Cerpen, Jawa Pos, Yanusa Nugroho

Kalung Kolang-kaling

0
()

“OKE, oke… begini… Abu kemudian teringat sesuatu. Suatu kali dalam perjalanannya dari Damaskus, unta yang ditungganginya capek. Entah apa yang merasuki pikirannya, tiba-tiba, Abu mendapat akal agar sang unta kembali bertenaga.

Diangkatnya ekor unta perlahan, dicoleknya balsem… lalu dioleskannya di dubur unta….”

Penonton terbahak-bahak.

“Nah, ketika Abu kecapekan, diambilnya balsem dan….” Penonton langsung menyambutnya dengan gelak tawa. Tepuk tangan riuh memenuhi ruang kafe kecil di sudut jalan itu.

Laki0laki kecil itu menikmati sambutan hangat para penonton yang masih terkakak-kikik geli setelah mendengar lawakannya di panggung. Pujian dan suitan terdengar riuh. Dia menebar pandang penuh kebanggaan.

Sesaat kemudian dia mengangkat tangan. Penonton terdiam.

Ini kisah si Abu lagi. Begini. Suatu hari, Abu naik Harley-Davidson. Di jalan, setiap kali hendak mendahului sebuah mobil, Abu selalu berkata pada si pengendara mobil: ‘Hey, pernah punya Harley’ dengan nada tinggi. Tentu saja si pengendara mobil tersinggung, lantaran merasa bahwa Abu membanggakan harta bendanya.

Mobil kedua pun dilalui Abu dengan pertanyaan yang sama. Reaksi yang diterima Abu pun sama…. Begitu seterusnya sampai sepuluh mobil.

Nah, sampai pada suatu waktu, semua mobil yang pernah ‘disapa’ oleh Abu mendadak harus berhenti. Semua terheran-heran, ada apa di depan sana?

Setelah diselidiki, ternyata sebuah Harley melintang di tengah jalan dan Abu tengah kesakitan. Rupanya dia terjatuh dari Harley-nya.

Kontan semua orang mencibir dan berkata: ‘Makanya jangan sok kaya. Baru punya Harley, aja….’

Tapi Abu ngotot, ‘Siapa yang sok kaya?’

‘Tadi kenapa selalu bangga dengan nanya: Pernah punya Harley?’

‘Betul… tapi, maksud saya, kalau sampeyan pernah punya Harley, saya mau tanya, gimana ngerem-nya?’

Kembali sorak-sorai dan gelak tawa memecah kafe.

***

Panggung kini telah sepi. Jam 2 dini hari. Pelayan sudah menumpuk kursi-kursi. Ada yang membereskan gelas. Laki-laki itu masih duduk di sudut. Honor sudah di sakunya. Sebatang rokok mild masih menyala. Ada yang luput dari hidupnya, entah apa.

Nunggu taksi, Bos?” sapa Rudy, keamanan kafe.

Nunggu mobil.”

“Oh, dijemput?”

Nunggu mobil, belum diambil dari show-room….”

Rudy ngakak. “Ah, Bos, bisa aja.”

Laki-laki itu cuma tersenyum pahit.

Siapa yang menunggu atau ditunggu, bukan soal. Tak ada yang lebih nikmat daripada sebuah kehadiran yang ditunggu-tunggu. Tetapi, setelah panggung ini sepi, siapakah yang menungguku pulang? Sebuah pertanyaan, atau barangkali, pernyataan, berkelebat melintasi keheningan hidupnya malam itu.

Baca juga  Anak Ibu

Laki-laki yang dipanggil bos kemudian beranjak dan berjalan gontai.

Sepi sekali malam ini. Biasanya, warung rokok, yang sekaligus melayani kopi sachet, di pengkolan trotoar, kira-kira seratus meter dari kafe itu, masih buka. Beberapa hari yang lalu bahkan dia sempat ngopi di sana, bersama satu dua orang.

Malam ini, tidak. Mungkinkah dia tak berani buka setelah tadi siang petugas ketertiban kota membabi buta di sepanjang jalan ini? Apa yang salah dengan warung rokok itu? Bukankah dia tetap memberikan sesuatu yang dibutuhkan seseorang seperti dirinya: paling tidak memberinya kehangatan barang seteguk, atau teguran barang sepatah kata? Atau, barangkali hal-hal demikian mulai tidak diizinkan lagi ada di muka bumi ini?

***

“Kita nggak pulang?” sepotong pertanyaan dari lipatan kenangan, muncul lagi.

“Pulang….”

“Naik bus, kereta api atau pesawat?”

“Pesawat….”

“Asyik….”

“Pesawat telepon….”

“Aaaah… kirain.”

Lalu disusul gelak tawa keduanya. Jalanan sepi. Aspal hitam diterangi mercury jalanan. Udara menekan, membekukan. Sayup di langit, ayat-ayat Tuhan melayang, bersahutan.

“Makan, yuk?”

“Yuk.”

“Di mana?”

“Situ… dekat perempatan.”

“Gak enak. Di situ ramai, apalagi pasti banyak yang beli untuk sahur….”

“Ya, nggak apa-apa.”

“Ada apa aja di situ?”

“Banyak.”

“Iyaaa… apa?”

“Ada daging rendang, ada semur daging, ada… pepes tahu—enak lho, apalagi yang pedes, hmmm… terus orek oncom, orek tempe, pecel, dadar, telur masak cabecabe dicampurin telor.”

Lalu gelak tawa lagi.

Lalu keduanya berpelukan erat. Sepeda motor lewat.

Sepi lagi. Hanya berdua lagi.

Becak ngantuk, memeluk pengayuhnya yang terbungkus sarung, di pojok gelap bangunan, mereka lalui.

“Jadinya, nggak pulang?”

“Pulang ke mana?”

Karena tak ada jawaban, si laki-laki mengulang pertanyaannya. “Coba, pulang ke mana? Kau mau pulang ke mana? Dan aku sendiri, juga tak tahu mau pulang ke mana?”

“Aku masih punya famili di kampung….” Kata si perempuan setengah berbisik.

“Kampungmu mana?”

“Jauh. Atau, aku pulang ke kampungmu saja?”

“Bisa saja….”

Si perempuan mengharapkan jawaban. Di kegelapan malam, di temaram mercury jalanan, di tengah aspal hitam, dia tatap mata laki-laki itu dalam-dalam, sambil berbisik, “Tapi…?”

Baca juga  Di Bawah Pohon Beringin

Laki-laki itu diam. Dipandanginya wajah cantik dan belia itu. Sepasang bola mata yang berair dan nanar menatapnya. “Tapi…,” bisiknya tenang, sambil mengecup bibir perempuan itu, “perutku lapar sekarang, kita makan dulu… baru bisa mikir.”

Gadis itu tertawa segar, “Sambel tumpang ada, nggak?”

“Hah? Kamu orang Malang, ya?”

“Bukan, aku orang mujur… hahaha.”

***

“Seminggu yang lalu, mungkin, jika Anda sempat mengamati malam, atau malam itu tidak turun hujan, Anda akan saksikan bulan masih bundar. Tentu tidak tepat bulat, tapi pasti masih bernama bulan, al-kamar, sasi, candra, tengsu… tapi, itu kalau Anda memang masih peduli,” begitu ucapnya malam itu di atas panggung  yang sama. Ada tawa kecil memecah di sana-sini.

“Jangan tersinggung, bukankah Anda selama berbulan-bulan menjadi bulan-bulanan pekerjaan, sampai-sampai tak sempat menyaksikan wajah bulan?”

Gelak tawa pecah.

“…. Bukankah selama ini hidup Anda hanya dari bulan ke bulan?” disambut gelak tawa lagi.

“Kemarin saya bertemu seorang guru di kawasan timur…. Saya tanya soal gajinya, dia bilang lima koma. Wah, hebat, gaji guru di daerah bisa lima koma. Dengan tenang dia jawab, ‘Iya, Mas, setelah tanggal lima, kita koma….’”

***

Bulan sabit menggarit langit malam. Begitu bening. Begitu cantik. Bulan apa ini? Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari kesunyiannya. Sudah di kampungkah si Berta? Itu pun jika yang diucapkannya, entah kapan itu, benar.

Malam ini, seperti ratusan malam sebelumnya, dia sendirian. Memang sempat ada Berta, atau Jeane, mungkin juga Mimin—siapalah mereka, yang menemaninya. Namun, dia selalu merasakan tusukan sepi. Siapakah yang menungguku pulang? Selalu saja terucap pertanyaan itu. Tentu saja tak ada. Karena dia memang tak punya siapa-siapa.

Juga ketika disaksikannya manusia yang berjuta jumlahnya, padat memenuhi terminal, stasiun bahkan bandara, kian dirasakannya tusukan sepi itu. Mereka punya tujuan, aku?

“Apa kau nggak pernah tahu orang tua aslimu?” entah siapa yang bertanya, dia sudah tak ingat lagi. Rasanya berulangkali ada pertanyaan seperti itu di lorong telinganya. “Kalau pun tahu, terus mau apa? Aku juga nggak tahu, mau bagaimana?”

Nggak kangen?”

Baca juga  2010

“Kangen sapa siapa? Kenal aja, nggak….”

HP-nya berdering. Dilihatnya ada angka asing. Entah siapa, tak tercatat dalam memori. Mungkin bukan siapa-siapa, selain, ya… entahlah. Dibiarkannya saja, dan kembali dia memasuki ambang tidur matanya.”

HP berbunyi lagi. Dilihatnya angka asing itu lagi. “Hmmm… yaaa? Ini siapa… Anda tahu ini jam bera….”

“Hai, sombong banget kamu? Sudah nggak mau kenal lagi, ya, sama aku? Berapa kali nelepon gak diangkat-angkat…,” lalu kata-kata meluncur begitu saja, menghujaninya, menelanjanginya, membuatnya tak bisa menolak kantuk.

Ada kilasan makan malam di perempatan. Dan ternyata dia mendapatkan sambel tumpang paling enak sedunia. Mereka mendapatkan keceriaan kecil, kehangatan kecil di sela pedasnya pepes tahu atau cabe rawit pengiring tempe goreng.

“Pulang, yuk?” bisik suara dari seberang sana.

Laki-laki yang biasanya membuat orang lain terpingkal-pingkal itu, kini membisu.

“Oke, oke… jangan balik tanya, ‘Ke mana?’, Mas tinggal bilang ‘ya’… nanti akan ada keajaiban.”

“Emangnya, sulap?” ucapnya sambil menelan sepi.

“Mas pulang, kan, lebaran ini?”

“Ya… tapi ke mana?”

“Ke rumahku di kampung….”

“Ah, becanda. Nanti keluargamu gimana? Orang-orang nanti berpikir….”

“Gampang, aku jawab saja, ‘Ini lho, suami saya…. Yaa, kalau sekarang baru bisa pulang, lantaran baru bisa beli karcis.’ Gitu aja jawabnya. Mereka juga ngerti, kok.”

“Suami?”

“Iya. Nggak suka ya? Apa, dong, masak… Om?”

“Suami?” tubuh laki-laki itu gemetar menahan perasaan luar biasa yang tiba-tiba menghantamnya. Dia menangis bahagia. “Kau, mau menerimaku sebagai… suami?”

“Masak, ayah angkat?”

“Suami?”

“Ya. Lebaran ini pulang ya?”

Laki-laki itu masih terdiam.

“Pokoknya, pulang, karena di rumah ada aku yang menunggumu….”

“Kau baik sekali. Aku memang sudah lama ingin pulang, hanya tak tahu harus ke mana….”

“Nah, mulai sekarang Mas sudah bisa pulang, ke rumahku.”

“Baik. Tapi….”

“Apalagi?”

“Rumahmu di mana?”

***

Penonton berdiri dan masih bertepuk tangan sampai beberapa menit kemudian. Malam itu, laki-laki itu baru saja mengisahkan impiannya di panggung. (*)

Pinang, 982

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: