar-benar dilepas untuk mengarungi dunia sendirian. Bekalnya hanya ilmu yang telah diajarkan Mahaguru dan kitab yang kini tersimpan rapat di balik pakaian. Sampai sejauh ini, dia belum berniat membuka kitab itu. Ilmu kanuragan yang diajarkan Mahaguru sudah cukup membuat dia bertahan hidup.

Dia tidak akan menghentikan langkah kaki jika firasat belum menemukan tempat tepat. Makan, minum, dan penginapan seolah dengan sendirinya telah tersedia di sepanjang perjalanan. Dia sudah terbiasa makan buah-buahan dan tidur di pepohonan. Jika keberuntungan sedang berpihak, dia bisa merasakan enaknya makanan yang diberikan orang yang berderma pada pengembara seperti dirinya hingga nasib menuntunnya ke desa itu.

Desa itu lengang seperti kuburan. Sawah-sawah terbengkalai tidak tergarap. Hampir semua pintu tertutup. Tidak ada hewan ternak, bahkan angin pun seakan berhenti bertiup. Satu-satunya kehidupan di desa itu berasal dari kedai tuak di tengah desa. Aroma arak sangat menyengat, dan hanya gerombolan lelaki bertampang kasar yang ada di kedai itu. Dia mengabaikan panorama itu tapi dia tidak bisa mengabaikan adegan yang terjadi di hadapannya. Seorang wanita setengah baya diseret tiga lelaki kekar keluar dari rumahnya sementara anaknya hanya mampu menangis di depan pintu. Perempuan itu sudah setengah telanjang, ada darah mengalir dari sela bibir, yang memaksanya bertindak. Dengan satu gerakan cepat ketiga lelaki itu terjengkang dan lari tunggang langgang. Rupanya mereka memanggil teman-temannya yang bermarkas di kedai tuak. Mereka semua menghunus golok yang berkilat. Dengan ketenangan yang luar biasa dia hanya mematahkan ranting daun waru sebagai senjata. Dengan kecepatan yang luar biasa pula, golok-golok itu segera beterbangan ke udara, dan pemiliknya terkapar dengan memar di sekujur badan.

Baca juga  Percakapan di Serat Lontar

Begitulah, dengan singkat dia berhasil mengusir para bramacorah dari desa itu. Semua warga desa berterima kasih kepadanya. Dan dia diberi sepetak tanah kas desa sebagai imbalan. Dia menerima semua itu tanpa pamrih balas jasa tapi semata karena firasatnya mengatakan bahwa dia harus menetap.

Di desa itulah dia menanam hidupnya. Dia ikut membangun kembali desa itu hingga mekar kembali. Rona bahagia mulai memancar di wajah tiap warganya. Ada harapan hidup yang tumbuh, tanpa adanya kekhawatiran disatroni bramacorah lagi. Mereka seakan memiliki malaikat pelindung. Dia menerima semua itu dengan rendah hati dan menolak ketika didaulat sebagai kepala desa.

Dia sungguh menikmati hidup dan berasa cukup dengan kemampuan yang dimiliki saat ini sehingga belum berniat membuka dan mempelajari kitab yang diwariskan sang guru. Hidup yang dinikmati membuat waktu berjalan tak terasa. Dia tetap memegang sumpah lajang yang dibaiatkan Mahaguru kepada keempat muridnya tanpa kehilangan kesenangan hidup. Tanpa disadari, sudah satu dasawarsa dia meninggalkan padepokan di lereng gunung itu.

Kerinduannya kepada kakak-kakak seperguruan sejauh ini hanya terobati dengan kabar angin yang mengatakan bahwa kakak pertamanya telah menjadi tabib sakti di barat, kakak keduanya menjadi pendekar kebal senjata di timur, dan kakak ketiganya menjadi pemanggil hujan yang hebat di utara. Dia yakin, semua kesaktian itu mereka peroleh dari kitab yang diwasiatkan Mahaguru. Dia berkeyakinan seperti itu karena mereka memperoleh ilmu yang sama ketika digembleng Mahaguru dan dia tidak memiliki tiga kemampuan itu.

Kabar angin itu seakan memantik niatnya untuk membuka kitab yang diwariskan Mahaguru kepadanya. Dia ingin tahu ilmu langka yang dipercayakan Mahaguru kepadanya. Dengan takzim, dia membuka kitab yang telah sepuluh tahun menemani itu. Kitab yang terbuat dari daun lontar, aksara tergurat samar ada sketsa seperlunya yang juga tidak jelas bentuknya. Berhari-hari dia berusaha memahami kesamar-samaran dalam kitab itu. Hingga akhirnya semua terbaca jelas. Semua laku kanuragan dan kebatinan tertera siap untuk ditunaikan. Dan dia takjub dengan apa yang baru diterjemahkannya. Kitab itu berisi kesaktian untuk melihat masa depan.

Tidak mudah untuk menguasai ilmu tersebut. Tahun-tahun awal belajar merupakan siksa batin yang hebat baginya. Dia tidak mampu menguasai sedikit pun kesaktian itu. Itulah saat-saat ketika dia mulai meragukan kemampuannya sendiri, saat ia mengambil jarak dari kehidupan sekitarnya. Fase-fase itulah yang menuntutnya untuk lebih dekat dengan Yang Maha Kuasa. Dia merasa gagal dan tebersit keinginan untuk mengurungkan niat mempelajari kesaktian itu. Tapi di saat akan menyerah, dia teringat kakak-kakak seperguruannya yang telah menguasai kesaktian masing-masing. Tentu mereka juga mengalami kesulitan seperti ini, pikirnya. Hal ini melecutnya untuk tidak menyerah. Begitulah, perjuangannya belajar mulai memperlihatkan hasil. Setelah lima tahun belajar, kini dia mampu melihat kejadian sepenanak nasi setelah saat ini.

Ada kepuasan menyelinap dalam hatinya. Meski hanya sepenanak nasi, setidaknya dia paham kejadian pada masa depan. Waktu yang dihabiskan untuk laku batin dan kanuragan yang melelahkan tidak sia-sia. Kini, hanya dengan sedikit meditasi, dia jadi tahu apa yang akan terjadi sepenanak nasi kemudian. Ketika dia melihat anak kecil mulai memanjat pohon, dia telah melihat kejadian sepenanak nasi kemudian yaitu anak itu jatuh dan kakinya patah. Ketika melihat seorang petani menuju sawah, dia melihat kejadian kemudian adalah duel antara petani itu dan seekor kerbau yang tiba-tiba mengamuk di tengah sawah. Dia bisa mencegah hal-hal tersebut dengan menasihati mereka. Setelah sepenanak nasi, ada hal yang terjadi sesuai perkiraan tapi ada pula hal yang terjadi di luar dugaan, meskipun ini sangat langka dalam penglihatannya.

Jika saja dia mau berjudi, tentu dia akan kaya raya. Semisal judi sabung ayam di desa sebelah. Dalam tempo sepenanak nasi, dia akan tahu ayam yang akan menang dan dia bisa mempertaruhkan seluruh uangnya untuk ayam itu. Tapi kesaktian tersebut diciptakan dan dikuasai bukan untuk hal itu dan sejenisnya. Kesadaran itu telah tertanam dalam dirinya. Petuah mulia Mahaguru untuk menolong sesama terus terngiang di telinganya. Karena jika disalahgunakan, kesaktian itu akan hilang atau berbalik menyerang pada pemiliknya.

Baca juga  Mbah Dul Karim

Untuk beberapa saat dia merasakan kegunaan kesaktian ini, tapi masih sebatas untuk dirinya sendiri dan hal-hal remeh menyangkut orang di sekitarnya. Dia merasa kesaktian ini belum layak untuk diterapkan pada orang lain untuk masalah yang lebih besar, karena jika dia akan menolong orang lain menghadapi hal sulit maka dia harus mendampingi orang itu sepanjang keperluannya. Dan hal ini tentu saja akan merepotkannya sendiri. Beranjak dari hal itu pula serta diperkuat kenyataan bahwa kejadian dalam sepenanak nasi ke depan kebanyakan sangat biasa dan dapat diduga, maka dia bersikeras ingin menambah kesaktiannya. Dia merasa belum tuntas menguasai kesaktian dalam kitab itu.

Dan usaha kerasnya kembali dimulai. Dia meningkatkan laku batin dan kanuragan seperti yang tertera di kitab itu dengan berlipat. Penderitaan yang begitu hebat telah dia lalui selama hampir lima tahun hingga akhirnya dia memperoleh kesaktian melihat masa depan sampai dengan sehari setelah saat ini. Dengan sedikit meditasi, dia sudah mengetahui kejadian pada esok hari. Impas rasanya keterampasan hidupnya selama lima tahun dengan memperoleh penglihatan ini. Dia mulai berani menolong banyak orang dengan memanfaatkan kesaktian ini. Dan seperti keinginan dulu, orang yang akan menghadapi keputusan sulit pada esok hari dapat dengan mudah dibantu. Dia memberi nasihat yang sangat berharga bagi mereka. Dia memberikan jalan selamat bagi mereka.

Namanya pun mencuat sebagai pembaca masa depan dari selatan, sama termahsyur dengan ketiga kakak seperguruan. Sejauh ini dia merasakan masih ada ikatan batin yang kuat dengan ketiga kakak seperguruan.

Tapi kemampuannya ini lagi-lagi dihadapkan oleh keterbatasan. Dia kembali mengecap ketidakpuasan karena orang-orang yang memanfaatkan kesaktiannya terbatas pada mereka yang berada di sekitar desanya saja, yang jarak tempuh dari rumahnya dengan berjalan kaki atau naik kuda kurang dari satu hari. Jika perjalanan lebih dari satu hari dan kebutuhan untuk tahu akan hari esok mendesak, apalah guna bertemu dengannya. Hari tersebut tentu sudah terlewati sebelum bertemu dengannya.

Kenyataan ini terus menerornya. Dan dilihatnya kitab itu seperti lorong misteri yang belum seutuhnya terselami. Kitab itu seakan menggodanya dengan segenap tabir rahasia, seakan menjanjikan ada kesaktian yang lebih jika dia mau memasukinya lagi. Detik itu juga dia putuskan menjalani laku kanuragan dan kebatinan yang lebih hebat dari sebelumnya. Dia siap mengasingkan diri dari kehidupan untuk memperoleh kesaktian puncak dari kitab tersebut. Dia membayangkan dapat melihat masa depan seutuhnya, hingga akhir hayat orang yang meminta pertolongan kepadanya. Dia rela menghilang berpuluh tahun dari peradaban manusia untuk mencapai puncak ilmu ini.

Penduduk desa sudah mahfum akan kelakuannya ini. Jika dia tidak keluar rumah selama bertahun-tahun, mereka akan menganggapnya khusyuk bertapa, meski ada beberapa warga pernah melihatnya di malam-malam tertentu sedang menyunggi bahan makanan atau menandu air. Dia masih dianggap separuh dewa. Ketiadaannya tak mengurangi rasa hormat mereka kepadanya. Dahulu lima tahun menghilang, kemudian lima tahun lagi, dan kini sekitar dua puluh tahun dia tak menampakkan sosoknya di depan warga. Warga desa secara rela bergantian merawat bagian luar rumah itu. Ada di antara mereka yang memberanikan diri mengintip lewat celah rumah tapi tidak mendapati apa-apa selain rasa bersalah. Kesetiaan mereka senantiasa disuburkan oleh ingatan akan kepahlawanannya saat menumpas para bramacorah.

Kali pertama dia membuka pintu setelah dua puluh tahun menjalani lelaku, dia melihat seorang gadis menyapu pelataran rumahnya. Dengan sekali lihat dia dapat membaca masa depan gadis itu, kelak dia akan dipersunting bandar judi dari desa sebelah, hidup bergelimang harta tapi tidak bahagia, mempunyai tiga orang anak dan delapan cucu, pada usia enam puluhan, gadis itu akan jatuh miskin dan suaminya meninggal, gadis itu segera menyusul sesudahnya. Dia terkagum, begitu sempurna penglihatan ini.

Baca juga  Kafe

Si gadis yang melihatnya segera mengabarkan hal ini pada penghuni desa lainnya. Mereka kembali menyambut hangat kehadirannya di tengah-tengah mereka. Kesaktiannya yang meningkat juga dengan segera menjadi buah bibir. Orang-orang dari seberang berdatangan meminta bantuannya. Dengan senang hati, dia membantu mereka.

Hingga pada suatu ketika datang orang dari timur. Selain meminta nasihat, orang itu juga membawa kabar bahwa pendekar kebal dari timur telah binasa karena diracun oleh orang yang sangat membencinya. Cerita itu tidak berarti apa-apa baginya. Dia datar menyimak dan cerita tersebut menguap seiring dengan kepergian orang itu.

Dalam diamnya, tiba-tiba dia mendapat penglihatan bahwa besok akan ada dua lelaki tua yang mendatanginya. Dia merasa tidak mengenal kedua pria itu tapi dia akan menyambut mereka dengan baik layaknya seorang tamu.

Keesokan harinya, saat mentari mulai meninggi dia mendengar pintunya diketuk. Begitu pintu dibuka, kedua lelaki tua yang tidak dia kenal secara hampir bersamaan memeluknya, seperti ada gumpalan rindu yang hendak diledakkan di tubuhnya. Dia tidak mengelak dan menerima semua itu tapi ada kata-kata yang membuatnya heran. Seorang dari mereka berkata, “Lama tidak bersua, apa kabarmu adik seperguruan?”

Belum tuntas keheranannya oleh perkataan itu, lelaki tua satunya menimpali dengan pertanyaan yang kian membuat berkerut dahinya, “Tentu kau belum pikun sehingga lupa pada kami, adik seperguruan?”

Setengah mati dia mengingat wajah mereka, tapi tetap saja dia tidak mengenali. “Aku tidak mengenal kalian, sungguh. Kalian siapa?” jawaban berujung pertanyaan ini mengirim kenyataan di benak kedua lelaki tua bahwa dia memang sedang tidak berpura-pura.

“Tampaknya kami harus menyegarkan ingatanmu, kami adalah kakak seperguruanmu yang datang ke sini untuk mengajakmu membawa jenazah kakak keduamu ke padepokan tempat Mahaguru disemayamkan. Kita telah berjanji sebelumnya bahwa siapa saja di antara kita yang meninggal lebih dulu, saudara yang masih hidup harus mengebumikannya di sana.”

Dia tetap tidak dapat mencerna ucapan itu. Suasana tiba-tiba lengang. Hingga seorang yang tampak lebih tua di antara keduanya kembali berucap, “Tampaknya kita semua telah sampai di puncak kesaktian kitab yang diwariskan Mahaguru. Kitab itu sangat sakti tapi juga bukannya tanpa kelemahan. Benar kata Mahaguru, kitab itu akan melawan dan menunjukkan berbagai jalan yang tidak selalu berujung kebaikan, terlebih jika kita berambisi menguasainya sepenuhnya.”

Lelaki tua itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Seperti aku yang mampu mengobati segala macam penyakit tapi tak dapat menyembuhkan penyakitku sendiri, mesti itu hanya menghilangkan sebiji kutil. Seperti dia yang mampu memanggil hujan tapi pantang terkena air hujan karena akan membuat lidahnya kelu dan bisu. Seperti adik pertama yang kebal segala senjata tapi hanya sebatas tubuh luarnya saja sedangkan serangan racun dari dalam tubuh dengan cepat mengakhiri hidupnya. Dan kau…,”’ ucap lelaki tua itu terputus sembari menunjuk sosoknya, “Kau mampu membaca masa depan tapi kehilangan masa lalu. Kau telah menjadi pikun, tanpa ingatan tanpa kenangan. Apa yang masih kauingat sepanjang hidupmu?”

Pertanyaan itu menyerangnya tanpa ampun. Dia mencoba mengingat apa yang masih dapat diingat sebelum wajahnya mendadak pucat. Ternyata dia hanya mampu mengingat ketika bangun pada pagi hari tadi dan memakan seiris mentimun. Itulah ingatan terjauh yang mampu ditempuhnya. Dia tak ingat lagi kejadian-kejadian sebelum saat itu. Dia tak ingat kejadian-kejadian sebelum bangun tidur. Tiba-tiba dia jatuh terduduk. Kedua pria tua itu segera memapahnya ke pembaringan. Mulutnya kini menggumamkan pertanyaan entah pada siapa, “Jadi apa gunanya aku mengetahui masa depan tanpa secuil pun kenangan akan masa lalu?”

Kedua lelaki tua itu menyadari keguncangan jiwa adik seperguruannya. Mereka paham bahwa dia akan menjadi sosok yang baru setiap pagi, seperti bayi tapi dengan akal, budi, dan raga orang dewasa. Mereka hanya dapat saling tafsir dalamnya duka ketika dia, adik seperguruan mereka itu, bertanya, “Siapa aku?” (*)

Average rating 4 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: